Tag: sdgs

  • Naik Transportasi Publik Yuk! Untuk Dukung Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs

    Naik Transportasi Publik Yuk! Untuk Dukung Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs

    7cloud.asia –  Pandemi COVID-19 pada 2020-2022 membuat banyak negara, termasuk Indonesia, mengalami perlambatan pencapaian target-target Sustainable Development Goals atau SDGs.

    Untuk itu masyarakat diajak untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan yang mendukung pencapaian target SDGs pada tahun 2030.

    “Gaya hidup kita mungkin harus pelan-pelan mulai kita sesuaikan, mengikuti sustainable development goals atau SDGs,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa saat peluncuran Kampanye Green Economy & Green Environment di Jakarta, Selasa (12/9/2023).

    Suharso mengatakan, perubahan gaya hidup yang lebih sesuai Sdgs itu bisa dimulai dari diri sendiri, baru berkampanye untuk orang lain dan keluarga.  

    Baca: Polusi udara di Jakarta makin parah, apa kabar pembatasan kendaraan

    Sebagai bagian dari penduduk dunia, lanjutnya, hal paling kecil yang dapat dilakukan adalah menyayangi bumi dengan turut bersama-sama menyelesaikan triple planetary crisis (perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati).

    Hal ini dilakukan agar masyarakat tidak menjadi bagian yang membuat Indonesia rusak, seperti menyumbangkan banyak polusi dan sampah.

    Sebagai Koordinator Nasional SDGs, Bappenas memulai kampanye agar publik menggunakan transportasi umum seperti MRT, sehingga masyarakat turut ikut serta berkontribusi dalam pencapaian SDGs.

    Upaya tersebut dilakukan antara lain dengan menampilkan video-video di sejumlah titik sekitar stasiun-stasiun MRT yang mengajak masyarakat, terutama di Jakarta, untuk menggunakan MRT.

    Baca: Pembangunan kawasan berkonsep TOD kurangi polusi udara

    “Saya senang sekali hari ini karena kita mulainya di MRT, dan MRT ini salah satu bagian yang kita ingin bayangkan untuk mengurangi polusi di Jakarta, untuk mengurangi kemacetan di Jakarta, untuk mengefisienkan kehidupan per orang bahkan keluarga dan akhirnya nasional.”

    “Mudah-mudahan masyarakat akan segera lebih banyak yang beralih ke public transport,” lanjutnya. 

    Pemerintah, ujar Suharso, akan senantiasa mempromosikan, berbenah diri, untuk menyediakan public transport yang lebih baik dan lebih baik lagi.

    Menurut Suharso, langkah tersebut perlu dilakukan untuk mempercepat 17 target dengan 169 target SDGs tercapai pada tahun 2030.

    “Kita ingin mengembalikan lagi track itu, kecepatan itu, agar seluruh dunia benar-benar bisa memastikan tujuan 1 sampai 17 di dalam SDGs,” ujarnya. 

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan publik

     

  • Konferensi SDGs Undip Ungkap Perlunya Peran Serta Semua Pihak untuk Wujudkan Tujuan Berkelanjutan

    Konferensi SDGs Undip Ungkap Perlunya Peran Serta Semua Pihak untuk Wujudkan Tujuan Berkelanjutan

    7cloud.asia – Implementasi prinsip tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGS) diperlukan adanya partisipasi dan keterlibatan, baik dari perumus kebijakan, pelaku usaha dan para filantropis.

    Dari sisi pemerintahan dan parlemen diperlukan adanya penetapan indikator dalam setiap target, pengembangan kebijakan, regulasi dan penyelarasan program terkait SDGs.

    Dari sisi pengambil kebijakan ini  juga dibutuhkan penyiapan data dan informasi, diseminasi, komunikasi dan advokasi, monev serta pendanaan untuk tercapainya SDGs.

    Baca: Naik angkutan termasuk mendukung pencapaian SDGs

    Sedangkan dari para filantropis dan pelaku bisnis diperlukan adanya advokasi pelaku usaha demi terimplementasinya SDGs. 

