Tag: RDF

  • Tunda Pembangunan ITF Sunter, Pemprov DKI Jakarta Fokus pada Pengolahan Sampah RDF yang Sudah Ada

    Tunda Pembangunan ITF Sunter, Pemprov DKI Jakarta Fokus pada Pengolahan Sampah RDF yang Sudah Ada

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak membatalkan pembangunan pengolahan sampah menjadi tenaga listrik atau intermediate treatment facility atau ITF Sunter, Jakarta Utara.

    Ketimbang mempercepat pembangunan ITF Sunter, saat ini Pemprov) DKI Jakarta lebih fokus kepada pengolahan sampah menjadi bahan bakar atau refuse derived fuel (RDF).

    Penegasan soal pengolahan sampah ITF Sunter itu diungkapkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Asep Kuswanto sebagaimana dikutip Antaranews.com Rabu (26/7/2023).

    Baca: Ini yang bisa kita lakukan untuk kurangi sampah makanan

    Seperti diberitakan sebelumnya, Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono mengungkapkan Pemprov DKI Jakarta tidak melanjutkan pembangunan ITF Sunter karena tipping fee yang harus dibayarkan ke pihak pengolah sampah terlalu besar.

    “Kalau saya boleh-boleh saja ITF itu tapi Pemda DKI nggak sanggup memberikan tipping fee,” kata Heru Budi di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat, 28 Juli 2023.

    Menurutnya, saat ini Pemerintah Provinsi atau Pemprov DKI fokus terhadap pengembangan refuse-derived fuel (RDF) plant di Rorotan, Jakarta Utara dan Pegadungan, Jakarta Barat.
     

    Sependapat, Asep RDF paling cocok untuk mengolah sampah di Jakarta karena biayanya jauh lebih murah.

    “Biaya operasional murah, kemudian juga pembangunan lebih cepat. Lalu, hasilnya pun bisa kami jual ke pabrik semen,” ujar Asep.

    RDF pertama yang sudah beroperasi di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Pemprov DKI kembali membangun dua RDF di Rorotan, Jakarta Utara dan Pegadungan, Jakarta Barat.

    Baca: Rumitnya mengelola sampah warga Jakarta

    Pembangunan ITF Sunter, kata Asep dinilai memakan anggaran yang cukup besar. Sehingga harus dikesampingkan terlebih dahulu. Seperti diberitakan sejumlah media pembangunan ITF Sunter diperkirakan memakan biaya hingga Rp 5 triliun.

    Pemprov DKI Jakarta sebenarnya sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp577 miliar dari APBD 2023 sebagai modal awal pengerjaan ITF Sunter.

    “ITF memang pembangunannya butuh waktu tiga tahun. Investasinya saja bisa empat kali lipat lebih besar dari RDF. Biaya operasional juga jauh lebih tinggi,” ucap Asep.

    Baca: Pengolahan sampah ini sudah ketinggalan jaman, layak ditinggalkan

    Sebelumnya, RDF plant dapat menghasilkan produk yang bisa dibeli oleh pabrik semen dan PLN sehingga secara tidak langsung operasional dari proses tersebut bisa dibiayai secara mandiri dan tidak membebani Pemerintah Daerah (Pemda).

    “Ternyata dari apa yang sudah DLH lakukan dengan pembangunan fasilitas RDF di Bantargebang, dari investasi enggak semahal ITF. kemudian, dari sisi pengeluaran Pemda, tidak semahal ITF,” ucap Asep.

    Diketahui, RDF merupakan teknologi pengolahan sampah melalui proses homogenizers atau pencacahan menjadi ukuran yang lebih kecil agar bisa dibentuk menjadi pelet. 

    Hasil sampah yang diolah dengan sistem RDF ini akan dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan dalam proses pembakaran recovering batu bara untuk pembangkit tenaga listrik.

    Baca: Bank sampah ini sukses berjalan meski tak punya gudang

     

     

     

     

     
     
  • Mengenal Sistem RDF, Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan

    Mengenal Sistem RDF, Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah menjadi isu bagi sejumlah kota di Indonesia. Keterbatasan lahan serta masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah menjadi penyebab utama.

    Masih banyak pemerintah kota yang taak serius menangani sampah yang terus bertambah, sehingga menimbulkan berbagai masalah lingkungan seperti pencemaran air, udara, penyebaran penyakit, bahkan longsor.

    Karena itu pengelolaan sampah yang efektif dan cara modern sudah menjadi sebuah kebutuhan mendesak. 

    Belakangan muncul inovasi mengolah sampah menjadi energi yang bermanfaat guna mengurangi berbagai masalah lingkungan yang ditimbulkan sampah. 

    Kabupaten Cilacap misalnya membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Refuse Derived Fuel (RDF) yang berlokasi di Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruk Legi.

