Tag: urban farming

  • Manfaat Urban Farming untuk Lingkungan Kota Berkelanjutan

    Manfaat Urban Farming untuk Lingkungan Kota Berkelanjutan

    7cloud.asia – Urban farming menjadi salah satu faktor bagi sebuah kota untuk bisa disebut kota yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

    Urban farming ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan lahan tidur yang sering ditemukan di kota-kota besar di Indonesia.

    Di negara maju, di mana lahan kosong juga sangat sulit ditemukan, urban farming biasanya memanfaatkan rooftop atau ruang terbuka di atas bangunan tinggi.

    Urban farming atau pertanian kota semakin populer di berbagai kota, termasuk Atlanta, Georgia, dan New York City di Amerika Serikat.

    Baca: 8 Elemen agar sebuah kota disebut ramah lingkungan

    Ada banyak manfaat baik ekonomi maupun ekologi dari pemanfaatan rooftop garden atau teknik urban farming bagi sebuah kota. 

    Dilansir earth.org, manfaat terbesar dari urban farming dirasakan warga kota bersangkutan, karena mendapat suplai sayuran yang sehat.

    Urban farming juga punya peran penting sebagai komponen penting dalam kota yang berkelanjutan.

    Baca: Kisah dua kota yang paling ramah lingkungan

    Berikut beberapa manfaat yang dapat ditawarkan oleh urban farming bagi kota, sebagaimana dilansir earth.org:

    1. Peningkatan kualitas udara

    Sudah menjadi rahasia umum, jika semua tumbuhan menyerap karbondioksida dan mengolahnya menjadinutri dan menghasilkan oksigen. Oksigen ini juga yang dihasilkan dari urban farming.

    2. Mendukung produsen pangan lokal

    Hasil kebun dari urban farming akan memastikan pasokan bagi produsen pangan lokal. Sehingga ketika terjadi kondisi darurat, pasokan tetap terjamin.

    Baca: Manfaat infrastruktur ramah lingkungan

    3. Mengurangi biaya transportasi

    Urban farming artinya membuat kebun di dalam kota, sehingga tidak dibutuhkan angkutan untuk menjual hasil kebunnya.

    4. Mengurangi limpasan dari curah hujan alami

    Urban farming juga bermanfaat menyerap air hujan sehingga tidak langsung dibuang ke drainase kota. 

    Baca: Mengenal apa itu infrastruktur ramah lingkungan

    5. Penyerbukan yang melimpah di kota-kota

    Keberadaan urban farming turut menjaga keanekaragaman hayati sebuah kota. bunga-bungan yang dihasilkan akan mengundang serangga atau satwa liar lainnya. 

  • Urban Farming Ternyata Dapat Dilakukan di Perkantoran

    Urban Farming Ternyata Dapat Dilakukan di Perkantoran

    7cloud.asia – Keterbatasan lahan tidak menjadi alasan untuk melakukan urban farming. Seperti yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta ini.

    DKPKP memaksimalkan pemanfaatan lahan dengan membuat urban farming di rooftop hingga kebun vertikal di pagar atau tembok bangunan. 

    “Kalau dimanfaatkan untuk menanam, fungsinya tidak harus konsumsi. Tapi juga mengurangi polusi dan memberikan keindahan lingkungan. Di Jakarta selama ini banyak pagar yang kurang dimanfaatkan fungsi lainnya, padahal kalau kita tanami bisa menyerap debu,” jelas Kepala DKPKP DKI Jakarta, Suharini seperti dikutip Antaranews.

    Baca: DAS Asahan ditanam bambu dan beringin

    Suharini berharap langkah kecil ini juga diterapkan di banyak tempat dan banyak pihak. Dengan demikian akan berdampak besar bagi lingkungan Jakarta.

    Tak Cuma tanaman hias, rooftop kantor DKPKP Gunung Sahari, Jakarta Pusat juga telah dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman hortikultura (tanaman pangan).

    Hasil tanaman ini biasanya dijual kembali. Misalnya seikat sayuran dibanderol seharga Rp5.000.

    Baca: Urban Farming di kolong fly over Grogol

    “Kadang dibeli juga sama karyawan kita untuk Jum’at Berkah. Jadi yang Sholat Jumat di sini bebas mengambil. Nah uangnya nanti diputar kembali untuk penanaman, beli benih dan lain-lain,” paparnya.

    Dengan penanaman ini, lanjut Suharini, pihaknya dapat memberikan keterampilan dan mengedukasi masyarakat agar memanfaatkan lingkungan.

    Dengan belajar menanam dan memanfaatkan lahan, masyarakat pun juga bisa berniaga dengan menjual hasil panennya.

    Sehingga dapat membantu menjaga ketahanan pangan keluarga sekaligus diharapkan dapat mengendalikan inflasi Jakarta.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Lahan Terbatas, Tahun 2024 Pemkot Cirebon Fokus Kembangkan Urban Farming

    Lahan Terbatas, Tahun 2024 Pemkot Cirebon Fokus Kembangkan Urban Farming

     

    7cloud.asia – Usaha pertanian perkotaan, pemanfaatan lahan atau ruang kosong di wilayah perkotaan untuk bercocok tanam atau berternak menjadi fokus Pemerintah Kota Cirebon, Jawa Barat pada tahun 2024 ini.

    Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Cirebon, Elmi Masruroh, usaha pertanian perkotaan atau urban farming ini sebenarnya sudah mulai dilakukan sejak tahun 2020.  

    “Tahun 2020 kami sudah mengembangkan Kampung Pangan Lestari Hijau (KPLH). Itu fokus ke kelompok masyarakat yang diberi bantuan fasilitas dan sarana penunjang untuk melakukan pertanian,” jelas Elmi seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: Urban Farming dapat dilakukan di kantor

    Menurutnya saat ini sudah ada lebih dari 35 kelompok KPLH di Kota Cirebon yang membudidayakan tanaman pangan seperti umbi-umbian, cabai, dan sayur-mayur.

    Pihaknya, lanjut Elmi, akan terus mendorong pembentukan lebih banyak KPLH untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan kosong di lingkungan perkotaan.

    “Kita dorong agar mereka memanfaatkan lahan pekarangan dan area jalan-jalan untuk ditanami sayuran. Baik menggunakan sistem vertikultur atau hidroponik,” paparnya.

    Selain itu pihaknya juga tengah melakukan kajian mengenai pengembangan tanaman hortikultura dengan nilai ekonomi tinggi.

    Elmi menyampaikan bahwa dinas menjadikan hasil Sensus Pertanian tahun 2023 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai dasar perumusan kebijakan untuk memajukan sektor pertanian.

    Baca: Manfaat Urban Farming

    “Dari Sensus Pertanian 2023, kami lebih mengetahui lagi berapa jumlah petani yang diperbarui, kemudian rumah tangga petani, tidak hanya tanaman pangan tapi horti juga. Kita beralih ke hortikultura, jadi kita tidak hanya ke tanaman pangan,” urainya.

    Sementara itu, Kepala BPS Kota Cirebon, Aris Budiyanto menjelaskan lahan pertanian di Kota Cirebon semakin sempit. Padahal kebutuhan akan hasil pertanian kian meningkat.

    Hal ini karena meningkatnya jumlah penduduk di Kota Cirebon. Sehingga sebagian warga kota memilih menerapkan model pertanian perkotaan.

    Lebih lanjut Aris menjelaskan ​​​​​​berdasarkan data hasil sensus tahap pertama tahun 2023, pelaku usaha pertanian perkotaan di Kota Cirebon terdiri atas 10 rumah tangga usaha pertanian (RTUP) dan 10 unit usaha pertanian perorangan (UTP).

    “Kegiatan urban farming tersebar di seluruh kecamatan di Kota Cirebon. Pelaku kegiatan urban farming paling banyak berada di Kecamatan Kesambi dan Kecamatan Harjamukti sebesar empat RTUP dan empat unit UTP,” jelas Aris.

    Masih berdasarkan hasil sensus, aktivitas pertanian perkotaan yang dilakukan yakni bercocok tanam sayur di taman kota, atap bangunan, atau di dalam ruang tertutup seperti rumah kaca.

    “Kegiatan yang dilakukan pada urban farming selain budi daya tanaman, dapat juga berupa usaha peternakan,” ujarnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Upaya Kembangkan Urban Farming di Jakarta dengan Metode Tabulampot

    Upaya Kembangkan Urban Farming di Jakarta dengan Metode Tabulampot

    7cloud.asia – Lahan terbuka di Jakarta dan sekitarnya makin terbatas. Untuk itu masyarakat diajak untuk menggalakkan urban farming dengan sistem budi daya tanaman buah di dalam pot (tabulampot) 

    Urban farming dengan sistem tabulampot ini terus didorong Pemprov DKI Jakarta dengan berbagai pelatihan.

    Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin mendukung ketahanan pangan yang dilakukan Pemprov DKI yakni pelatihan pertanian perkotaan (urban farming) kepada masyarakat.

    Sejalan dengan itu, dia meminta kuota peserta pelatihan, penyediaan sarana dan prasarana hingga pengenalan teknologi urban farming juga perlu ditingkatkan.

    “Pelatihan yang dilakukan oleh Dinas KPKP masih perlu ditingkatkan lagi, baik jumlah peserta, penyediaan sarana, dan pengenalan teknologi baru yang digunakan di negara lain,” ujar Suhud di Jakarta, Jumat (12/1/2024)..

    Baca: Urban farming bisa dilakukan di perkantoran

    Dia berharap kesadaran masyarakat terhadap ketahanan pangan dengan memanfaatkan lahan yang mereka miliki juga perlu ditingkatkan.

    Senada, anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Wahyu Dewanto mengajak warga menggiatkan tabulampot demi menjaga ketahanan pangan di wilayahnya masing-masing.

    “Karena di Jakarta yang sudah sangat terbatas, upaya memanfaatkan tanaman pot atau tabulampot mungkin bisa menjadi alternatif,” kata Wahyu. 

    Wahyu menuturkan ketahanan pangan di daerah perkotaan memang menjadi tantangan tersendiri, maka dari itu dia mengajak untuk melakukan metode bercocok tanam seperti itu.

    Baca: Kolong tol Grogol bakal dijadikan lahan urban farming

    Dia berharap, ajakan itu mempermudah warga yang tak memiliki lahan agar tetap bisa menghasilkan buah dan sayuran.

    Selain itu, Wahyu juga mengusulkan pemberdayaan dengan budidaya ikan dan sayuran melalui metode sistem budi daya ikan dan sayuran (akuaponik).

    “Alternatif lain adalah upaya perikanan yang disinergikan dengan tanaman,” tuturnya.

     

    Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI turut mengajak masyarakat untuk mengembangkan pertanian perkotaan dengan menanam bibit tanaman yang cepat panen.

    Baca: Warga Depok manfaatkan lahan tidur untuk urban farming

    Upaya urban farming ini bisa menjadi alternatif selain mengandalkan pasokan pangan dari luar daerah.

    Ada tujuh sasaran ruang untuk urban farming, yaitu rumah susun, lahan kosong, lahan pekarangan, gang perkampungan, sekolah, gedung, serta Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

    Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta menyebutkan bahwa ketersediaan atau stok pangan dan perkembangan harga di awal tahun 2024 masih aman.

    “Perkembangan harga pangan strategis di awal tahun 2024 menunjukkan tren penurunan pada komoditas tertentu,” kata Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Suharini Eliawati saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Buruan Daftar Jadi Duta Urban Farming Jakarta, Simak Caranya di Sini

    Buruan Daftar Jadi Duta Urban Farming Jakarta, Simak Caranya di Sini

    7cloud.asia – Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta membuka pendaftaran Duta Urban Farming.

    Pemilihan Duta Urban Farming yang dibuka sejak 15 Agustus hingga 27 Agustus 2024 itu sebagai rangkaian memperingati Hari Pangan Sedunia dan rangkaian Festival Urban Farming Tahun 2024.

    Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Suharini Eliawati dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (25/8/2024) menjelaskan pemilihan Duta Urban Farming Tahun 2024 bertujuan menggerakkan pertanian perkotaan.

    Pemilihan duta Urban Farming juga untuk menyosialisasikan bercocok tanam di perkotaan yang dapat dilakukan di mana saja oleh semua kalangan, terutama generasi muda.

    Untuk link pendaftaran Duta Urban Farming 2024 dapat diakses melalui tautan bit.ly/DUTAURBANFARMINGJKT.

    Baca: Urban farming jadi cara Kota Makassar untuk turunkan emisi

    Hingga Minggu malam, tercatat sudah ada 35 peserta yang mendaftar sejak dibuka pada 15 Agustus.

    “Rinciannya ada 14 putra dan 21 putri,” kata Eli dikutip Antaranews.com

    Perempuan yang biasa disapa Eli itu mengatakan pendaftar sebelumnya diseleksi melalui sesi wawancara dengan para juri.

    Selanjutnya, finalis terpilih akan diajak melakukan aksi penanaman pohon, panen, tebar ikan, serta mengunjungi beberapa destinasi pertanian, perikanan, dan kelautan di Kepulauan Seribu.

    “Setelah terpilih, para Duta Urban Farming diharapkan dapat memasifkan penyampaian pesan dan program pemerintah kepada publik melalui media sosial mereka,” ucapnya.

    Baca: Urban farming di kawasan perkantoran

    Untuk puncak acara akan diselenggarakan pada 17, 18, 19 September 2024 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Menteng, Jakarta Pusat.

    “Ayo cepat mendaftar, ada banyak benefit yang bisa didapatkan Duta Urban Farming. Tidak kalah penting, Duta Urban Farming akan menjadi pribadi menginspirasi,” paparnya.

    Sementara itu, Kepala Bidang Pertanian Dinas KPKP DKI Jakarta, Mujiati menambahkan peserta pemilihan Duta Urban Farming harus memenuhi sejumlah persyaratan, yakni berusia 17 sampai 30 tahun, berdomisili atau bekerja di DKI Jakarta, dan menyertakan surat keterangan domisili (jika ber-KTP luar DKI Jakarta).

    Kemudian, calon peserta itu peduli dan aktif terhadap kegiatan pertanian perkotaan (urban farming), aktif di media sosial, mudah bergaul dan mau belajar hal baru, serta tidak memiliki catatan kriminal.

    “Peserta juga bersedia mengikuti kegiatan selama bulan September 2024 dan tidak sedang menjabat di kompetisi atau kontes lain atau sudah mendapatkan izin,” ucapnya.

    Baca: Jakarta akan terus perluas kawasan rendah emisi

    Untuk rangkaian kegiatan Pemilihan Duta Urban Farming 2024, kata Mujiati, dimulai pada 15-27 Agustus untuk tahapan pendaftaran. Kemudian, Seleksi Bersama pada 30 Agustus 2024 yang dilanjutkan tahap Karantina mulai 9-13 September 2024.

    “Untuk Grand Final Pemilihan Duta Urban Farming 2024 akan diadakan 19 September,” kata dia.

  • BPS: Jakarta Selatan Menjadi Wilayah dengan Usaha Pertanian Perkotaan Terbesar di Jakarta

    BPS: Jakarta Selatan Menjadi Wilayah dengan Usaha Pertanian Perkotaan Terbesar di Jakarta

    7cloud.asia – Badan Pusat Statistik DKI Jakarta pada Senin (23/9/2024) sosialisasi Hasil Sensus Pertanian (ST2023) Tahap II DKI Jakarta.

    Hasil Sensus Pertanian 2023 menunjukkan Jakarta Selatan menjadi wilayah terbanyak dengan rumah tangga usaha pertanian (RTUP) yang melakukan usaha pertanian di lahan terbatas atau urban farming yakni sebanyak 1.372 RTUP.

    Kemudian diikuti Jakarta Timur (1.277 RTUP), Jakarta Barat (852 RTUP), Jakarta Utara (542 RTUP), Jakarta Pusat (535 RTUP), dan Kepulauan Seribu (15 RTUP).

    Wilayah Jakarta Selatan juga tercatat memiliki jumlah RTUP terbanyak yang menggunakan teknologi seperti hidroponik, aquaponik, vertikultur, dan lainnya yakni 126 RTUP.

    Lalu diikuti Jakarta Timur (114 RTUP), Jakarta Barat (69 RTUP), Jakarta Utara (35 RTUP), Jakarta Pusat (23 RTUP), serta Kepulauan Seribu (3 RTUP).

    Baca: Tambulapot cara urban farming di Jakarta

    Dalam kesempatan itu, Kepala BPS DKI Jakarta Nurul Hasanudin menyebut, pemilihan jenis budi daya yang relevan menjadi tantangan pengembangan pertanian perkotaan atau urban farming.

    “Jadi memilih dan memilah mana-mana yang relevan untuk Jakarta,” katanya.

    Pertanian perkotaan merupakan kegiatan pertumbuhan, pengolahan, dan distribusi pangan serta produk lainnya melalui budi daya tanaman dan peternakan yang intensif di perkotaan dan daerah sekitarnya.

