Tag: tpa

  • Atasi Krisis Sampah di Sejumlah TPA di Indonesia: Pentingnya Pembangunan Biogas Tingkat Kelurahan

    Atasi Krisis Sampah di Sejumlah TPA di Indonesia: Pentingnya Pembangunan Biogas Tingkat Kelurahan

    7cloud.asia – Kebakaran besar yang melanda tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, merupakan puncak gunung es dari masalah pengelolaan sampah organik di Indonesia.

    Gunungan sampah di TPA Sarimukti terbakar sejak 19 Agustus lalu, diduga akibat puntung rokok dan gas metana dari sampah yang menumpuk.

    Saat ini, volume sampah di TPA Sarimukti sudah tujuh kali lebih besar dari kapasitas seharusnya.

    Sebelumnya juga timbul masalah di TPA Piyungan, Yogyakarta, yang tutup sementara akibat kelebihan kapasitas. Begitu juga di TPA Cipayung di Depok, Jawa Barat.

    Upaya pengurangan sampah di kota-kota besar sangat mendesak–apalagi sampah dapur yang porsinya paling besar.

    Seperti apa langkah yang harus dilakukan terkait krisis sampah ini? berikut kajian dari The Purnomo Yusgiantoro Center.

    Baca: Gerakan biopori Mabh Dirjo mampu turunkan produksi sampah di Yogyakarta

    Laporan kajiannya disusun oleh Muhammad Salman Hakim dan Vivi Fitriyanti masing-masing adalah Research Administrator dan Researcher dari The Purnomo Yusgiantoro Center yang telah diterbitkan di The Conversation.

    Kami menganggap Indonesia seharusnya menempuh langkah strategis memanfaatkan sampah dapur menjadi menjadi biogas, yaitu energi gas ramah lingkungan yang dihasilkan dari limbah organik.

    Tak perlu muluk-muluk membangun fasilitas biogas berskala besar. Pemerintah daerah hanya perlu menyiapkan fasilitas pengolahan sampah organik menjadi biogas di tingkat kelurahan atau desa bersama masyarakat setempat.

    Dengan langkah ini, kami meyakini sampah organik di kota-kota dapat berkurang. Masyarakat juga bisa memanfaatkan energinya untuk kegiatan sehari-hari, misalnya memasak.

    Baca: Start up dari Singapura mampu olah sampah makanan jadi produk bernilai tinggi

    Beraneka manfaat biogas kelurahan
    Biogas adalah sumber energi ramah lingkungan diperoleh dari hasil penguraian material organik secara anaerob (tanpa oksigen) oleh mikroba.

    Gas ini terdiri dari gas metana, karbon dioksida, nitrogen, hitrogen sulfida, hingga uap air.

    Penggunaan biogas dapat menciptakan peluang ekonomi sirkular bagi masyarakat melalui konsep waste to energy.

    Sampah dapur yang dahulu langsung dibuang kini dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan tidak menghasilkan emisi karbon.

    Keuntungan lainnya, pemakaian biogas dapat mengurangi ketergantungan warga dengan gas LPG (liquified petroleum gas) yang berasal dari energi fosil dan kebanyakan pasokannya masih diimpor.

    Baca: Botol kaca dan plastik, mana yang lebih ramah lingkungan?

    Pemakaian biogas dari sampah dapur pernah dilakukan di Kelurahan Cibangkong, Kota Bandung, pada 2011.

    Upaya tersebut diinisiasi Masyarakat Sadar Lingkungan (My Darling)–sebuah komunitas independen di Kelurahan Cibangkong.

    Komunitas ini mengumpulkan sampah dapur yang dihasilkan oleh tiap rumah tangga.

    Setelah dikumpulkan, sampah akan diproses oleh alat bernama biodigester dan didistribusikan kepada beberapa rumah tangga.

    Biogas sampah dapur di Kelurahan Cibangkong dijual dengan harga Rp 20.000 per bulan–jauh lebih rendah dibandingkan harga LPG ukuran 12 kg saat itu sebesar Rp 70 ribu.

    Dengan harga tersebut, masyarakat bisa menghemat banyak pengeluaran. Harga biogas bahkan bisa lebih murah jika pemerintah memberlakukan program ini secara massal.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada lingkungan

    Selain biogas, proses pengolahan sampah dapur juga menghasilkan cairan sisa organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk kimia.

    Cairan organik itu dapat dijual sebagai pupuk sehingga menjadi peluang bisnis ramah lingkungan bagi masyarakat.

    Di Kelurahan Cibangkong, pupuk cair tersebut dijual dengan harga Rp 20 ribu per liter sehingga bisa menjadi pemasukan tambahan bagi masyarakat.

    Usaha menjalankan proyek biogas kelurahan memang belum luput dari tantangan.