    Pelaku usaha juga butuh untuk fasilitas program serta peningkatan kapasitas serta dukungan pendanaan untuk implementasi SDGs.

    Dari sisi akademisi atau perguruan tinggi, termasuk Universitas Diponegoro (Undip) dukungan untuk program SDGs antara lain dalam rangka peningkatan kapasitas.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Untuk itu dibutuhkan kegiatan lokakarya instrumentasi dan kegiatan standarisasi pengukuran implementasi SDGs di Jawa Tengah, sebagai pemantau dan evaluasi serta riset kebijakan.

    Untuk hal itulah, Undip menyelenggarakan kegiatan International Conference on Sustainability and Governance (ICSG) The 8th Sustainability Practitioner Conference (SPC) pada Kamis (19/10/2023).

    Koferensi SDGs yang diselenggarakan secara daring ini mengusung tema Sustainable Performance and Business Resilience: Navigating the Path to Success.

    Baca: Ekonomi biru untuk wujudkan ekonomi berkelanjutan

    Konferensi tentang SDGs ini antara lain mendatangkan Prof Faisal, pakar Sustainability Accounting dari Undip, Prof Mohamad Nasir selaku Board of Commissioner of BSI (Bank Syariah Indonesia); Prof Khaleed Hussaeiny selaku Professor of Accounting, University of Portsmouth;

    Dalam konferensi SDGs ini coba dirumuskan solusi untuk menjawab masalah yang muncul di tengah lingkungan yang berkembang pesat saat ini.

    Lewat konferensi ke-8 yang dihelat Undip ini, diharapkan para pelaku usaha bisa menemukan ide atau gagasan untuk implementasi SDGs.

    Baca: Nasib nelayan makin terpinggirkan, ekonomi biru makin mendesak

    Sehingga pelaku usaha bisa mencapai kinerja berkelanjutan sekaligus menciptakan ketahanan terhadap tantangan yang sebelumnya tidak  diantisipasi.

    Pada International Conference yang berlangsung secara hybrid ini, Haruni Krisnawati Staf Ahli KLHK mengatakan SDGs sudah tak bisa ditunda. 

    Sumarno Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah juga menyampaikan keterlibatan Ormas dan Media juga dibutuhkan dalam tahapan diseminasi dan advokasi pada masyarakat.

    Baca: Perdagangan karbon dukung ekonomi hijau

    “Media juga berperan dalam membangun pemahaman publik tentang pentingnya SDGs, sekaligus untuk memonitor pelaksanaan program untuk mewujudkan SDGs,” ujar Sumarno.

    Sementara, organisiasi masyarakat dalam implementasi SDGs ini berperan dalam memfasilitasi pelaksanaan program di lapangan.

     

  • Forest Restoration Project: SDGs Together Cara Melestarikan Hutan Sumatera

    Forest Restoration Project: SDGs Together Cara Melestarikan Hutan Sumatera

    7cloud.asia – Belantara Foundation bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura, Kelompok Tani Hutan (KTH) Tahura Sultan Syarif Hasyim dan pemangku kepentingan setempat menggagas program “Forest Restoration Project: SDGs Together” 

    Proyek di Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), wilayah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB), Riau ini didukung Asia Pulp & Paper Japan (APPJ) Ltd .

    GSK-BB merupakan cagar biosfer yang ditetapkan oleh UNESCO pada 2009 lalu dan termasuk salah satu hutan gambut tropis terbesar di Sumatra.

    GSK-BB memiliki peran penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta mengubah gaya hidup masyarakat lokal ke arah penghidupan yang lestari dan berkelanjutan.

    Di samping itu, kawasan GSK-BB ini juga merupakan habitat bagi satwa liar karismatik seperti harimau sumatera, gajah sumatera, beruang madu dan tapir.

    Forest Restoration Project: SDGs Together merupakan program yang dijalankan lewat donasi sebagian hasil penjualan produk yang dibuat oleh produsen kertas Indonesia, APP (termasuk beberapa produk pabrik APP China) kepada Belantara Foundation.