    Hasanudin lalu menyebutkan sejumlah fenomena terkait pertanian perkotaan khususnya di Jakarta yakni sebagai pendukung bisnis utama.

    Urban farming juga sebagai sarana kesehatan, pemanfaatan atap untuk budi daya pertanian serta keterlibatan berbagai pihak termasuk milenial karena budi daya bersifat hobi ketimbang murni usaha.

    “Bukan murni usaha masyarakat. Lebih kepada hobi atau sifatnya non-komersial,” ujar dia.

    Baca: Urban farming dapat dilakukan di gedung perkantoran

    Adapun merujuk Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, pertanian perkotaan di Jakarta dilakukan berbasis ruang dengan memakai tanaman cepat panen seperti sayuran daun dan buah di lahan tidur, maupun lahan di sekitar aktivitas warga, seperti sekolah, Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) dan fasilitas umum lainnya.

    Sementara itu, BPS mengkategorikan budi daya pangan disebut pertanian perkotaan berdasarkan tiga kriteria, antara lain berada di perkotaan serta memanfaatkan lahan yang terbatas.

    Kriteria lain budidaya dikatakan pertanian perkotaan yakni menggunakan teknologi modern, seperti hidroponik ataupun vertikultur.

    Vertikultur adalah memanfaatkan ruang vertikal sebagai tempat bercocok tanam, baik digantung, rambat, maupun terpasang di dinding; penanaman dalam pot sebagai media tanam sehingga mudah dipindahkan pada lahan sempit.

    “Tidak punya lahan, hanya pakai pipa, sayurnya banyak dihasilkan. Belum lagi vertikal, menggunakan dinding. Kriteria ini yang digunakan dalam sensus pertanian untuk mengkategorikan usaha disebut urban farming atau tidak,” kata Adnan.

    Sumber:Antaranewscom

  • Polsek Manfaatkan Lahan kosong di Jalan Ancol Barat Menjadi Urban Farming

    Polsek Manfaatkan Lahan kosong di Jalan Ancol Barat Menjadi Urban Farming

    7cloud.asia – Lahan kosong di Jalan Ancol Barat, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara mulai Minggu (10/11/2024) diubah menjadi lokasi urban farming dengan ditanami sejumlah tanaman pangan.

    Pengupayaan urban farming ini dilakukan jajaran Polsek Pademangan guna memperkuat ketahanan pangan di wilayah tersebut.

    “Hari ini kami menanam bibit jagung, bawang merah, kemangi dan cabai di wilayah Kelurahan Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara,” kata Kapolsek Pademangan Kompol Binsar Hatorangan Sianturi di Jakarta, Minggu.

    Baca: Kesempatan menjadi duta urban farming Jakarta

    Selain melakukan penanaman, pihaknya juga memberikan anakan bebek kepada warga dan Kebun Kampung Walang di Jalan Lodan Raya sekaligus memberikan pakan ternak tersebut.

    “Kami juga menanam bibit kemangi, bawang merah serta di Kelurahan Pademangan Barat di Jalan Budi Mulia RW 16 penanaman bibit bawang merah,” kata dia.

    Ia mengatakan ketahanan pangan merupakan program utama Presiden Prabowo Subianto dan ini sebagai upaya mendukung program tersebut.

    “Program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian lokal serta memperkuat ketahanan pangan,” kata dia.

    Baca: Pemkot Makassar wujudkan kawasan rendah emisi lewat urban farming

    Ia mengatakan kegiatan urban farming ini merupakan sinergi antara aparat dan masyarakat dalam mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan.

    Tidak hanya masyarakat, petugas Kepolisian dari Polsek Pademangan juga berpartisipasi mewujudkan swasembada pangan.

    Kapolsek bersama anggotanya turun langsung melakukan penanaman benih jagung, bawang merah, kemangi dan cabai di lahan kosong yang disiapkan untuk mendukung ketahanan pangan tersebut.

    “Dengan keterlibatan Polri dalam kegiatan seperti ini, masyarakat diharapkan semakin termotivasi untuk terus mengembangkan potensi pertanian yang dimiliki,” kata dia.