    Pertama adalah masalah biaya. Per 2020, pemasangan biodigester berukuran 6 meter bisa memakan biaya sebanyak Rp 11 juta.

    Sumber pendanaan dari pemerintah pun cukup terbatas sehingga pelaksanaannya masih membutuhkan keterlibatan swasta (biasanya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan).

    Baca: Cara bijak memilah sampah dari rumah

    Pelaksanaan program biogas saat ini juga belum diiringi kerja sama yang baik antar lembaga.

    Sebagai contoh, dari tingkat pemerintah pusat, program pengembangan biogas tersebar di banyak kementerian dan tidak diiringi dengan koordinasi yang baik.

    Perkara lainnya, Indonesia juga tidak memiliki rencana khusus untuk pengembangan biogas seperti Tiongkok, padahal potensi yang dimiliki sangat besar.

    Pada level masyarakat, koordinasi untuk mengumpulkan sampah dapur, operasionalisasi sistem biogas, dan proses pemeliharaan menjadi tantangan tersendiri.

    Masyarakat juga masih menilai penggunaan biogas cukup rumit apabila dibandingkan LPG.

    Sebagai contoh, Kelurahan Cihaurgeulis di Bandung sempat mendapatkan bantuan untuk pengembangan biogas, tapi hal tersebut tidak bertahan lama diakibatkan kurangnya pengetahuan warga dan bimbingan tentang sistem biogas.

    Baca: Cara mengolah sampah dengan cara ditimbun sudah harus diakhiri

    Rekomendasi pemanfaatan biogas
    Untuk meningkatkan pemanfaatan biogas dari sampah dapur, kami memiliki lima rekomendasi:

    Pertama, pemerintah harus mengupayakan berbagai bentuk pembiayaan lain untuk mengembangkan biogas di perkotaan.

    Misalnya melalui pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan ataupun pengalokasian anggaran daerah untuk pengeluaran modal (capital expenditure).

    Kedua, pemerintah perlu mendampingi masyarakat mulai dari wawasan lingkungan hingga aspek teknis pemanfaatan biogas dari sampah dapur.

    Pemerintah Daerah dan organisasi masyarakat dapat menjadi tokoh dalam aksi pendampingan tersebut.

    Ketiga, memotivasi masyarakat dalam memisahkan sampah dapur melalui program-program yang menyentuh kebiasaan masyarakat.

    Misalnya, warga diajak untuk melihat perjalanan sampah mereka. Bisa juga melalui penghargaan, bahkan perlombaan ‘minim sampah’ antar-RT.

    Baca: Ini yang bisa kita lakukan untuk kurangi sampah makanan

    Keempat, memastikan tata kelola dan petunjuk pelaksanaan yang jelas agar proyek biogas tidak mangkrak.

    Karena itu, pengelolaan biogas oleh perusahaan daerah, koperasi, dan organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) haruslah menjunjung prinsip tata kelola yang baik.

    Terakhir, saat ini masyarakat masih menggunakan LPG karena adanya subsidi dari pemerintah. Namun, kondisi lapangan pun membuktikan bahwa subsidi LPG tidak tepat sasaran.

    Dalam jangka panjang, pemerintah semestinya dapat mengalihkan anggaran subsidi LPG ke pengembangan biogas khususnya di daerah yang potensial sehingga mampu meningkatkan minat masyarakat.

    Sumber: The Conversation

  • Kebakaran TPA Sarimukti Hampir Padam, Aktivis Lingkungan Ingatkan Pembenahan Manajemen Sampah

    Kebakaran TPA Sarimukti Hampir Padam, Aktivis Lingkungan Ingatkan Pembenahan Manajemen Sampah

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Jawa Barat berhasil memadamkan 90 persen kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Hanya beberapa titik api yang masih belum padam.

    “Sarimukti kalau kita lihat sekarang kebakaran di sana lebih dari 90 persen sudah padam. Tinggal sisa-sisa beberapa titik, dan saat ini kita dapat bantuan dari BNPB, teman-teman BPBD dan Satgas di lapangan,” jelas Plh Sekretaris Daerah Jawa Barat, Setiawan Wangsaatmaja dikutip Tribun Priangan.

    Dengan kondisi seperti ini, lanjut Setiawan, TPA yang terbakar sejak 19 Agustus ini sudah dapat membuka beberapa zona untuk menerima kiriman sampah yang tertunda selama kebakaran terjadi.

    Tetapi, kini daya tampung berkurang menjadi 50 persen. Karena itu, pemerintah kabupaten/kota di wilayah Bandung Raya harus mengurangi kiriman sampah sebanyak 50 persen.

    Sementara 50 persen sisanya harus mulai diolah melalui program pemilahan sampah dari sumbernya. “Yang 50 persen (sisa)-nya tersebut adalah harus mulai program pengurangan dari sumber,” katanya.

    Pada kesempatan itu, ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah. Sebab, hal ini dapat menimbulkan masalah baru, seperti polusi udara.

    Selain itu, pemerintah juga tengah merancang solusi dalam menangani sampah ini adalah melalui program memilah sampah menuju zero waste. 

    Untuk itu, menurut Setiawan, perlu kerja sama semua pihak, terutama masyarakat.

    “Bagi (sampah) yang numpuk saat ini, memang masih bisa ditampung di Sarimukti. Tapi (sampah) yang baru harus dipilah dari sumber penghasil sampah, (seperti) rumah tangga. Kalau tidak begitu, kita tidak akan pernah selesai,” urainya.

    Sementara itu, anggota Tim Masyarakat Peduli TPA Sarimukti, Wahyu Dharmawan H kepada 7cloud.asia menjelaskan penggunaan lahan Sarimukti sebagai TPA kembali tidak menyelesaikan masalah yang terjadi.

    Karena, lanjut Wahyu, mengirimkan sampah ke TPA Sarimukti itu sama saja dengan mengirimkan bahan baku untuk terjadinya kebakaran kembali.

    Menurut Wahyu, Sarimukti sebenarnya bukan TPA, tetapi TPK (Tempat Pengolahan Kompos). Jadi harus dikembalikan kembali peruntukkannya untuk pengolahan pupuk kompos.

    “Anorganik jangan masuk ke Sarimukti. Mengapa? Karena bukan TPA lho. Disini pengelola bilang ini TPK. Karena namanya pengolahan kompos, maka nggak layak dong anorganik masuk. Dan secara hukum mereka salah,” jelas Wahyu.

    Karena itu, sampah anorganik seharusnya ditampung di TPPAS Legok Nangka dan tidak dicampur di Sarimukti. Jika masih tercampur semuanya, maka bukan tidak mungkin kebakaran terulang kembali.

    Selain itu, kata Wahyu, pemprov Jawa Barat perlu segera melakukan transformasi manajemen pelayanan persampahan agar kebakaran tak terulang.

    Transformasi ini juga dilakukan disetiap kota dan kabupaten di Jawa Barat. Wahyu percaya pemprov Jawa Barat mampu melakukannya.  

    Reporter: Nurakhmayani

  • Tanggap Darurat Sampah di Bandung Raya Diperpanjang

    Tanggap Darurat Sampah di Bandung Raya Diperpanjang

    7cloud.asia – Status tanggap darurat sampah di Bandung Raya, Jawa Barat telah berakhir kemarin Minggu (24/09/2023). Kini statusnya diperpanjang hingga 25 Oktober 2023.  

    “Insya Allah kita sedang ajukan itu ya (perpanjangan), suratnya diproses di Biro Hukum (Pemprov Jabar) ,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat, Prima Mayaningtyas dikutip Kompas.com

    Sebelumnya, Pemprov Jabar menetapkan status darurat sampah pada 24 Agustus lalu. Status ini diberlakukan usai kebakaran yang terjadi di TPA Sarimukti.

    Kini kebakaran di TPA Sarimukti mulai padam. DLH Jawa Barat kini tengah fokus pada penataan area yang terbakar.

    “Penataan lahan buat sampah yang masuk dan juga penertiban pemulung di lokasi, lalu upaya penataan sampah yang ada di kabupaten dan kota,” jelas Prima.

    Tak hanya penataan di TPA Sarimukti, pihaknya juga mendorong kepala daerah di Bandung Raya untuk memperbaiki tata kelola sampah.

    Hal ini untuk mencegah agar status darurat sampah tak terulang kembali. “Mereka (kepala daerah) harus menata kelola sampah masing-masing. Jadi penanganan di hulu sama di hilir,” ucapnya.

    Sementara itu, Penjabat Gubernur Jabar, Bey Triadi Machmudin menjelaskan kebakaran TPA Sarimukti saat ini sudah mulai tertangani.

    Saat ini proses pendinginan tengah dilakukan di TPA Sarimukti. “Sarimukti sudah padam, tapi saya belum berkomunikasi dengan wali kota dan bupati yang menggunakan TPA Sarimukti,” kata Bey.

    Menurutnya kepala daerah di Bandung Raya telah berkomitmen untuk memilah sampah anorganik dan organik mulai dari hulu.

    “Kota Cimahi, Kota Bandung, KBB, Kabupaten Bandung. Mereka berjanji akan mulai mengolah sampah dari hulu, jadi mudah-mudahan ada perubahan,” katanya.

    Sementara itu, anggota Tim Masyarakat Peduli TPA Sarimukti, Wahyu Dharmawan H kepada 7cloud.asia menjelaskan pemprov Jawa Barat perlu segera melakukan transformasi manajemen pelayanan persampahan agar kebakaran tak terulang.

    Transformasi ini juga dilakukan disetiap kota dan kabupaten di Jawa Barat. Wahyu percaya pemprov Jawa Barat mampu melakukannya.  

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Pasca Kebakaran, Ini Rencana Pemprov Bandung di TPA Sarimukti

    Pasca Kebakaran, Ini Rencana Pemprov Bandung di TPA Sarimukti

    7cloud.asia – Status darurat bencana kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Bandung telah berakhir. Usai kebakaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat melakukan berbagai langkah strategis.

    “Langkah strategis ini sebagai upaya pemulihan, sekaligus persiapan operasional TPA Sarimukti secara penuh pascakebakaran fasilitas tersebut,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Prima Mayaningtias seperti yang dikutip Antaranews.

    Pihaknya, lanjut Prima, akan bekerjasama dengan para pemangku kepentingan (stakeholders), menjalankan upaya strategis dalam masa transisi Tanggap Darurat Bencana usai kebakaran di TPA Sarimukti, Bandung.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah ketinggalan jaman

    Prima menjelaskan langkah strategis pertama adalah memastikan tidak ada lagi api yang muncul di semua zona sehingga TPA Sarimukti dapat kembali menampung sampah secara normal.

    “Pada Rabu (27/9) dengan bantuan petugas Topdam III/Siliwangi, dilakukan pemantauan dan foto udara ke titik-titik api di zona 4,” katanya.

    Langkah strategis kedua, adalah memadatkan lahan di zona 1, 2 dan 3 untuk kemudian menyiapkan zona 1 agar dapat menampung 80 ribu ton sampah terpilah.

    “Untuk pemadatan zona 1, sekitar 15.510 meter kubik tanah dari Sektor 11 Citarum Harum dipindahkan menggunakan alat berat dari Yonzipur 3/Siliwangi,” ungkapnya.

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampahnya

    Selain itu pihakya juga akan melakukan langkah ketiga dengan mendorong sumber air yang ada di zona 4 ke titik-titik api menggunakan pompa hidran yang dibuat Zidam III/Siliwangi.

    “Sebagai pendukung, petugas membuat sumur bor baru di TPA,” katanya.

    DLH juga, menyiapkan posko dengan pemasangan instalasi listrik dan perlengkapan lainnya, serta meminta PLN membuat sambungan listrik baru di TPA.

    Sebelumnya diberitakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghentikan atau tidak memperpanjang status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti.

    Baca: Pengelolaan smpah plastik di Indonesia

    Penghentian ini dilakukan seiring dengan berhasil dipadamkannya kebakaran fasilitas yang terletak di Kabupaten Bandung Barat tersebut.  

    Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengatakan dengan keadaan kebakaran Sarimukti yang membaik tersebut, status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti berakhir 25 September 2023 ini.  

    “Alhamdulillah sudah berhasil dipadamkan. Oleh karena itu, status darurat yang berakhir hari ini tidak diperpanjang,” ucap Bey.

    Reporter: Nurakhmayani

  • TPA Kopi Luhur Cirebon Terbakar, Menteri KLH Minta Waspadai Kebakaran di TPA

    TPA Kopi Luhur Cirebon Terbakar, Menteri KLH Minta Waspadai Kebakaran di TPA

     

    7cloud.asia – Kebakaran di lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) kembali terjadi. Kali ini di TPA Kopi Luhur, Cirebon, Jawa Barat.

    Kebakaran di TPA Kopi Luhur Cirebon ini memaksa Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya langsung meninjau lokasi. 

    Adapun penyebab kebakaran di TPA Kopi Luhur yang terjadi pada Minggu (1/10/2023) ini masih diteliti.

    “Di sini, spotnya kecil-kecil jadi lebih bisa ditangani oleh kawan-kawan di lokasi. Tapi pada konteks ini kami dari Kementerian ingin melihat persisnya ada api,” kata Siti seperti yang dikutip Antaranews.

    Menurut Siti, kondisi di TPA Kopi Luhur berbeda dengan TPA Sarimukti, Bandung Barat. Di TPA Kopi Luhur api dapat tertangani dengan baik sehingga dampak yang ditimbulkan tidak separah seperti di TPA Sarimukti.

    Baca: Kebakaran di TPA Sarimukti Bandung

    “Tadi sudah bertanya, agak berbeda dari TPA Sarimukti. Sarimukti sebetulnya agak terlambat menanganinya sehingga apinya keburu gede,” katanya.

    Selanjutnya Siti menjelaskan pihaknya perlu melakukan pengecekan secara langsung. Sebab, ada kemungkinan gas metan yang memicu munculnya titik api di lokasi tersebut.

    Setelah melakukan peninjauan ini, lanjut Siti, pihaknya akan mengkaji untuk merumuskan langkah penanganan yang tepat untuk peristiwa kebakaran di TPA.

    “Karena ada teorinya juga, itu ada gas metan, kemudian ada angin besar, ada oksigen pasti kebakar. Itu yang ingin kami lihat. Kalau itu terjadi kebakaran gede-gede, itu kita sedang pelajari,” urainya.

    Agar kebakaran hebat seperti yang terjadi di TPA Sarimukti tidak terulang, pihaknya melakukan perjalanan darat untuk mengecek satu per satu lokasi kebakaran TPA baik itu di Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

    Baca: Opsi mengatasi krisis di TPA Piyungan

    Berdasarkan data yang ia terima, terdapat 15 TPA di Indonesia yang mengalami kebakaran.

    “Saya mengikuti perkembangan, sebetulnya sudah sebulan lebih tempat-tempat pembuangan akhir sampah seperti ini terbakar dan belasan spot. Yang terecord sama saya ada 15 spot, bukan hanya satu-satunya di Sarimukti, Bandung,” jelasnya.

    Sebelumnya TPA Sarimukti terbakar hebat sejak 19 Agustus lalu. Kebakaran tersebut dipicu oleh sampah anorganik menjadi satu dengan sampah organik hingga membentuk gunungan sampah seberat 25 ribu ton.

    Atas peristiwa ini, Pemprov Jawa Barat menetapkan status darurat untuk TPA Sarimukti.

    Selama masa darurat, berbagai upaya pemadaman dilakukan termasuk dengan cara water bombing hingga akhirnya titik api padam seluruhnya pada 24 September lalu.  

    Baca: Gerakan sampah Mbah Dirjo kurangi sampah hingga separuhnya

    Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengatakan dengan keadaan kebakaran Sarimukti yang membaik tersebut, status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti berakhir 25 September 2023 ini.  

    “Alhamdulillah sudah berhasil dipadamkan. Oleh karena itu, status darurat yang berakhir hari ini tidak diperpanjang,” kata Bey.

    Meski kebakaran TPA Sarimukti sudah mengalami perbaikan, Bey menegaskan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Bandung Raya, harus tetap berkomitmen mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.  

    “Kalau caranya tetap sama seperti ini, ya, ini akan berulang terus. Kita tidak mau seperti itu. Harus ada perubahan pola,” ucapnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kebakaran di TPA Purbahayu Pangandaran, Sudah Empat Hari Belum Padam

    Kebakaran di TPA Purbahayu Pangandaran, Sudah Empat Hari Belum Padam

    7cloud.asia – Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kembali terjadi. Kali ini kebakaran terjadi di TPA Purbahayu, Pangandaran, Jawa Barat.

    Kebakaran di TPA Purbahayu sudah memasuki hari keempat, namun hingga kini api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran di Provinsi Jawa Barat telah berupaya mencegah kebakaran di TPA Purbahayu tersebut meluas ke lahan warga.

    Baca: Rencana Pemprov Jabar pasca kebakaran di TPA Sarimukti

    Melansir Antaranews, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran, Untung Saeful Rokhman menjelaskan pihaknya melakukan penyekatan agar mata rantai api dapat terputus.

    “Kami berupaya untuk menyekat agar tidak melebar ke area lahan perkebunan warga,” ujar Untung.

    Lebih Ianjut Untung menjelaskan tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), dan Dinas Pemadam Kebakaran terus berupaya memadamkan api sejak Jumat (6/10/2023) lalu.

    Baca: Setelah TPA Piyungan terbakar, muncul gerakan Mbah Dirjo

    Pihaknya bersama DLHK dan Damkar melakukan penyekatan dengan menurunkan alat berat untuk memutus mata rantai api.

    Sampai saat ini petugas masih memantau titik api dan kepulan asap di fasilitas penanganan sampah tersebut.

    Selain itu mereka terus menyemprotkan air ke titik-titik api yang berada di dekat lahan milik warga.

    “Penyemprotan tetap dilakukan untuk antisipasi manakala ada yang di pinggir-pinggir lahan warga,” ucapnya.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan cara ditimbun di TPA sudah saatnya diakhiri

    Hingga kini, penyebab kebakaran di TPA Purbahayu ini belum diketahui pasti. Namun Untung memperkirakan pemicu kebakaran adalah sampah-sampah yang dapat menimbulkan percikan api.

    “Semacam power bank juga bisa menimbulkan percikan api. Terus sisa-sisa korek gas yang tidak terpakai. Jadi, sampah juga bisa mengakibatkan kebakaran, di saat panas meledak,” jelasnya.

    Sementara itu, Ketua Taruna Siaga Bencana Kabupaten Pangandaran, Nana Suryana menyampaikan bahwa anggotanya juga membantu penanganan kebakaran di TPA Purbahayu.

    “Kebakaran masih, dan terus dipantau,” ujar Nana.

    Baca: Pengelolaan sampah ala RDF yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, kebakaran di TPA Purbahayu mulai terjadi pada hari Jumat  (6/10/2023) sekitar pukul 22.30 WIB. Titik api berasal dari tengah, kemudian merambat dan terus meluas.

    Pemadaman api terus dilakukan sampai hari Minggu (8/10/2023), namun titik api terus bermunculan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kebakaran di Tempat Pembuangan Sampah Akhir atau TPA Suwung, Diduga Api Dipicu Gas Metana

    Kebakaran di Tempat Pembuangan Sampah Akhir atau TPA Suwung, Diduga Api Dipicu Gas Metana

    7cloud.asia – Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kembali terjadi. Kali ini TPA Regional Sarbagita (TPA Suwung), Denpasar, Bali.

    Kebakaran yang mulai terjadi Kamis (12/10/2023) siang terus meluas hingga hampir setengah lahan TPA Suwung Bali tersebut hangus.

    Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar, Ardy Ganggas seperti dilansir Antaranews mengatakan, berdasarkan pemantauan udara pada Kamis sore, sekitar seperempat luas lahan TPA terbakar.

    “Tetapi kini hampir separuh yang terbakar. Dari lahan TPA seluas 32 hektare, hampir separuhnya terbakar,” jelas Ardy.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah saatnya diakhiri

    Ardy menambahkan, pihaknya terus melakukan pemadaman dengan menggunakan alat berat untuk memotong arus api dengan mengeruk lumpur-lumpur dan mengantisipasi api menjalar hingga ke pemukiman penduduk.

    “Alat berat digunakan untuk melakukan blokir dengan lumpur berair untuk menutup pergerakan api,” ujarnya.

    Tim pemadam kebakaran BPBD Kota Denpasar juga digantikan dengan regu malam untuk melakukan pemadaman.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan teknologi Masaro mampu olah sekilo sampah jasi 1 gram emas

    Setidaknya tujuh mobil damkar (pemadam kebakaran) dari Kota Denpasar dikerahkan untuk memadamkan kebakaran di TPA Suwung, Bali ini. 

    “Selain itu juga dibantu dua damkar dari Kabupaten Badung dan satu damkar dari Kabupaten Gianyar,” urainya.

    Operasi pemadaman dilakukan dengan dipimpin Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, Made Rentin bersama Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Made Teja.

    Baca: Bakteri pemangsa gas metana untuk menahan laju pemanasan global

    Sebanyak 10 unit mobil damkar dikerahkan untuk memadamkan api. Selain itu dua unit mobil ambulans dari BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kota Denpasar bersiaga di lokasi TPA Suwung.

    Ada pula satu unit wheel loader dan empat ekskavator untuk membuka jalan dan akses mendekati titik-titik api agar mobil pemadam kebakaran lebih mudah bergerak menyemprotkan air.

    Sementara itu, Polresta Denpasar menyatakan penyebab kebakaran di TPA Suwung diduga akibat metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah.

    Baca: Yuk kenali sampah plastik dan nilai ekonominya

    “Penyebab kebakaran diperkirakan dari panasnya tumpukan sampah dan gas metan yang dihasilkan, sehingga berpotensi mengeluarkan api,” kata Kepala Seksi Humas Polresta Denpasar, Iptu Ketut Sukadi.

    Sukadi mengatakan peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada Kamis (12/10/2023) sejak pukul 11.00 Wita.

    Seorang saksi bernama Gede Mahardika (51) mengatakan ketika ia bekerja di kantor TPA Suwung tiba tiba melihat kepulan asap hitam pekat bersumber dari tumpukan sampah.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan bakteri untuk bersihkan polusi tanah

    Tak lama setelah itu, kata Gede, asap hitam pekat berubah menjadi asap putih dan tersebar di sekitar daerah Sesetan, Denpasar Selatan.

    Setelah melihat api yang cepat membesar tersebut, pihak pengelola TPA langsung menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Denpasar dan BPBD Denpasar untuk memadamkan api tersebut.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Periode Juni-Oktober 2023, Terjadi 14 Kali Kebakaran TPA

    Periode Juni-Oktober 2023, Terjadi 14 Kali Kebakaran TPA

    7cloud.asia – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah akhir-akhir ini kerap terjadi. Selama bulan Juni hingga Oktober 2023, tercatat 14 kali kejadian kebakaran di TPA.

    Kebakaran di tempat pembuangan akhir atau TPA sampah ini terjadi, selain dipicu  gas metana juga karena sikap abai masyarakat. 

    Sudah saatnya pemerintah kota mengedukasi masyakarat terkait pengelolaan sampah yang lebih bertanggung-jawab sehingga kebakaran di TPA tidak terulang.

    “Pada periode Juni, Juli, Agustus, hingga Oktober itu ada 14 kebakaran di TPA sampah, di mana-mana mulai dari Sabang sampai Merauke,” jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Selasa (17/10/2023), dikutip Antaranews.