    Baca: Co-firing biomassa bisa picu deforestasi

    Program ini diwujudkan dengan menanam serta memelihara bibit pohon spesies asli dan langka yang perlu dilestarikan di hutan Sumatra yang telah terdegradasi akibat aktivitas ilegal dan kebakaran hutan.

    Program donasi ini telah berjalan sejak Agustus 2020 dan berfokus pada penanaman dan perawatan pohon, serta perlindungan kawasan secara lestari dan berkelanjutan.

    Forest Restoration Project: SDGs Together telah berjalan selama tiga tahun, dan selama itu telah dilakukan penanaman dan perawatan bibit pohon langka yang perlu dilestarikan seluas 69 hektare.

    Jenis bibit pohon yang ditanam antara lain meliputi merawan (Hopea mengarawan), ramin (Gonystylus bancanus) dan balam (Palaquium burckii) yang masuk ke dalam status kategori kritis / Critically Endangered (CR), balangeran (Shorea balangeran) masuk ke dalam kategori rentan / Vulnerable (VU) dan meranti lambai (Shorea acuminata) masuk ke dalam kategori hampir terancam punah / Near Threatened (NT) menurut daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

    Selain itu, telah dilakukan memasang papan nama proyek, membangun rumah pembibitan, membangun pondok kerja, patroli hutan, memberikan peningkatan kapasitas bagi masyarakat, serta melakukan monitoring dan evaluasi.

    Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan bahwa restorasi ekosistem merupakan salah satu isu global yang penting saat ini.

    Baca: Penurunan Emisi Karbon harus menuju zeronet

    “Sidang Majelis Umum PBB telah mendeklarasikan the UN decade on ecosystem restoration untuk menyinergikan upaya restorasi ekosistem secara masif pada ekosistem yang rusak dan terganggu pada periode 2021-2030,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, Senin (11/12/2023).

    Restorasi ekosistem dianggap sebagai salah satu langkah efektif untuk memitigasi perubahan iklim dan meningkatkan ketahanan pangan, menjaga suplai air serta melindungi keanekaragaman hayati.

    Dolly menambahkan, restorasi ekosistem juga perlu memerhatikan dimensi sosial-ekonomi masyarakat sehingga tidak hanya mengembalikan fungsi ekologis tetapi juga mengembalikan fungsi hutan sebagai sumber mata pencaharian yang berkelanjutan bagi masyarakat.

    Dengan tata kelola yang tepat, restorasi ekosistem dapat mendukung pemulihan fungsi hutan sebagai penyedia manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat.

    Program “Forest Restoration Project: SDGs Together” ini dipamerkan Belantara Foundation di Pameran SDGs Week 2023 – EcoPro yang digelar di Tokyo Big Sight (Tokyo International Exhibition Center), Jepang, 6-8 Desember 2023.

    Pada pameran SDGs Week 2023 ini dihadiri oleh 66.826 dan Belantara Foundation bersama  (APPJ) memamerkan capaian program “Forest Restoration Project: SDGs Together”.

    Baca: Pulau ini 100 persen gunakan energi ramah lingkungan

    Pameran ini juga menyosialisasikan kepada dunia internasional, khususnya untuk mengajak mitra-mitra APPJ agar lebih mendukung upaya pemulihan hutan tropis yang telah terdegradasi di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau.

    , yang menjadi lokasi kerja sama pemulihan hutan antara Belantara Foundation dengan mitra-mitra APPJ di Jepang.

    Selain upaya promosi program “Forest Restoration Project: SDGs Together”, dalam pameran SDGs Week 2023 – EcoPro tersebut Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, juga mempresentasikan manfaat restorasi dan pemulihan hutan tropis dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim, kepada siswa-siswa Sakado High School University of Tsukuba Jepang.

    Tidak hanya itu, Dolly, mewakili Belantara Foundation, memberikan sertifikat tanda apresiasi kepada seluruh perusahaan di Jepang yang telah berkontribusi dan mendukung program “Forest Restoration Project: SDGs Together”, yang berlokasi di Tahura Sultan Syarif Hasyim, Riau.

