7cloud.asia – Ketua MPR Bambang Soesatyo menaruh harapan besar pada capres dan cawapres) yang nantinya memenangi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 untuk dapat meneruskan perjuangan pemerintahan saat ini.
Hal itu diungkapkan Bamsoet saat berpidato pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD Tahun 2023 di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu (16/8/2023)
“Lebih dari itu, kita berharap, siapa pun nantinya presiden yang terpilih hendaknya meneruskan tongkat estafet pembangunan nasional, konsisten untuk mengambil langkah-langkah positif, dan melanjutkan apa yang telah dimulai oleh para pemimpin sebelumnya,” katanya.
Baca: Presiden bilang Indonesia berpeluang wujudkan Indonesia Emas 2045
Untuk itu, dia menegaskan agar dukungan harus diberikan agar pengganti Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin bisa melanjutkan pembangunan Indonesia.
“Siapa pun yang nantinya terpilih menjadi presiden dan wakil presiden wajib kita dukung bersama-sama untuk menjalankan misi besar menuju Indonesia maju,” ujarnya.
Menurut dia, proses demokrasi tak hanya berhenti pada tahap pemilu dan pergantian pemimpin. Namun, semangat demokrasi harus melahirkan pemimpin yang memberikan kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat.
Baca: Rencana strategis menuju Indonesia Emas 2045
“Dengan semangat tersebut, mari kita sambut Pemilu 2024 untuk mewujudkan demokrasi konstitusional dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” tegas Bamsoet.
Bamsoet juga sempat menyinggung konstelasi politik menjelang Pilpres 2024 di mana saat ini masing-masing koalisi belum menentukan figur bakal cawapres.
“Dari Aceh sampai Papua, sudah tentu berbeda sukunya. Para capres sudah tahu siapa, meski masih belum jelas siapa cawapresnya,” ucapnya.
Baca: Logo Hari Kemerdekaan Ri ke-78 dan maknanya
Dalam pidatonya, Bamsoet juga menyinggung penyelesaian persoalan aksi separatis yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua.
Menurut dia, saat ini bangsa Indonesia masih menghadapi persoalan resistensi KKB di Papua.
Ia menegaskan, penyelesaian separatisme dan KKB harus dilakukan secara komprehensif dengan pendekatan kebudayaan dan kesejahteraan.
“Selain melalui tindakan tegas dan terukur aparat keamanan (TNI dan Polri), namun juga dengan mengedepankan pendekatan kebudayaan dan kesejahteraan,” kata Bamsoet.
Baca: Indonesia masuk negara menengah, apa yang dilakukan dengan kemiskinan ekstrim
Dia juga meminta Pemerintah menindak tegas pihak-pihak yang menyelewengkan dana otonomi khusus untuk Papua.
“Yang tidak kalah pentingnya, harus diambil tindakan tegas terhadap penyelewengan dana otonomi khusus (otsus) yang tidak tepat sasaran dan merugikan kepentingan rakyat Papua,” tegasnya.
Indonesia saat ini sedang menghadapi ancaman keamanan non-tradisional, seperti terorisme, perubahan iklim, dan perang siber, yang telah menjadi fokus utama dalam dinamika geopolitik.
“Masyarakat dunia bekerja sama dalam menciptakan kerangka kerja dan mekanisme internasional untuk mengatasi ancaman ini secara efektif,” ucapnya.
Baca: Ini alasan ibu kota dipindah ke Kalimantan
Sebelumnya, Bambang Soesatyo mengungkapkan dinamika geopolitik dunia telah mengalami perubahan yang signifikan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.
Menurut dia, pada tingkat kompetisi global, terjadi pergeseran keseimbangan kekuatan di arena geopolitik dan perluasan pengaruh ekonomi dan militer beberapa negara.
“Di sisi yang lain, aliansi dan kemitraan geopolitik juga telah mengalami perubahan,” ujarnya.
Di tingkat kompetisi regional, pada berbagai wilayah geopolitik, terjadi peningkatan kompetisi antarnegara.
Baca: Presiden ingatkan pentingnya bersiap hadapi bonus demografi menunju Indonesia Emas 2045
Hal ini dilakukan untuk memengaruhi dan mengamankan minat mereka sendiri yang mencerminkan persaingan politik dan ekonomi yang kompleks.
Kemudian, perkembangan teknologi komunikasi dan transformasi digital telah memungkinkan interaksi yang lebih intensif antar-negara, baik dalam arena politik, ekonomi, maupun sosial.
Teknologi juga memberikan latar belakang baru untuk konflik dan persaingan.
Tidak hanya itu, dalam 20 tahun terakhir juga telah terjadi peningkatan signifikan kecanggihan teknologi keamanan dan teknologi militer, serta kemajuan perkembangan perang siber (cyber war-fare) yang memberikan keunggulan taktis dalam pertempuran.
Sumber: Antaranews.com









