Alasan Mengapa Thrifting Makin Dilirik Anak Muda: Salah Satunya Mengurangi Sampah

Written by

in

7cloud.asia – Belanja pakaian second atau thrifting masih diminati warga khususnya anak muda. Bahkan, thrifting kini makin menjadi gaya hidup yang digemari para jiwa muda.

Meski memicu polemik karena dinilai bisa mematikan industri garmen dalam negeri, thrifting tetap menjadi pilihan. Bahkan gaya hidup yang satu ini disebut lebih ramah lingkungan dibanding fast fashion.

Bukan hanya soal harga yang lebih terjangkau, yakni mulai Rp20.000 satu potong, ada banyak alasan lain mengapa thrifting menjadi salah satu pilihan.

Mulai dari pilihan yang unik, kualitas barang, hingga sensasi menemukan “harta karun”, membuat thrifting semakin digandrungi oleh anak muda.

“Selain barangnya lumayan bagus bahannya juga nyaman,” ujar Emy kepada 7cloud.asia saat ditemui di sebuah kios thrifting di Kawasan Blok M beberapa waktu lalu.

Emy mengaku, dalam satu bulan bisa dua hingga tiga belanja di tempat thrifting. Tak hanya dikenakan sendiri, Emy kadang juga membagikan hasil perburuannya kepada teman-temannya.

“Biasanya saya cari baju santai untuk dikenakan sehari-hari,” ujar Emy sambil menunjukkan setumpuk pakaian yang telah dipilihnya.

Baca: Thrifting dipilih karena mengurangi sampah tekstil

Berikut sejumlah alasan mengapa thrifting digemari, seperti dikutip dari berbagai sumber:

1. Harga yang relatif murah
Salah satu daya tarik terbesar thrifting adalah barang berkualitas, dengan harga yang terjangkau.

Dengan barang-barang berkualitas yang dijual lebih murah dibanding toko fast fashion, membuat para anak muda merasa bahwa thrifting memberikan kebebasan bergaya tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

“Banyak baju yang masih bagus banget, tapi harganya murah,” ucap Gerald, seorang mahasiswa yang sedang thrifting di Blok M Square, Senin (7/10/2024) dikutip Kompas.com

Tak hanya mahasiswa, harga thrifting yang sangat terjangkau, juga membuatnya banyak dilakukan anak SMA, seperti Azizah, Naya, Azahra, dan Sabrina.

“Harganya lebih terjangkau, kaya ini aja rok (di toko retail) harusnya Rp 150.000 tapi disini harganya cuma Rp 35.000,” ucap Naya yang sedang melihat-lihat bersama tiga temannya di toko Blok M Thrift, Jakarta Selatan, pada Senin (7/10/2024).

2. Pengalaman seru
Berburu pakaian di toko thrifting memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Pengunjung sering kali merasa seperti sedang berburu harta karun, di mana setiap rak baju menawarkan kejutan.

Suasana mencari dan menemukan sesuatu yang istimewa, membuat kegiatan thrifting menjadi lebih menyenangkan dibandingkan belanja di mal.

“Saat cari-cari baju itu seru, apalagi kalo tempatnya juga nyaman untuk thrifting, jadi makin betah,” ungkap Gerald.

Baca: Era baru thrifting, mengubah pakaian bekas menjadi produk bernilai

3. Anti Mainstream
Tujuan lain banyak kaum muda tertarik untuk thrifting, karena ingin tampil beda. Toko thrift menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengekspresikan gaya personal yang anti-mainstream.

Di sini, pengunjung bisa menemukan pakaian dengan desain unik yang tidak bisa ditemukan di pusat perbelanjaan modern.

“Kita bisa nemuin baju-baju dari zaman dulu di toko thrift,” lontar Azizah.

Menggabungkan hasil thrifting ke dalam outfit sehari-hari, akan memberikan kesan autentik dan kreatif.

“Untuk outfit kuliah, aku biasanya gabungin baju bloke core yang aku dapat dari thrift dengan celana matching yang aku punya, jadi outfit tetap trendi namun formal,” jelas Gerald.

4. Lebih ramah lingkungan
Membeli pakaian thrifting berarti membeli pakaian yang tak lagi dipakai orang lain sehingga tidak dibuang sia-sia menjadi sampah.

Beralih ke thrifting juga bisa mengalahkan fast fashion, yang terus-menerus memproduksi pakaian-pakaian baru dan orang hanya pakai sekali dan beli lagi beli lagi.

”Jadi mengurangi waste dengan melakukan thrifting,” kata Zaid dikutip VOA Indonesia Mei 2023 lalu.

Baca: ControlNew mengenalkan sustainable fashion

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *