Tag: warisan budaya

  • Kabar Gembira! Jamu Akan Segera Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO

    Kabar Gembira! Jamu Akan Segera Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO

    7cloud.asia –  Kabar gembira bagi pencinta budaya tanah air. Jamu, akan segera ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh lembaga pendidikan dan budaya PBB, UNESCO.

    Ikhwal jamu akan ditetapkan sebagai warisan budaya ini diungkapkan Dirjen  Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Hilmar Farid, Kamis (16/11/2023).

    “Ini bocoran sedikit ya, jamu akan ditetapkan tahun ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda atau Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh UNESCO,” kata dia seperti dikutip  ANTARA. 

    Penetapan jamu sebagai warisan budaya dunia ini telah melalui proses panjang sejak didaftarkan pada 7 April 2022 lalu untuk kategori tersebut, bersamaan dengan enam nominasi lainnya.

    Baca: Menghidupkan relief Candi Borobudur 

    Meski tidak merinci tanggal resmi pengumuman perolehan titel warisan budaya dunia tersebut, Hilmar memastikan hal itu akan dilaksanakan tahun ini, yang mana tersisa satu setengah bulan lagi.

    Hilmar menyebut, yang dianggap sebagai Warisan Budaya Tak Benda bukan jamu dari suatu daerah tertentu, melainkan jamu secara keseluruhan, terutama tentang kemampuan masyarakat untuk menciptakan jamu itu sendiri.

    Seperti halnya budaya Indonesia yang lain, Hilmar mengatakan jamu adalah warisan budaya yang harus dijaga kelestariannya.

    Jamu terbukti secara historis sebagai pengetahuan asli bangsa Indonesia yang telah digunakan selama ribuan tahun dari generasi ke generasi.

    Baca: UNESCO akui sumbu filosofi Yogyakarta sebagai warisan budaya

    Budaya Sehat jamu adalah suatu praktik menjaga kesehatan yang bersifat preventif sekaligus promotif.

    Jamu adalah buah perjalanan sejarah peradaban masyarakat yang tidak dapat dilepaskan dari tali-temali kebudayaan Nusantara.

    Yang ditetapkan sebagai warisan itu adalah kemampuan masyarakat untuk menciptakan itu.

    “Jadi bukan produknya atau bendanya, tapi keahlian orang meracik, meramu, dan itu tentu ada berbagai teknik yang digunakan. Itu yang didaftarkan, pengetahuannya yang didaftarkan bukan produknya,” Hilmar menjelaskan.

    Baca: Jalan Malioboro akan ditata sesuai peran dan posisinya dalam sumbu filosofi

    Lebih lanjut, Hilmar menyebut tenun Indonesia juga akan segera didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda agar bisa menyandang titel yang sama seperti Batik, yang telah lebih dulu meraih predikat tersebut sejak 2009.

    Hilmar mengatakan upaya untuk mendaftarkan tenun itu sedang dikaji, apa kah mungkin tenun saja, atau tenun Nusantara, atau tenun hanya dari NTT (Nusa Tenggara Timur).

    “Kami sedang lihat itu, untuk menemukan landasan bersamanya, apa yang mau didaftarkan, dan laporan-laporan itu yang sekarang kita masih dalam proses riset dan menyusun,” imbuhnya.

    “Mudah-mudahan harapannya tenun Nusantara secara keseluruhan,” Hilmar menambahkan.

    Sumber: Antaranews.com

     

     

  • Budaya Tempe Diajukan Menjadi Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO, Ini Alasannya

    Budaya Tempe Diajukan Menjadi Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO, Ini Alasannya

    7cloud.asia – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) resmi mengajukan Budaya Tempe masuk dalam kategori Daftar Representatif Warisan Budaya Tak benda untuk kemanusiaan ke UNESCO.

    Pengajuan budaya tempe sebagai warisan budaya tersebut dilakukan pada akhir Maret 2024 dan saat ini sedang dalam proses menunggu untuk dibahas oleh Sekretariat Konvensi 2003 UNESCO.

    Direktur Pelindungan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikburistek Judi Wajudin optimis Budaya Tempe ini akan menambah daftar warisan budaya takbenda dari Indonesia yang ada di UNESCO.

    “Kita berdoa semoga dengan masuknya Budaya Tempe dalam daftar UNESCO ini dapat terus memberikan manfaat bukan hanya bagi masyarakat Indonesia tapi dunia,” ujarnya dalam rilis yang diterima, Jumat (31/5/2024).

    Terkait pengajuan tersebut, Forum Tempe Indonesia sebagai salah satu tim inisiator berharap seluruh dukungan masyarakat agar tempe terus lestari dan semakin mendunia.

    Pembina Forum Tempe Indonesia Made Astawan mengatakan tempe saat ini sudah bisa ditemukan dan dikonsumsi di 27 negara.

    Baca: UNESCO akui jamu sebagai warisan budaya dunia

    Berbagai manfaat kesehatan yang dihasilkan dari proses fermentasi kedelai menjadi tempe juga telah diperoleh dengan berbagai cara, baik melalui diaspora masyarakat maupun hasil berbagai penelitian di dunia.

