Selain RDF BRIN Juga Kembangkan Teknologi SRF untuk Mengolah Sampah Residu

Written by

in

7cloud.asia – Teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) yang memanfaatkan campuran sampah kota dan residu biomassa yang telah dipisahkan dari material nonbahan bakar telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif industri semen sesuai standar SNI 9313:2024.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wiharja, dalam kegiatan BRIN EnviroTalk #55 beberapa waktu lalu memaparkan bahwa selain RDF, BRIN juga mengembangkan Solid Recovered Fuel (SRF).

SRF merupakan bentuk RDF dengan kualitas lebih terkontrol dan nilai kalor lebih tinggi yang diatur dalam SNI 8966:2021. Teknologi ini digunakan pada pembangkit listrik.

“Pemanfaatan RDF harus disesuaikan dengan tujuan penggunaannya karena komposisi bahan bakarnya berbeda. Untuk pembangkit listrik, kandungan plastik dibatasi sehingga pengendalian kualitas menjadi sangat penting,” paparnya.

Baca: Pembangunan PLTSa Harus Dibarengi Kebijakan Pengurangan dan Pemilahan Sampah

Menurut Wiharja, proses produksi RDF meliputi lima tahap utama, yakni penerimaan dan inspeksi awal sampah, pemilahan material nonbahan bakar, pencacahan awal, pengeringan hingga kadar air di bawah 20 persen, serta pencacahan akhir sesuai kebutuhan industri.

Namun, implementasi teknologi RDF di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala, terutama ukuran cacahan yang belum memenuhi standar serta kadar air sampah yang masih tinggi.

Ia menilai tahap pengeringan dan pencacahan menjadi faktor paling krusial dalam menghasilkan RDF berkualitas.

Selain itu, keterbatasan investasi, khususnya untuk mesin pencacah akhir, membuat pengolahan RDF dinilai lebih efektif dilakukan pada skala kawasan.

“Karena itu, BRIN mengembangkan sistem RDF dua tingkat, yakni skala komunitas untuk pemilahan awal dan pengolahan sederhana, serta skala kawasan untuk pemrosesan lanjutan hingga menghasilkan RDF siap pakai bagi industri,” ungkapnya.

Baca: RDF Plant Rorotan Dioperasikan Bertahap Pasca Insiden di TPST Bantargebang

Wiharja menambahkan, proses pengeringan RDF dapat dilakukan melalui berbagai metode, seperti pengeringan termal, udara, tenaga surya, dan biodrying, yang masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan.

Pengembangan teknologi ini juga mempertimbangkan keberadaan pengguna akhir dalam jarak ekonomis agar sistem pengelolaan tetap efisien dan berkelanjutan.

Saat ini, industri semen menjadi pengguna utama RDF di Indonesia. Namun, pemanfaatannya dinilai memiliki potensi untuk diperluas ke berbagai sektor industri lainnya.

Melalui pengembangan teknologi RDF, BRIN berharap pengelolaan sampah di Indonesia dapat lebih terpadu, mengurangi ketergantungan pada TPA, serta mendukung penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *