Tag: satwa liar

  • Mitigasi Dampak Perubahan Iklim dan El Nino pada Satwa Liar

    Mitigasi Dampak Perubahan Iklim dan El Nino pada Satwa Liar

    7cloud.asia – Dalam tulisan sebelumnya disebutkan kekeringan akibat fenomena El Nino turut mengancam kelestarian satwa liar di Indonesia. 

    El Nino diperkirakan akan semakin terjadi akibat perubahan iklim, karena itu pemerintah diminta untuk melakukan langkah mitigasi untuk mengatasi dampaknya tak hanya untuk manusia tetapi juga untuk kehidupan satwa liar.

    Jatna Supriatna, Professor of Conservation Biology, Universitas Indonesia dalam tulisannya di The Conversation menyebut, El Nino juga dapat memanaskan permukaan laut.

    Selanjutnya dampak El Nino iin dapat meningkatkan keasamannya sehingga dapat mempengaruhi satwa liar yang ada di dalamnya. 

    Ini dapat mengancam ekosistem perairan Indonesia yang termasuk dalam Segitiga Karang Dunia sekaligus rumah bagi 1.100 dan 5.300 spesies flora dan fauna perairan.

    Baca: El Nino pengaruhi kehidupan satwa liar

    Pemerintah sebaiknya menyediakan pendanaan cukup untuk meneliti dampak perubahan iklim dan El Nino terhadap keanekaragaman hayati.

    “Pengetahuan kita mengenai dampak perubahan iklim di Indonesia sangat minim. Sementara, kerusakan habitat tersebut terus meningkat,” tulisnya.

    Sebagai langkah awal, Indonesia harus menggenjot penelitian yang memprediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan satwa liar.

    Pemanfaatan teknologi pemantauan, pelaporan, dan verifikasi berskala luas menggunakan teknologi seperti peraba jarak jauh optik (LiDAR) ataupun Sistem Informasi Geografis harus dilakukan.

    Teknologi ini memungkinkan kita untuk mengetahui pola-pola aktivitas satwa liar bahkan secara langsung.

    Baca: El Nino percepat melelehnya salju abadi di Puncak Jaya

    Harapannya, jika otoritas cuaca meramalkan cuaca ekstrem akan terjadi, kita bisa bertindak cepat—berbasiskan data pemantauan—untuk mencegah dampak negatifnya bagi satwa liar.

    Sistem pemantauan berbasis data ini, ujarnya, jangan dibangun terpusat karena setiap daerah punya karakter berbeda.

    “Indonesia, dengan karakternya sebagai negara kepulauan, justru perlu memanfaatkan perguruan tinggi dan lembaga penelitian di daerah agar kegiatan pemantauan satwa liar tersebar di kawasan masing-masing,” ujarnya.

    Indonesia juga dapat meningkatkan penggalian materi biodiversitas untuk keperluan pangan, papan, obat-obatan, aromaterapi, kosmetik, dan lainnya dalam program pemanfaatan produk berbasis sumber daya hayati (bioprospecting) yang lebih terencana.

    Penggalian materi biologi juga perlu dilakukan bekerja bersama masyarakat adat, agar mereka dapat memanfaatkan material genetik dengan baik.

    Baca: Mengenal Hari Species Terancam Punah, mengapa harus diperingati

    Selain itu bioprospecting perlu digalakkan di berbagai perguruan tinggi di dalam negeri khususnya dan kalau perlu saja dengan perguruan tinggi luar negeri.

    Indonesia juga dapat menjajaki sistem kredit biodiversitas, artinya memberi kredit bagi pelestarian keanekaragaman hayati.

    Kredit ini dapat dijual ke perusahaan untuk menebus aktivitasnya yang berdampak pada biodiversitas.

    Dana hasil penjualan kemudian bisa kita gunakan untuk memperkuat usaha pelestarian flora dan fauna di tanah air.

    Tanggal 5 November adalah Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional.

    “Semoga peringatan hari ini dapat memicu kita untuk tidak sekadar ‘menunggu’ dampak perubahan iklim, tapi aktif bertindak untuk mencegah dampaknya bagi seluruh kehidupan satwa liar di Indonesia,” pungkasnya.

    Baca: Ancaman perubahan iklim sudah diingatkan sejak 70 tahun lalu

     

  • Kemarau Panjang Akibat El Nino Ancam Ruang Hidup Satwa Liar

    Kemarau Panjang Akibat El Nino Ancam Ruang Hidup Satwa Liar

    7cloud.asia – Fenomena El Nino yang ditandai dengan cuaca panas dan kemarau panjang yang memicu kekeringan bisa berefek mematikan  bagi sejumlah satwa liar.