    Sementara itu, Representative Director APPJ, Tan Ui Sian mengatakan bahwa Forest Restoration Project: SDGs Together merupakan salah satu bentuk dukungan dan langkah nyata APPJ untuk berkontribusi dalam restorasi ekosistem di wilayah Cagar Biosfer GSK-BB, Riau yang akan dilakukan secara berkelanjutan hingga 2024.

    “Forest Restoration Project: SDGs Together juga mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) ke 15, yaitu melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem; target SDGs ke 12 yaitu produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab, kemudian target ke 13 yaitu mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya, target ke 15 yaitu kehidupan di daratan, serta target SDGs ke 17 yaitu menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan”, imbuh Tan.

    Baca: Mengapa Kota Kopenhagen selalu menjadi kota paling ramah lingkungan

    Pada tempat terpisah, Kepala KPHP Minas Tahura, Dr. Matnuril, S.Ip., M.Si. mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi dan mendukung penuh upaya restorasi ekosistem yang dilakukan bersama Belantara Foundation dan KTH Tahura Sultan Syarif Hasyim yang didukung oleh APPJ dan pemangku kepantingan yang lain.

    “Upaya ini diharapkan akan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi penambahan luasan kawasan hutan terdegradasi yang telah dipulihkan di Provinsi Riau”, kata Matnuril.

    Turut hadir berkunjung ke booth APPJ – Belantara Foundation di Pameran SDGs Week 2023 – EcoPro adalah Merry Astrid Indriasari, Atase Perdagangan KBRI Tokyo Jepang dan Yudhi Zufrial, General Manager Bank BNI Cabang Tokyo Jepang.

    Kegiatan EcoPro 2023 merupakan bagian dari SDGs Week Expo 2023 merupakan pameran lingkungan yang komprehensif, yang menggelar informasi terkini mengenai teknologi-teknologi masa depan, produk serta layanan, kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility), kebijakan-kebijakan perlindungan lingkungan, kolaborasi pemerintah-akademisi-industri, serta berbagai inisiatif yang dilakukan baik oleh dunia usaha serta organisasi lain dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan / Sustainable Development Goals (SDGs).

     

  • Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia, Ini yang Dilakukan Belantara untuk Lestarikan Hutan Sumatera

    Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia, Ini yang Dilakukan Belantara untuk Lestarikan Hutan Sumatera

    7cloud.asia – Memperingati Hari Gerakan Sejuta Pohon sedunia, pada 10 Januari Belantara Foundation menggagas program “Forest Restoration Project: SDGs Together”

    Program “Forest Restoration Project: SDGs Together” ini hasil kerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura, Kelompok Tani Hutan Tahura Sultan Syarif Hasyim dengan didukung oleh APP Group 

    Program “Forest Restoration Project: SDGs Together” berupa penanaman dan perawatan pohon ini dilakukan  di Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), wilayah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Riau.

    Forest Restoration Project: SDGs Together merupakan program yang dijalankan melalui donasi sebagian hasil penjualan produk APP Group kepada Belantara Foundation.

    Dana yang diterima digunakan untuk menanam serta memelihara bibit pohon spesies asli dan langka yang perlu dilestarikan di hutan Sumatra yang telah terdegradasi akibat aktivitas ilegal dan kebakaran hutan.

    Baca: Konservasi tanaman langka di Sumatera

    Program donasi Forest Restoration Project: SDGs Together ini telah berjalan sejak Agustus 2020.

    Inisiatif ini mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs) salah satunya target ke 15, yaitu melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem dan target ke 17 yaitu menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.

    Program tersebut berfokus pada penanaman dan perawatan pohon, serta perlindungan kawasan secara lestari dan berkelanjutan. Saat ini, Forest Restoration Project: SDGs Together telah berjalan selama tiga tahun.

    Dalam tiga tahun terakhir, telah dilakukan penanaman dan perawatan bibit pohon sebanyak 31.391 pohon seluas 94 ha.

    Kegiatan lain yang telah dilakukan yaitu memasang papan nama proyek, membangun rumah pembibitan, membangun pondok kerja, patroli hutan, memberikan peningkatan kapasitas bagi masyarakat, serta melakukan monitoring dan evaluasi.