    Kota Tangerang juga sudah menjalin kerja sama menyediakan bahan bakar cofiring untuk PT. Indonesia Power.

    Ada juga masyarakat Pulau Pramuka menggunakan metode pirolisis untuk kemandirian penyediaan bahan bakar solar.

    Sementara pemerintah kota Surabaya mengembangkan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) menggunakan metode gasification power plant.

    Baca: RDF juga telah diterapkan di Jakarta

    Tapi kali ini kita hanya akan mengulas TPST RDF Cilacap yang dibangun tahun 2017. TPST RDF Cilacap dibangun di atas lahan seluas 3 Ha dengan menggunakan mekanisme cost sharing.

    Pembiayaan ditangguang bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kerajaan Denmark melalui Kementerian ingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemprov Jawa Tengah serta Pemkab Cilacap sendiri.

    Saat diresmikan dan mulai beroperasi tahun 2020, fasilitas pengolahan sampah ini menginisiasi penggunaan teknologi RDF di Indonesia dan disebut sebagai tonggak baru pengelolaan sampah di tanah air. 

    Refuse Derived Fuel sering disingkat dengan RDF merupakan hasil pengolahan sampah yang dikeringkan untuk menurunkan kadar air hingga kurang dari 25% .

    RDF juga  menaikkan nilai kalornya setelah sebelumnya dicacah terlebih dahulu untuk menyeragamkan ukurannya menjadi 2-10 cm.

    Baca: Cara Cilacap mengubah sampah menjadi bahan bakar

    Karenanya RDF ini sering disebut sebagai keripik sampah. Dengan kapasitas pengolahan 140 ton sampah/hari, RDF yang dihasilkan sebanyak 48,40 ton/hari (34,58%) dengan nilai kalor 3.217 kcal/kg, sehingga memiliki potensi energi sebesar 155.702.800 kcal/hari.

    Potensi ini membuat RDF digunakan sebagai alternatif sumber energi oleh industri yang dalam prosesnya terdapat pembakaran menggunakan bahan bakar fosil batubara seperti pabrik semen dan PLTU.

    RDF di Cilacap ini dimanfaatkan oleh pabrik semen PT. Solusi Bangun Indonesia (PT. SBI) yang dihargai sebesar Rp.300.000,-/ton menjadi masukan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

    Bahan pembuatan RDF berasal dari sampah segar yang datang ke TPST dengan diangkut oleh dump truck.

    Setelah diketahui beratnya dari catatan di jembatan timbang, kemudian sampah dibongkar dan dituang pada area picking bay untuk dilakukan pemilahan oleh mitra pekerja lingkungan atau yang biasa kita kenal sebagai pemulung.

    Di area ini pemulung bebas memilah sampah serta mengambil barang-barang yang dapat mereka manfaatkan kembali dan diperkirakan masih bernilai ekonomis.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah ketinggalan zaman

    Setelah beberapa saat berada pada tahapan pemilahan, sampah diangkut menggunakan wheel loader menuju shredder untuk dicacah menjadi berukuran standar 2-10 cm.

    Lantas, dengan menggunakan hopper conveyor, hasil cacahan sampah dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam reaktor biodrying untuk dikeringkan hingga kadar airnya di bawah 25% serta menaikkan nilai kalor yang semula di bawah 700 kcal/kg menjadi 3.200 kcal/kg. 

    Pemrosesan dalam reaktor biodrying yaitu pengeringan biologis dengan memanfaatkan pelepasan panas dari aktivitas mikroorganisme dalam sampah mengurai materi organik secara aerobik.

    Unit ini dilengkapi dengan penutup membran khusus untuk menjaga kondisi suhu sekaligus mengeluarkan uap air. Terdapat sistem perpipaan dibagian bawah unit untuk menghembuskan udara aerasi dari blower dan mengalirkan leachate ke kolam lindi.

    Setelah 21 hari berada dalam biodrying, sampah dipindahkan kedalam screener menghasilkan 3 produk yang kemudian ditempatkan dalam bak berbeda yaitu inert berupa sampah ukuran di bawah standar 2 cm disertai dengan kerikil dan pasir, RDF yang merupakan produk utama, serta oversize yang berukuran lebih dari 10 cm.

    Oversize dapat dikembalikan pada mesin pencacah untuk dijadikan produk berukuran standar tanpa dimasukkan kedalam unit biodrying kembali karena dianggap telah memiliki kadar air kurang dari 25%.

    Baca: Teknologi Masaro membuat sampah jadi emas

    Inert awal mulanya merupakan produk samping yang dimanfaatkan untuk cover soil penutup sampah pada TPA jenis controlled landfill.

    Namun ternyata produk yang bernilai kalor 1.500 kcal/kg ini dapat dimanfaatkan sebagai pemberat pada RDF pada saat pengangkutan dan proses pada kiln PT. SBI serta dihargai sejumlah Rp.53.000,-/ton.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap, Sri Murniyati mengatakan, keberadaan TPST RDF ini permasalahan sampah di Kabupaten Cilacap sebagian teratasi dan hasil jualnya dapat menambah PAD.

