7cloud.asia – Fenomena El Nino yang ditandai dengan cuaca panas dan kemarau panjang yang memicu kekeringan bisa berefek mematikan bagi sejumlah satwa liar.
El Nino mengancam ruang hidup satwa liar di kawasan tropis karena menyebabkan sungai dan danau mengering, hutan-hutan rusak akibat kebakaran, serta pemanasan permukaan laut.
Efek El Nino ini diperparah dengan tingkat ancaman satwa liar Indonesia yang berbeda karena wilayahnya merupakan kepulauan.
Meski keberagamannya berpotensi lebih tinggi, kelimpahan spesies di kawasan kepulauan jauh lebih rendah dibandingkan kawasan kontinental (daratan luas).
Panel antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyepakati El Nino akan berlangsung lebih sering dan lebih parah akibat iklim yang berubah.
Baca: El Nino percepat lelehnya salju abadi di Puncak Jaya
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa, Antonio Guterres, bahkan menyebut Bumi sedang menghadapi masa “pendidihan global”.
Tanpa rencana pencegahan memadai, panas dan kekeringan ekstrem akibat fenomena cuaca berskala besar ini akan mengancam kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Dampak El Nino terhadap satwa Indonesia. Kekurangan air akibat El Nino mengancam langsung satwa-satwa yang bergantung padanya, contohnya amfibi. Satwa jenis ini berperan penting dalam rantai makanan.
Amfibi berperan sebagai pengendali alami populasi serangga dan pakan bagi spesies lainnya seperti ular dan elang.
Kehilangan amfibi pun akan mengganggu proses penting dalam ekosistem seperti pengadukan tanah (bioturbasi) dan penguraian.
Baca: BRIN perkirakan El Nino akan berlangsung hingga awal 2024
Dampak perubahan iklim juga dirasakan amfibi. Meski hidup di dua alam, amfibi—yang terdiri dari katak, kodok, ataupun salamander—mengawali hidupnya dari air. Ketiadaan air akan membuat amfibi sulit berkembang biak.
Sementara, di kawasan tropis beberapa jenis amfibi di kawasan tropis memiliki usia yang pendek, hanya dua tahun.
Musim kemarau berkepanjangan akibat El Nino dapat meningkatkan risiko kepunahan spesies amfibi di Indonesia, yang saat ini tercatat mencapai 270 jenis.
Meski secara global amfibi sedang menghadapi gelombang kepunahan salah satunya karena perubahan suhu, dampaknya bagi amfibi di Indonesia belum banyak diteliti.
Selain amfibi, satwa lainnya yang terancam adalah ikan-ikan terutama spesies bermigrasi di sungai berarus deras dengan kadar oksigen tinggi.
Penurunan debit air akibat kemarau akan mengurangi arus sungai, sehingga mengurangi kadar oksigen di dalamnya.
Hal ini membuat ikan kesulitan mencapai tempat migrasi (biasanya untuk bertelur) atau mati dalam perjalanan.
Baca: Pemerintah siapkan dana Rp 8 Triliun untuk antisipasi dampak El Nino
Salah satu contohnya adalah ikan tambra (Tor tambroides) di sungai-sungai di Kalimantan, Jawa, Sumatra, hingga beberapa kawasan Asia Tenggara.
Kekeringan akibat El Nino berisiko memperparah penurunan populasi ikan ini yang memang sudah tertekan karena perburuan dan kerusakan habitat.
Kekeringan di sumber air besar juga dapat mengancam langsung keberadaan populasi ikan-ikan endemik.
Misalnya, kekeringan di Danau Poso, Sulawesi Tengah, turut mengancam ikan Popta’s Buntingi, satu dari beberapa spesies ikan endemik Danau Poso yang berstatus terancam punah.
Kekeringan di Danau Sentarum, Kalimantan Barat, juga berisiko bagi kelangsungan ikan arwana merah, spesies langka penghuni kawasan tersebut.
Di hutan-hutan, primata yang hidup sepenuhnya di pepohonan atau arboreal tidak lepas dari tekanan El Nino.
Baca: Dampak El Nino bagi pertanian dan lingkungan
Saat kemarau ekstrem datang, pepohonan akan menyesuaikan diri dengan menghasilkan buah yang lebih kecil dari biasanya.
Hal ini memengaruhi kelimpahan pakan sehingga mengganggu kehidupan mereka.
Owa Jawa merupakan primata langka yang berisiko terimbas tekanan ini. Pasalnya, Owa tidak bisa melahap pakan daun dan biji-bijian, hanya buah-buahan.
Selain persoalan pakan, kesehatan primata juga terdampak langsung kebakaran hutan yang mengganas lantaran El Nino.
Studi terbaru menyebutkan asap kebakaran menyebabkan suara orang utan menjadi parau dan diduga mengalami peradangan saluran pernapasan.
Ini menjadi berita buruk, apalagi bila terjadi pada orang utan tapanuli yang populasinya tinggal 800 ekor.
Baca: Mengenal Hari Terancam Punah Sedunia
Cuaca panas juga dapat membalikkan upaya konservasi kadal purba komodo yang selama ini berjalan positif. El Nino dapat mematikan pohon-pohon sehingga anak-anak komodo kian rentan dimangsa oleh komodo dewasa.
Saat ini, anak-anak komodo kerap memanjat pohon untuk menyelamatkan diri. Tanpa El Nino saja, hanya 1 dari 10 anak-anak komodo yang tumbuh dewasa.
Bayangkan jika pada masa depan El Nino semakin kuat dan sering, anak-anak komodo yang bertahan hidup bisa semakin sedikit.
El Nino juga dapat memanaskan permukaan laut dan meningkatkan keasamannya sehingga dapat menyebabkan terumbu karang memutih, bahkan mati.
Ini dapat mengancam ekosistem perairan Indonesia yang termasuk dalam Segitiga Karang Dunia sekaligus rumah bagi 1.100 dan 5.300 spesies flora dan fauna perairan.
Pemerintah sebaiknya menyediakan pendanaan cukup untuk meneliti dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati. Seperti apa rekomendasinya, baca di tulisan selanjutnya.
Penulis: Jatna Supriatna, Professor of Conservation Biology, Universitas Indonesia. Tulisan ini telah tayang di The Conversation untuk memeringati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional pada 5 November 2023.

Leave a Reply