Tag: sepeda

  • Kabar Gembira untuk Pengguna Sepeda, Kini Jakarta Sudah Miliki Peta Bersepeda

    Kabar Gembira untuk Pengguna Sepeda, Kini Jakarta Sudah Miliki Peta Bersepeda

    7cloud.asia – Bertepatan dengan peringatan Hari Sepeda Dunia yang jatuh pada 3 Juni 2023 lalu, Koalisi Cerdas Bermobilitas meluncurkan Peta Bersepeda. 

    Peta Bersepeda adalah sebuah platform bersama yang memungkinkan setiap orang mengetahui spot parkir untuk sepeda, bengkel sepeda, hingga jalur sepeda di Jakarta.

    Fadli sebagai founder dari Peta Bersepeda mengatakan bahwa keengganan orang Indonesia untuk berjalan kaki maupun bersepeda tak lepas dari perencanaan kota yang tidak ramah untuk pejalan kaki maupun bersepeda.

    Baca: Tak hanya ramah lingkungan, bersepeda juga jadi sarana warga mengenali kota

    Seperti diketahui hasil penelitian di Stanford University mengungkapkan bahwa orang Indonesia tergolong paling malas jalan kaki. Studi yang dirilis pada Agustus 2022 menyebut bahwa rata-rata volume jalan kaki yang dilakukan orang Indonesia hanya 3.513 langkah per hari.

    Sedangkan penggunaan sepeda masih terbatas untuk sarana transportasi di lingkungan yang lebih sempit ataupun sekadar berolah raga.

    “Tidak bisa dipungkiri bahwa orang Indonesia tercatat sebagai orang paling malas berjalan kaki sedunia. Hal ini tidak terlepas dari pembangunan kota yang pro-kendaraan bermotor pribadi,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang dirilis Koalisi Cerdas Bermobilitas

    Baca: Empat kota di dunia yang sangat memprioritaskan pejalan kaki

    Fadli menilai orang Indonesia telah terjangkit “candu bermotor” alias tidak bisa lepas dari ketergantungan kendaraan bermotor.

    Sehingga momen Hari Sepeda Dunia layak dijadikan momen sebagai perlawanan terhadap efek candu tersebut.

    “Sebagaimana visi dari Peta Bersepeda yang menyajikan wadah informasi fasilitas pendukung bersepeda di wilayah perkotaan, termasuk tempat parkir dan jalur sepeda,” imbuh Fadli

    Baca: Jalan kaki bagus untuk kesehatan fisik dan mentalmu

    Fadli berharap, dengan hadirnya platform Peta Bersepeda yang bersifat crowdsourcing ini dapat menjadi rapor para pemangku kepentingan dalam menyediakan sarana dan prasarana mobilitas aktif.

    Di sisi lain, Peta Bersepeda ini juga diharapkan dapat membantu pengguna sepeda di Jakarta dalam bermobilitas.”

    Kampanye kreatif dengan pesan utama #SepedaUntukSemua dan #CerdasBermobilitas ini menegaskan kembali bahwa taman dan trotoar sebagai ruang publik di kota seharusnya diperuntukkan untuk aktivitas masyarakat seperti bersepeda dan berjalan kaki. 

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Koalisi Cerdas Bermobilitas antara lain beranggotakan Bike to Work, Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, Parkir Sepeda Jakarta, Koalisi Pejalan Kaki, Peta Bersepeda, bersama dan komunitas sepeda lainya.

    Dalam aksi kolaboratif yang digelar bertepatan dengan Hari Sepeda Dunia ini membawa pesan bahwa bersepeda merupakan salah satu moda mobilitas yang bebas macet, bebas polusi, dan ramah lingkungan.

    Kegiatan ini bertujuan untuk menekankan kembali bahwa ruang publik di kota seharusnya untuk masyarakat berkegiatan bukan sebagai lahan parkir kendaraan. 

    Baca: Tarif parkir mahal agar warga beralih ke transportasi publik

    Selama ini banyak taman dan trotoar yang digunakan menjadi tempat parkiran kendaraan bermotor pribadi. Jalur sepeda juga sering diserobot menjadi jalur sepeda motor pun kendaraan roda empat.

    Sumber: Greenpeace, baca artikel asli di sini

     

     

  • Komunitas Sepeda: Bersepeda Jadi Cara Warga Menikmati Kotanya

    Komunitas Sepeda: Bersepeda Jadi Cara Warga Menikmati Kotanya

    7cloud.asia – Memperingati Hari Sepeda Sedunia, Greenpeace Indonesia bersama dengan B2W Indonesia, ITDP Indonesia, Parkir Sepeda Jakarta, Koalisi Pejalan Kaki, Peta Bersepeda, bersama dengan komunitas sepeda lainya, melakukan tur sepeda dari kawasan Monumen Nasional hingga Taman Ayodya di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

    Aksi kolaborasi kreatif komunitas sepeda di Jakarta ini membawa pesan bahwa sepeda merupakan salah satu moda mobilitas yang bebas macet, bebas polusi, dan ramah lingkungan.