    “Terlebih, tren vegetarian atau vegan juga semakin populer bersamaan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dunia terhadap pangan yang sehat,” kata Astawan.

    Belum diketahui secara pasti siapa dan bagaimana awal mula tempe ditemukan oleh para leluhur dahulu.

    Satu-satunya bukti bahwa tempe telah dikonsumsi masyarakat Jawa sejak beberapa abad yang lalu adalah melalui Serat Centhini.

    Dalam buku kesusastraan Jawa tersebut termaktub bahwa tempe telah menjadi hidangan masyarakat Jawa dan merupakan bagian dari berbagai ritual masyarakat di abad ke-16.

    Berdasarkan bukti-bukti tersebut maka sejak tahun 2014 Forum Tempe Indonesia bersama dengan berbagai lembaga terkait tempe melakukan inisiasi untuk lebih memperkenalkan tempe kepada dunia.

    Baca: Perjuangan agar jamu diakui sebagai warisan budaya dunia

    Budaya tempe merupakan pengetahuan dan teknologi tradisional nenek moyang bangsa Indonesia untuk menyediakan bahan makanan yang kaya nutrisi dan manfaat lainnya.

    Proses dimulai dengan berbagai penelitian dan sejumlah dukungan tertulis khususnya dari Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

    Selanjutnya, para inisiator berhasil mendaftarkan Tempe Jawa Tengah sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dengan nomor registrasi 201700525 di Kemendikbudristek pada tahun 2017.

    Upaya pelestarian tempe pun terus bergulir hingga hari ini. Tanggal 6 Juni telah disepakati oleh pemangku kepentingan terkait tempe untuk dijadikan sebagai Hari Tempe Nasional.

    “Walaupun secara resmi Pemerintah belum menetapkan secara formal, namun kami para pecinta Tempe dan pengrajin sudah sejak beberapa tahun lalu menjadikan tanggal 6 Juni sebagai Hari Tempe Nasional,” kata Ketua Forum Tempe Indonesia Muslimatun.

    Menurutnya, penting untuk sekali dalam setahun masyarakat merayakan momen bersama untuk mengapresiasi nenek moyang bangsa yang telah mewariskan tempe sebagai pangan yang kaya manfaat gizi dan memiliki kandungan protein setara dengan protein hewani.

    Baca: Upaya menghidupkan relief Candi Borobudur

    Tahun ini Puncak Perayaan Hari Tempe Nasional akan diadakan di Kota Balikpapan. Perayaan akan dipusatkan di Sentra Industri Kecil Somber (SIKS) di mana di area tersebut terdapat lebih dari seratus perajin tempe dan tahu.

    Acara Puncak perayaan ini diselenggarakan oleh Forum Tempe Indonesia bersama dengan Pusat Koperasi Tempe Tahu Indonesia (PUSKOPTI) Kalimantan Timur dan Pemerintah Kota Balikpapan serta didukung oleh pemangku kepentingan tempe lainnya.

    Tahun ini tema perayaan Hari Tempe Nasional mengambil tema ‘Tempe: Pangan Generasi Emas Indonesia’.

    “Kami berharap tempe semakin dihargai bukan karena tempe merupakan pangan yang murah dan mudah didapat, tapi diharapkan masyarakat semakin mengetahui manfaat dan kandungan sang ‘super food’ ini,” ujar Sekretaris Jenderal Forum Tempe Indonesia Muhammad Ridha.

    Sumber: Antaranews.com

  • Delapan Karya Budaya Betawi Diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

    Delapan Karya Budaya Betawi Diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

    7cloud.asia – Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi berhasil menghantarkan delapan karya budaya agar bisa ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia 2024.

    Penetapan WBTb Betawi disampaikan Ketua Tim Ahli WBTb Indonesia Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) G.R. Lono Lastoro Simatupang dan Sekretaris Tim Ahli WBTb Toto Sucipto setelah melalui proses persidangan.

    “Alhamdulillah, sebuah perjalanan yang panjang bisa sampai pada hari ini. Delapan karya budaya DKI Jakarta yang berhasil lolos sampai tahap sidang ini telah ditetapkan menjadi WBTb Indonesia. Semoga warisan budaya ini terus terjaga dengan baik bersama-sama,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana  di Jakarta, Sabtu (24/08/2024).

    Baca: Bangun sekolah adat untuk lestarikan budaya Suku Rejang

    Iwan  menjelaskan proses penetapan karya budaya menjadi WBTb dilakukan melalui tiga tahap penilaian yang telah berlangsung sejak Januari 2024 dan diakhiri dengan sidang penetapan oleh Tim Ahli WBTb Indonesia Kemdikbudristek pada 19-22 Agustus 2024 di Hotel Holiday Inn & Suites, Jakarta.

    Iwan melanjutkan delapan karya budaya yang ditetapkan sebagai WBTb yaitu Nyorog, Kopi Jahe Betawi, Si Pitung, Rias Bakal, Bahasa Kreol Tugu, Oblog, Musik Sampyong, dan Gambus Betawi.

    Sebanyak 272 karya budaya dari 31 provinsi ditetapkan menjadi WBTb Indonesia 2024. Pemprov DKI Jakarta telah memiliki 85 WBTb Indonesia yang ditetapkan sejak 2013 hingga saat ini.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbudristek Hilmar Farid mengatakan penetapan WBTb ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran dan tanggung jawab.

    Baca: Jamu jadi warisan budaya dunia

    Selain itu juga semangat untuk terus melakukan pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan terhadap warisan budaya.

    Ia juga berharap warisan budaya baik yang telah dicatatkan atau ditetapkan dapat masuk dalam pendidikan formal, informal, dan nonformal sebagai sumber pembelajaran kebudayaan.

    “Penetapan WBTb ini tidak hanya menjadi sebuah kegiatan yang berujung pada sertifikat saja. Namun, yang paling penting dan perlu dipikirkan bersama adalah tindak lanjut setelah penetapan, bagaimana warisan budaya ini tetap terjaga dan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas,” kata Hilmar.

    Sumber: Antaranews

  • Perjuangan di Balik Penetapan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

    Perjuangan di Balik Penetapan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

    7cloud.asia – Ketua Tim Nasional Kebaya Indonesia Lana T. Koentjoro sebagai pengusul pengajuan Hari Kebaya Nasional dan Kebaya Sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO, merasa bersyukur dan bangga atas penetapan UNESCO menjadikan kebaya sebagai warisan budaya dunia.

    Seperti diketahui UNESCO secara resmi menetapkan kebaya sebagai warisan budaya dunia. Keputusan ini diumumkan dalam sidang ke-19 Session of the Intergovernmental Committee on Intangible Cultural Heritage (ICH) di Asuncion, Paraguay tanggal 4 Desember 2024

    Kebaya diajukan menjadi Warisan Budaya Takbenda, secara bersama oleh Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, hingga Thailand.

    Dikutip dari keterangan resmi Tim Nasional Kebaya Indonesia yang diterima di Jakarta, Kamis (5/11/2024) Lana mengatakan, dua tugas yang diamanatkan pada Tim Nasional Kebaya Indonesia oleh Dirjen Kebudayaan sejak tahun 2022.

    Salah satunya untuk mengurus pengajuan Hari Kebaya Nasional dan Kebaya sebagai WBTb UNESCO telah membuahkan hasil dengan terbitnya Kepres Nomor 19 Tahun 2023 tentang Hari Kebaya Nasional dan penetapan kebaya sebagai WBTb UNESCO.

    Baca: UNESCO Tetapkan Kebaya sebagai Warisan Budaya Dunia Takbenda

    Adapun, Tim Nasional Kebaya Indonesia sebagai pengusul Hari Kebaya Nasional dan Kebaya sebagai WBTb UNESCO terdiri dari komunitas :
    1.Perempuan Indonesia Maju (Lana T Koentjoro)
    2.Pertiwi Indonesia (Miranti Serad Ginanjar)
    3.Pencinta Sanggul Nusantara (Ninoek W Sunaryo)
    4.Perempuan Berkebaya Indonesia (Rahmi Hidayati)
    5.Kebaya Foundation (Tuti Roosdiono)
    6.Citra Kartini Indonesia (Ayu Heni Rosan)
    7.Sekar Ayu Jiwanta (Emi Wiranto)
    8.Himpunan Ratna Busana Surakarta (Febri Hapsari Dipokusumo)
    9.Komunitas Notaris Indonesia Berkebaya (Rustianah)
    10.Cinta Budaya Nusantara (Melok besari)
    11.Rampak Sarinah (Eva Sundari)
    12.Pewaris Kebaya Labuh
    13.Pewaris Kebaya Kerancang

    Anggota Tim Nasional Kebaya Indonesia telah bekerja menyiapkan kajian dan melakukan sosialisasi sejak tahun 2022.

    Tim Nasional Kebaya Indonesia juga mendapat dukungan dari komunitas-komunitas pendukung seperti Komunitas Perempuan Berkebaya, Kebaya Menari, Warisan Budaya Indonesia Foundation, Barisan Berkebaya, Bunda Milenial.

    Atas penetapan tersebut, Lana T Koentjoro menyampaikan bahwa Tim Nasional Kebaya Indonesia akan melakukan konsolidasi internal dan koordinasi bersama Kementerian Kebudayaan.

    Konsolidasi tersebut dimaksudkan untuk mengajak seluruh perempuan Indonesia mensyukuri penetapan kebaya sebagai WBTB UNESCO dengan melakukan selebrasi bersama secara serentak di berbagai kota di Indonesia.

    Baca: Komunitas Perempuan Berkebaya Kenalkan Beragam Kebaya Nusantara

    Sementara, Miranti Serad Ginanjar menyebut kebaya merupakan pakaian tradisional yang menjadi simbol dari keragaman dan sikap toleransi yang dijunjung tinggi oleh Indonesia.

    “Kebaya merupakan simbol keragaman dan toleransi, kebaya juga sangat layak diakui sebagai warisan budaya takbenda (WBTb),” kata Miranti dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat.

    Miranti mengatakan simbol keragaman dan toleransi itu dapat terlihat dari banyaknya kalangan yang mengenakan kebaya dalam setiap acara. Bahkan banyak sekali perempuan yang memakai kebaya sebagai busana kesehariannya.