    TPST RDF ini juga memberi efek domino naiknya tingkat hunian hotel oleh banyaknya kunjungan dari daerah lain di Indonesia ke Kabupaten Cilacap yang ingin mempelajari teknologi RDF.

    Selain dengan PT. SBI sebagai off-taker, TPST RDF juga memperoleh dukungan dari PT. Unilever Indonesia (PT. UI) sebagai bentuk Extended Producer Responsibility berupa bantuan biaya listrik per bulan.

    PT. UI juga bersama Pemkab Cilacap membuat MoU dalam upaya peningkatan kapasitas TPST RDF menjadi 200 ton sampah/hari melalui Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

     

     

  • RDF Rorotan Mulai Dibangun, Diharapkan Mampu Atasi Masalah Pengelolaan Sampah di Jakarta

    RDF Rorotan Mulai Dibangun, Diharapkan Mampu Atasi Masalah Pengelolaan Sampah di Jakarta

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai membangun pengolahan sampah menjadi bahan bakar (refuse derived fuel/ RDF) di Rorotan, Jakarta Utara.

    Komisi D DPRD DKI Jakarta menilai instalasi pengolahan sampah menjadi bahan bakar dengan sistem RDF di Rorotan, Jakarta Utara ini akan mampu memperpanjang umur tempat pembuangan akhir TPA.

    RDF Rorotan juga diharapkan mampu mengurangi kemacetan lalu lintas pengangkutan dan pengolahan sampah di wilayah Jakarta.

    “Alhamdulillah akhirnya kita punya pengelolaan sampah terbesar di Jakarta yang biasanya dibuang di Bantar Gebang,” kata Ketua Komisi D DPRD DKI Ida Mahmudah di sela peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan RDF Rorotan yang dilakukan Penjabat Gubernur DKI Heru Budi Hartono.

    Baca: Sampah makanan bisa picu masalah serius

    Selain untuk mengurangi kemacetan lalu lintas, dia menuturkan ada manfaat baik lainnya, mulai dari operasional hingga mampu mengurangi beban sampah di TPST Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.

    Dia menyatakan terus mendukung program penanganan sampah dengan kapasitas sebesar 1.800 hingga 2.000 ton per harinya.

    Hal itu tentunya menggunakan APBD untuk menyelesaikan masalah sampah di Jakarta.

    Daripada melanjutkan fasilitas pengelolaan sampah di dalam kota melalui pembangunan “Intermediate Treatment Facility” (ITF) yang membutuhkan biaya pengumpulan sampah (tipping fee), menurut dia, RDF lebih menghemat anggaran.

    Karena itu diharapkan pembangunan RDF ini bisa segera diselesaikan pada Desember 2024 dan bisa beroperasi 2025. “Semoga cepat selesai karena kan sampai akhir tahun ini sudah bisa berjalan,” ujarnya.

    Baca: Pemprov DKI lebih memilih pengolahan sampah RDF

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Asep Kuswanto menjelaskan
    pembangunan RDF Rorotan ini sebagai bentuk keseriusan untuk menangani sampah di dalam kota.

    RDF ini memiliki keunggulan mengatasi permasalahan sampah perkotaan.

    “Mereduksi emisi karbon dan pembakaran bahan bakar fosil semen dari proses penimbunan sampah,” kata Asep.

    RDF Rorotan dibangun di atas tanah seluas 7,78 hektare milik Pemprov DKI Jakarta, dengan biaya konstruksi lebih dari Rp1,28 triliun yang bersumber dari APBD Provinsi DKI Jakarta tahun 2024.

    RDF didesain untuk mengolah sampah baru sebanyak 2.500 ton sampah per hari. Sementara produksi sampah Jakarta diperkirakan mencapai 7000ton sehari.

    DKI Jakarta juga menerapkan regulasi Peraturan Gubernur Nomor 102 tahun 2021 Tentang Kewajiban Pengelolaan Sampah di Kawasan dan Perusahaan.

    Sumber: Antaranews.com

  • BRIN Rekomendasikan Pendekatan Ekoregion dalam Pengelolaan Sampah Plastik

    BRIN Rekomendasikan Pendekatan Ekoregion dalam Pengelolaan Sampah Plastik

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah dengan pendekatan ekoregion dapat diterapkan sebagai salah satu langkah untuk mengatasi isu sampah plastik di wilayah Indonesia yang luas.

    Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova menjelaskan, pendekatan ekoregion adalah pendekatan dalam satu kawasan ekologi.