    Kegiatan ini bertujuan untuk menekankan kembali bahwa ruang publik di kota seharusnya untuk masyarakat berkegiatan bukan sebagai lahan parkir kendaraan pribadi. Sepeda merupakan salah satu moda transportasi tertua di dunia, yang masih digunakan hingga saat ini.

    Sayangnya, semakin berkembangnya kota-kota di dunia termasuk Jakarta, justru semakin meminggirkan sepeda sebagai salah satu moda transportasi, dan lebih berorientasi pada kendaraan bermotor pribadi. 

    Baca: Alasan Dishub DKI Jakarta bongkar trotoar Santa

    Padahal sepeda bisa dijadikan alternatif untuk mengatasi masalah kemacetan dan polusi udara di Jakarta.

    Dilansir dari TomTom Traffic Index, Jakarta menempati urutan ke 29 di dunia untuk angka kemacetan, setelah sebelumnya di 2020 berada di urutan 46. Berdasarkan data dari Polda Metro Jaya, ada sekitar 22 juta unit kendaraan di Jakarta setiap harinya. 

    Kemacetan Jakarta merupakan sumber utama polusi udara dari sumber bergerak. Menurut Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, sektor transportasi masih menjadi penyebab utama buruknya kualitas udara Jakarta.

    Laporan IQ Air pada Maret lalu mengungkap bahwa Jakarta menduduki peringkat pertama kota paling berpolusi di kawasan Asia Tenggara. Bahkan, dalam seminggu terakhir kualitas udara Jakarta masuk kategori Tidak Sehat.

    Baca: 4 kota dunia yang prioritaskan pejalan kaki

    Polusi udara memiliki dampak serius pada kesehatan masyarakat. Risiko kesehatan yang ditimbulkan dari polusi udara antara lain penyakit pernapasan, seperti paru obstruktif kronis, ISPA, gagal jantung hingga kelahiran bayi prematur.

    Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. Budi Haryanto, melihat adanya korelasi antara penyakit yang terkait dengan polusi udara menyebabkan peningkatan klaim BPJS Kesehatan.

    Berdasarkan hasil studinya, sejak konsentrasi polutan di DKI Jakarta naik pada 2011, penyakit pernapasan seperti asma, pneumonia, dan ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) semakin bertambah. 

    “Aksi #SepedaUntukSemua ini sekali lagi ingin menguatkan bahwa bersepeda merupakan cara yang paling efisien dalam upaya menurunkan emisi di perkotaan dan bentuk kontribusi warga mengurai masalah polusi udara dan kemacetan yang kian buruk.” ujar Charlie Albajili, Pengkampanye Keadilan Perkotaan Greenpeace Indonesia. 

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Aksi ini, lanjut Charlie, juga jadi pesan pada pemerintah, di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata. pemerintah harus menjadi yang terdepan untuk memfasilitasi warganya untuk bersepeda dengan mudah, bukan malah membatasi hak pesepeda.

    Dalam skala lingkungan, sepeda menjadi pilihan mobilitas bagi kelompok rentan, termasuk perempuan dan anak. Di 27 kampung kota di 4 wilayah administratif kota di Jakarta pada 2018-2020 didapati bahwa sepeda menjadi pilihan utama bermobilitas setelah angkutan umum dan berjalan kaki.

    Dengan 65.7% pesepeda di kampung adalah anak-anak dan 94.8% penggunaan sepeda  untuk bersekolah dan bermain (ITDP, 2018-2020). Sementara di pusat kota, jalur sepeda yang terbangun, konsisten digunakan oleh pesepeda mobilitas.

    Sejak tahun 2019 hingga 2022, ITDP Indonesia telah melakukan survei penghitungan pengguna jalur sepeda secara berkala pada periode uji coba jalur sepeda sepanjang 63 kilometer.

    Baca: Cerita tuli, kisah para difabel tuli di Kota Solo

    Dengan lalu lintas yang berangsur-angsur kembali normal pun, jumlah pesepeda yang teramati sepanjang Juni 2022 pada mayoritas titik pengamatan juga mengalami peningkatan.

    Meski begitu, jalur sepeda di Jakarta, masih menyisakan PR besar, yaitu penegakan hukum bagi yang melanggar penggunaan jalur sepeda. 

    Gonggomtua Sitanggang, Direktur Interim ITDP Indonesia mengatakan: “Pada gelaran World Bicycle Day tahun ini, ITDP Indonesia berharap  pemerintah kota terus berupaya untuk membuat bersepeda menjadi kegiatan bermobilitas yang aman dan nyaman di kota.

    Hal tersebut dilakukan baik di skala lingkungan maupun pusat kota dengan membangun infrastruktur dan layanan bersepeda, serta kebijakan pengurangan kecepatan kendaraan bermotor yang dibarengi dengan pembatasan penggunaan kendaraan bermotor serta penegakan hukum.

    Baca: Stasiun Manggarai diarahkan jaid stasiun sentral, seperti ini masterplannya

    Peningkatan penggunaan sepeda juga dapat dilakukan dengan mengintegrasikan sistem antara jalur sepeda dengan transportasi publik sebagai first and last mile melalui sistem bikeshare.” 

    “Jika infrastruktur bersepeda, seperti jalur dan juga parkir diperbanyak oleh pemerintah setempat, maka para pesepeda akan semakin nyaman dan bergembira ketika bersepeda, ucap Fahmi Saimima, Ketua Umum B2W Indonesia.

    “Semakin banyak orang yang senang bersepeda akan meningkatkan kualitas udara kota, dan kualitas hidup karena terbebas dari macet,” tegasnya.

    Di kesempatan yang sama, koalisi meluncurkan Peta Bersepeda, sebuah platform bersama yang memungkinkan setiap orang mengetahui spot parkir untuk sepeda, bengkel sepeda, hingga jalur sepeda di Jakarta.

    Sumber : Greenpeace, baca artikel asli di sini

  • Menilik Kondisi Fasilitas untuk Pejalan Kaki dan Pengguna Sepeda di Kota-kota di Indonesia

    Menilik Kondisi Fasilitas untuk Pejalan Kaki dan Pengguna Sepeda di Kota-kota di Indonesia

    7cloud.asia – Pernahkan kamu sejenak memperhatikan kondisi pedestrian atau trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki atau pengguna sepeda di kota kamu?

    Lebih jauh, apakah kita pernah memperhatikan fasilitas untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda itu ramah bagi disabilitas? 

    Dalam tulisan ini, 7cloud.asia ingin mengajak kamu untuk meluangkan sejenak mengintip fasilitas untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda di kota-kota di Indonesia.

    Setelah bertahun-tahun di abaikan, kini pejalan kaki dan pengguna sepeda mulai mendapatkan tempat di sejumlah kota. 

    Dilansir di laman Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), dalam beberapa tahun ke belakang, kota–kota di Indonesia telah berupaya mewujudkan kota yang lebih ramah untuk pejalan kaki dan pesepeda.

    Baca: Bersepeda, cara warga mengenali kotanya

    Kota Semarang misalnya, telah membenahi fasilitas pejalan kaki di kawasan komersial dan pemerintahan di Jl. Pemuda dan Jl. Imam bonjol pada tahun 2021-2022. Demikian juga dengan pemkot Surabaya yang telah membenahi pusat ibu kota Jawa Timur itu sejak tahun 2010.

    Di Jakarta yang pada tahun 2017 masif melakukan perbaikan fasilitas pejalan kaki dan sepeda hingga penataan kawasan.

    Dalam artikel “Lompatan Kecil Menuju Kota yang Inklusif” Noni Sabandar, Inclusive Urban Planning Associate ITDP Indonesia mencatat, di balik berbagai upaya penataan fasilitas untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda itu masih menyisakan isu inklusivitas. 

    “Pembangunan fasilitas pejalan kaki seperti trotoar dan penyeberangan jalan yang tidak mengandung unsur inklusivitas masih banyak ditemukan di banyak kota di Indonesia,” tulisnya. 

    Baca: Empat kota di dunia yang sangat memprioritaskan pejalan kaki

    Dalam catatan ITDP Indonesia, GAUN dan UN Women, masih banyak ditemukan pemasangan dan peletakan jalur pemandu yang tidak mengikuti perspektif pengguna Netra.

    ITDP, lanjutnya, juga menemukan lebar minimum jalur pejalan kaki yang tidak mengakomodasi pengguna kursi roda, material jalur pejalan kaki yang licin, dan beberapa kesalahan teknis lainnya.

    Hal ini disebabkan karena tidak adanya standar atau pedoman teknis pembangunan fasilitas pejalan kaki yang menyertakan unsur inklusivitas tersebut bagi pemangku kebijakan di kota-kota di Indonesia.

    “Imbasnya, fasilitas pejalan kaki malah menyebabkan hambatan atau tidak dapat diakses oleh pejalan kaki berkebutuhan khusus seperti perempuan dengan anak, orang lanjut usia (lansia), anak-anak dan penyandang disabilitas,” imbuh Noni.

    Baca: Bogota, kota yang ramah untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda

    Pedoman Fasilitas Pejalan Kaki dalam Surat Edaran Menteri PUPR No. 2 Tahun 2018 merupakan satu-satunya rujukan pedoman dalam penyelenggaraan fasilitas pejalan kaki perkotaan.

    Meski begitu, pedoman ini masih belum menyesuaikan dengan hak atas Disabilitas dan aspek inklusivitas yang tercantum dalam UU No. 8 Tahun 2016 tentang penyandang Disabilitas serta PM PUPR Nomor 14/PRT/M/2017.

    Pelibatan kelompok rentan (perempuan, penyandang disabilitas) dan perwakilan masyarakat juga belum dilakukan dalam penyusunan regulasi.

    Lewat serangkaian revisi yang melibatkan ITDP, GAUN, UN Women, PUPR, serta partisipasi peserta MSD dan melewati proses legalisasi yang berlaku, akhirnya berhasil dirilis revisi Pedoman Teknis Fasilitas Pejalan Kaki resmi dirilis  pada Mei silam. 

    Baca: Pengembangan kawasan dengan konsep TOD di Jakarta

    Dengan adanya pembaruan ini, beberapa poin yang diubah dan/atau ditambahkan terkait dengan:

    1. Lebar efektif jalur pejalan kaki yang menjadi 1,85 meter, sehingga dapat mengakomodasi mobilitas dua kursi roda yang berpapasan;
    2. Pengaturan akses keluar masuk kendaraan yang memberikan prioritas bagi pejalan kaki;
    3. Pemasangan jalur pemandu yang bebas hambatan samping dan atas, untuk memudahkan navigasi bagi disabilitas Netra;
    4. Rancangan pelandaian yang landai dan dapat diakses dengan mudah bagi pengguna kursi roda, stroller, atau roda lainnya; dan
    5. Ketentuan penyeberangan baik sebidang maupun tidak sebidang yang inklusif dan aman bagi semua kelompok.

    Dengan pedoman ini diharapkan pembangunan fasilitas untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda di kota-kota di Indonesia lebih mengakomodasi para disablitas.  

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

     

  • Peringati Hari Kemerdekaan: Laki-laki Ini Lakukan Gowes 79 Tahun Indonesia Jakarta-Semarang

    Peringati Hari Kemerdekaan: Laki-laki Ini Lakukan Gowes 79 Tahun Indonesia Jakarta-Semarang

    7cloud.asia – Hari ini, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-79,  peseda asal Depok Jawa Barat, Iman Sulaeman akan memulai perjalanan Gowes 79 Tahun Indonesia dari Jakarta menuju Kota Semarang.

    Dengan menunggangi sepeda kesayangannya, Iman akan memulai start Gowes 79 Tahun Indonesia dari Tugu Pancoran Jakarta dan akan finish di Tugu Muda Semarang.

    Aksi bersepeda yang diberi tajuk Gowes 79 Tahun Indonesia ini akan menempuh jarak sejauh 474 kilometer.

    Iman yang mantan jurnalis ini telah mengatur sendiri etape Gowes 79 Tahun Indonesia berdasarkan kecintaannya pada Indonesia yang tengah merayakan Hari Kemerdekaannya yang ke-79 ini.

    “Jarak 474 kilometer dibagi 79 (peringatan HUT ke-79 RI), maka hasilnya 6. Jadi saya atur menjadi 6 etape,” ujar Iman Sulaeman, dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia pada Sabtu (17/8/2024).

    Baca Juga: Hari Sepeda Sedunia: Membangun Kesadaran Mewujudkan Transportasi Sehat dan Ramah Lingkungan

    Rencananya, Gowes 79 Tahun Indonesia ini akan memakan waktu enam hari, mulai tanggal 17hingga 22 Agustus 2024 mendatang.

    Gowes 79 tahun Indonesia Merdeka ini dilakukan Iman dengan menyusuri rute pesisir pantai utara Jawa atau yang lebih dikenal dengan Pantura.

    “Ini sebagai upaya untuk terus mengingatkan masyarakat akan “kiamat pantura” atau ancaman tenggelamnya kawasan pesisir Pantura yang kian nyata akibat amblesnya tanah dan semakin naiknya permukaan laut,” terang Iman.

    Ini merupakan kali keempat, Iman melakukan aksi gowes keliling Jawa. Gowes menjadi cara yang dipilih Iman untuk mengampanyekan isu tertentu.

    Sebelumnya pada Agustus 2021, Iman Sulaeman dengan dilepas Menteri Pariwisata Sandiaga Uno melakukan gowes Jakarta-Denpasar, Bali untuk melihat secara langsung kondisi Bali yang sangat terdampak Covid-19.

    Baca Juga: Menilik Kondisi Fasilitas untuk Pejalan Kaki dan Pengguna Sepeda di Kota-kota di Indonesia

    Saat itu Iman bergowes ria untuk membuktikan bahwa Bali aman didatangi oleh siapa saja asalkan mereka memiliki kondisi fisik yang baik.

    Gowes Jakarta – Bali ditempuh Iman seorang diri dengan menempuh rute 1.500 kilometer selama 15 hari.

    “Jadi tidak perlu ada kekhawatiran untuk datang ke Bali meski Denpasar dan sekitarnya ketika itu dinyatakan “merah”,” ujar Iman saat itu.

    Dua tahun kemudian atau tepatnya di tahun 2023, Iman dan dua temannya kembali melakukan gowes untuk memeriahkan event “Iron Man” pertama di Indonesia dengan menempuh rute Jakarta – Lombok.

    Pada tahun ini atau tepatnya awal Agustus 2024, Iman dan Rahman Andi Mangunsara yang tergabung dalam Center for Financial literacy Digital (CFDL) melakukan gowes edukasi akan bahaya judi online.

    Sambil gowes mereka mengkampanyekan cerdas digital kepada masyarakat Jawa Barat yang ditemuinya mulai dari Ciwidey, Cidaun, Pangandaran hingga Tasikmalaya.

  • Indeks Copenhagenize 2025 Ungkap Kota Ramah Sepeda di Dunia

    Indeks Copenhagenize 2025 Ungkap Kota Ramah Sepeda di Dunia

    7cloud.asia – Enam tahun setelah dibuat peringkat kota ramah sepeda, dan setelah pandemi yang mengubah kebiasaan mobilitas harian, muncul pertanyaan kota-kota global mana yang benar-benar berinvestasi dalam mentransformasi jalanan mereka untuk para pesepeda? Dan kota mana yang tertinggal?

    Jawabannya terungkap dalam Indeks Copenhagenize 2025 – EIT Urban Mobility Edition yang dirilis November 2025 lalu.

    Dari 150 kota yang telah dipilih sebelumnya, 100 kota dari 44 negara dievaluasi, menjadikan peringkat ini sebagai tolok ukur global yang unik, menampilkan pusat-pusat kota dari setiap benua.

    Dilansir eiturbanmobility.eu, Indeks Copenhagenize 2025 yang dirilis baru-baru ini mengungkap, setidaknya 100 kota di seluruh dunia yang sedang mentransformasi jalanan mereka untuk mengembangkan bersepeda sebagai solusi mobilitas utama.

    Indeks Copenhagenize – edisi EIT Urban Mobility yang merupakan inisiatif dari Institut Inovasi dan Teknologi Eropa (EIT) sebuah badan Uni Eropa ini penuh dengan data dan kisah baru dari seluruh dunia bersepeda.

    Indeks Copenhagenize 2025 menunjukkan kematangan global dalam kebijakan bersepeda. Bersepeda tidak lagi diperlakukan sebagai isu mobilitas khusus, tetapi sebagai penggerak lintas sektor untuk aksi iklim, kesehatan masyarakat, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

    Baca: Tren bersepeda di Indonesia meredup

    Di berbagai benua, terlihat adanya pergeseran dari proyek percontohan menuju program jangka panjang yang lebih terstruktur, yang tertanam dalam rencana ketahanan dan mobilitas berkelanjutan yang lebih luas.

    Namun, kesenjangan antara ambisi dan implementasi tetap lebar, dengan stabilitas pendanaan, kesinambungan politik, dan kapasitas teknis muncul sebagai pembeda utama antara kota-kota peringkat atas dan menengah.

    Peringkat internasional ini menyatukan kota-kota dari setiap benua, mewakili beragam bentuk perkotaan, iklim, dan ekonomi. Iklim saja tidak menentukan apakah sebuah kota dapat menjadi ramah sepeda atau tidak.

    Dari panas dan kelembapan Singapura dan Dubai hingga musim dingin yang dingin dan bersalju di Helsinki, Kota Québec, dan Minneapolis, semuanya telah layak mendapatkan tempat mereka dalam peringkat ini.

    Kota-kota ini menunjukkan bahwa bersepeda dapat berkembang di mana saja, dan bahwa sepeda telah menjadi alat yang ampuh dalam mengatasi perubahan iklim.

    Baca: Daftar kota ramah sepeda di dunia

    Di luar iklim atau topografi, prediktor terkuat keberhasilan bersepeda adalah investasi berkelanjutan yang didukung oleh tata kelola antar departemen yang efektif.

    Kota-kota yang memperlakukan bersepeda sebagai sebuah sistem – mengintegrasikan infrastruktur, komunikasi, dan pemantauan – secara konsisten mencapai hasil yang lebih tinggi dan lebih stabil.

    Meskipun kota-kota bersepeda bersejarah telah berinvestasi selama beberapa dekade, banyak kota peringkat teratas saat ini mencapai posisi mereka dengan melakukan perubahan kebijakan yang menentukan, yakni beralih dari inisiatif sederhana menjadi menjadikan bersepeda sebagai pilar utama pembangunan perkotaan.

    Dengan memanfaatkan sepenuhnya manfaat bersepeda, kota-kota ini mentransformasi mobilitas dan kualitas hidup perkotaan, menyesuaikan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang sebenarnya, dan memungkinkan orang dari segala usia dan latar belakang untuk bersepeda setiap hari.

    Kota-kota Eropa mendominasi Indeks Copenhagenize 2025 ini karena beberapa alasan, termasuk komitmen politik yang kuat — yang sering kali didorong dan didukung oleh warga setempat — untuk berinvestasi dalam transisi ekologis.

    Baca: Membangun kesadaran bersepeda sebagai transportasi sehat dan ramah lingkungan

    Namun, kemajuan tidak seragam. Beberapa kota yang pernah dipuji sebagai pelopor bersepeda, khususnya di Eropa dan Amerika, telah memperlambat investasi mereka atau mengurangi ambisi, dan oleh karena itu tidak lagi termasuk di antara yang terdepan.

    Demikian pula, di beberapa bagian Global Selatan, jalan-jalan yang dulunya penuh dengan pesepeda kini semakin banyak dilalui kendaraan bermotor seiring dengan kemajuan pembangunan ekonomi.

    Bersepeda sehari-hari terjebak dalam paradoks: peningkatan pendapatan dan peningkatan penggunaan kendaraan bermotor mengurangi penggunaan sepeda tepat ketika pemerintah mulai berinvestasi dalam infrastruktur.

    Hal ini menggarisbawahi pentingnya memposisikan bersepeda bukan sebagai moda transportasi yang dibutuhkan, tetapi sebagai pilihan transportasi yang diinginkan, efisien, dan modern.

    Pergeseran ini menyoroti kebutuhan berkelanjutan akan pengumpulan data yang kuat dan peningkatan kapasitas di antara pemerintah daerah, untuk membalikkan penurunan dan mendukung pertumbuhan bersepeda.

  • Konflik Timur Tengah Memicu Krisis Energi: Saatnya Beralih ke Sepeda yang Hemat Energi

    Konflik Timur Tengah Memicu Krisis Energi: Saatnya Beralih ke Sepeda yang Hemat Energi

     

    7cloud.asia – Memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah bisa berdampak langsung ke Indonesia, terutama lewat kenaikan harga minyak dunia.

    Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar minyak (BBM) dan kita masih mengimpornya dalam jumlah besar.

    Sektor transportasi menjadi paling rentan karena merupakan pengguna BBM terbesar. Pada 2025, sektor ini menggunakan BBM sebanyak 276,6 juta barel atau sekitar 52% dari konsumsi BBM nasional.

    Parahnya lagi, sekitar 97% konsumsi BBM di sektor transportasi digunakan untuk kendaraan pribadi, terutama sepeda motor dan mobil. Sehingga ketika terjadi krisis, mobilitas harian masyarakat langsung terdampak.

    Di tengah kondisi tersebut, sepeda bisa menjadi solusi mengurangi ketergantungan energi. Tapi mengapa solusi ini sering diabaikan?

    Infrastruktur: kunci agar sepeda tidak sekadar wacana

    Mendorong masyarakat beralih ke sepeda tidak cukup hanya dengan imbauan. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, sepeda sulit menjadi opsi moda transportasi utama.

    Pemerintah perlu menyediakan jalur khusus sepeda untuk menjamin keselamatan pesepeda dari lalu lintas kendaraan bermotor. Ini adalah faktor utama yang menentukan apakah masyarakat bersedia beralih ke sepeda sebagai moda harian.

    Selain itu, fasilitas pendukung seperti parkir sepeda yang aman serta rambu dan marka khusus harus disediakan secara sistematis.

    Integrasi dengan transportasi publik menjadi faktor penting. Berbagai studi menunjukkan bahwa sepeda ideal untuk perjalanan jarak pendek (kurang dari 5 km). Maka dari itu, sepeda bisa berperan sebagai moda first mile (dari rumah ke hub transportasi umum) dan last mile (dari hub transportasi umum ke tujuan akhir).

    Pengguna bisa bersepeda dari rumah menuju halte atau stasiun, lalu melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum. Integrasi ini mampu menekan ketergantungan pada kendaraan pribadi sekaligus meningkatkan efisiensi sistem transportasi.

    Kota seperti Kopenhagen dan Utrecht telah membuktikan bahwa keberhasilan bersepeda bukan hanya soal budaya, tetapi hasil dari investasi infrastruktur yang konsisten dan terintegrasi.

    Di Indonesia, inisiatif pembangunan jalur sepeda memang sudah mulai muncul di beberapa kota, termasuk Jakarta, Bandung, Bogor, Solo, hingga Palembang. Namun, tak jarang jalur sepeda masih sering diterobos pengendara sepeda motor.

    Implementasinya juga masih parsial dan belum menjadi bagian dari strategi transportasi nasional yang utuh.

    Padahal, dalam konteks krisis energi, setiap kilometer jalur sepeda yang dibangun adalah investasi untuk mengurangi konsumsi BBM.

    Momentum untuk berbenah

    Ancaman krisis energi seharusnya dilihat sebagai momentum untuk berbenah. Fenomena ini sudah terlihat di berbagai negara.

    Di Australia, misalnya, lonjakan harga energi dan meningkatnya biaya hidup dalam beberapa tahun terakhir mendorong sebagian masyarakat beralih ke sepeda sebagai moda transportasi harian, terutama untuk perjalanan jarak pendek di kawasan perkotaan.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan pola mobilitas bukan hal yang mustahil, melainkan respons rasional terhadap tekanan ekonomi dan energi.

    Indonesia pun berada pada titik yang sama: ketika sektor transportasi menyumbang hampir separuh konsumsi BBM nasional, maka perubahan di sektor ini akan memberikan dampak paling signifikan.

    Selama ini, penggunaan sepeda masih dianggap sekadar gaya hidup atau aktivitas rekreasi. Namun dalam situasi krisis energi, sepeda harus dipandang sebagai bagian dari solusi sistemik.

    Perubahan cara pandang ini penting. Ketika sepeda menjadi bagian dari sistem transportasi utama, maka ketahanan energi nasional akan semakin kuat.

    Dorongan untuk mengembangkan transportasi berkelanjutan, termasuk sepeda, sejatinya sejalan dengan arah kebijakan nasional. Dalam dokumen RPJMN 2025-2029, pemerintah mengakui pentingnya pembangunan transportasi yang efisien, terintegrasi, dan rendah emisi.

    Di tingkat global, penguatan peran sepeda juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 (kota berkelanjutan) dan tujuan ke-13 (penanganan perubahan iklim).

    Lebih jauh, Indonesia telah menetapkan target mencapai Net Zero Emissions Indonesia 2060. Dalam konteks ini, sektor transportasi menjadi salah satu sektor kunci yang harus ditekan emisinya. Mendorong peralihan ke moda rendah karbon seperti sepeda merupakan langkah konkret yang dapat dilakukan dalam jangka pendek dengan biaya relatif rendah.

    Artinya, pengembangan infrastruktur bersepeda bukan hanya respons terhadap krisis energi, tetapi juga bagian dari strategi besar pembangunan berkelanjutan.


    Angga Marditama Sultan Sufanir, Assistant Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Ketika Sepeda Menjadi Jalan Arezoo Menyebarkan Pesan Persahabatan

    Ketika Sepeda Menjadi Jalan Arezoo Menyebarkan Pesan Persahabatan

    7cloud.asia – Bagi sebagian orang, sepeda mungkin hanya alat transportasi. Namun bagi Arezoo Eskandari, kendaraan dua roda ini menjadi jalan panjang untuk membawa pesan tentang perdamaian, persahabatan, dan hubungan antarmanusia.

    Perempuan asal Kota Esfahan, Iran itu mengayuh sepeda melintasi berbagai negara di Asia selama tujuh bulan. Ribuan kilometer ia tempuh seorang diri, menghadapi berbagai medan, budaya, hingga tantangan sebagai seorang perempuan yang melakukan perjalanan panjang tanpa pendamping.

    Arezoo tiba di Jakarta pada Sabtu (6/6/2026). Kedatangannya bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan bagian dari misi pribadi untuk menunjukkan bahwa perbedaan negara, bahasa, dan budaya bukan penghalang untuk saling mengenal.

    Baca: Mengenal Sosok Ulama Hamka Lewat Film

    Perjalanan panjang itu dimulai ketika ia terbang dari Iran menuju negara awal rutenya. Dari sana, petualangan dengan sepeda dimulai.

    “China menjadi bagian tersulit karena itu negara pertama dalam perjalanan ini. Saya baru memulai dan harus beradaptasi dengan banyak hal. Selain itu, tidak banyak warga lokal yang bisa berbahasa Inggris sehingga komunikasi menjadi tantangan tersendiri,” jelas Arezoo saat berbincang dengan media di Jakarta, Senin (8/6/2026).

    Keputusan Arezoo untuk meninggalkan rutinitas bukan hal mudah. Sebelum memulai perjalanan, psikolog ini bekerja di perusahaan swasta.

    Namun demi mengejar impiannya menjelajah dunia dengan sepeda, ia memilih keluar dari pekerjaannya bahkan rela menjual mobilnya sebagai modal dalam perjalanannnya.

    Baca: Ketidakharmonisan Keluarga Picu Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan

    Pilihan tersebut sempat membuat banyak orang bertanya. Termasuk keluarganya yang perlu bertahun-tahun untuk meyakinkan mereka. Apalagi ia menjalankan perjalanan ribuan kilometer itu seorang diri sebagai perempuan berusia 35 tahun.

    Namun Arezoo percaya, banyak ketakutan manusia sebenarnya muncul dari batasan yang diciptakan oleh pikiran sendiri.

    “Banyak ketakutan sebenarnya berasal dari persepsi dan batasan yang kita buat sendiri,” katanya.

    Di sepanjang perjalanan, Arezoo harus berhadapan dengan berbagai situasi yang tidak selalu mudah. Salah satunya adalah menentukan tempat beristirahat. Sebagai perempuan yang bepergian sendiri, ia harus lebih berhati-hati memilih lokasi aman untuk mendirikan tenda.

    Baca: Kwik Kian Gie, Ekonom Kritis yang Tak Mudah Terbeli

    Keterbatasan biaya membuatnya lebih sering bermalam di alam terbuka dibandingkan hotel. Ia juga memasak sendiri untuk menghemat pengeluaran.

    Sepeda yang menjadi teman perjalanannya pun tidak dalam kondisi ringan. Berbagai perlengkapan berkemah, alat memasak, dan kebutuhan harian membuat beban yang dibawa mencapai sekitar 60 kilogram.

    Setiap hari, Arezoo rata-rata mengayuh sejauh 50 hingga 70 kilometer. Jarak yang bagi kendaraan bermotor hanya membutuhkan waktu singkat, bagi Arezoo menjadi perjalanan panjang yang harus dilalui dengan kesabaran.

    “Mobil bisa menempuh 100 kilometer dalam waktu sekitar satu jam. Saya hanya bisa menempuh sekitar 15 kilometer per jam karena menggunakan sepeda dan membawa beban yang berat,” ungkapnya.

    Baca: Presiden Iran, Ebrahim Raisi Meninggal

    Tantangan lain muncul ketika sepeda mengalami masalah, seperti ban bocor. Di negara yang baru dikunjungi, ia harus mencari bengkel atau bantuan dari orang-orang yang sebelumnya tidak ia kenal.

    Namun di balik semua tantangan itu, ada satu hal yang paling ia rindukan selama tujuh bulan jauh dari rumah.

    “Keluarga, terutama pelukan ibu,” kata Arezoo. Kerinduan itu terasa semakin berat ketika komunikasi dengan keluarga sempat terputus akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

    Saat itu, Arezoo mengaku sempat berada dalam situasi emosional karena harus menghadapi keadaan tersebut sendirian.

    “Itu salah satu momen yang sulit karena saya harus menjalani semuanya sendirian. Sekarang saya bersyukur komunikasi sudah kembali lancar,” katanya.

    Baca: Mengenal Mia Khalifa, Model Majalah Playboy yang Bela Palestina

    Meski perjalanan ini penuh tantangan, Arezoo menganggap setiap kilometer yang ditempuh membawa pelajaran berharga. Baginya, perjalanan bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi juga proses mengenal diri sendiri.

    “Perjalanan ini membuat saya menjadi pribadi yang lebih sabar dan lebih menghargai waktu yang sedang saya jalani,” ujarnya.

    Melalui kayuhan panjangnya, Arezoo ingin menyampaikan pesan sederhana, terutama kepada perempuan dan anak-anak perempuan agar tidak ragu mengejar impian. “Jangan takut untuk bermimpi dan mengejar impian kalian,” pesan Arezoo.