    El Nino mengancam ruang hidup satwa liar di kawasan tropis karena menyebabkan sungai dan danau mengering, hutan-hutan rusak akibat kebakaran, serta pemanasan permukaan laut.

    Efek El Nino ini diperparah dengan tingkat ancaman satwa liar Indonesia yang berbeda karena wilayahnya merupakan kepulauan.

    Meski keberagamannya berpotensi lebih tinggi, kelimpahan spesies di kawasan kepulauan jauh lebih rendah dibandingkan kawasan kontinental (daratan luas).

    Panel antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyepakati El Nino akan berlangsung lebih sering dan lebih parah akibat iklim yang berubah.

    Baca: El Nino percepat lelehnya salju abadi di Puncak Jaya

    Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa, Antonio Guterres, bahkan menyebut Bumi sedang menghadapi masa “pendidihan global”.

    Tanpa rencana pencegahan memadai, panas dan kekeringan ekstrem akibat fenomena cuaca berskala besar ini akan mengancam kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.

    Dampak El Nino terhadap satwa Indonesia. Kekurangan air akibat El Nino mengancam langsung satwa-satwa yang bergantung padanya, contohnya amfibi. Satwa jenis ini berperan penting dalam rantai makanan.

    Amfibi berperan sebagai pengendali alami populasi serangga dan pakan bagi spesies lainnya seperti ular dan elang.

    Kehilangan amfibi pun akan mengganggu proses penting dalam ekosistem seperti pengadukan tanah (bioturbasi) dan penguraian.

    Baca: BRIN perkirakan El Nino akan berlangsung hingga awal 2024

    Dampak perubahan iklim juga dirasakan amfibi. Meski hidup di dua alam, amfibi—yang terdiri dari katak, kodok, ataupun salamander—mengawali hidupnya dari air. Ketiadaan air akan membuat amfibi sulit berkembang biak.

    Sementara, di kawasan tropis beberapa jenis amfibi di kawasan tropis memiliki usia yang pendek, hanya dua tahun.

    Musim kemarau berkepanjangan akibat El Nino dapat meningkatkan risiko kepunahan spesies amfibi di Indonesia, yang saat ini tercatat mencapai 270 jenis.

    Meski secara global amfibi sedang menghadapi gelombang kepunahan salah satunya karena perubahan suhu, dampaknya bagi amfibi di Indonesia belum banyak diteliti.

    Selain amfibi, satwa lainnya yang terancam adalah ikan-ikan terutama spesies bermigrasi di sungai berarus deras dengan kadar oksigen tinggi.

    Penurunan debit air akibat kemarau akan mengurangi arus sungai, sehingga mengurangi kadar oksigen di dalamnya.

    Hal ini membuat ikan kesulitan mencapai tempat migrasi (biasanya untuk bertelur) atau mati dalam perjalanan.

    Baca: Pemerintah siapkan dana Rp 8 Triliun untuk antisipasi dampak El Nino

    Salah satu contohnya adalah ikan tambra (Tor tambroides) di sungai-sungai di Kalimantan, Jawa, Sumatra, hingga beberapa kawasan Asia Tenggara.

    Kekeringan akibat El Nino berisiko memperparah penurunan populasi ikan ini yang memang sudah tertekan karena perburuan dan kerusakan habitat.

    Kekeringan di sumber air besar juga dapat mengancam langsung keberadaan populasi ikan-ikan endemik.

    Misalnya, kekeringan di Danau Poso, Sulawesi Tengah, turut mengancam ikan Popta’s Buntingi, satu dari beberapa spesies ikan endemik Danau Poso yang berstatus terancam punah.

    Kekeringan di Danau Sentarum, Kalimantan Barat, juga berisiko bagi kelangsungan ikan arwana merah, spesies langka penghuni kawasan tersebut.

    Di hutan-hutan, primata yang hidup sepenuhnya di pepohonan atau arboreal tidak lepas dari tekanan El Nino.

    Baca: Dampak El Nino bagi pertanian dan lingkungan

    Saat kemarau ekstrem datang, pepohonan akan menyesuaikan diri dengan menghasilkan buah yang lebih kecil dari biasanya.

    Hal ini memengaruhi kelimpahan pakan sehingga mengganggu kehidupan mereka.