    “Sebenarnya paling mudah kita lihatnya satu dari area Sumatera saja, area Jawa saja, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Maluku, dan area Nusa Tenggara saja,” kata Reza dalam diskusi yang diadakan BRIN di Jakarta, Rabu (11/9/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Reza menambahkan, pihaknya merekomendasikan kepada pemerintah, pertama, kita harus punya minimal RDF per masing-masing wilayah ekoregion tersebut.

    Baca: Mengenal RDF, teknik pengelolaan sampah plastik menjadi energi

    Refuse Derived Fuel (RDF) adalah teknik pengelolaan sampah anorganik yang diolah untuk menghasilkan listrik atau digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil.

    Sampah diolah menjadi lebih kecil atau dibentuk pellet yang kemudian digunakan menjadi bahan bakar.

    Jika tidak memungkinkan dibangun fasilitas RDF, kata Reza, maka dapat dilakukan penambahan insinerator per ekoregion tersebut.

    Hal ini untuk memastikan sampah atau limbah dapat diolah tanpa harus dibawa melalui perjalanan antar-pulau yang akan menimbulkan biaya tambahan.

    Baca: Jakarta lebih memilih RDF ketimbang ITF untuk pengelolaan sampah plastik

    Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN itu memberi contoh bagaimana untuk melakukan pengelolaan sampah yang dihasilkan di wilayah timur Indonesia terkadang harus dibawa ke Pulau Jawa agar dapat dimanfaatkan ulang sebagai bahan bakar atau bahan baku produk daur ulang.

    Dengan demikian, katanya, maka selain mendukung upaya pengurangan sampah di wilayah masing-masing, juga menghasilkan bahan baku yang dibutuhkan oleh industri di Indonesia.

    Saat ini sekitar 20-30 persen kebutuhan bahan baku sampah plastik dan kertas di Indonesia masih dipenuhi melalui impor.

    Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbulan sampah nasional mencapai 38,5 juta ton pada 2023 dengan sekitar 37,71 persen diantaranya belum terkelola atau sekitar 14,5 juta ton.

    Sumber:Antaranews.com

  • Fasilitas RDF Plant Rorotan Siap Beroperasi

    Fasilitas RDF Plant Rorotan Siap Beroperasi

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyebutkan fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Jakarta di Rorotan, Jakarta Utara, siap beroperasi dalam waktu dekat.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto , mengatakan RDF Plant Jakarta didukung dengan teknologi mutakhir untuk memastikan proses pengolahan sampah berjalan sesuai standar lingkungan yang ketat.

    Fasilitas ini dilengkapi dengan sistem pengendalian bau yang canggih, termasuk deodorizer (pembersih disinfektan) dengan teknologi ozonisasi dan UV sterilization yang mampu menetralkan bau seperti amonia dan hidrogen sulfida melalui proses oksidasi.

    “Selain itu, filter karbon aktif juga digunakan untuk menyerap partikel bau yang tersisa,” kata Asepdi Jakarta, Rabu (12/2/2025)

    RDF Plant Rorotan ini menurut Asep, merupakan RDF Plant terbesar di dunia.

    Baca: RDF Rorotan diharapkan bisa atasi masalah sampah di Jakarta

    Keberadaan fasilitas canggih pengolahan sampah modern ini dinilai dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan sampah yang semakin kompleks di Jakarta, dengan kapasitas pengolahan yang mencapai 2.500 ton per hari.

    Selain sistem deodorizer, RDF Plant tersebut juga dilengkapi dengan teknologi cyclone dan wet scrubber untuk menyaring udara dari hasil pembakaran sebelum dilepaskan ke lingkungan.

    Kedua teknologi ini memastikan bahwa udara yang keluar dari fasilitas sudah dinetralkan, sehingga tidak menimbulkan bau dan emisi yang membahayakan lingkungan.

    Asep mengatakan, untuk menjaga kebersihan dan memastikan RDF Plant Jakarta beroperasi dengan standar tinggi, fasilitas ini juga memiliki sistem pengolahan air limbah dengan sistem tangki ekualisasi, tangki koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi.

    RDF Rorotan juga dilengkapi kolam anaerobik, tangki oksidasi, serta tangki filtrasi pasir agar air limbah hasil operasional dapat digunakan kembali untuk pencucian truk dan penyiraman tanaman di sekitar fasilitas.

    Baca: Mengapa Pemprov DKI Jakarta lebih memilih RDF ketimbang ITF 

    Sebagai upaya menjaga kualitas udara, RDF Plant tersebut juga dilengkapi dengan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) Mobile yang mampu memantau kualitas udara secara langsung dengan berbagai parameter, seperti PM 2.5, PM 10, CO, NO2, ozon, dan SO2.

    “Selain itu, area sekitar fasilitas dibersihkan secara rutin menggunakan road sweeper dengan cairan karbol atau cairan penghilang bau untuk memastikan lingkungan selalu higienis. Kami juga menyediakan fasilitas pencucian truk agar kendaraan dalam kondisi bersih sebelum kembali ke pangkalan,” lanjut Asep.

    Asep juga menekankan bahwa RDF Plant Jakarta telah dirancang untuk memastikan operasionalnya berjalan secara optimal dengan meminimalkan dampak terhadap masyarakat sekitar.

    Dengan penggunaan teknologi canggih ini, kata Asep, RDF Plant Jakarta tidak hanya menjadi fasilitas terbesar di dunia, tetapi juga menjadi “role model” dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.

    Kendati demikian, keberhasilan RDF Plant Jakarta sangat bergantung pada kolaborasi dan komitmen berbagai pihak, termasuk m Pemerintah Daerah, industri, dan masyarakat.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta terapkan retribusi sampah rumah tangga

  • Pemprov DKI Jakarta Berencana Menambah Jumlah Fasilitas RDF untuk Atasi Masalah Sampah

    Pemprov DKI Jakarta Berencana Menambah Jumlah Fasilitas RDF untuk Atasi Masalah Sampah

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan untuk menambah pabrik pengolahan sampah menjadi bahan bakar atau Refuse Derived Fuel (RDF) Plant.

    Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno mengatakan, penambahan fasilitas RDF ini dimaksudkan agar penanganan sampah di Jakarta setiap harinya menjadi lebih baik.

    “Waktu di tim transisi, RDF menjadi masukan untuk ditambah, Sekarang kita sudah bangun itu RDF di Rorotan, itu salah satu usaha. Kemudian, [tempat pengolahan sampah] memang kurang, harus minimal di empat wilayah,” ucap Rano Karno di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (23/2/2025).

    Menurut dia terkait dengan rencana penambahan RDF ini, tentu akan dibicarakan dengan Gubernur DKI Pramono Anung. Menurut dia Pramono lebih mengetahui persoalan sampah ini.

    Rano Karno menambahkan, problem sampah di Jakarta ini dari dulu sudah dipahami dan tidak pernah selesai karena memang DKI Jakarta tidak memiliki lahan untuk menampung sampah.

    Baca: Fasilitas RDF Plant Rorotan siap beroperasi

    Selain itu, Jakarta sebagai kota metropolitan juga belum memiliki fasilitas pengolahan sampah modern yang memadai, di mana pengolahan sampah masih dilakukan secara konvensional.

    “Untung kita punya Bekasi yang bisa kita kerja samakan, tapi lama-lama Bekasi akan kewalahan juga,” kata dia.

    Menurut dia, saat ini sudah ada teknologi pengolahan sampah menjadi listrik melalui Intermediate Treatment Facility (ITF) yang mampu mereduksi sampah sebanyak 80 persen hingga 90 persen dari total kapasitas sampah.

    Namun, biaya pembangunannya tergolong tinggi sehingga Pemprov DKI Jakarta lebih memilih membangun RDF.

    Baca: Ketimbang ITF, Pemprov DKI Jakarta lebih pilih bangun RDF

    Sementara RDF Plant yang ada di Rorotan, Kecamatan Cilincing Jakarta Utara mampu menampung 2.500 ton sampah per hari yang diproses menjadi bahan bakar alternatif dengan teknologi mutakhir.

    “Pilihannya hanya dua itu saja,” kata dia.

    Rano mengatakan Pemprov harus berani mengambil keputusan karena produksi sampah di Jakarta yang terus meningkat tak bisa lagi diproses secara konvensional agar tidak menjadi persoalan.

    Saat ini produksi sampah di Jakarta mencapai 8.000 ton dan ditampung di RDF Plant Rorotan dengan kapasitas 2.500 ton per hari.

    Sementara itu, RDF plant di TPST Bantargebang dapat mengolah 1.000 ton sampah lama dan 1.000 ton sampah baru dan bisa menghasilkan 700-750 ton bahan bakar pabrik per hari.

  • Tak Ada Kegiatan di RDF Rorotan Tapi Warga Sekitar Tetap Mencium Bau Sampah

    Tak Ada Kegiatan di RDF Rorotan Tapi Warga Sekitar Tetap Mencium Bau Sampah

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta menegaskan bau sampah yang tercium warga di sekitar perumahan Jakarta Garden City (JGC) pada Kamis (27/3/2025) bukan berasal dari fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara.

    Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Yogi Ikhwan dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (28/3/2025) mengatakan, sumber bau yang tercium bersumber dari tumpukan sampah yang belum diangkut dan membusuk di AEON Mal JGC.

    Petugas Dinas Lingkungan Hidup DKI jakarta, kata dia, juga menemukan sumber bau berasal dari tumpukan sampah sisa makanan pada saluran air di depan pasar modern AEON JGC.

    Yogi menyampaikan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mendapatkan laporan bau pertama kali pada Kamis (27/3/2025) pukul 20.50 WIB.