    Hal tersebut menjadi sebuah kebanggaan akan identitas nasional. Penetapan kebaya sebagai WBTb merupakan salah satu upaya untuk melestarikan sebuah tradisi berkebaya sambil memperkenalkan keindahannya kepada dunia.

    “Kebaya adalah sebuah tradisi yang harus terus dilestarikan kepada generasi berikutnya. Kami senang sekali dengan penetapan kebaya sebagai warisan budaya takbenda. Dampaknya akan sangat positif bagi pelestarian kebaya,” ujar Miranti.

    Baca: Aksi cinta tolak pemaksaan berbusana dengan alasan perintah agama

    Menurutnya, salah satu kunci kelestarian kebaya di masa yang akan datang adalah kebaya memiliki sifat yang tidak eksklusif dan hidup. Selain itu, kebaya juga bisa menghidupi karena keberadaan kebaya menggerakkan banyak sektor termasuk ekonomi.

    Contohnya, saat ini kebaya banyak dijual di pasar tradisional hingga modern. Modelnya pun terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, sehingga membuktikan dalam aspek busana tradisional perempuan Indonesia kebaya akan jadi urutan paling atas.

    Kunci kelestarian lainnya terletak pada dukungan pemerintah dan pihak terkait. Miranti menilai sudah banyak aturan-aturan di tingkat pusat maupun daerah yang mengatur tentang penggunaan busana tradisional.

    “Tradisi berkebaya juga ada di negara-negara serumpun. Jadi penetapan kebaya sebagai WBTb akan jadi penyemangat kita semua untuk terus melestarikan kebaya agar makin membudaya,” ucap Miranti.

  • Penari Penjaga Negeri Gelar Acara Syukuran Atas Ditetapkannya Kebaya Jadi Warisan Budaya Dunia

    Penari Penjaga Negeri Gelar Acara Syukuran Atas Ditetapkannya Kebaya Jadi Warisan Budaya Dunia

    7cloud.asia – Sebagai wujud dari rasa syukur, atas ditetapkannya Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia (WBTb) oleh UNESCO, Penari Penjaga Negeri menggelar acara syukuran.

    Acara ini digelar di FX Sudirman lantai 3 dengan mengambil Tema “Nusantara Memanggil Untuk Menari Part 2” dengan bekerja sama Arsita Craft dan FX Sudirman Mall.

    Kali ini, Penari Penjaga Negeri memboyong Wefi Sofianah seorang guru tari sekaligus penari dari negara Singapura untuk melatih “Tari Zapin Muara” kepada para peserta yang hadir.

    Sendang Wangi, ketua Penari Penjaga Negeri menyatakan, tari zapin dipilih karena tari ini cukup populer di negara-negara pengusung Kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda di UNESCO.

    “Sehingga tari zapin ini dapat menggambarkan semangat kebersamaan dalam melestarikan seni budaya khususnya Kebaya,“ ujarnya.

    Baca: Perjuangan panjang kebaya menjadi Warisan Budaya Takbenda Dunia

    Sebagai pegiat budaya dan praktisi SDM, Sendang Wangi mengingatkan, agar masyarakat tidak berlama-lama larut dalam kegembiraan bahwa Kebaya diakui Unesco sebagai Warisan Budaya Takbenda.

    Pasalnya, UNESCO dapat mencabut pengakuan tersebut apabila kita tidak terus menerus melakukan upaya untuk melestarikan kebaya sebagai warisan budaya dunia

    Seperti diberitakan sebelumnya, Kebaya diajukan Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO secara joint nomination oleh Indonesia bersama Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunei Darussalam.

    Badan pendidikan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) lantas menetapkan Kebaya sebagai Warisan Budaya Dunia Takbenda (WBTb).

    Keputusan UNESCO soal kebaya ini diambil pada 4 Desember 2024 dalam sidangnya di Paraguay.

    Baca: UNESCO Tetapkan Kebaya sebagai Warisan Budaya Dunia Takbenda

    Sebanyak 125 orang yang hadir di acara syukuran ini, terdiri dari anak-anak, remaja dan dewasa, tampak sangat menikmati acara pelatihan tari ini.

    Mereka antusias menari sambil mengenakan kebaya dan kain wastra untuk peserta Perempuan dan Pakaian Melayu untuk peserta laki-laki.

    Di acara itu, Arsita Resmisari desainer yang karyanya sudah pernah ditampilkan di New York Fashion Week membawa tim Kebaya Anak untuk menampilkan karya-karya Kebaya Anak yang diperagakan Model Anak dengan sangat anggun dan apik di atas panggung.

    Arsita mengajak anak-anak dan remaja Indonesia untuk mencintai Kebaya sejak dini dengan menumbuhkan kecintaan budaya Indonesia melalui media Kebaya dan Wastra yang selaras dengan nilai-nilai budaya Indonesia.

    Penari Penjaga Negeri juga menggandeng seorang anak pegiat Kebaya sebagai narator kebaya yang menjelaskan tentang ragam kebaya yaitu Syarifah Azkia Naura Firrizqiah dari komunitas BAIK – Berbudaya Anak Indonesia dengan Kebaya.

