Praktek Guna Ulang Lewat Challenge Jajan Bebas Plastik

Written by

in

7cloud.asia – Challenge Jajan Bebas Plastik menjadi bagian dari kampanye bebas plastik yang disuarakan Koalisi Pawai Bebas Plastik yang antaralain digawangi oleh Greenpeace Indonesia.

Plastics Project Leader Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar mengatakan, lewat Jajan Bebas Plastik ini, pihaknya ingin mengajak konsumen untuk mengurangi kemasan plastik sekali pakai dengan mempraktikkan konsep guna ulang.

Selama ini, ujarnya, kulineran hampir tidak pernah terlepas dari penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Karena itu, lewat challenge jajan bebas plastik ini Greenpeace ingin mendobrak anggapan itu.

”Saat kulineran pasti membutuhkan wadah atau kemasan. Jika kita makan di tempat, wadah itu bisa berupa mangkok atau piring. Yang jadi masalah adalah bungkus yang kita pakai merupakan kemasan sekali pakai seperti plastik dan sebagainya,” ujar Ibar kepada 7cloud.asia di Jakarta, Minggu (28/7/2024).

Lewat jajan bebas plastik ini, Greenpeace Indonesia menantang anak muda di Jabodetabek untuk kulineran tanpa plastik sekali pakai dan dilakukan secara rendah emisi.

Baca: Piknik bebas plastik untuk atasi krisis sampah plastik

Hal ini bisa dilakukan dengan membawa wadah sendiri dan menggunakan transportasi umum saat menuju ke tempat kuliner yang dituju.

Chalenge jajan bebas plastik ini, Greenpeace ingin menghidupkan kembali praktik guna ulang yang makin memudar. Padahal, ujar Ibar, praktik guna ulang ini efektif kurang plastik sekali pakai dan sudah diterapkan di masa lalu.

“Maka dari itu, melalui kegiatan ini, Greenpeace juga sekaligus mengenalkan alat-alat guna ulang yang praktis untuk bisa mereka pakai saat berkuliner,” ungkap Ibar.

Sebanyak 20 peserta ikut terlibat pada acara jajan bebas plastik ini. Mereka dibagi menjadi empat kelompok dengan rute perjalanan berbeda.

Challenge jajan tanpa plastik menjadi momentum untuk membuktikan kepada semua pihak bahwa praktik guna ulang bisa diterapkan dengan mudah. Praktik ini juga dapat menekan laju sampah plastik sekali pakai.

Baca: Penanganan sampah plastik harus dimulai dari hulu

Salah seorang peserta, Ghifari Alfani Royan mengakui challenge ini sangat menantang lagi menginspirasi.

Ghifari yang tergabung dalam Tim Katirisala mengatakan, kegiatan jajan bebas plastik ini juga bisa jadi sarana edukasi bagi pedagang bahwa ada alternatif selain menggunakan plastik sekali pakai yang tak bagus untuk lingkungan

Dari fakta yang ditemukannya di lapangan, sambutan dari pedagang cukup positif karena ini akan memangkas biaya yang harus dikeluarkan untuk kemasan.

“Namun, ada juga pedagang yang heran karena masih jarang pembeli yang membawa wadah sendiri. Selain itu, mereka juga khawatir wadah yang dibawa tak bisa menampung makanan yang dibeli,“ ujarnya kepada 7cloud.asia.

Pengalaman mengikuti challenge jajan bebas plastik ini, menurut Ghifari, bisa menjadi sarana edukasi, baik kepada konsumen maupun pedagang, untuk mengurangi plastik sekali pakai.

Baca: Apa itu Pawai Bebas Plastik

Setelah ini, Ghifari akan mencoba menerapkan praktik serupa ke pedagang lain sehingga lebih banyak pedagang yang terpapar

“Saya juga akan mengajak orang-orang di sekitar saya, mulai dari yang terdekat untuk menerapkan praktek jajan bebas plastik ini,“ imbuhnya

Baik Ibar maupun Ghifari sependapat, praktik guna ulang ini penting mendapatkan dukungan dari pemerintah dan produsen. Kedua pihak tersebut harus menciptakan kondisi sesuai perannya masing-masing seperti penguatan kebijakan dan penyediaan fasilitas.

Apabila keduanya telah terbangun, tentu masyarakat akan mudah dan memiliki pilihan untuk melakukan praktik guna ulang. Sehingga, mereka akan terbiasa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Konsumen atau masyarakat sebenarnya bisa menerapkan guna ulang. Tinggal menunggu pemerintah dan produsen saja, apakah mereka mau mendukung gerakan ini?

“Dari sisi pemerintah bisa merancang peraturannya. Lalu, produsen bisa ikut membentuk infrastrukturnya,” pungkas Ibar.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *