7cloud.asia – Thrifting atau berburu pakaian bekas sempat digemari oleh anak muda. Thrifting dipandang sebagai cara alternatif untuk memiliki pakaian bekas layak pakai, tanpa harus membeli pakaian baru. Untuk sebagian orang, thrifting bahkan menjadi cara untuk mengekspresikan diri.
Selain itu, thrifting juga dipandang sebagai salah satu cara mengurangi limbah fesyen yang saat ini jumlahnya sudah sangat mencemaskan.
Davian mengatakan bahwa selain kecemasan terhadap limbah, ide memulai rework adalah karena keinginannya untuk mencari cara menyalurkan kreativitas tanpa mengeluarkan modal awal yang terlalu mahal.
Sebelum memulai bisnis ini, Davian sempat memikirkan beberapa kali mengenai minat untuk reworked fashion di Indonesia sebelum akhirnya terjun dan memulai bisnisnya.
“Saat awal memutuskan untuk memulai bisnis ini, aku sempat melakukan riset terlebih dahulu mengenai seberapa banyak bisnis seperti ini di Indonesia. Ternyata belum begitu banyak. Sehingga aku memutuskan untuk memulai dan akhirnya cukup berhasil,” ujar Davian.
Sebagian besar karyanya terinspirasi dari anime dan lirik-lirik lagu. Hal ini merupakan salah satu yang membedakan hasil rework Davian dengan yang lainnya. Beberapa karya rework-nya selain hasil gabungan beberapa pakaian bekas, ada pula yang dilukis tangan. Seringkali gambaran anime dan lirik-lirik lagu ini dilukiskannya pada hasil karyanya.
“Tantangannya adalah kita tidak ada stok ulang untuk setiap desain yang dibuat, jadi harus terus-menerus mencari ide terbaru dan desain yang harus dibuat kedepannya,” katanya.
Hal ini membuat reworked fashion menjadi sesuatu yang unik dan satu-satunya. Setiap orang yang menggunakannya tidak akan pernah sama persis dengan lainnya.
Rework bisa jadi tren berkelanjutan
Sementara itu, Creative Director Jakarta Fashion Week Andandika Surasetja mengatakan bahwa reworked fashion merupakan gerakan yang sangat menarik untuk terus diulik dan dikembangkan.
“Justru reworked fashion ini harusnya sebisa mungkin senantiasa menjadi tren di masa depan, karena ini bisa menjadi solusi untuk kita membuat ekosistem fesyen yang lebih baik dan berdampak bagus di masa depan,” ujar Andandika.
Menurutnya, fenomena reworked fashion sudah mulai menjadi tren besar di industri kreatif. Seperti yang diketahui, rework juga dapat membantu memberikan nilai tambah dan memperpanjang siklus hidup pakaian tersebut.
Kolaborasi reworked fashion dan merek lokal
Andandika Surasetja menilai bahwa kini merek fesyen lokal sudah sangat berkembang dan punya kualitas yang sangat baik. Namun salah satu hal yang sering menjadi persoalan adalah apa yang disebut dead stock.
Dead stock ini beragam penyebabnya, salah satunya adalah karena ukuran pakaian yang paling diminati sudah laku terjual dan ukuran lain tak terjual, diam mengendap di gudang. Alasan lainnya adalah bentuk pakaian sudah tidak lagi dianggap tren.
“Dengan sekarang banyak kreator reworked fashion, barang-barang tersebut justru dapat dimanfaatkan kembali untuk mendapatkan sentuhan baru sehingga dapat memiliki daya tarik yang baru. Barang-barang yang tadinya dianggap tidak memiliki nilai jual lagi, justru menjadi sesuatu yang baru dan menarik lagi,” ujar Andandika.
Davian mengatakan bahwa memiliki kesempatan untuk melakukan rework pada produk merek lokal dapat dipandang sebagai sesuatu yang cukup unik. Selain itu, Davian juga berharap reworked fashion bisa mendapat perhatian dari pemerintah.
“Ini adalah sesuatu yang dibuat oleh tangan sendiri (handmade) dan dapat menghasilkan desain-desain yang unik,” ujar Davian.
Menyetujui hal ini, Andandika Surasetja, Creative Director Jakarta Fashion Week juga menyampaikan bahwa ini adalah gagasan yang dapat dilakukan jika ingin menghubungkan berbagai pelaku di industri fesyen dalam mewujudkan ekosistem yang baik.
Sumber: DW Indonesia baca artikel asli di sini

Leave a Reply