Tag: Thrifting

  • Era Baru Thrifting: Mengolahulang Pakaian Bekas Jadi Bernilai Tinggi

    Era Baru Thrifting: Mengolahulang Pakaian Bekas Jadi Bernilai Tinggi

    7cloud.asia – Thrifting atau berburu pakaian bekas sempat digemari oleh anak muda. Thrifting dipandang sebagai cara alternatif untuk memiliki pakaian bekas layak pakai, tanpa harus membeli pakaian baru. Untuk sebagian orang, thrifting bahkan menjadi cara untuk mengekspresikan diri.  

    Selain itu, thrifting juga dipandang sebagai salah satu cara mengurangi limbah fesyen yang saat ini jumlahnya sudah sangat mencemaskan.  

    Namun belakangan, thrifting sempat disorot karena dinilai bisa mengganggu penyerapan produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kecaman terhadap thrifting karena dianggap tidak ramah UMKM dan tidka mendukung ekonomi dalam negeri.

    Sorotan ini sempat menjadi sumber kegalauan di kalangan anak muda penggemar thrifting,  baik itu karena faktor ekonomi maupun kegemaran pribadi. 

    Kecemasan ini juga ditangkap oleh Davian Rivaldy, pendiri dari Our Ex. Ia lantas memutar akal, dan coba melakukan bisnis rework yang diberinya nama Our Ex yang menjalankan rework pakaian bekas atau thrifting 

    Mungkin kamu bertanya-tanya apa itu rework pada produk thrifting. Rework adalah proses mengombinasikan dua pakaian bekas atau kain sisa untuk menciptakan suatu produk baru. Proses awal sebuah karya rework ini dimulai dengan sebuah sketsa desain pakaian.

    Menurut Davian, satu karya rework merupakan gabungan dari dua hingga tiga pakaian berbeda. Uniknya, ketiga pakaian tersebut tetap dapat menghasilkan tiga karya yang berbeda karena adanya sisa kain dari masing-masing pola yang dibuat per pakaian. 

    Pertanyaannya, Apakah rework ini bisa jadi bentuk thrifting baru?

    Davian mengatakan bahwa selain kecemasan terhadap limbah, ide memulai rework adalah karena keinginannya untuk mencari cara menyalurkan kreativitas tanpa mengeluarkan modal awal yang terlalu mahal. 

    Sebelum memulai bisnis ini, Davian sempat memikirkan beberapa kali mengenai minat untuk reworked fashion di Indonesia sebelum akhirnya terjun dan memulai bisnisnya. 

    “Saat awal memutuskan untuk memulai bisnis ini, aku sempat melakukan riset terlebih dahulu mengenai seberapa banyak bisnis seperti ini di Indonesia. Ternyata belum begitu banyak. Sehingga aku memutuskan untuk memulai dan akhirnya cukup berhasil,” ujar Davian. 

    Sebagian besar karyanya terinspirasi dari anime dan lirik-lirik lagu. Hal ini merupakan salah satu yang membedakan hasil rework Davian dengan yang lainnya. Beberapa karya rework-nya selain hasil gabungan beberapa pakaian bekas, ada pula yang dilukis tangan. Seringkali gambaran anime dan lirik-lirik lagu ini dilukiskannya pada hasil karyanya.

    “Tantangannya adalah kita tidak ada stok ulang untuk setiap desain yang dibuat, jadi harus terus-menerus mencari ide terbaru dan desain yang harus dibuat kedepannya,” katanya. 

    Hal ini membuat reworked fashion menjadi sesuatu yang unik dan satu-satunya. Setiap orang yang menggunakannya tidak akan pernah sama persis dengan lainnya.

    Rework bisa jadi tren berkelanjutan

    Sementara itu, Creative Director Jakarta Fashion Week Andandika Surasetja mengatakan bahwa reworked fashion merupakan gerakan yang sangat menarik untuk terus diulik dan dikembangkan. 

    “Justru reworked fashion ini harusnya sebisa mungkin senantiasa menjadi tren di masa depan, karena ini bisa menjadi solusi untuk kita membuat ekosistem fesyen yang lebih baik dan berdampak bagus di masa depan,” ujar Andandika. 

    Menurutnya, fenomena reworked fashion sudah mulai menjadi tren besar di industri kreatif. Seperti yang diketahui, rework juga dapat membantu memberikan nilai tambah dan memperpanjang siklus hidup pakaian tersebut. 

    Kolaborasi reworked fashion dan merek lokal 

    Andandika Surasetja menilai bahwa kini merek fesyen lokal sudah sangat berkembang dan punya kualitas yang sangat baik. Namun salah satu hal yang sering menjadi persoalan adalah apa yang disebut dead stock.

    Dead stock ini beragam penyebabnya, salah satunya adalah karena ukuran pakaian yang paling diminati sudah laku terjual dan ukuran lain tak terjual, diam mengendap di gudang. Alasan lainnya adalah bentuk pakaian sudah tidak lagi dianggap tren.  

    “Dengan sekarang banyak kreator reworked fashion, barang-barang tersebut justru dapat dimanfaatkan kembali untuk mendapatkan sentuhan baru sehingga dapat memiliki daya tarik yang baru. Barang-barang yang tadinya dianggap tidak memiliki nilai jual lagi, justru menjadi sesuatu yang baru dan menarik lagi,” ujar Andandika. 

    Davian mengatakan bahwa memiliki kesempatan untuk melakukan rework pada produk merek lokal dapat dipandang sebagai sesuatu yang cukup unik. Selain itu, Davian juga berharap reworked fashion bisa mendapat perhatian dari pemerintah. 

    “Ini adalah sesuatu yang dibuat oleh tangan sendiri (handmade) dan dapat menghasilkan desain-desain yang unik,” ujar Davian. 

    Menyetujui hal ini, Andandika Surasetja, Creative Director Jakarta Fashion Week juga menyampaikan bahwa ini adalah gagasan yang dapat dilakukan jika ingin menghubungkan berbagai pelaku di industri fesyen dalam mewujudkan ekosistem yang baik.

    Sumber: DW Indonesia baca artikel asli di sini

  • Tren Anak Muda: Suka Beli Barang Bekas atau Thrifting demi Kurangi Sampah dan Polusi

    Tren Anak Muda: Suka Beli Barang Bekas atau Thrifting demi Kurangi Sampah dan Polusi

    7cloud.asia – Minat belanja barang bekas atau seringkali disebut thrifting, meningkat di Amerika. Salah satu penyebab utamanya adalah perilaku belanja dari generasi milenial dan generasi Z.

    Hasil survei yang dikeluarkan ThreadUp atas 3.500 koresponden warga Amerika yang di atas 18 tahun menunjukan 62% dari generasi milenial dan generasi Z akan melihat pasar barang bekas terlebih dahulu sebelum mencari yang baru.

    “Saya suka belanja di thrift store atau toko barang bekas  karena lebih bagus buat environment, tidak support fast fashion, big fashion chain yang suka mubazir dengan baju yang mereka produced,” kata Nadia Al-Arif, seorang diaspora Indonesia di negara bagian Maryland yang masuk ke dalam kategori generasi Z kepada VOA.

    Baca: Trend baru thrifting dengan mengolahulang barang bekas

    “Kita dengan beli dari toko barang bekas kita juga tidak mendukung big chain yang pollute our environment, yang mungkin underpaid their worker. Kalo beli di thrif store menurut aku lebih ethical aja sih”, tambahnya.

    Diaspora Indonesia lainnya, Zaid Najmudin yang berusia 24 tahun dan saat ini bekerja di Washington DC juga bangga bisa ikut serta dalam upaya melestarikan lingkungan.

    “Kita mendaur ulang pakaian. Bisa donasi dan donasi itu bisa dibeli orang lagi dan digunakan lagi. Ngga dibuang jadi sebuah sampah di dunia ini. Juga mengalahkan fast fashion, yang memproduksi terus setiap tahunnya pakaian-pakaian baru dan orang hanya pakai sekali dan beli lagi beli lagi. Itu namanya fast fashion. Jadi mengurangi waste dengan melakukan thrifting,” kata Zaid.

    Baca: Perjuangan panjang buruh untuk kerja layak

    Salah satu jaringan toko yang menjual barang bekas di Amerika adalah Goodwill. Hampir semua barang yang dijual di sini adalah barang bekas pakai dan seluruhnya merupakan sumbangan dari warga. Sebagian dari hasil penjualan disalurkan untuk pengembangan komunitas setempat seperti program pelatihan kerja.

    Carolyn Becker, Senior Manager of Communication dari Goodwill mengatakan, gabungan dari harga dan pengaruh sosial media turut berperan dalam meningkatkan trend belanja barang bekas di kalangan anak muda.

    “(Ketika) Anda datang ke Goodwill, Anda bisa mendapatkan mantel bermerek desainer terkenal dengan harga di bawah 20 dolar AS dan itu luar biasa terutama bagi generasi muda yang memilik dana yang terbatas,” kata Carolyn kepada VOA.

    Baca: Kenali ciri produk ramah lingkungan ini

    “Seperti menggali harta karun yang Anda sukai, ‘Oh, saya melihat (barang ini) di TikTok dengan harga setengah atau seperempat dari harga baru. Kalau semua orang dapat ikut merasakan ketika Anda merasakan sensasi kegembiraan saat thrifting, teman-teman dan anggota keluarga jadi ingin (melakukan hal yang sama seperti Anda),” lanjutnya.

    Raka Adam, seorang diaspora Indonesia yang bekerja sebagai Retail Team Leader di Goodwill mengatakan, kembalinya gaya fashion di masa lalu, juga menjadi alasan bagi para remaja untuk datang ke toko barang bekas untuk thrifting.

    “Anak-anak SMA mereka datang, banyak yang sering nyari-nyari barang, baju segala macam apalagi trend style tahun 2000-an itu udah mulai naik jadi mereka sering datang ke sini nyari-nyari baju itu,” kata Raka.

    Baca: Ini dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Jika berhubungan dengan gaya, Zaid Najmudin menambahkan manfaat lain dari thrifting yang ia rasakan.

    “Dengan thrifting, kemungkinan orang lain punya (barang yang kita beli) juga lebih sedikit lagi,” ujar Zaid.

    Menurut survei yang dilakukan ThredUP dan GlobalData, 46% dari Milenial dan Gen Z juga mempertimbangkan potensi nilai jual kembali suatu barang termasuk barang bekas sebelum mereka membelinya. 

    Sumber: VOA Indonesia

     
  • Alasan Mengapa Thrifting Makin Dilirik Anak Muda: Salah Satunya Mengurangi Sampah

    Alasan Mengapa Thrifting Makin Dilirik Anak Muda: Salah Satunya Mengurangi Sampah

    7cloud.asia – Belanja pakaian second atau thrifting masih diminati warga khususnya anak muda. Bahkan, thrifting kini makin menjadi gaya hidup yang digemari para jiwa muda.

    Meski memicu polemik karena dinilai bisa mematikan industri garmen dalam negeri, thrifting tetap menjadi pilihan. Bahkan gaya hidup yang satu ini disebut lebih ramah lingkungan dibanding fast fashion.

    Bukan hanya soal harga yang lebih terjangkau, yakni mulai Rp20.000 satu potong, ada banyak alasan lain mengapa thrifting menjadi salah satu pilihan.

    Mulai dari pilihan yang unik, kualitas barang, hingga sensasi menemukan “harta karun”, membuat thrifting semakin digandrungi oleh anak muda.

    “Selain barangnya lumayan bagus bahannya juga nyaman,” ujar Emy kepada 7cloud.asia saat ditemui di sebuah kios thrifting di Kawasan Blok M beberapa waktu lalu.

    Emy mengaku, dalam satu bulan bisa dua hingga tiga belanja di tempat thrifting. Tak hanya dikenakan sendiri, Emy kadang juga membagikan hasil perburuannya kepada teman-temannya.

    “Biasanya saya cari baju santai untuk dikenakan sehari-hari,” ujar Emy sambil menunjukkan setumpuk pakaian yang telah dipilihnya.

    Baca: Thrifting dipilih karena mengurangi sampah tekstil

    Berikut sejumlah alasan mengapa thrifting digemari, seperti dikutip dari berbagai sumber:

    1. Harga yang relatif murah
    Salah satu daya tarik terbesar thrifting adalah barang berkualitas, dengan harga yang terjangkau.

    Dengan barang-barang berkualitas yang dijual lebih murah dibanding toko fast fashion, membuat para anak muda merasa bahwa thrifting memberikan kebebasan bergaya tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

    “Banyak baju yang masih bagus banget, tapi harganya murah,” ucap Gerald, seorang mahasiswa yang sedang thrifting di Blok M Square, Senin (7/10/2024) dikutip Kompas.com

    Tak hanya mahasiswa, harga thrifting yang sangat terjangkau, juga membuatnya banyak dilakukan anak SMA, seperti Azizah, Naya, Azahra, dan Sabrina.

    “Harganya lebih terjangkau, kaya ini aja rok (di toko retail) harusnya Rp 150.000 tapi disini harganya cuma Rp 35.000,” ucap Naya yang sedang melihat-lihat bersama tiga temannya di toko Blok M Thrift, Jakarta Selatan, pada Senin (7/10/2024).

    2. Pengalaman seru
    Berburu pakaian di toko thrifting memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Pengunjung sering kali merasa seperti sedang berburu harta karun, di mana setiap rak baju menawarkan kejutan.

    Suasana mencari dan menemukan sesuatu yang istimewa, membuat kegiatan thrifting menjadi lebih menyenangkan dibandingkan belanja di mal.

    “Saat cari-cari baju itu seru, apalagi kalo tempatnya juga nyaman untuk thrifting, jadi makin betah,” ungkap Gerald.

    Baca: Era baru thrifting, mengubah pakaian bekas menjadi produk bernilai

    3. Anti Mainstream
    Tujuan lain banyak kaum muda tertarik untuk thrifting, karena ingin tampil beda. Toko thrift menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengekspresikan gaya personal yang anti-mainstream.

    Di sini, pengunjung bisa menemukan pakaian dengan desain unik yang tidak bisa ditemukan di pusat perbelanjaan modern.

    “Kita bisa nemuin baju-baju dari zaman dulu di toko thrift,” lontar Azizah.

    Menggabungkan hasil thrifting ke dalam outfit sehari-hari, akan memberikan kesan autentik dan kreatif.

    “Untuk outfit kuliah, aku biasanya gabungin baju bloke core yang aku dapat dari thrift dengan celana matching yang aku punya, jadi outfit tetap trendi namun formal,” jelas Gerald.

    4. Lebih ramah lingkungan
    Membeli pakaian thrifting berarti membeli pakaian yang tak lagi dipakai orang lain sehingga tidak dibuang sia-sia menjadi sampah.

    Beralih ke thrifting juga bisa mengalahkan fast fashion, yang terus-menerus memproduksi pakaian-pakaian baru dan orang hanya pakai sekali dan beli lagi beli lagi.

    ”Jadi mengurangi waste dengan melakukan thrifting,” kata Zaid dikutip VOA Indonesia Mei 2023 lalu.

    Baca: ControlNew mengenalkan sustainable fashion

  • Tren ‘Thrifting’ di Kalangan Muda: Ikut-ikutan atau Benar-benar untuk Lingkungan?

    Tren ‘Thrifting’ di Kalangan Muda: Ikut-ikutan atau Benar-benar untuk Lingkungan?

    7cloud.asia – Pascapandemi Covid-19, tren thrifting (membeli pakaian bekas) semakin populer di kalangan Gen Z di Indonesia. Kaum muda memilih pakaian bekas bukan hanya karena harganya lebih terjangkau, tetapi juga karena alasan lingkungan dan gaya unik yang ditawarkan oleh produk second-hand.

    Namun, apakah thrifting benar-benar mencerminkan kesadaran atas fesyen berkelanjutan, atau sekadar tren sesaat?

    Sebagai peneliti di bidang perilaku konsumen, kami melakukan penelitian pada tahun 2024 terhadap 345 responden berusia 18-25 tahun dari berbagai kota besar di Indonesia, seperti Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan Jakarta.

    Kami ingin memahami bagaimana Gen Z memandang dan mempraktikkan fesyen berkelanjutan.

    Hasilnya, meskipun ada kesadaran lingkungan yang meningkat, faktor utama yang mendorong Gen Z untuk memilih thrifting masih berkaitan dengan harga dan tren.

    Kesadaran lingkungan vs gaya hidup
    Industri fesyen, terutama fast fashion, telah lama dikritik karena dampaknya terhadap lingkungan. Beberapa merek fashion global seperti H&M, Zara, dan Uniqlo bahkan diduga mengeksploitasi pekerja dan melakukan greenwashing—membuat pernyataan palsu yang menyesatkan tentang manfaat lingkungan dari suatu produk.

    Untuk mengatasi persoalan limbah tekstil dan konsumsi berlebihan, thrifting sering dianggap sebagai solusi. Dengan membeli pakaian bekas, konsumen dapat memperpanjang umur pakaian dan mengurangi permintaan produksi baru.

    Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa tidak semua pembeli pakaian bekas benar-benar memahami dan memedulikan aspek keberlanjutan ini.

    Baca: UNEP terus dorong industri fesyen agar lebih ramah lingkungan

    Sebagian besar kaum muda, khususnya Gen Z, membeli pakaian bekas bukan semata-mata karena peduli lingkungan, melainkan karena pertimbangan estetika—seperti mencari busana vintage—dan harga yang terjangkau.

    Artinya, meskipun praktik ini berdampak positif terhadap keberlanjutan lingkungan, motivasi utamanya cenderung karena gaya hidup, bukan kesadaran ekologis.

    Gen Z dan fesyen berkelanjutan
    Penelitian kami menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti pengetahuan tentang dampak lingkungan, sikap terhadap isu keberlanjutan, serta norma sosial, turut membentuk perilaku berbelanja Gen Z.

    Meski demikian, ketiga faktor tersebut belum signifikan dalam memengaruhi keputusan akhir saat membeli pakaian. Sebab, keputusan ini sering kali dipengaruhi oleh harga, ketersediaan produk, dan tren mode terkini.

    Banyak responden mengaku tetap memilih produk fast fashion karena lebih mudah diakses dan sesuai dengan gaya mereka. Selain itu, tekanan sosial untuk tampil modis di media sosial juga memperkuat keputusan ini, meskipun bertentangan dengan nilai-nilai keberlanjutan yang mereka pahami.

    Hasil survei dan wawancara kami menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyadari dampak negatif industri fast fashion terhadap lingkungan. Namun, hanya sebagian kecil dari mereka yang benar-benar secara konsisten menghindari pembelian merek-merek fast fashion.

    Seorang narasumber, Adinda (22 tahun) mengungkapkan, “Saya tahu bahwa ‘fast fashion’ tidak ramah lingkungan, tetapi sulit mencari alternatif yang harganya terjangkau dan tetap ‘stylish’.”

    Sementara itu, beberapa responden lain justru melihat thrifting sebagai solusi yang menarik, baik dari sisi ekonomi maupun keberlanjutan. Rafi (24 tahun) mengatakan,

    Baca: Merek fesyen global menuju produk yang lebih ramah lingkungan

    “Saya mulai ‘thrifting’ karena lebih murah, tetapi lama-lama saya sadar bahwa ini juga cara untuk mengurangi limbah pakaian.”

    Menariknya, hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa meskipun thrifting dianggap sebagai pilihan sadar dalam berbelanja, banyak responden masih terbawa pola konsumsi impulsif—membeli barang karena tergoda, bukan karena kebutuhan.

    Ini seperti yang disampaikan Dina (21 tahun): “Saya sering belanja ‘thrift’ karena harganya murah, tapi kadang saya beli terlalu banyak hanya karena barangnya lucu. Padahal, saya belum tentu memakainya.”

    Artinya, meskipun thrifting dapat menjadi alternatif konsumsi yang ramah lingkungan, aktivitas ini belum dapat sepenuhnya lepas dari tantangan perilaku konsumtif.

    Ketika kebiasaan membeli barang secara impulsif tetap terjadi—bahkan dalam konsep ‘thrifting’—manfaat lingkungan yang diharapkan dapat berkurang atau bahkan tertutupi oleh pola konsumsi yang berlebihan.

    Konsumsi fesyen yang bertanggung jawab
    Meski thrifting semakin populer, perubahan nyata menuju konsumsi fesyen yang berkelanjutan masih menghadapi banyak tantangan.

    Penting bagi Gen Z untuk tidak sekadar melihat thrifting sebagai tren estetik saja tetapi juga sebagai langkah nyata mengurangi dampak lingkungan. Ini tentu saja membutuhkan edukasi yang berkelanjutan dan kampanye yang kuat.

    Pengusaha fesyen—baik merek internasional maupun lokal—perlu lebih transparan dan bertanggung jawab dalam menjalankan bisnisnya, mulai dari pemilihan bahan hingga proses produksi.

    Baca: Sisi gelap fast fashion bagi lingkungan dan kehidupan sosial

    Menawarkan pakaian dari material daur ulang atau material yang tahan lama bisa menjadi salah satu solusi.

    Salah satu pemanfaatan material daur ulang menjadi produk fashion dapat ditemukan di Recycling Village yang diinisiasi oleh warga Desa Air Nanginan, Provinsi Lampung.

    Beberapa merek fesyen lokal, seperti Pijak Bumi, Sejauh Mata Memandang, dan Imaji Studio, juga sudah menerapkan konsep berkelanjutan pada produknya.

    Aktivitas berkelanjutan tersebut tidak hanya bermanfaat langsung terhadap kondisi lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah pada produk-produk yang dipasarkan.

    Lebih jauh lagi, konsumen dapat berkontribusi dengan membeli lebih sedikit, memilih bahan yang tahan lama, serta mendukung aktivitas fesyen berkelanjutan.

    Pada akhirnya, fesyen berkelanjutan tidak hanya terkait dengan pilihan belanja, tetapi juga menyangkut cara pandang terhadap pakaian yang dimiliki.

    Jika Gen Z ingin menjadi agen perubahan, mereka perlu melampaui tren sesaat dan mulai menjadikan fesyen sebagai upaya sadar untuk menciptakan dampak positif jangka panjang bagi lingkungan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, penulis:
    Puty Febriasari (Dosen Program Studi Manajemen FEB Universitas Panca Bhakti)
    Anggraeni Pranandari (Dosen Departemen Manajemen FEB UGM)
    Thea Geneveva Josephine Jesajas (Dosen, Universitas Panca Bhakti)

  • 7 Lokasi Thrifting Asyik di Jakarta

    7 Lokasi Thrifting Asyik di Jakarta

    7cloud.asia – Belanja pakaian second atau thrifting makin diminati dan menjadi gaya hidup warga khususnya anak muda di Jakarta

    Meski memicu polemik karena dinilai bisa mematikan industri garmen dalam negeri, thrifting tetap menjadi pilihan.

    Bukan hanya soal harga yang lebih terjangkau, yakni mulai Rp20.000 satu potong, ada banyak alasan lain mengapa thrifting menjadi salah satu pilihan.

    Mulai dari pilihan yang unik, kualitas barang, hingga sensasi menemukan “harta karun”, membuat thrifting semakin digandrungi oleh anak muda. Bahkan thrifting disebut lebih ramah lingkungan dibanding fast fashion.

    Buat kamu yang ingin mencoba serunya thrifting, Jakarta menawarkan banyak pilihan lokasi thriftingyang menyediakan barang-barang bekas berkualitas dengan harga miring.

    Berikut sejumlah lokasi thrifting yang bisa kamu sambangi, beberapa di antaranya thrifting terkenal dan legendaris!

    1. Basemen Terminal Blok M
    Alamat: Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
    Jam Buka: Setiap hari pukul 10.00 – 21.00

    Basemen Terminal Blok M tergolong baru. Tempat ini menyediakan baju-baju second baik untuk laki-laki maupun perempuan. Sebagian besar baju second yang dijual berasal dari Korea Selatan.

    Harga yang ditawarkan cukup terjangkau yakni mulai belasan ribu rupiah untuk Tshirt, hingga Rp300.000 untuk pakaian resmi.

    Baca: Thrifting dilirik anak muda karena mengurangi sampah

    2. Blok M Square
    Alamat l: Jl. Melawai 5, RT.3/RW.1, Melawai, Kec. Kby. Baru, Jakarta Selatan
    Jam Buka: Setiap hari pukul 09.00-21.00

    Blok M Square tidak hanya menjadi pusat perbelanjaan modern, tetapi juga memiliki area thrifting yang cukup luas. Thrifting di Blok M Square sangat nyaman karena tempatnya dilengkapi dengan AC, sehingga pengunjung bisa berbelanja dengan lebih nyaman.

    Tempat ini menawarkan berbagai model pakaian bekas berkualitas dengan harga terjangkau. Thrifting di sini diminati karena alasan lingkungan, mencari pakaian unik, dan harga yang lebih hemat.

    Di Blok M Square, tempat thrifting berada di UG dan lantai 3, dengan variasi pakaian lebih banyak di lantai 3. Pengunjung bisa menemukan pakaian bekas impor seperti kaos, jaket, kemeja, dan celana.

    Semua pakaian sudah dicuci sehingga bisa langsung dipakai. Blok M Square menjadi tempat favorit bagi banyak orang untuk thrifting karena kenyamanan dan pilihan pakaian yang beragam.

    3. Jembatan Item, Jatinegara
    Alamat: Jl. Bekasi Barat III, Kel. Rawa Bunga, Kec.Jatinegara, Jakarta Timur
    Jam Buka: Setiap hari pukul 04.00 – 17.00

    Pasar Loak Jembatan Item, atau Pasar Loak Jatinegara, adalah lokasi thrifting terkenal di Jakarta Timur. Terletak di sepanjang jalan sepanjang satu kilometer, pasar ini menawarkan berbagai barang bekas berkualitas dengan harga terjangkau. Di sini, kamu bisa menemukan sepatu, radio, kaset, buku, jaket kulit, dan barang antik lainnya.

    Nama “Jembatan Item” berasal dari jembatan hitam yang menjadi pintu masuk pasar ini. Dikenal sejak awal 2000-an, pasar ini menjadi tempat favorit bagi pencari barang unik dan murah.

    Pasar ini juga menyimpan banyak cerita dan memori dari masa lalu, membuatnya bukan hanya tempat berbelanja, tetapi juga galeri terbuka.

    Baca: Thrifting dilirik anak muda karena turunkan polusi

    4. Pasar Kebayoran
    Alamat: Jl. Ciledug Raya No.17, RT.5/RW.1, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
    Jam Buka: Setiap hari pukul 12.00 – 24.00

    Pasar Loak Kebayoran Lama adalah destinasi favorit para thrifter di Jakarta Selatan. Pasar ini terkenal dengan koleksi barang bekas yang beragam dan berkualitas, mulai dari pakaian, sepatu, aksesori, hingga peralatan rumah tangga dan elektronik.

    Pedagang di sini menjual barang dagangan dengan cara unik, ada yang menggelar dagangan di tikar sepanjang trotoar dan ada juga yang berjualan di rumah toko.

    Barang-barang di Pasar Loak Kebayoran Lama sangat beragam, seperti sepatu dengan harga Rp80.000 hingga Rp150.000, jam tangan mulai dari Rp35.000, kaset lawas, hingga kamera yang dibanderol mulai dari Rp150.000 hingga Rp2 juta.

    5. Lt. Basement Pasar Senen Jaya 1&2
    Alamat: Jl. Pasar Senen No.3, RW.3, Senen, Kec. Senen Jakarta Pusat
    Jam Buka: Setiap hari pukul 10.00-19.00

    Lantai Dasar Pasar Senen Jaya Blok 1 & 2 dan Blok III lantai 2 dikenal sebagai pusat thrifting di Jakarta. Tempat ini sering dijuluki “surganya thrifting”. Di sini, kamu bisa menemukan pakaian bekas impor bermerek dengan harga miring.

    Tempat ini juga dikenal dengan atmosfernya yang ramai dan penjual yang ramah. Sejarahnya yang panjang menjadikan Pasar Senen sebagai ikon thrifting di Jakarta.

    Di lantai 2 Blok III, terdapat banyak penjual pakaian bekas dengan harga terjangkau, mulai dari Rp10.000 hingga Rp100.000 untuk 3 item. Berbagai jenis pakaian tersedia, termasuk kaos, kemeja, blazer, dan jins. Beberapa gerai menampilkan koleksi pakaian secara teratur dengan label harga yang jelas.

    Kamu bisa menemukan pakaian bermerek seperti Fila, Reebok, Adidas, Nike, hingga merek fashion asal Korea dan Jepang. Meski begitu, perlu kehati-hatian dalam memilih karena beberapa pakaian mungkin tidak asli.

    Baca: Tren thrifting apakah benar-benar untuk lingkungan?

    6. Pasar Santa
    Alamat: Jalan Cipaku I No. 1, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
    Jam Buka: Setiap hari pukul 11.00-20.00

    Pasar Santa, atau Santa Modern Market, di Jakarta Selatan adalah destinasi menarik untuk akhir pekan, terutama bagi pecinta thrifting. Di lantai atas, banyak kios yang menjual barang-barang bekas berkualitas. Pasar ini adalah pionir pasar modern dengan konsep kuliner, tempat nongkrong, kopi, dan barang thrift sejak 2014.

    Barang thrift disini sangat beragam. Kios-kios menjual pakaian vintage, mulai dari kaos, jaket, hingga jeans dari tahun 1980-an dengan harga bervariasi. Terdapat juga perhiasan bergaya bohemian, kaset jadul, vinyl, dan buku dari penerbit independen. Selain itu, kios Atomic menjual mainan, aksesori, dan pajangan tokoh populer seperti DC, Marvel, dan Star Wars.

    7. Pasar Baru
    Alamat: Jalan Pasar Baru, Kel. Pasar Baru, Kec. Sawah Besar, Jakarta Pusat.
    Jam Buka: Setiap hari pukul 09.00-18.00

    Pasar Baru di Jakarta adalah destinasi menarik untuk berwisata. Di sini, kamu bisa berbelanja, menikmati kuliner, melakukan wisata religi, hingga thrifting. Pasar yang berdiri sejak tahun 1820 ini adalah pusat perbelanjaan tertua di Jakarta.

    Bagi penggemar thrifting, ada sekitar 200 toko di lantai tiga dan empat gedung ini yang menjual beragam pakaian. Mulai dari pakaian kasual wanita hingga jas formal pria, semuanya tersedia dengan harga sangat terjangkau.

    Pakaian-pakaian di sini diimpor dari Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Harganya rata-rata di bawah Rp 35.000, dengan yang paling mahal sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Karena murah dan bergaya, banyak orang datang untuk mencari barang-barang keren di Pasar Baru.

  • Dukung Langkah Menkeu Larang Thrifting, Ini yang Akan Dilakukan Pemprov DKI Jakarta

    Dukung Langkah Menkeu Larang Thrifting, Ini yang Akan Dilakukan Pemprov DKI Jakarta

    7cloud.asia – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa akan mencegah peredaran impor pakaian bekas atau biasa dikenal dengan istilah thrifting yang biasanya masuk secara ilegal.

    Nantinya, Menkeu akan menghentikan aktivitas thrifting dengan memasukkan para pemasok pakaian bekas dalam daftar hitam pelaku impor.

    Masalah thrifting barang impor ilegal sebenarnya sudah dilarang sejak tahun 2021. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 18 Tahun 2021 tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor.

    Dilansir di laman resmi Kemenkeu, thrifting secara ilegal dapat menghambat kemajuan ekonomi dan upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

    Selain itu apabila tidak dilakukan sesuai dengan aturan dan sesuai dengan prinsip sustainability, thrifting dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap perekonomian, lingkungan, dan masyarakat.

    Baca: Alasan mengapa thrifting makin dilirik anak muda

    Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendukung penuh kebijakan Kementerian Keuangan terkait larangan praktik thrifting atau penjualan barang bekas impor.

    Dilansir beritajakarta.id, bentuk dukungan ini akan dilakukan dengan menertibkan para pedagang thrifting di pasar-pasar Jakarta.

    “Hal yang berkaitan dengan larangan Kementerian Keuangan terhadap thrifting, kami memberikan support dan dukungan, termasuk di pasar-pasar yang ada di Jakarta,” kata Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung di RPTRA Citra Betawi, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (24/10/2025).

    Menurut Pramono, aktivitas para pedagang pakaian bekas impor tersebut justru merugikan pedagang dan produsen lokal, termasuk pegadang grosir di Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen.

    “Sehingga dengan demikian Jakarta setuju dengan kebijakan Menkeu tersebut,” tambahnya.

    Baca: Thrifting bisa mengurangi limbah tekstil

    Pramono menyebut Pemprov DKI Jakarta melalui dinas terkait akan memberikan pendampingan berupa pelatihan kepada para pedagang baju bekas impor. Ia ingin memberdayakan para pedagang sehingga tidak hanya menjadi reseller baju bekas impor.

    “Memang saya tidak mau para pedagang itu hanya menjadi reseller dari hasil thrifting tersebut. Kalau bisa kemudian saya sudah meminta pendampingan dari UMKM dan dinas terkait lainnya untuk melakukan pelatihan kepada para pedagang,” ujar Pramono.

    Melalui pelatihan tersebut, para pedagang akan tetap memiliki peluang usaha dan diharapkan dapat mencari sumber penghasilan lainnya yang legal dan berkelanjutan.

    Ia kembali menegaskan, Pemprov DKI Jakarta siap berkolaborasi dengan pemerintah pusat dalam melakukan penertiban penjualan pakaian bekas impor.

    “Nanti kalau memang ada operasi, malah Pemerintah Jakarta akan memberikan pendampingan kepada pemerintah pusat untuk melakukan pembersihan terhadap thrifting,” kata dia.

    Baca: 7 Lokasi thrifting asyik di Jakarta

  • Mengadu ke BAM DPR, Pedagang Thrifting: Bukan Kami yang Merusak Pasar dan UMKM

    Mengadu ke BAM DPR, Pedagang Thrifting: Bukan Kami yang Merusak Pasar dan UMKM

    7cloud.asia – Barang thrifting yang masuk ke Indonesia diperkirakan sekitar 3.600 kontainer, atau hanya 0,5 persen dari total 28.000 kontainer tekstil ilegal yang beredar di Tanah Air.

    Angka tersebut menunjukkan bahwa thrifting atau pakaian second bukan merupakan ancaman utama bagi keberlangsungan industri pakaian jadi dan tekstil tanah air terutama UMKM.

    Hal ini terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Badan Aspirasi Masyarakat DPR dengan pelaku usaha pakaian bekas dari berbagai daerah di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (19/11/2025).

    Dalam forum tersebut, para pedagang thrifting memberikan testimoni yang menggambarkan kompleksitas persoalan di lapangan.

    Rifai Silalahi, perwakilan pedagang dari Pasar Senen, Jakarta, mengatakan bahwa usaha pakaian bekas merupakan bagian dari UMKM yang telah bertahan puluhan tahun.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta dukung Menkeu larang thrifting

    Ia menegaskan bahwa pelaku thrifting bukanlah ancaman bagi UMKM, bahkan tidak bersinggungan secara langsung dengan produk lokal.

    “Yang merusak pasar itu bukan kami, tapi banjirnya produk impor baru. China menguasai 80 persen, ditambah barang dari Amerika, Vietnam, dan India sekitar 15 persen. Produk lokal hanya tersisa 5 persen,” ungkap Rifai dalam pertemuan tersebut.

    Merespons aspirasi tersebut, Wakil Ketua BAM, Adian Napitupulu menegaskan bahwa BAM DPR akan menindaklanjuti seluruh masukan dengan menggelar dialog lanjutan bersama kementerian terkait, terutama Kementerian Keuangan dan Kementerian Perdagangan.

    Menurutnya, penyelesaian persoalan thrifting hanya dapat dicapai jika seluruh pemangku kepentingan duduk bersama dan melihat isu ini secara menyeluruh, termasuk aspek ekonomi, sosial, dan keberlanjutan hidup pedagang.

    Adian menegaskan, kebijakan negara tidak boleh hanya didasarkan pada persepsi atau stigma, tetapi harus berpijak pada data yang akurat.

    Baca: Alasan mengapa thrifting makin dilirik anak muda

    Adian menegaskan komitmen DPR untuk memastikan bahwa aspirasi para pelaku usaha thrifting menjadi perhatian serius dalam proses penyusunan kebijakan pemerintah.

    Adian menekankan bahwa BAM DPR ingin mendengar langsung kondisi di lapangan, terutama karena wacana larangan impor pakaian bekas kembali mengemuka dan memunculkan kekhawatiran luas di kalangan pelaku usaha.

    Ia menilai persoalan thrifting selalu muncul setiap tahun, namun penanganannya tidak pernah disertai pendekatan menyeluruh dan pemahaman bahwa jutaan masyarakat menggantungkan hidup dari sektor tersebut.

    “Negara tidak boleh hanya hadir dengan tindakan, tetapi juga dengan keadilan. Kita tidak boleh mengambil keputusan yang menekan rakyat kecil ketika negara sendiri belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai,” ujar Adian.

    Ia juga menyoroti keluhan para pedagang mengenai operasi penertiban yang dinilai represif dan merugikan, membuat para pedagang merasa diperlakukan seperti pelaku kejahatan.

    Menurut Adian, situasi ini tidak boleh terus terjadi. Ia menegaskan bahwa sebelum melakukan penindakan, pemerintah harus memastikan telah hadir dengan solusi yang konkret dan dapat diimplementasikan.

    Baca: Mengolahulang pakaian bekas jadi produk bernilai tinggi

     

  • DPR: Larangan Thrifting Harus Dibarengi Penertiban di Bea Cukai

    DPR: Larangan Thrifting Harus Dibarengi Penertiban di Bea Cukai

    7cloud.asia – Rencana pemerintah tepatnya Menteri Keuangan (Menkeu) yang akan melarang kegiatan thrifting mendapat sorotan.

    Anggota Komisi XI DPR Kardaya Watnika mengatakan, kebijakan tersebut memang secara jelas diatur dalam Permendag Nomor 40 Tahun 2022 yang merupakan revisi dari Permendag Nomor 18 Tahun 2021 tentang barang yang dilarang ekspor maupun impor.

    Kardaya sependapat dengan pernyataan pemerintah yang menyebut tidak melarang kegiatan thrifting secara keseluruhan, melainkan hanya melarang impor pakaian bekas.

    Hal ini untuk membersihkan peredaran pakaian bekas impor yang dianggap melanggar aturan sekaligus merugikan pelaku industri pakaian lokal.

    Baca: Pedagang thrifting bantah penyebab bangkrutnya UMKM

    “Saya setuju memang aturannya sangat bagus untuk mendorong pelaku industri pakaian lokal menjadi bangkit lagi,” katanya saat rapat kerja dengan Menkeu di Ruang Rapat Komisi XI DPR, Kamis (27/11/2025).

    Menurutnya, pemerintah telah bekerja keras mendorong daya saing produk UMKM bisa naik kelas, mudah menembus pasar global.

    Namun, berbagai praktik tidak etis di lapangan seperti pungutan tidak wajar, hambatan birokrasi, hingga penyalahgunaan kewenangan oleh aparat justru dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.

    “Yang diberantas jangan hanya pelaku usahanya yang memang terbukti, namun harus sampai keakar-akarnya jangan sampai usaha yang dilakukan menjadi sia-sia akibat permainan oknum-oknum”, ungkapnya.

    Baca: Thrifting makin dilirik anak muda

    Ia mendorong Kemenkeu untuk memperkuat mekanisme pengawasan internal di lingkungan Bea dan Cukai, termasuk membuka kanal pelaporan publik agar pelaku usaha kecil bisa menyampaikan keluhan tanpa takut akan intimidasi.

    “Jangan hanya nembak di Pasar Senen, namun di hulunya lepas begitu saja. Saya minta agar yang dibawah bapak yang mengurus barang masuk itu juga harus ditertibkan,” pungkasnya.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan akan memberantas pelaku impor pakaian ilegal karena dinilai mematikan industri garmen lokal. Dia meminta pelaku thrifting segera menghentikan aktivitasnya.  

    Sementara para pedagang thrifting membantah sebagai penyebab gulung-tikarnya industri garmen. Sebaliknya mereka menuding banjir impor produk Chinalah yang harus ditertibkan.

  • Risiko Infeksi Penyakit Kulit di Balik Kebiasaan Thrifting

    Risiko Infeksi Penyakit Kulit di Balik Kebiasaan Thrifting

    7cloud.asia – Belanja baju bekas atau thrifting kini semakin ngetren di kalangan anak muda. Selain lebih ramah bagi isi kantong, thriting juga dinilai ramah lingkungan karena mengurangi limbah tekstil.

    Namun demikian, buat kamu yang hobi thrifting perlu memperhatikan risiko yang satu ini. Bahwa thrifting juga dapat menularkan penyakit kulit.

    Dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Fitria Agustina, Sp.KK, FINSDV, FAADV mengingatkan penggunaan baju bekas atau thrifting tanpa proses pembersihan yang benar dapat meningkatkan risiko gangguan kulit hingga penularan infeksi.

    “Risiko utama memakai baju bekas yang tidak dibersihkan dengan baik adalah penularan penyakit kulit dan iritasi pada kulit,” kata Fitria dikutip Antaranews.com di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

    Fitria yang tergabung di Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) itu menjelaskan, pakaian bekas masih dapat menyimpan sisa keringat, jamur, bakteri, serta residu bahan kimia dari pemilik sebelumnya.

    Baca: Tren ‘Thrifting’ di kalangan anak muda

    Thrifting yang langsung digunakan tanpa dicuci dapat memicu reaksi pada kulit, terutama pada orang dengan kulit sensitif. Keluhan yang muncul antara lain gatal, ruam kemerahan, hingga infeksi kulit.

    Menurut Fitria, infeksi yang paling sering berpotensi menular lewat pakaian bekas adalah infeksi jamur seperti kurap karena dapat bertahan cukup lama di serat kain.

    Selain itu, penyakit kudis atau skabies juga dapat menular melalui pakaian yang terkontaminasi tungau.

    “Selain jamur, ada juga skabies dan kutu yang bisa berpindah kalau bajunya dipakai cukup lama. Infeksi bakteri ringan juga bisa terjadi, meski lebih jarang,” ujar dokter lulusan pendidikan spesialis Dermatologi dan Venereologi Universitas Indonesia itu.

    Ia menambahkan mikroorganisme seperti jamur, tungau, dan kutu dapat bertahan di serat kain selama beberapa hari hingga berminggu-minggu, terutama bila pakaian dalam kondisi lembap dan tidak dibersihkan dengan baik.

    Baca: UNEP terus mendorong industri fesyen lebih ramah lingkungan

    Jamur dapat hidup di pakaian selama berhari hari hingga berminggu-minggu. Tungau penyebab skabies dapat bertahan sekitar dua sampai tiga hari di kain, sedangkan kutu dan telurnya juga bisa bertahan beberapa hari.

    Dokter yang juga praktik di Klinik Utama Promec Pecenongan tersebut mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai tanda awal gangguan kulit setelah memakai baju thrifting seperti gatal menetap, ruam, bentol kecil, kulit bersisik, atau bercak melingkar.

    Jika keluhan tidak kunjung sembuh atau bahkan meluas, Fitria menyarankan masyarakat untuk memeriksakan diri ke dokter.

    Isu peredaran pakaian bekas impor juga menjadi perhatian pemerintah karena dinilai mengancam kelanjutan industri garmen dalam negeri.

    Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza sebelumnya menyatakan impor pakaian bekas ilegal merugikan pasar dan menekan industri tekstil dalam negeri karena dijual jauh lebih murah dibanding produk lokal.

    Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, belanja sandang nasional diperkirakan mencapai sekitar Rp10 triliun per bulan.

    Baca: Slow fashion jadi solusi dari dampak fast fashion