    Baca: Gerakan tanam pohon bersama di kawasan industri Pulogadung

    Setidaknya ada 31 jenis pohon yang telah ditanam dalam program ini,  seperti merawan (Hopea mengarawan), ramin (Gonystylus bancanus) dan balam (Palaquium burckii) yang masuk ke dalam status kategori kritis / Critically Endangered (CR).

    Juga ada pohon balangeran (Shorea balangeran) masuk ke dalam kategori rentan / Vulnerable (VU) dan meranti lambai (Shorea acuminata) masuk ke dalam kategori hampir terancam punah / Near Threatened (NT) menurut daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

    Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan bahwa restorasi hutan merupakan salah satu langkah efektif untuk memitigasi perubahan iklim dan meningkatkan ketahanan pangan

    Restorasi hutan juga menjaga suplai air serta melindungi keanekaragaman hayati.

    “Kami ingin mempromosikan restorasi hutan untuk turut berkontribusi dalam aksi iklim global,” ujarnya dalam keterangan  tertulis yang diterima Rabu (10/1/2024).

    Baca: Menghijaukan Jakarta dengan ruang terbuka hijau

    Dolly menambahkan, restorasi hutan perlu memerhatikan dimensi sosial-ekonomi masyarakat sehingga tidak hanya mengembalikan fungsi ekologis..

    Restorasi hutan juga harus  mengembalikan fungsi hutan sebagai sumber mata pencaharian yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar sehinga tata kelolanya harus cermat.

    “Restorasi hutan dapat mendukung pemulihan fungsi hutan sebagai penyedia manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat”, kata Dolly.

    Senada dengan Dolly, Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, mengemukakan bahwa upaya untuk memulihkan ekosistem hutan, khususnya di Tahura SSH menjadi tanggung jawab bersama.

    Tak hanya pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat saja, pihak swasta dan masyarakat juga harus berpartisipasi aktif dalam upaya tersebut.

    “Dengan adanya pemulihan hutan, maka ekosistem hutan dapat berkontribusi untuk upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta mendukung pemenuhan Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi karbon di Provinsi Riau”, ujar Sri.

    Baca: Kenali hutan kota di tengah Jakarta

    Chief Sustainability Officer APP Group, Elim Sritaba menegaskan, swasta turut berperan dalam mendukung program restorasi hutan dan biodiversitas di Indonesia dengan berkolaborasi dengan pihak terkait.

    Hal ini juga dalam upaya mendukung pemerintah mencapai NDC termasuk FOLU Net Sink 2030.

    Kolaborasi multi-pihak, baik dari dalam maupun luar negeri pada program restorasi, merupakan salah satu upaya mendukung pembangunan berkelanjutan melalui kegiatan-kegiatan yang berdampak positif bagi lingkungan.

    “Kegiatan ini juga sejalan dengan Sustainability Roadmap Vision (SRV) 2030 yang telah kami canangkan,” tambah Elim.

    Pada tingkat global, peringatan Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia dilakukan pertama kali pada 10 Januari 1872.

    Baca: Hutan kota bernama Kebun Raya Mangrove

    Pada tingkat nasional, peringatan Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia dilakukan pertama kali di Indonesia pada 10 Januari 1993.

    Tujuan utama Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia adalah untuk meningkatkan kesadaran dan memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya menanam dan merawat pohon sebagai salah satu aksi pelestarian alam dan lingkungan hidup yang ada di lingkungan sekitar.

     

  • Bappenas: Sejumlah Indikator SDGs dalam Status Off Track karena Stagnan atau Memburuk

    Bappenas: Sejumlah Indikator SDGs dalam Status Off Track karena Stagnan atau Memburuk

    7cloud.asia – Di akhir masa pemerintahan Jokowi ada sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs), yang telah tercapai dan masih harus dikejar Indonesia.

    Hal ini diungkapkan Staf Ahli Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Pungkas Bahjuri Ali dalam acara SDGs Annual Conference 2024 di Jakarta, Senin (7/10/2024)

    Capaian SDGs di Indonesia hingga saat ini sebesar 62,5 persen dari 222 indikator SDGs yang telah on track dan masih terdapat 29,5 persen indikator yang off track karena stagnan, bahkan memburuk.