    Baca: Pemprov Siapkan Puskesmas untuk antisipasi dampak kesehatan akibat RDF Rorotan

    Adapun lokasi atau wilayah yang mencium bau tersebut berada di Kompleks Jakarta Garden City (JGC) dan sekitarnya, seperti di Cluster Shinano, Casia, La Seine, Asya, North Thames, dan South Thames.

    Selain itu, warga Harapan Indah Bekasi berada di Cluster Harmoni, Ifolia, Aralia, dan Symphony, serta Metland juga melapor mencium bau.

    “DLH DKI Jakarta menuntaskan pengangkutan sampah pada malam yang sama di sekitar wilayah tersebut guna menghilangkan sumber bau yang dikeluhkan oleh sejumlah warga,” ujar Yogi.

    Dia memastikan saat ini tidak ada aktivitas apapun di fasilitas RDF Plant dan seluruh sampah di dalam bunker sudah dikosongkan sejak sepuluh hari lalu. Ini dilakukan dalam rangka penyempurnaan sistem operasi di RDF Plant tersebut.

    Baca: RDF Rorotan diharapkan mampu atasi masalah sampah di Jakarta

    “Tidak ada aktivitas apapun di RDF Plant Rorotan. Bunker sampah sudah dikosongkan dan dibersihkan, termasuk Waste Water Treatment Plant (WWTP) atau pengolahan air limbah atau air lindi pun tertutup rapat, jadi dipastikan bau tersebut bukan dari fasilitas RDF Plant,” katanya.

    Dia mengimbau kepada masyarakat agar segera melaporkan ke media sosial resmi Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta bila mengalami keluhan serupa.

    RDF Rorotan dibangun di atas tanah seluas 7,78 hektare milik Pemprov DKI Jakarta, dengan biaya konstruksi lebih dari Rp1,28 triliun yang bersumber dari APBD Provinsi DKI Jakarta tahun 2024.

    RDF Rorotan didesain untuk mengolah sampah baru sebanyak 2.500 ton sampah per hari. Sementara produksi sampah Jakarta diperkirakan mencapai 7000-8000 ton sehari.

    DKI Jakarta juga menerapkan regulasi Peraturan Gubernur Nomor 102 tahun 2021 Tentang Kewajiban Pengelolaan Sampah di Kawasan dan Perusahaan.

  • Cara Kota Yogyakarta Menangani Kondisi Darurat Sampah

    Cara Kota Yogyakarta Menangani Kondisi Darurat Sampah

    7cloud.asia – Masalah darurat sampah yang dialami Kota Yogyakarta beberapa waktu terakhir secara bertahap mulai teratasi.

    Hal ini tak lepas dari keberadaan beberapa Unit Pengolahan Sampah yang dikelola Pemkot Yogyakarta yaitu Nitikan, Kranon, Karangmiri, Sitimulyo, Giwangan dan Tompeyan.

    Salah satu andalan Kota Yogyakarta adalah TPS3R Nitikan yang merupakan unit pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang telah beroperasi sejak tahun 2022.

    Dilansir yogyakarta.goid, setiap harinya, TPS3R Nitikan mampu menangani hingga 75 ton sampah dari wilayah di sekitarnya.

    Saat memimpin rapat koordinasi penanganan sampah secara rutin pada April lalu, Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo optimis, pihaknya dapat mengelola sampah real time karena potensi pengolahan sampah sudah lebih dari potensi sampah mingguan.

    Dalam rapat itu dipaparkan potensi sampah mingguan di kota Yogyakarta sekitar 1.423 ton. Sedangkan potensi pengolahan sampah mingguan per 15 April 2025 mencapai 1.650 ton/minggu.

    Baca: Peta jalan pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta

    Pengolahan sampah dengan metode mesin gibrig menjadi refuse derived fuel (RDF) dan termal atau insinerator. Selain itu Pemkot Yogyakarta juga bekerja sama dengan sejumlah mitra pengelola.

    Meskipun secara matematis, pengolahan sampah real time dapat dilakukan, Hasto berpesan untuk tetap mengawal dan mencermati pelaksanaan di lapangan.

    Hal itu untuk memastikan rantai pengangkutan dan pengolahan sampah lancar. Jika kurang, truknya ditambah dan waktu pengangkutan dari depo juga harus diperhatikan agar tidak terlambat.

    “Secara matematis bisa. Cuma saya pesan supaya dikawal betul. Meskipun bisa harus memberikan layanan yang nyaman. Contohnya seperti truk tidak terlambat, sehingga warga merasa tidak terganggu,” tegas Hasto

    Sementara, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono menyebut kondisi 14 depo dalam posisi kosong dari tumpukan sampah. Sedangkan 31 TPS semua sudah ditutup dan 17 TPS di antaranya sudah dibongkar.

    Diakuinya masih ada TPS yang sebelumnya sudah dikosongkan tapi muncul sampah baru yaitu di TPS Sisingamaraja. Untuk mengatasi itu dilayani kontainer khusus dari personel depo sampah di THR Jalan Brigjen Katamso.