    Baca: Krisis pengelolaan sampah pasca kebakaran di TPA Sarimukti

    Dari kasus kebakaran TPA yang terjadi, lanjut Abdul, proses pemadaman TPA Sarimukti, Jawa Barat yang paling sulit.   

    Hal ini karena banyaknya timbunan sampah plastik. Timbunan sampah plastik tersebut menghalangi air pemadaman merembes ke bawah.

    Selanjutnya Abdul menjelaskan wilayah yang terbakar di TPA Sarimukti memiliki ketinggian hampir 70 meter.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah saatnya ditinggalkan

    Pemadaman dengan bantuan satgas darat dan heli bom air. Sehingga dapat mengendalikan 70 persen kebakaran yang terjadi dan masih harus terus memantau titik api yang timbul kemudian.

    “Laporan dari Kemenkes (Kementerian Kesehatan) juga ada peningkatan jumlah pasien ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan lain-lain,” ujarnya.

    Upaya pemadaman menjatuhkan bom air dengan helikopter dan melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah upaya maksimal yang selama ini dilakukan BNPB.

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya

    Namun pengawasan terhadap timbulnya api, kata dia, harus menjadi kewaspadaan masyarakat.

    Dia meminta masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, atau menyalakan api di kawasan rawan terbakar.

    Kemudian pada pekan ini BNPB berfokus pada pemadaman kebakaran di TPA Suwung, Denpasar Bali.

    Baca: Pengelolaan sampah plastik harus libatkan konsumen-produsen dan pemerintah

    Dua helikopter bom air dari wilayah lain digeser sementara untuk pemadaman melalui guguran air.

    “Sekali lagi, bahwa 99 persen penyebab kebakaran itu adalah ulah manusia sengaja atau tidak sengaja.”

    Ia mengajak semua pihak untuk sama-sama jaga lingkungan kita, lihat situasi dan kondisi. Cegah, minimal di lingkungan kita masing-masing itu tidak ada karhutla.

    “Atau kalaupun terjadi karhutla, karena kita kendalikan dengan segera,” papar Abdul.

    Reporter: Nurakhmayani

  • TPA Rawa Kucing Terbakar, DLH Tangerang Ajak Masyarakat Zero Waste

    TPA Rawa Kucing Terbakar, DLH Tangerang Ajak Masyarakat Zero Waste

    7cloud.asia – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Tangerang masih terbakar. Perlu gaya hidup zero waste dapat bermanfaat untuk mengurangi efek negatif dari penumpukan sampah.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Tihar Sopian seperti yang dikutip Antaranews pada Selasa (24/10/2023).

    “Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk mulai memasifkan penerapan gaya hidup zero waste atau minim sampah. Penerapan gaya hidup zero waste sangat penting dilakukan untuk mengurangi penumpukan sampah di lingkungan sekitar,” urai Tihar.

    baca juga: kebakaran tpa rawakucing tangerang masuki hari ke-5

    Pihaknya, lanjut Tihar, telah mensosialisasikan pentingnya penerapan gaya hidup zero waste. 

    Sosialisasi yang dilakukan seperti pengolahan sampah organik menjadi pupuk, pengolahan sampah plastik menjadi bio solar, tabungan melalui bank sampah, atau hal lainnya yang bernilai ekonomis.

    “Penerapan zero waste juga terbilang sederhana. Masyarakat hanya perlu terbiasa memilah sampah, mendaur ulang sampah, dan memanfaatkan sampah menjadi barang yang lebih berguna,” tambahnya.

    Sementara itu, Sekretaris DLH Kota Tangerang, Dadang Basuki mengatakan pihaknya kini membuat tempat pembuangan sampah darurat sementara.

    Tempat seluas dua hektare ini berada di sisi utara dekat pintu 1 TPA Rawa Kucing. Tujuannya agar sampah yang diangkut petugas dapat tetap dibuang meski TPA Rawa Kucing terbakar.

    “Meski berada di kawasan TPA Rawa Kucing tetapi tidak mengganggu proses pemadaman petugas karena lokasinya aman dari titik api,” ujar Dadang.

    Meski TPA terbakar, tapi Dadang memastikan pengangkutan sampah oleh petugas tetap berjalan seperti biasanya. Sehingga tak ada penumpukan di jalan maupun lokasi lainnya.

    “DLH memastikan pengangkutan sampah berjalan seperti biasa dan normal. Kita hanya mengatur lokasi pembuangan agar tak mengganggu proses pemadaman,” jelasnya.

    baca juga: periode juni-oktober 2023 terjadi 14 kali kebakaran tpa

    Untuk menghindari penumpukkan sampah di lokasi sementara, Dadang juga mengajak masyarakat bisa memilah sampah secara mandiri.

    Sebab, lanjut Dadang, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat mencapai 1.500 ton per hari.

    “Ada program bank sampah dan TPST yang bisa dimanfaatkan warga untuk mengelola sampah sehingga mengurangi pembuangan ke lokasi darurat,” ungkapnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Setidaknya 30 TPA Kebakaran dalam Tiga Bulan, Saatnya Pengelolaan Sampah dengan Landfill Diakhiri

    Setidaknya 30 TPA Kebakaran dalam Tiga Bulan, Saatnya Pengelolaan Sampah dengan Landfill Diakhiri

    7cloud.asia – Setidaknya 30 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah mengalami kebakaran dalam tiga bulan terakhir. Kebakaran tersebut dipicu oleh udara panas dan kering sebagai dampak dari El Nino. 

    Kebakaran TPA ini karena itu penggunaan teknologi pengelolaan sampah ramah lingkungan sangat penting dan urgent.

    Hal itu terutama bagi daerah-daerah yang pengelolaan sampah sudah darurat dan memiliki TPA yang sudah melebihi kapasitas.

    Kebakaran ini menunjukkan pengelolaan sampah secara konvensial dengan hanya menitikberatkan pada pemrosesan akhir melalui fasilitasi landfill sudah saatnya ditinggalkan. 

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya

    Pengelolaan sampah dengan cara ini terbukti telah memicu banyak masalah seperti longsoran sampah yang memakan korban, kebakaran serta emisi gas metana dan sejumlah masalah lainnya. 

    “Beban tempat pemrosesan akhir yang berat, membuat pengelolaan sampah menjadi tidak optimal dan berpotensi untuk menimbulkan permasalahan lingkungan seperti pencemaran lingkungan, longsor sampah, dan juga perubahan iklim dikarenakan emisi gas metana dari timbunan sampah di landfill,” kata Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Rosa Vivien Ratnawati Juni lalu.

    Saat berbicara workshop Pengelolaan Sampah dalam rangka Pengendalian Perubahan Iklim, Penguatan Ketahanan Pangan dan Pengembangan Ekonomi Rakyat di Bandung (7/6/2023), Vivien memaparkan sebagian besar kota di Indonesia masih mengelola sampahnya secara konvensional.

    Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebut, hingga tahun 2022, sebanyak kurang lebih 65,83% sampah di Indonesia masih diangkut dan ditimbun di landfill.

    Baca: Perlu kerjasama pemerintah-produsen dan konsumen untuk kelola sampah

    Untuk itu Vivien menekankan, pentingnya dilakukan berbagai upaya pembenahan yang komprehensif dari hulu ke hilir dalam rangka menuntaskan masalah pengelolaan sampah di Indonesia.

    Salah satu upaya dan pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah melalui pengembangan teknologi tepat guna dalam pengolahan sampah dan pelibatan peran aktif seluruh lapisan masyarakat.

    Saat ini pemerintah terus mendorong optimalisasi fasilitas pengelolaan sampah seperti instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik, pengolahan sampah menjadi RDF, SRF, dan biogas serta pengolahan sampah melalui biokonversi maggot Black Soldier Fly (BSF).

    Saat ini jumlah pengelolaan sampah secara modern ini ini masih bisa dihitung dengan jari. namun diharapkan sistem pengelolaan sampah secara modern ini dapat dipraktikkan oleh seluruh daerah di Indonesia.

    Baca: Cek lokasi bank sampah dengan menggunakan aplikasi ini

    “Penerapan berbagai opsi teknologi pengolahan sampah ramah lingkungan ini diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah ke TPA dan ke depannya hanya residu yang diangkut ke TPA,” tambah Vivien.

    Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2022, capaian kinerja pengelolaan sampah nasional adalah 66,58%, yaitu melalui 18,63% pengurangan sampah dan 47,95% penanganan sampah.

    Data tersebut menggambarkan bahwa masih terdapat 33,42% sampah di Indonesia yang belum terkelola dengan baik dan benar.

    “Kondisi tersebut merupakan tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah, pemerintah daerah, produsen, swasta, dan seluruh lapisan masyarakat dalam rangka mewujudkan Indonesia Bersih 2025 dengan 100% sampah terkelola dengan baik dan benar,” tandas Vivien.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada lingkungan

    Vivien turut mengajak agar semua pihak terus menggalakkan berbagai langkah dan upaya untuk mendorong kehidupan yang berkelanjutan secara kondusif agar lingkungan sehat.

    Sebagai bagian dari perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2023, pentingnya dilakukan pembersihan plastik di pantai-pantai, kawasan konservasi, bantaran sungai, tempat-tempat umum sehingga dapat memperkuat budaya kehidupan berkelanjutan.

    “Karena, sebagai negara dengan kearifan lokal yang tinggi, mari kita hidupkan kembali dan tanamkan pengetahuan dan pendekatan modern inovatif menuju negara yang lebih bersih, hijau dan bebas plastik,” pungkasnya.