    Owa Jawa merupakan primata langka yang berisiko terimbas tekanan ini. Pasalnya, Owa tidak bisa melahap pakan daun dan biji-bijian, hanya buah-buahan.

    Selain persoalan pakan, kesehatan primata juga terdampak langsung kebakaran hutan yang mengganas lantaran El Nino.

    Studi terbaru menyebutkan asap kebakaran menyebabkan suara orang utan menjadi parau dan diduga mengalami peradangan saluran pernapasan.

    Ini menjadi berita buruk, apalagi bila terjadi pada orang utan tapanuli yang populasinya tinggal 800 ekor.

    Baca: Mengenal Hari Terancam Punah Sedunia

    Cuaca panas juga dapat membalikkan upaya konservasi kadal purba komodo yang selama ini berjalan positif. El Nino dapat mematikan pohon-pohon sehingga anak-anak komodo kian rentan dimangsa oleh komodo dewasa.

    Saat ini, anak-anak komodo kerap memanjat pohon untuk menyelamatkan diri. Tanpa El Nino saja, hanya 1 dari 10 anak-anak komodo yang tumbuh dewasa.

    Bayangkan jika pada masa depan El Nino semakin kuat dan sering, anak-anak komodo yang bertahan hidup bisa semakin sedikit.

    El Nino juga dapat memanaskan permukaan laut dan meningkatkan keasamannya sehingga dapat menyebabkan terumbu karang memutih, bahkan mati.

    Ini dapat mengancam ekosistem perairan Indonesia yang termasuk dalam Segitiga Karang Dunia sekaligus rumah bagi 1.100 dan 5.300 spesies flora dan fauna perairan.

    Pemerintah sebaiknya menyediakan pendanaan cukup untuk meneliti dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati. Seperti apa rekomendasinya, baca di tulisan selanjutnya.

    Penulis: Jatna Supriatna, Professor of Conservation Biology, Universitas Indonesia. Tulisan ini telah tayang di The Conversation untuk memeringati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional pada 5 November 2023.
     

     

  • BKSDA Maluku Lepasliarkan Burung Nuri Sitaan Perdagangan Satwa Liar

    BKSDA Maluku Lepasliarkan Burung Nuri Sitaan Perdagangan Satwa Liar

    7cloud.asia – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Maluku melakukan pelepasliaran sebanyak 24 ekor satwa burung nuri maluku di Hutan Lindung Gunung Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

    “Burung nuri yang dilepasliarkan tersebut merupakan barang bukti perdagangan satwa liar yang proses hukumnya ditangani oleh penyidik Ditreskrimsus Polda Maluku,” kata Polisi Hutan (Polhut) BKSDA Maluku Seto, di Ambon, Rabu (24/1/2024).

    Dilansir Antaranews.com, kasus perdagangan burung nuri yang masuk satwa liar dlindungi tersebut, statusnya kini sudah P21 atau sudah ditingkatkan ke tahap penyidikan.

    Baca: Populasi burung kakatua terus menurun

    Kasus perdagangan satwa liar ini merupakan hasil kegiatan pengamanan peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) di wilayah kerja Resort Pulau Ambon.

    Sebelum dilepasliarkan, burung tersebut sudah terlebih dahulu menjalani proses karantina dan rehabilitasi di Pusat Konservasi Satwa (PKS) Kepulauan Maluku sehingga saat ini kondisinya sudah sehat, liar dan siap dilepasliarkan.

    “Kegiatan pelepasliaran satwa ini sekaligus merupakan agenda dalam kegiatan Visitasi Supervisi dan Bimbingan Penyelesaian Rencana Aksi yang dilakukan di Balai KSDA Maluku khususnya terkait penyelamatan satwa jenis burung paruh bengkok,” ungkapnya.

    Baca: Mengenal elang jawa, simbol negara yang terancam punah

    BKSDA Maluku juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait penanganan dan pengelolaan satwa liar.

    Salah satu satwa liar yang dilindungi adalah burung paruh bengkok di PKS Kepulauan Maluku dan penggunaan kandang penyelamatan satwa tersebut.

    “Dengan harapan, masyarakat semakin tinggi kesadarannya terhadap pemeliharaan satwa endemik kita sendiri di Maluku,” ucap Seto.

    Baca: Pro kontra konservasi satwa liar dengan sistem ex situ

    Dilansir profauna.net, burung nuri merupakan salah satu jenis dari sekitar 85 jenis burung paruh bengkok (jenis nuri dan kakatua) hidup di Indonesia.

    Sebanyak  14 jenis burung paruh bengkok telah dinyatakan dilindungi karena masuk dalam katagori terancam punah.

    Maluku masuk sebagai salah satu kawasan Wallacea yang kaya akan burung paruh bengkok bersama Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku.

    Baca:

    Empat jenis burung paruh bengkok yang ada di kawasan Wallacea masuk dalam kategori genting (endangered) yaitu Nuri Talaud (Eos histrio), Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea), Betet Kepala Philipina (Tanygnathus lucioinensis) dan Nuri Sayap Hitam (Eos cyanogenia).

    Perlindungan terhadap satwa liar sendiri diatur dalam ketentuan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 

    Beleid itu menyebutkan, barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp.100 juta (Pasal 40 ayat (2)).

     

     

  • Begini Cara Anak-anak Komunitas Teman Manise Tumbuhkan Sikap Peduli Terhadap Satwa Liar

    Begini Cara Anak-anak Komunitas Teman Manise Tumbuhkan Sikap Peduli Terhadap Satwa Liar

    7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian konservasi satwa liar yang dilindungi kepada anak usia dini. Salah satunya dengan mengunjungi Pusat Konservasi Satwa (PKS).

    Seperti yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Maluku ini dengan mengajak anak-anak dari komunitas Teman Manise yang berkunjung ke PKS di Kota Ambon.

    Kegiatan ini bertujuan untuk mengajarkan anak-anak dalam mengenal dan mempelajari dunia binatang ciptaan tuhan khususnya satwa liar yang ada di Maluku,

    ”Sehingga akan menumbuhkan rasa sayang dan pengetahuan terhadap binatang,” jelas Polisi Hutan (Polhut) BKSDA Maluku, Seto seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: Upaya pelestarian macan tutul Jawa

    Sebanyak 25 anak yang ikut kegiatan ini, anak-anak diperkenalkan jenis-jenis satwa yang ada di PKS berserta habitat penyebaran alaminya.

    Selain itu, anak-anak dapat praktik berinteraksi langsung dengan satwa liar khususnya dalam perawatan satwa seperti memberi makan anakan burung dan memberi makan primata.

    Kegiatan pengenalan satwa yang dilakukan sejak dini merupakan suatu pengetahuan baru bagi anak-anak, yang mana mereka dapat secara langsung melihat dan berinteraksi dengan satwa liar.

    “Hal ini menjadi pengalaman yang sangat berharga dan berguna bagi masa depan mereka,” terangnya.

    Baca: Marak perburuan satwa liar

    Selanjutnya Seto menjelaskan dengan kegiatan yang interaktif dan menarik ini, pihaknya berharap anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang peduli terhadap lingkungan.

    Tak hanya itu, Seto juga berharap kelak anak-anak nanti mampu menjadi agen perubahan dalam pelestarian alam.

    Karena itu, BKSDA terbuka kepada siapa pun yang ingin mempelajari terkait satwa-satwa endemik Maluku yang dilindungi undang-undang, dan bagaimana keberlangsungan hidup mereka (satwa).

    “BKSDA berharap melalui edukasi ini, anak-anak dapat tumbuh dengan rasa tanggung jawab terhadap keberlanjutan alam dan satwa liar di sekitarnya,” harapnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Balai Taman Nasional Way Kambas Raih Herman Goldstein Award dalam Upaya Perlindungan Satwa Liar

    Balai Taman Nasional Way Kambas Raih Herman Goldstein Award dalam Upaya Perlindungan Satwa Liar

    7cloud.asia – Balai Taman Nasional Way Kambas (BTNWK) meraih penghargaan internasional dari Herman Goldstein Award dalam upaya perlindungan satwa liar yang berorientasi pada masalah.

    “Keberhasilan studi kasus Way Kambas ini merupakan hasil kerja sama dengan mitra kerja TNWK yakni Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia,” ujar Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas MHD Zaidi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (18/9/2024).

    Taman Nasional Way Kambas dan WCS secara bersama-sama berkomitmen menurunkan atau menghilangkan ancaman perburuan satwa liar dengan menggunakan jerat dengan pendekatan model SARA untuk pemecahan masalah dasar

    Cara ini dapat membantu mengidentifikasi dan memahami masalah, dan menentukan apakah tindakan yang diambil efektif.

    Ia mengatakan pendekatan model SARA itu memandu proses scanning, analysis response dan assessment.

    Baca: Taman Nasional Ujung Kulon Kembali Ketambahan Seekor Badak Jawa

    Sehingga siklus pemecahan masalah dasar tersebut membantu mengidentifikasi dan memahami masalah, menerapkan respon yang disesuaikan, dan menentukan tindakan yang diambil efektif.

    “Pada 2020, Taman Nasional Way Kambas bekerja sama dengan WCS Indonesia, mulai menerapkan pendekatan ini, setelah mengalami bahwa patroli saja tidak cukup untuk menangani perburuan satwa liar menggunakan jerat,” katanya.

    Menurut dia, perlindungan satwa liar yang berorientasi pada masalah adalah pendekatan yang berfokus pada identifikasi, analisis, dan penanganan masalah-masalah spesifik yang mengancam satwa liar.

    “Ini berbeda dengan strategi konservasi tradisional yang sering mengambil pendekatan luas dan umum, perlindungan satwa liar yang berorientasi pada masalah bertujuan untuk menangani masalah tertentu dengan solusi yang disesuaikan,” ucap dia.

    Baca: Kawanan Gajah Liar Rusak Kebun Kopi Milik Warga di Lampung Barat

    Herman Goldstein Award for Excellence in Problem Oriented Policing adalah penghargaan internasional yang mengembangkan konsep pemolisian berorientasi masalah (POP).

    Nama penghargaan internasional ini diambil dari nama pendiri kepolisian berorientasi masalah, Profesor Emeritus Universitas Wisconsin Herman Goldstein.

    Sementara pengelolaan ditangani Pusat Perpolisian Berorientasi Masalah. (Program penghargaan ini diselenggarakan oleh Forum Penelitian Eksekutif Kepolisian dari tahun 1993 hingga 2007.)

    Dilansir dari laman resminya, Center for Problem-Oriented Policing telah membentuk panel yang terdiri dari delapan juri, yang terdiri dari peneliti dan praktisi berpengalaman, yang memilih pemenang dan sejumlah kecil finalis dari antara para penerima penghargaan.

    Baca: Habitat rusak gajah liar rusak kebun milik warga

    Para juri mempertimbangkan sejumlah faktor dalam pemilihan mereka, termasuk kedalaman analisis masalah, pengembangan tujuan respon yang jelas dan realistis, penggunaan ukuran efektivitas yang relevan, dan keterlibatan masyarakat dan organisasi lain dalam penyelesaian masalah.

    Instansi kepolisian yang proyeknya berhasil menyelesaikan masalah kejahatan atau gangguan komunitas yang berulang berhak untuk bersaing untuk mendapatkan penghargaan tersebut.

    “Semoga studi kasus yang dilakukan dapat diimplementasikan di beberapa wilayah lainnya untuk menyadarkan para pemburu dan menghilangkan ancaman jerat bagi satwa liar serta peningkatan ekonomi masyarakat dengan adanya kegiatan alternatif legal lainnya,” ujar dia.

  • Pameran Muda Mudi Konservasi; Cara Belantara Foundation Mengedukasi Pentingnya Hidup Harmonis dengan Satwa Liar

    Pameran Muda Mudi Konservasi; Cara Belantara Foundation Mengedukasi Pentingnya Hidup Harmonis dengan Satwa Liar

    7cloud.asia – Belantara Foundation menyelenggarakan Pameran Muda Mudi Konservasi 2.0: Kolaborasi Kunci Keberhasilan Konservasi Biodiversitas Indonesia pada 5-6 Oktober 2024 di Pusat Perbelanjaan Sarinah, Jakarta.

    Pameran selama dua hari ini diawali dengan Lomba Cerdas Cermat antar SMA se-Jabodetabek dan diselingi perbincangan mengenai pelestarian satwa liar di Indonesia.

    Pameran terselenggara atas kolaborasi dengan IUCN Indonesia Species Specialist Group atau IdSSG, Forum HarimauKita (FHK), Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Forum Konservasi Orangutan Indonesia (FORINA), APP Group, Student Care, Eat & Run, Biologeek.

    Kegiatan Talk Show yang digelar dalam dua sesi mengangkat tema besar “Kolaborasi Multipihak dalam Pelestarian Satwa Liar di Indonesia”.

    Sesi pertama Talk Show di hari ke-1 pada 5 Oktober 2024 mengusung subtema “Mewujudkan Harmonisasi Manusia – Satwa Liar di Habitatnya”,

    Sedangkan hari ke-2 Talk Show pada 6 Oktober 2024 mendikusikan subtema “Bersama Lestarikan Ala Nusantara”.

    Baca: Melestarikan binatang langka tak harus memiliki

    Dari pantauan 7cloud.asia, pameran ini menarik perhatian dari masyarakat. Foto-foto pemenang lomba yang dipamerkan mampu menyadarkan pengunjung Sarinah, bahwa Indonesia sangat kaya akan sumber daya hayati.

    Tidak sedikit pengunjung Sarinah yang melintas, meluangkan waktu sejenak untuk mengamati foto-foto satwa liar maupun keindahan alam Indonesia.

    Salah satunya Safina yang datang dari Depok, yang mengatakan dari pameran ini dia jadi tahu ada katak berwarna merah dan hitam.

    “Saya jadi tahu ternyata ada kelompok yang berupaya mengenalkan dan melestarikan satwa liar kepada warga kota,“ ujarnya.

    Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna dalam sambutannya di acara pembukaan mengatakan bahwa acara Pameran Muda Mudi Konservasi merupakan sebuah gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadartahuan (awareness) publik, khususnya generasi muda, akan pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

    Oleh karenanya, Pameran Muda Mudi Konservasi kali ini difokuskan pada upaya menyampaikan pemahaman tentang pentingnya hidup harmonis antara manusia dengan satwa liar di habitatnya di Indonesia.

    Di tempat terpisah, Ketua Dewan Pengurus Belantara Foundation, Irsyal Yasman mengatakan bahwa gerakan Muda Mudi Konservasi ini sangat relevan dengan salah satu pilar program Belantara yaitu pelestarian satwa liar beserta habitatnya.

    “Kami akan terus mengajak dan terus menggalakkan upaya kolaborasi multipihak untuk mendukung gerakan penyadartahuan atau awareness serta edukasi kepada masyarakat khususnya generasi muda akan pentingnya berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikan biodiversitas di Indonesia”, ujar Irsyal.

    Pameran ini merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan Muda Mudi Konservasi, yang meliputi Belantara Learning Series Episode 11 dengan tema Ekowisata Satwa Liar Berkelanjutan: Pembelajaran Dari Asia pada 11 September 2024.

    Baca: Pendidikan yang turut memberi solusi atasi perubahan iklim

    Rangkaian kegiatan Muda Mudi Konservasi ini juga diramaikan dengan Kampanye Digital berupa komik reels di Instagram dengan tema “Hidup Harmonis Manusia-Satwa Liar di Habitatnya”.

    Selain itu juga ada lomba fotografi bertajuk Belantara Snapshot bertemakan “Pesona Alam Indonesia” pada 24 September hingga 2 Oktober 2024 di Instagram.

    Menyusul kegiatan “Belantara Goes To School” yang mengangkat tema “Peningkatan Literasi Keanekaragaman Hayati Indonesia melalui Quiz Game dan Media Sosial”.

    Serial berbagai kegiatan yang merupakan kolaborasi antara Belantara Foundation dengan Universitas Pakuan ini akan dimulai pada 23 Oktober 2024 mendatang di SMA Negeri 1 Sukaraja, Kabupaten Bogor.

    Rangkaian acara yang dimulai sejak bulan Agustus diselenggarakan dalam rangka Global Tiger Day yang diperingati setiap 29 Juli, Hari Konservasi Alam Nasional/HKAN yang diperingati setiap 10 Agustus, serta World Elephant Day yang diperingati setiap 12 Agustus, dan International Orangutan Day yang diperingati setiap 19 Agustus.

    Turut mendukung sebagai media partner yaitu Tempo.co, Trubus, Klik Hijau, Ruangkota.com, Greeners.co dan BeritaLingkungan.com.

  • WWF: Jumlah Satwa Liar Turun 73 Persen dalam 50 Tahun Terakhir

    WWF: Jumlah Satwa Liar Turun 73 Persen dalam 50 Tahun Terakhir

    7cloud.asia – Aktivitas manusia terus mendorong apa yang oleh badan konservasi dunia, World Wide Fund for Nature (WWF) disebut sebagai bencana hilangnya satwa liar atau pesies dunia.

    Mulai dari gajah di hutan tropis hingga penyu sisik di Great Barrier Reef, populasinya menurun drastis, menurut inventarisasi badan konservasi satwa liar dunia itu.

    The Living Planet Report, yang merupakan tinjauan komprehensif mengenai keadaan alam, mengungkapkan bahwa populasi satwa liar global telah menyusut rata-rata 73 persen dalam 50 tahun terakhir.