  • Phoenix Hotel Yogyakarta Manfaatkan Limbah Organik untuk Urban Farming di Rooftopnya

    Phoenix Hotel Yogyakarta Manfaatkan Limbah Organik untuk Urban Farming di Rooftopnya

    7cloud.asia – Sebuah oase berupa kebun sayur yang tumbuh subur dapat ditemukan di atap Phoenix Hotel, Kota Yogyakarta.

    Di atas lahan yang tak terlalu luas ini, pengelola Phoenix Hotel mempraktikkan urban farming dengan menyulap rooftop menjadi kebun produktif yang menghasilkan aneka sayuran segar.

    Tidak hanya menumbuhkan tanaman yang segar dan siap konsumsi, Phoenix Hotel juga melakukan pengolahan sampah organik menjadi pupuk cair, yang digunakan sebagai nutrisi tanaman-tanaman ini.

    Langkah Phoenix Hotel ini oleh Wali Kota Yogyakarta diparesiasi dan disebut sebagai langkah cerdas dalam menghadapi keterbatasan lahan pertanian di Kota Yogyakarta yang semakin padat.

    Urban farming ini bisa menjawab kebutuhan masyarakat akan pangan segar, dan diharapkan konsep seperti ini bisa terus berkembang hingga nantinya mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

    Baca: Nissa Wargadipura gagas “Family Farming” dari Garut

    Urban farming di Yogyakarta menghadirkan tantangan tersendiri. Namun, konsep ini menjadi daya tarik unik bagi Phoenix Hotel dan bisa membantu memenuhi kebutuhan Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) bagi tamu dan lingkungan sekitar.

    Pupuk organik cair yang dihasilkan hotel cukup untuk kebutuhan mereka sendiri dan juga bisa dimanfaatkan di sekitar lingkungan hotel. Ini adalah konsep yang sebelumnya jarang terpikirkan, namun terbukti memiliki manfaat nyata.

    Lebih lanjut, Sugeng menekankan peran Phoenix Hotel dalam mendukung program Gandeng Gendong 5K (Kota, Kampus, Korporasi, Kampung, dan Komunitas) untuk menyelesaikan permasalahan sampah dan ketahanan pangan secara kolaboratif.

    “Tidak ada satu permasalahan yang dapat diselesaikan sendiri. Ini adalah bentuk sinergi antara pemerintah dan sektor usaha untuk menghadapi tantangan perkotaan,” tambah Sugeng.

    Pemerintah Kota Yogyakarta berharap program urban farming dan pengolahan sampah di Phoenix Hotel menjadi contoh inovasi berkelanjutan yang menginspirasi hotel-hotel lain di Yogyakarta.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta mencari duta urban farming

    Sementara itu, pihak Phoenix Hotel mengungkapkan bahwa hotel berkomitmen menjaga dan melestarikan lingkungan melalui berbagai program ramah lingkungan.

    Phoenix Hotel menerapkan berbagai inisiatif untuk mengurangi limbah plastik dan sampah non-organik lainnya.

    Setiap hari, sampah organik yang kami hasilkan mencapai 70-100 kilogram, dan dengan teknologi sederhana diolah menjadi pupuk organik cair yang digunakan untuk tanaman hidroponik di rooftop.

    Phoenix Hotel yang memiliki ruang terbatas, berharap langkah ini bisa menjadi contoh bagi hotel-hotel lain untuk mengadopsi konsep serupa. Tanaman yang dihasilkan cukup beragam seperti selada, pagoda, dan berbagai jenis sawi.

    “Kami tidak memiliki lahan yang luas, tapi inovasi ini menunjukkan bahwa siapa pun bisa berkontribusi untuk lingkungan, meski dengan keterbatasan,” kata General Manager Phoenix Hotel, Rulvastina Randy pada September 2024 lalu.

    Baca: Mengintip urban farming di perkantoran

    Baca: Kota di Eropa dorong warganya pelihara ayam untuk atasi limbah makanan

     

  • Warga Malaka Jaya Berhasil Sulap Gang Sempit Jadi Ruang Hijau Penuh Inovasi

    Warga Malaka Jaya Berhasil Sulap Gang Sempit Jadi Ruang Hijau Penuh Inovasi

    7cloud.asia – Warga yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Bersama Tumbuh Maju berhasil menyulap Gang 8, Jalan Nusa Indah IV, RT 08/04, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, menjadi kawasan urban farming yang hijau dan penuh inovasi.