    “Ada beberapa target SDGs yang sudah progresnya sangat baik, tapi ada beberapa target yang ketinggalan sangat jauh, dan variasi antara kota, kabupaten, dan provinsi juga sangat-sangat tinggi,” ucap Bahjuri yang juga menjabat sebagai Kepala Sekretariat Nasional SDGs.

    Beberapa target SDGs yang telah tercapai cukup baik berkaitan dengan penurunan tingkat pengangguran terbuka, rasio gini, indeks kualitas udara membaik, serta perempuan usia kawin pertama di bawah umur 18 tahun atau nikah anak berkurang.

    Baca: Konferensi SDGs ungkap perlu kolaborasi sejumlah pihak untuk wujudkan pembangunan berkelanjutan

    Adapun indikator-indikator SDGs yang masih tertinggal antara lain mengenai akses terhadap sanitasi aman belum memadai karena masih banyak rumah tangga buang air besar sembarangan.

    Kedua, ialah banyak penduduk dewasa tak mendapatkan pendidikan formal, sehingga perlu diberikan akses ke perguruan tinggi terutama bagi kelompok perempuan dan rentan, pendidikan vokasi untuk mempersiapkan kebutuhan tenaga kerja.

    Juga inovasi pembelajaran jarak jauh dan teknologi dalam rangka menutupi kesenjangan pendidikan antara kota dengan desa.

    Ketiga, yaitu tingkat pengangguran tinggi dan mayoritas dari kalangan pemuda kelas menengah di perkotaan kendati telah dibuka 5,26 juta lapangan kerja baru dalam beberapa tahun terakhir.

    Bahjuri mengatakan, di kota relatif lebih tinggi, dua kali lipat dibanding dengan di desa, yang menurutnya ini terkait dengan jenis pekerjaannya.

    Baca: Ekonomi Biru mampu wujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan?

    Nah, lanjutnya, hal-hal yang diperlukan antaranya adalah bagaimana menciptakan lapangan kerja, khususnya untuk mikro informal yang jumlahnya semakin besar, semakin tahun jadi tantangan besar.

    Kemudian, meningkatkan produktivitas dari lapangan kerja yang ada. Berikutnya adalah pentingnya program pelatihan vokasi dan kebijakan tenaga kerja yang mendukung kewirausahaan muda.

    “Sebagai contoh antara lain adalah akses terhadap layanan finansial, karena baru 63 persen UMKM (usaha mikro kecil menengah) yang punya akses terhadap layanan finansial,” ujar Bahjuri.

    Terkait dengan industri, inovasi, dan infrastruktur, juga masih terdapat tantangan cukup besar walaupun sudah menunjukkan kemajuan cukup baik.

    Beberapa di antaranya adalah proporsi tenaga kerja pada sektor industri manufaktur belum ideal atau hanya sebesar 20,39 persen.

    Baca: Dengan naik transportasi publik kita membantu pencapaian Pembangunan Berkelanjutan

    Karena itu, perlu dilakukan inovasi lebih lanjut dengan teknologi bersih dan teknologi hijau untuk meningkatkan daya saing global yang di antaranya melalui peningkatan produktivitas dan investasi di bidang teknologi, serta pelatihan keterampilan transformasi industri.

    Ke depan, Bappenas sudah membuat namanya Peta Jalan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2023-2030 yang dapat diakses melalui website.

    “Peta jalan ini menceritakan tentang proyeksi ke depan seharusnya seperti apa, jika kita seperti ini saja ekspornya, atau kalau kita optimis seperti apa,” kata Bahjuri.

    Ditambahkan, pihak Bappenas juga sudah melakukan proyeksi sampai 2030 dan proyeksi sampai tingkat provinsi.

    “Harapannya, dari Pemda (pemerintah daerah) dapat melihat target-target SDGs di sini karena target yang di sini sudah selaras dengan target-target RPJMN (rencana pembangunan jangka menengah nasional) dan RPJMD (rencana pembangunan jangka menengah nasional),” sebutnya.

    Sumber: Antaranews.com