    Hilangnya kawasan alam liar “menempatkan banyak ekosistem dan satwa liar di ambang kehancuran”, kata kepala WWF Inggris Tanya Steele. Menurut Tanya, banyak habitat, mulai dari Amazon hingga terumbu karang, “berada di ambang titik kritis yang sangat berbahaya”.

    Dilansir dari BBC.com, laporan ini didasarkan pada Indeks Living Planet yang mencakup lebih dari 5.000 populasi burung, mamalia, amfibi, reptil, dan ikan selama lima dekade terakhir.

    Baca: KLHK prioritaskan konservasi empat satwa liar di Leuser

    Di antara banyak gambaran hilangnya satwa liar yang disebabkan oleh ulah manusia, laporan ini mengungkapkan bahwa 60 persen habitat lumba-lumba sungai merah muda di Amazon telah punah.

    Kepunahan itu akibat kerusakan lingkungan karena polusi dan ancaman lainnya, termasuk pertambangan dan kerusuhan sipil.

    Namun, laporan itu juga menunjukkan tanda-tanda keberhasilan konservasi yang menjanjikan harapan perbaikan.

    Misalnya, sub-populasi gorila gunung di Pegunungan Virunga di Afrika Timur meningkat sekitar 3 persen per tahun antara tahun 2010 dan 2016.

    Namun WWF mengatakan “keberhasilan tersendiri saja tidak cukup, di tengah meluasnya kerusakan habitat”.

    Baca: Populasi harimau dunia meningkat

    Tom Oliver, profesor ekologi di University of Reading, yang tidak terlibat dalam laporan ini, mengatakan ketika informasi ini digabungkan dengan kumpulan data lain, misalnya penurunan jumlah serangga, “kita dapat mengumpulkan gambaran yang kuat – dan mengkhawatirkan – tentang keruntuhan keanekaragaman hayati global.”

    Laporan tersebut menemukan bahwa degradasi dan hilangnya habitat merupakan ancaman terbesar terhadap satwa liar, diikuti oleh eksploitasi berlebihan, spesies invasif, penyakit, perubahan iklim, dan polusi.

    Penulis utama dan kepala penasihat ilmiah WWF Mike Barrett mengatakan, akibat tindakan manusia, khususnya cara memproduksi dan mengonsumsi makanan, dunia akan semakin kehilangan habitat alami.

    Laporan ini juga memperingatkan hilangnya alam dan perubahan iklim dengan cepat mendorong dunia menuju titik kritis yang tidak dapat diubah.

    Kerusakan ini termasuk potensi “runtuhnya” hutan hujan Amazon, yang tidak dapat lagi menahan karbon yang menyebabkan pemanasan global dan memitigasi dampak perubahan iklim.

     

  • Habitat Orang Utan di Tapanuli Terancam Hilang, Ini Rekomendasi BRIN

    Habitat Orang Utan di Tapanuli Terancam Hilang, Ini Rekomendasi BRIN

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wanda Kuswanda, menjelaskan habitat orang utan di Tapanuli Sumatera Utara saat ini hanya tersisa di ekosistem Batang Toru.

    Orang utan Pongo tapanuliensis) merupakan salah satu spesies dari genus orang utan (Pongo) yang berasal dari daerah Tapanuli.

    Orang utan tapanuli merupakan tambahan spesies baru sekaligus spesies ketiga yang ditemukan setelah spesies orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus) dan orang utan sumatra (Pongo abelii)

    Dan, sebagai spesies ketiga di bagian selatan pulau Sumatera hanya ada di sana, dan luas habitatnya sangat terbatas, sekitar 138,435 hektare.

    “Artinya, jika kawasan itu rusak maka orang utan tersebut akan punah,” tuturnya, dalam Applied Zoology Summer School Series #3 secara hybrid, di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, Rabu (27/5/2025) lalu.

    Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, kehilangan tutupan hutan terutama di luar kawasan hutan periode 2022-2023 masih terjadi dan mencapai sekitar 121.000 hektare.

    Baca: Dampak perubahan iklim terhadap kehidupan satwa liar

    Kondisi ini akan memengaruhi penurunan daya dukung satwa liar di dalamnya.

    Menurut Wanda, berbagai perubahan tutupan hutan mengakibatkan ancaman bagi beragam satwa liar, seperti menurunnya habitat, terputusnya wilayah jelajah, terisolasi, dan mengurangi ketersediaan pakan untuk men-support pertumbuhan satwa liar.