    Beragam tanaman hias, tanaman obat keluarga (TOGA) hingga tanaman produktif yang ditanam warga menghijaukan akses jalan sepanjang 30 meter dengan lebar sekitar tiga meter tersebut.

    Tidak hanya itu, di lokasi juga terdapat empat kolam gizi berbentuk akuarium besar yang diisi berbagai jenis ikan, seperti lele, nila, mujair, mas, dan koi.

    Ketua Poktan Bersama Tumbuh Maju, Fadil mengatakan, inovasi urban farming di wilayahnya ini mulai dilakukan sejak 2023 dan diharapkan turut menjaga keanekaragaman hayati, mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.

    “Inovasi ini sudah dilakukan sejak tahun 2023 dengan dukungan dan kolaborasi dari sejumlah program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR),” ujarnya dikutip dari beritajakarta.id.

    Baca: Trase kering KBT dioptimalkan jadi area urban farming

    Fadil menjelaskan, selain kolam gizi berbentuk akuarium yang berjajar di sepanjang gang, warga juga memanfaatkan saluran air dengan konsep dua tingkat.

    Pada saluran air di Jalan Nusa Indah IV dibuat kolam gizi sepanjang 14 meter di atas beton U-ditch berukuran 60 sentimeter.

    “Beton U-ditch ini kami modifikasi menjadi sistem double decker. Bagian bawah difungsikan sebagai saluran air, sedangkan bagian atas dimanfaatkan sebagai kolam gizi,” terangnya.

    Menurutnya, di dalam kolam tersebut terdapat sekitar 5.000 ekor ikan lele. Kolam ini pernah dipanen pada tahun 2023 dengan hasil sekitar 40 kilogram.

    “Hasil panen dibagikan secara gratis kepada warga sekitar. Untuk panen berikutnya, hasil ikan rencananya akan dijual dan digunakan untuk menunjang operasional kegiatan urban farming,” ungkapnya.

    Baca: Urban farming jadi cara untuk wujudkan kawasan rendah emisi

    Agar lebih menarik, lanjut Fadil, Gang 8 juga dihiasi mural hasil karya seniman profesional. Mural tersebut menampilkan gambar balon udara, dasar laut, serta pemandangan laut lengkap dengan kapal nelayan.

    “Kami juga menyediakan dua tabung Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sebagai langkah antisipasi kebakaran,” ucapnya.

    Ia menambahkan, lingkungan RT 08/04, Kelurahan Malaka Jaya telah dilengkapi CCTV di 16 titik yang merupakan bantuan dari program CSR. Tersedia pula tiga unit pengeras suara dan satu layar LCD untuk memantau aktivitas melalui monitor CCTV.

    “Warga yang melaksanakan ronda malam dapat melakukan pengawasan secara lebih efektif,” imbuhnya.

    Sementara itu, Lurah Malaka Jaya, Eko Purnomo Asih menyampaikan apresiasi atas inovasi yang dilakukan warganya. Upaya ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain agar lingkungan semakin hijau sekaligus mendukung ketahanan pangan.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta jaring anak muda jadi Duta Urban Farming

    “Kami sangat mengapresiasi karena inovasi ini dapat mendukung program pemerintah dalam penghijauan lingkungan dan penguatan ketahanan pangan,” tandasnya.

    Saat ini, tercatat terdapat sekitar 817 tanaman produktif yang dirawat oleh warga, menjadikan Gang 8 Malaka Jaya sebagai contoh nyata kampung hijau berbasis partisipasi masyarakat di tengah padatnya wilayah perkotaan.

    Inisiatif warga ini mendapat apresiasi dari Legislator DPRD DKI Jakarta, Francine Widjojo. Ia mengatakan, inovasi warga dalam menciptakan lingkungan hijau sekaligus mengelola sampah secara mandiri merupakan contoh yang patut ditiru oleh wilayah lain di Jakarta.

    Menurutnya, lingkungan di Gang 8 kini terlihat sangat asri dengan berbagai tanaman produktif yang tumbuh subur. Selain itu, kawasan tersebut juga sudah dilengkapi dengan 16 unit CCTV yang meningkatkan keamanan lingkungan.

    “Gang-gang di permukiman sini sangat hijau dan produktif. Upaya warga ini tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga membantu mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPST Bantar Gebang,” ujarnya.

    Baca: Urban farming jadi bagian pengelolaan sampah di Kota Bandung