7cloud.asia – Dalam tulisan sebelumnya disebutkan kekeringan akibat fenomena El Nino turut mengancam kelestarian satwa liar di Indonesia.
El Nino diperkirakan akan semakin terjadi akibat perubahan iklim, karena itu pemerintah diminta untuk melakukan langkah mitigasi untuk mengatasi dampaknya tak hanya untuk manusia tetapi juga untuk kehidupan satwa liar.
Jatna Supriatna, Professor of Conservation Biology, Universitas Indonesia dalam tulisannya di The Conversation menyebut, El Nino juga dapat memanaskan permukaan laut.
Selanjutnya dampak El Nino iin dapat meningkatkan keasamannya sehingga dapat mempengaruhi satwa liar yang ada di dalamnya.
Ini dapat mengancam ekosistem perairan Indonesia yang termasuk dalam Segitiga Karang Dunia sekaligus rumah bagi 1.100 dan 5.300 spesies flora dan fauna perairan.
Baca: El Nino pengaruhi kehidupan satwa liar
Pemerintah sebaiknya menyediakan pendanaan cukup untuk meneliti dampak perubahan iklim dan El Nino terhadap keanekaragaman hayati.
“Pengetahuan kita mengenai dampak perubahan iklim di Indonesia sangat minim. Sementara, kerusakan habitat tersebut terus meningkat,” tulisnya.
Sebagai langkah awal, Indonesia harus menggenjot penelitian yang memprediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan satwa liar.
Pemanfaatan teknologi pemantauan, pelaporan, dan verifikasi berskala luas menggunakan teknologi seperti peraba jarak jauh optik (LiDAR) ataupun Sistem Informasi Geografis harus dilakukan.
Teknologi ini memungkinkan kita untuk mengetahui pola-pola aktivitas satwa liar bahkan secara langsung.
Baca: El Nino percepat melelehnya salju abadi di Puncak Jaya
Harapannya, jika otoritas cuaca meramalkan cuaca ekstrem akan terjadi, kita bisa bertindak cepat—berbasiskan data pemantauan—untuk mencegah dampak negatifnya bagi satwa liar.
Sistem pemantauan berbasis data ini, ujarnya, jangan dibangun terpusat karena setiap daerah punya karakter berbeda.
“Indonesia, dengan karakternya sebagai negara kepulauan, justru perlu memanfaatkan perguruan tinggi dan lembaga penelitian di daerah agar kegiatan pemantauan satwa liar tersebar di kawasan masing-masing,” ujarnya.
Indonesia juga dapat meningkatkan penggalian materi biodiversitas untuk keperluan pangan, papan, obat-obatan, aromaterapi, kosmetik, dan lainnya dalam program pemanfaatan produk berbasis sumber daya hayati (bioprospecting) yang lebih terencana.
Penggalian materi biologi juga perlu dilakukan bekerja bersama masyarakat adat, agar mereka dapat memanfaatkan material genetik dengan baik.
Baca: Mengenal Hari Species Terancam Punah, mengapa harus diperingati
Selain itu bioprospecting perlu digalakkan di berbagai perguruan tinggi di dalam negeri khususnya dan kalau perlu saja dengan perguruan tinggi luar negeri.
Indonesia juga dapat menjajaki sistem kredit biodiversitas, artinya memberi kredit bagi pelestarian keanekaragaman hayati.
Kredit ini dapat dijual ke perusahaan untuk menebus aktivitasnya yang berdampak pada biodiversitas.
Dana hasil penjualan kemudian bisa kita gunakan untuk memperkuat usaha pelestarian flora dan fauna di tanah air.
Tanggal 5 November adalah Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional.
“Semoga peringatan hari ini dapat memicu kita untuk tidak sekadar ‘menunggu’ dampak perubahan iklim, tapi aktif bertindak untuk mencegah dampaknya bagi seluruh kehidupan satwa liar di Indonesia,” pungkasnya.
Baca: Ancaman perubahan iklim sudah diingatkan sejak 70 tahun lalu