    Dampak lainnya adalah adanya stres dan konflik yang meningkat dengan manusia. Kemudian pergerakan satwa menjadi terbatas, serta mengakibatkan penurunan dan kematian populasi.

    “Pada kawasan hutan sebagai habitat satwa liar, pembukaan areal hutan untuk berbagai kepentingan masih sering terjadi. Penebangan liar dan begitu banyaknya perubahan tutupan lahan menjadi perkebunan sawit, pertanian, serta lainnya dapat memicu meningkatnya laju penurunan satwa liar tersebut,” terang Wanda.

    Dengan kondisi saat ini, program konservasi alam perlu menjadi prioritas, salah satunya membangun koridor satwa liar.

    “Bagaimana memfasilitasi pergerakan individu atau meta populasi orang utan yang terpisah pada blok-blok habitat tersebut,” tambahnya.

    Baca: Deforestasi marak terjadi di Aceh, satwa kunci jadi terisolir

    Wanda menjelaskan, koridor satwa merupakan areal atau jalur bervegetasi, baik alami maupun buatan, yang memungkinkan terjadinya pergerakan atau pertukaran individu antarpopulasi, sehingga aliran genetik masih terjadi.

    Tujuan koridor ini dalam upaya perlindungan dan pelestarian satwa liar di luar Kawasan Pelestarian Alam (KPA) dan Kawasan Suaka Alam (KSA).

    “Dengan adanya amandemen UU No. 5 Tahun 1990 menjadi UU No. 23 Tahun 2024 merupakan dasar hukum yang lebih konkret, karena koridor menjadi bagian dari area preservasi,” jelasnya.

    Fungsi koridor ini adalah sebagai jalur penghubung habitat terfragmentasi, menjaga perkawinan silang antarpopulasi, mencegah inbreeding, fasilitas migrasi satwa, meminimalkan konflik satwa, menjaga ketahanan ekosistem, dan membantu adaptasi satwa reintroduksi.

    Dia mengatakan, pihaknya telah melakukan riset koridor orang utan tapanuli didukung Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Sumatera Utara, Yayasan Ekosistem Lestari, dan Yayasan Konservasi Indonesia.

    “Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kesesuaian habitat dan merancang area koridor yang efektif,” terang Wanda.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Dunia

    Dari hasil riset yang dilakukan, telah dibuat empat rekomendasi solusi pembangunan koridor untuk orang utan

    Pertama, perlu desain ulang area koridor sebagai area preservasi. Beberapa syarat koridor yaitu tutupan hutan yang masih utuh, minimal lebar koridor 100 meter, meminimalkan gangguan dan potensi konflik

    Dan, apabila pembangunan koridor untuk orang utan ini memotong area perusahaan, maka harus dipilih area yang potensi pembukaan hutannya paling minim.

    Kedua, pembangunan koridor artifisial/buatan (melintasi jalan dan sungai). Ketiga, melakukan pemulihan area koridor yang terdegradasi.

    “Harapannya, dengan pemulihan area koridor, selain akan memperluas pergerakan orang utan juga tentunya menambah ketersediaan daya dukung habitatnya. Salah satunya dengan penanaman pohon pakan,” ucap Wanda.

    Baca: Kucing Merah Kalimantan kembali muncul di Taman Nasional Kayan Mentarang

    Tetapi Wanda memberi catatan, pemanfaatan oleh manusia dan orang utan itu berbeda, misalnya pengembangan pohon kemenyan yang juga sudah dikembangkan oleh masyarakat di Tapanuli Utara

    Keempat, pembangunan skema kompensasi non-tunai dan kolaborasi manajemen. “Semoga bisa membangun suatu kelembagaan yang memberikan kompensasi non-tunai sebagai pengganti.

    ”Di mana, lahan yang masyarakat miliki tersebut dialihkan fungsinya untuk men-support konservasi orang utan,” harapnya.

    Wanda menyebut, hasil riset telah berkontribusi pada kebijakan daerah, seperti Peraturan Bupati Tapanuli Selatan untuk pengembangan koridor dan konservasi orang utan.

    “Dari hasil riset ini, selain menghasilkan publikasi juga menghasilkan kebijakan. Salah satu riset kita ini sudah menjadi dasar peraturan Bupati Tapanuli Selatan, karena Bupati Tapanuli Selatan sangat men-support konservasi orang utan,” tuturnya.