    Sesi menari Zapin Melayu ini menuai beragam komentar positif kepada Tantri Wu selaku Guru Tari Inhouse Penari Penjaga Negeri yaitu hampir semua peserta mengatakan menunggu acara selanjutnya.

    Para peserta merasa bahagia bisa mengikuti acara “Nusantara Memanggil Untuk Menari Part 2” bertemu rekan sefrekwensi tetap mendapatkan ilmu bermanfaat, bisa mendapatkan pembandingan antara tari Zapin di Indonesia dengan Singapura.

    Reporter: Heni Widodowati

  • Mengenal Warisan Budaya Takbenda Asal Indonesia: Gamelan

    Mengenal Warisan Budaya Takbenda Asal Indonesia: Gamelan

    7cloud.asia – Pada 15 Desember 2021, atau tepat tiga tahun lalu UNESCO memasukkan Gamelan ke dalam daftar Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Takbenda (WBTB) UNESCO.

    Gamelan merupakan Warisan Budaya Takbenda Dunia dari Indonesia yang ke-12. Sebelumnya, Indonesia juga telah berhasil mencatatkan 11 Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO.

    Warisan budaya itu antara lain, Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Pendidikan dan Pelatihan Membatik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), Noken (2012), Tiga Genre Tari Bali (2015), Kapal Pinisi (2017), Tradisi Pencak Silat (2019), dan Pantun (2020).

    Melansir kemendikbud.id, gamelan adalah alat musik tradisional yang sering ditemui di berbagai daerah di Indonesia, seperti misalnya di Jawa, Bali, Madura, dan Lombok.

    Istilah gamelan Jawa mengacu secara umum kepada gamelan di Jawa Tengah. Nama gamelan berasal dari dua suku kata “gamel” dan “an”. Adapun Gamel dalam bahasa Jawa berarti memukul atau menabuh, sedangkan an dalam bahasa Jawa berarti kata benda.

    Jadi gamelan merupakan suatu aktivitas menabuh yang dilakukan oleh orang zaman dahulu yang kemudian menjadi nama alat musik ansambel.

    Baca: Perjuangan di Balik Penetapan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

    Gamelan diperkirakan sudah ada di Jawa sejak tahun 404 Masehi. Hal tersebut terlihat dari adanya penggambaran masa lalu di relief Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

    Gamelan tidak hanya dimainkan untuk pertunjukan seni, tetapi juga dalam berbagai kegiatan tradisional dan ritual keagamaan.

    UNESCO mencatat nilai filosofi Gamelan sebagai salah satu sarana ekspresi budaya dan membangun koneksi antara manusia dengan semesta.

    UNESCO juga mengakui bahwa Gamelan, yang dimainkan secara orkestra, mengajarkan nilai-nilai saling menghormati, mencintai, dan peduli satu sama lain.

    Gamelan telah lama dimanfaatkan sebagai aset diplomasi. Ia berkomitmen untuk terus mempromosikan Gamelan melalui berbagai aktivitas seperti pembelajaran Gamelan untuk masyarakat asing dan pertukaran budaya.

    Apa itu gamelan.
    Melansir wikipedia.com, Gamelan Jawa adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Musik yang tercipta pada Gamelan Jawa berasal dari paduan bunyi gong, kenong dan alat musik Jawa lainnya.

    Baca: Jamu Segera Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO

    Irama musik gamelan umumnya lembut dan mencerminkan keselarasan hidup, sebagaimana prinsip hidup yang dianut pada umumnya oleh masyarakat Jawa.

    Pada awalnya, gamelan hanya terdiri atas satu buah gong besar saja, kemudian lama-kelamaan ditambah dengan gong-gong yang ukurannya lebih besar dengan berbagai macam bentuk termasuk seperti apa yang bisa kita lihat sekarang ini.

    Menurut kepercayaan orang Jawa, gamelan diciptakan oleh dewa yang menguasai daratan Jawa yaitu Sang Hyang Guru yang mendiami Gunung Mahendra atau saat ini lebih terkenal dengan sebutan Gunung Lawu.

    Jadi pada zaman dahulu gamelan tersebut dibuat dan digunakan untuk berkomunikasi dan untuk memanggil dewa-dewa lainnya. Akan tetapi agar bisa menyampaikan pesan yang lebih khusus akhirnya dibuatlah dua macam gong yang menjadi cikal bakal gamelan secara umum seperti saat ini.

    Gamelan sendiri termasuk dalam jenis musik ansambel yang dimainkan secara bersama-sama dengan alat musik lain untuk menciptakan alunan suara yang merdu.

    Seperangkat gamelan Jawa umumnya terdiri kendang, bonang, bonang penerus, demung, saron, siter, dan slenthem.

    Baca: Upaya menghidupkan relief Candi Borobudur dalam keseharian

    Berikut penjelasan dan peran masing-masing alat musik dari perangkat gamelan

    Kendhang
    Kendhang berfungsi untuk mengatur tempo dalam permainan gamelan dan perannya paling utama.

    Bonang & Bonang Panerus
    Bonang Barung adalah salah satu instrumen pemimpin, perannya lebih penting daripada Bonang Panerus. Bonang Panerus dimainkan dua kali lebih cepat dari Bonang Barung

    Demung
    Sebagai balungan / kerangka dari suatu gendhing yang dimainkan. Merupakan instrument melodi dasar sehingga pemainnya harus punya insting kuat.