    Baca: Pemprov DIY tutup TPA Piyungan per April 2024

    Adapun jumlah transporter atau penggerobak sampah yang mengangkut sampah ke depo ada 1.130 orang, dengan peta assessment dari 45 lurah menyatakan jumlah penggerobak cukup melayani warga dan gerobak tersedia.

    Untuk jumlah kelurahan yang berstatus hijau ada 25 kelurahan dan berwarna kuning 20 kelurahan.

    Status hijau berarti kelurahan dalam pengelolaan sampah tidak ada masalah atau sudah baik. Untuk kelurahan berwarna kuning berarti masih ada persoalan seperti pembuangan sampah di luar depo.

    Anggota Komisi XII DPR, Meitri Citra Wardani, saat mengunjungi RDF Nitikan menegaskan pentingnya memaksimalkan inovasi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.

    “Unit ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah daerah bersama masyarakat dalam mengelola sampah secara lebih efisien dan ramah lingkungan,” ujar Meitri dikutip Parlementaria usai mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi XII DPR ke DIY, Sabtu (19/7/2025).

    Ia mengapresiasi kehadiran fasilitas RDF di TPS3R Nitikan yang dinilai sebagai terobosan penting untuk mengatasi sampah-sampah yang sulit didaur ulang, seperti plastik dan kertas.

    “Inovasi RDF di TPS3R Nitikan merupakan hal yang potensial dalam pengolahan sampah di masyarakat. Terutama sampah yang sulit didaur ulang seperti plastik, hasilnya bahkan bisa menjadi alternatif bahan bakar,” jelasnya.

    Baca: Pengelolaan sampah berbayar jadi opsi penanganan darurat sampah di Kota Yogyakarta 

  • Warga Jakarta Garden City Tolak Pengoperasian RDF Rorotan Karena Picu Bau Tak Sedap

    Warga Jakarta Garden City Tolak Pengoperasian RDF Rorotan Karena Picu Bau Tak Sedap

    7cloud.asia – Penolakan warga terhadap pengoperasian fasilitas Refuse Derive Fuel atau RDF Plant Rorotan di Jakarta Utara masih berlanjut. Warga Perumahan Jakarta Garden City (JGC), Jakarta Timur, menolak pengoperasian RDF Rorotan karena memicu bau tak sedap.

    Dalam uji coba kedua fasilitas pengolahan sampah tersebut, warga mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari proses pembakaran sampah, dan bahkan sekitar 20 anak dilaporkan jatuh sakit.

    Menanggapi hal ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut, selama ini permasalahan utama bukan pada fasilitas RDF Plant Rorotan namun pada proses pengangkutan sampah serta sampahnya sendiri.

    “Jadi, RDF Rorotan sebenarnya permasalahannya bukan di RDF-nya, karena sebenarnya kita sudah commissioning sampai dengan 1.000-1.200. Saya mengakui secara jujur, problemnya adalah di pengangkutan dan sampahnya,” ujar Pramono di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Senin (3/11/2025).

    Ia menjelaskan, sampah yang digunakan di fasilitas RDF Rorotan seharusnya adalah sampah segar yang usianya tidak lebih dari dua sampai lima hari sehingga tidak menimbukan bau.

    Selain itu, proses pengangkutan sampah ke lokasi RDF juga bermasalah, karena menyebabkan air lindi yang berasal dari tumpukan sampah mengalir selama perjalanan ke RDF Rorotan.

    Baca: Upaya DLH Jakarta agar RDF Rorotan tetap ramah lingkungan

    “Kemarin mobil yang mengangkut itu air lindinya bertebaran. Itu yang kemudian menyebabkan yang pertama bau ke mana-mana,” jelasnya.

    Untuk menindaklanjuti keluhan warga, dalam waktu dekat Pramono berencana menemui warga sekitar RDF Rorotan yang mengeluhkan adanya bau. Ia memastikan Pemprov DKI Jakarta akan menyelesaikan permasalahan ini sehingga RDF Plant Rorotan bisa beroperasi.

    “Dalam waktu dekat saya akan ke lapangan dan saya juga akan menerima warga yang mengeluh tentang RDF Rorotan. Karena RDF Rorotan apapun harus diselesaikan,” tandas Pramono.

    Terpisah, anggota Komisi XII DPR Ratna Juwita Sari meminta Pemprov Jakarta mengkaji ulang pengoperasian RDF Rorotan.

    Dilansir di laman resmi PKB, Ratna menegaskan, keluhan warga harus dijadikan dasar untuk investigasi menyeluruh. Pemerintah perlu memastikan RDF beroperasi sesuai regulasi dan tidak membahayakan kesehatan masyarakat.

    Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengatakan RDF berpotensi menimbulkan pencemaran udara dan bau tidak sedap bila tidak dilengkapi dengan sistem pengendalian yang baik.

    Baca: Warga sekitar RDF Plant Rorotan diundang ikut pantau commisioning

    Karena itu, ia menilai jarak antara lokasi RDF dan permukiman warga harus sesuai standar lingkungan untuk mencegah dampak kesehatan, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

    Ratna juga menekankan pentingnya penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat dalam pengoperasian RDF.

    Menurutnya, protes masyarakat dan laporan warga sakit merupakan sinyal adanya pelanggaran atau kelalaian terhadap SOP lingkungan dan kesehatan kerja.

    “Jika ada masyarakat yang terdampak atau mengalami gangguan kesehatan akibat operasional RDF, maka perlu dilakukan investigasi mendalam untuk memastikan apakah SOP sudah dijalankan dengan benar atau justru diabaikan,” katanya.

    Klaim pengelola RDF menggunakan teknologi penghilang bau, kata Ratna patut dipertanyakan. Berdasarkan informasi warga bau masih tercium hingga area perumahan, terutama ketika pintu hangar terbuka atau saat pergantian shift kerja.

    “Fakta bahwa bau masih tercium berarti masih ada celah teknis yang perlu diperbaiki. Tidak seharusnya masyarakat terganggu dengan alasan kondisi operasional semacam itu,” ujar Ratna.

    Sebagai langkah ke depan, Ratna meminta agar pemerintah daerah dan pengelola RDF melakukan evaluasi berkala, audit lingkungan, serta membuka hasilnya secara transparan kepada publik.

    Baca: Pembangunan pengolahan sampah ITF Sunter ditunda

  • Selain RDF BRIN Juga Kembangkan Teknologi SRF untuk Mengolah Sampah Residu

    Selain RDF BRIN Juga Kembangkan Teknologi SRF untuk Mengolah Sampah Residu

    7cloud.asia – Teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) yang memanfaatkan campuran sampah kota dan residu biomassa yang telah dipisahkan dari material nonbahan bakar telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif industri semen sesuai standar SNI 9313:2024.

    Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wiharja, dalam kegiatan BRIN EnviroTalk #55 beberapa waktu lalu memaparkan bahwa selain RDF, BRIN juga mengembangkan Solid Recovered Fuel (SRF).

    SRF merupakan bentuk RDF dengan kualitas lebih terkontrol dan nilai kalor lebih tinggi yang diatur dalam SNI 8966:2021. Teknologi ini digunakan pada pembangkit listrik.

    “Pemanfaatan RDF harus disesuaikan dengan tujuan penggunaannya karena komposisi bahan bakarnya berbeda. Untuk pembangkit listrik, kandungan plastik dibatasi sehingga pengendalian kualitas menjadi sangat penting,” paparnya.

    Baca: Pembangunan PLTSa Harus Dibarengi Kebijakan Pengurangan dan Pemilahan Sampah

    Menurut Wiharja, proses produksi RDF meliputi lima tahap utama, yakni penerimaan dan inspeksi awal sampah, pemilahan material nonbahan bakar, pencacahan awal, pengeringan hingga kadar air di bawah 20 persen, serta pencacahan akhir sesuai kebutuhan industri.

    Namun, implementasi teknologi RDF di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala, terutama ukuran cacahan yang belum memenuhi standar serta kadar air sampah yang masih tinggi.

    Ia menilai tahap pengeringan dan pencacahan menjadi faktor paling krusial dalam menghasilkan RDF berkualitas.

    Selain itu, keterbatasan investasi, khususnya untuk mesin pencacah akhir, membuat pengolahan RDF dinilai lebih efektif dilakukan pada skala kawasan.

    “Karena itu, BRIN mengembangkan sistem RDF dua tingkat, yakni skala komunitas untuk pemilahan awal dan pengolahan sederhana, serta skala kawasan untuk pemrosesan lanjutan hingga menghasilkan RDF siap pakai bagi industri,” ungkapnya.

    Baca: RDF Plant Rorotan Dioperasikan Bertahap Pasca Insiden di TPST Bantargebang

    Wiharja menambahkan, proses pengeringan RDF dapat dilakukan melalui berbagai metode, seperti pengeringan termal, udara, tenaga surya, dan biodrying, yang masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan.

    Pengembangan teknologi ini juga mempertimbangkan keberadaan pengguna akhir dalam jarak ekonomis agar sistem pengelolaan tetap efisien dan berkelanjutan.

    Saat ini, industri semen menjadi pengguna utama RDF di Indonesia. Namun, pemanfaatannya dinilai memiliki potensi untuk diperluas ke berbagai sektor industri lainnya.

    Melalui pengembangan teknologi RDF, BRIN berharap pengelolaan sampah di Indonesia dapat lebih terpadu, mengurangi ketergantungan pada TPA, serta mendukung penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.