    Saron
    Saron termasuk dalam keluarga balungan yang menghasilkan nada 1 oktaf lebih tinggi dari demung. Satu set gamelan memiliki empat buah saron.

    Teknik khusus: tangan kanan menabuh nada selanjutnya, tangan kiri menyentuh nada sebelumnya untuk menghapus sisa dengungan

    Peking
    Lebih penting daripada engkuk meski engkuk dimainkan 2X lebih cepat daripada

    Baca: Mengenal uniknya Tradisi Seba masyarakat Badui

    Kenong dan Kethuk
    Semacam Gong, tetapi ukurannya lebih kecil daripada gong dan lebih besar daripada bonang. Dimainkan dengan tongkat berlapis

    Slenthem
    Semacam Demung, tetapi lebih tipis dan mempunyai satu oktaf dibawah Demung. Dimainkan dengan tongkat bundar berbalut kain

    Gambang
    Terdiri atas 18 bilah kayu yang diletakkan pada sebuah resonator berbentuk perahu. Memiliki tangga nada yang mencakup nada mayor dan minor yang dimainkan dengan dua alat pemukul.

    Rebab
    Termasuk alat musik gesek yang terbuat dari bahan kayu. Berfungsi mengiringi sinden dalam bernyanyi

    Siter
    Umumnya siter berukuran 30 cm dengan jumlah senar 11/13, yang Memiliki senar yang disetel untuk nada selendro dan pelog. Menghasilkan bunyi yang khas.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Upaya Indonesia Golkan Jalur Rempah Menjadi Warisan Budaya Dunia

    Upaya Indonesia Golkan Jalur Rempah Menjadi Warisan Budaya Dunia

    7cloud.asia – Indonesia saat ini sedang berupaya memperjuangkan Jalur Rempah untuk diakui sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO.

    Pengajuan Jalur Rempah ini membutuhkan data ilmiah yang kuat mengenai kondisi rempah dan sejarah perdagangan rempah untuk memperkuat posisi Indonesia di hadapan UNESCO.

    Untuk memperkuat pengakuan Jalur Rempah jadi warisan budaya dunia, Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN) berkolaborasi dengan Yayasan Negeri Rempah (YNR). Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama BRIN dan YKN berlangsung Kamis, (30/1/2025).

    “Kerja sama ini bertujuan memperkuat kapasitas produksi rempah Indonesia dan menghasilkan data ilmiah yang mendukung pengusulan ‘Jalur Rempah’ sebagai warisan dunia oleh UNESCO,” kata Kepala Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN Asep Hidayat, dikutip dari bringo.id

    Selain itu, tambah Asep, kerja sama ini juga akan memberikan rekomendasi untuk perbaikan produksi rempah guna memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen rempah utama dunia.

    Saat ini, produktivitas rempah Indonesia menghadapi berbagai kendala, seperti pohon rempah yang sudah tua, kurangnya pengetahuan tentang budi daya, serta pengelolaan pascapanen yang belum optimal.

    Baca: Upaya menghidupkan kembali Jalur Rempah Nusantara

    Oleh karena itu, butuh kolaborasi antara produsen, pemerintah, swasta, dan lembaga terkait untuk meningkatkan kualitas dan produksi rempah, terutama komoditas unggulan Indonesia yang memiliki potensi ekspor besar.

    “Kolaborasi ini menjadi momentum penting bagi kita semua. Tantangan penelitian semakin besar, dan kita tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan sinergi kuat untuk mencapai hasil maksimal,” ujar Asep.

    Dia juga mengapresiasi upaya pengusulan Jalur Rempah sebagai warisan dunia dan menegaskan bahwa BRIN akan terus mendukung langkah ini.

    “Perjuangan ini tidak mudah, tetapi rempah Indonesia memiliki nilai luar biasa yang harus kita lestarikan. Kolaborasi yang solid sangat diperlukan untuk mencapai tujuan ini,” katanya.

    Asep menekankan pentingnya fokus dalam setiap tahapan kerja sama agar hasilnya optimal.

    “Setelah PKS ini disepakati, kami akan segera menyusun rencana aksi untuk tahun 2025, termasuk tahapan, pendanaan, serta pembagian tugas yang jelas,” tambahnya.

    Baca: UNESCO akui jamu sebagai Warisan Budaya Dunia

    Dewi Kumoratih dari Yayasan Negeri Rempah menyampaikan, kerja sama ini memberikan nilai positif yang sangat besar.

    YNR hadir sebagai organisasi yang berkomitmen untuk mengangkat keberagaman Indonesia melalui rempah.

    Sejak 2019, YNR telah menyelenggarakan International Forum on Spice Route (IFSR) yang membahas tantangan sektor rempah serta menciptakan peluang baru bagi seluruh pelaku di rantai pasok rempah.

    YNR memiliki misi untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar rempah global, memperkenalkan inovasi, dan memberdayakan generasi muda yang tertarik pada industri rempah.

  • Upaya Merawat Pantun Sebagai Warisan Budaya TakBenda di Era Digital

    Upaya Merawat Pantun Sebagai Warisan Budaya TakBenda di Era Digital

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya mempertahankan eksistensi tradisi lisan Indonesia, seperti pantun sebagai warisan budaya tak benda melalui pemanfaatan teknologi digital.

    Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN Herry Yogaswara menegaskan pihaknya tidak hanya berperan dalam penelitian akademik, tetapi juga dalam mendukung pelestarian warisan budaya dengan cara-cara inovatif.

    “Sebagaimana kita ketahui, pantun merupakan bentuk sastra lisan yang tua, warisan budaya yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda (dan diperingati) pada 20 Desember,” katanya dalam seminar internasional bertajuk “Pantun Nusantara: Strategi Kultural Merawat Warisan di Era Digital” di Jakarta, Senin (10/2/2025)

    Herry menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pendokumentasian dan digitalisasi pantun agar tetap relevan pada era modern.

    “Ke depannya, sesuai dengan tema seminar ini, maka kerja kolaboratif dengan unit kerja lain di BRIN, seperti misalnya dengan organisasi riset elektronik dan informatika (dilakukan) untuk melakukan pendokumentasian, pembuatan data raya dan korpus dapat dilakukan,” ucapnya.

    Baca: Perjuangan di balik penetapan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

    Terkait hal tersebut, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Mukhlis Paeni juga menyoroti pentingnya mempertahankan relevansi pantun pada era digital.

    Ia menekankan pantun bukan hanya bagian dari tradisi, tetapi juga alat untuk memperkokoh karakter bangsa.

    “Hari ini kita berkumpul di sini tidak sekadar hanya mengelu-elukan penetapan pantun sebagai warisan budaya dunia. Tetapi lebih dari itu, kehadiran kita semua di sini adalah dengan penuh kesadaran untuk mencari dan menemukan jalan bagaimana pantun dapat senantiasa aktual dalam menjalankan peran dan fungsi utamanya sebagai penjaga marwah dan jati diri bangsa,” ujar Mukhlis.

    Menteri Kebudayaan, Fadli Zon juga menyatakan komitmen pihaknya untuk menjaga kelestarian pantun sebagai warisan budaya tak benda seperti pantun.

    Sosialisasi yang diperkuat dengan menggandeng berbagai pihak misalnya asosiasi dan komunitas terus didorong untuk menjaga kelestarian pantun sebagai warisan budaya.

    Menurutnya, pantun merupakan cerminan kebijaksanaan lokal yang sarat akan pesan moral, sehingga hal ini menjadi tugas bersama berbagai lapisan masyarakat untuk memastikan keberlanjutan.

    Baca: Bahasa daerah di Indonesia terancam kelestariannya

    Dalam berbagai kegiatan yang kini turut disertasi ekspresi dengan menghadirkan pantun, menurutnya kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran dari banyak pihak soal kekayaan tradisi yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada 2020 lalu.

    Sementara agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, tradisi lisan ini dapat dilestarikan melalui pemanfaatan teknologi digital.

    Misalnya pembuatan pantun melalui AI hingga memperkenalkan pantun dalam media sosial dan aplikasi digital lainnya.

    “Karena era digital in menawarkan berbagai platform untuk memperkenalkan pantun di generasi muda termasuk media sosial yang tidak terbatas kita punya media sosial yang cukup banyak pilihannya dan ini menjadi kehidupan sehari-hari,” katanya.

    Mempertahankan pantun dalam bentuk tradisional menurutnya menjadi hal yang penting, namun demikian juga perlu mengonversi budaya tradisional secara modern agar mudah disentuh lapisan masyarakat.

  • Dampak Revitalisasi Kota Yogyakarta Setelah Sumbu Filosofi Diakui sebagai Warisan Budaya

    Dampak Revitalisasi Kota Yogyakarta Setelah Sumbu Filosofi Diakui sebagai Warisan Budaya

    7cloud.asia – Sejak Sumbu Filosofi Yogyakarta—garis imajiner yang menghubungkan Tugu Jogja, Keraton Yogyakarta, dan Panggung Krapyak—resmi ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada 18 September 2023, Kota Yogyakarta terus berbenah.

    Upaya untuk menghidupkan (revitalisasi) dan memperindah (beautifikasi) kawasan tersebut dilakukan secara masif.

    Langkah ini dimulai dari penutupan Alun-Alun Utara untuk kegiatan publik lantaran dinilai tidak sesuai dengan fungsi awalnya dalam sejarah, relokasi pedagang di Jalan Malioboro, hingga penggusuran bangunan di sepanjang Benteng Keraton.

    Pemerintah Kota Yogyakarta mengambil langkah-langkah tersebut untuk mengikuti rekomendasi UNESCO dalam menjaga nilai-nilai universal luar biasa atau universal outstanding value (UOV).

    UOV merupakan standar utama yang digunakan UNESCO untuk menentukan apakah suatu peninggalan sejarah dapat ditetapkan sebagai warisan budaya atau tidak.

    Standar ini memiliki arti bahwa budaya atau lanskap alam tertentu memiliki nilai yang penting untuk umat manusia dan generasi mendatang. Penetapannya didasarkan pada kriteria yang tertulis dalam operational guidelines.

    Baca: UNESCO akui sumbu filosofi Yogyakarta jadi Warisan Dunia

    Sayangnya, upaya untuk memenuhi kriteria tersebut kerap mengubah dinamika kawasan warisan budaya dan menjauhkan penduduk dan ruang hidup mereka.

    Relokasi pedagang kaki lima dari jalan Malioboro ke Teras Malioboro, misalnya, mengubah karakter jalan ini dari karakter semula sebagai ruang sosial dan ekonomi kecil sehingga berdampak negatif bagi pedagang.

    Pemerintah tampaknya gencar ingin “mengembalikan” kota ini ke bentuk yang lebih seragam dan cocok dengan citra sejarah atau standar estetika tertentu.

    Padahal, keberadaan penduduk di kawasan warisan budaya serta interaksi mereka dengan ruang tersebut adalah bagian integral dari lanskap budaya yang telah berkembang selama bertahun-tahun.

    Konteks warisan budaya Asia berbeda dari Barat
    Ide untuk menjaga orisinalitas warisan budaya pada dasarnya kental dengan hegemoni pemikiran Barat.

    Di sana, warisan budaya lebih sering diasosiasikan dengan karya seni yang memiliki nilai estetika dan sejarah, sehingga dirawat dengan sangat baik agar tidak rusak demi menjaga nilai autentiknya.

    Baca: Jalan Malioboro ditataulang sesuai posisinya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    Misalnya, patung-patung peninggalan sejarah di Roma atau lukisan Mona Lisa yang disimpan di Museum Louvre dijaga dengan perlindungan ketat.

    Namun, konsep ini tidak sepenuhnya bisa diterapkan ke semua warisan budaya. Di berbagai wilayah, beberapa peninggalan bersejarah bukan hanya sebatas koleksi, tapi lebih jauh dianggap sebagai bagian dari kehidupan sosial bahkan spiritual masyarakat.

    Candi di negara-negara Asia, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai monumen, tetapi juga bagian dari kehidupan spiritual masyarakat dan digunakan sebagai tempat ibadah.

    Sehingga, metode perlindungan seperti membatasi akses bagi umat justru bisa memutus hubungan antara masyarakat dan warisan budaya mereka.

    Artinya, cara perlindungan nilai UOV dan orisinalitas warisan budaya harus disesuaikan dengan konteks spesifik setiap warisan budaya.

    Model-model pelestarian warisan budaya yang berasal dari Barat tidak bisa diadaptasi sepenuhnya karena kondisi dan pemahaman terhadap warisan budaya di masing-masing wilayah, terutama di Asia, memiliki perbedaan yang signifikan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Bagas Aditya (Research assistant, Universitas Gadjah Mada)

  • Tempe Resmi Diajukan Menjadi Warisan Budaya Takbenda Dunia

    Tempe Resmi Diajukan Menjadi Warisan Budaya Takbenda Dunia

    7cloud.asia – Kementerian Kebudayaan secara resmi mengajukan tempe, Teater Mak Yong dan Jaranan sebagai Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan kepada badan PBB untuk kebudayaan UNESCO.

    Pengajuan tempe menjadi warisan budaya dunia ini merupakan bentuk komitmen Indonesia untuk menjaga warisan budaya takbenda.

    Indonesia telah meratifikasi Konvensi 2003 untuk menjaga warisan budaya takbenda dan terus secara aktif mendaftarkan berbagai elemen tradisi budaya dalam daftar Intangible Cultural Heritage UNESCO.

    “Kami percaya bahwa pengakuan internasional bukanlah tujuan akhir, tetapi cara untuk memastikan bahwa tradisi ini dilestarikan, dirayakan, dan diwariskan,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Minggu.

    Pengajuan tempe sebagai warisan budaya takbenda, kata Menbud Fadli Zon, adalah langkah besar mendukung tempe sebagai bagian dari identitas budaya nasional yang memiliki dampak luas.

    Kata “tempe” telah disebut pada naskah sastra Jawa dari abad ke-19 Serat Centhini, yang menceritakan kehidupan masyarakat Jawa abad 16. Dokumentasi tersebut menunjukkan bahwa tempe telah dikonsumsi masyarakat sejak berabad-abad lalu.

    Baca: Alasan tempe diajukan menjadi warisan budaya takbenda dunia

    Tempe, kata sang menteri, bukan sekedar makanan sehari-hari masyarakat Indonesia, tapi, juga sebuah pengetahuan, budaya dan teknologi pangan tradisional yang terus hidup dan berkembang.

    “Masuknya Budaya Tempe dalam daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO akan semakin memperkuat tempe sebagai warisan budaya yang harus dijaga, sekaligus mendorong kesadaran global akan nilai budaya, manfaat gizi dan kesehatan, serta keberlanjutannya,” kata Fadli Zon.

    Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Dr. Bondan Kanumoyoso mengatakan, tempe merupakan warisan budaya yang dihasilkan dari kearifan masyarakat Indonesia, sehingga upaya Kementerian Kebudayaan mengajukan tempe sebagai warisan budaya tak benda UNESCO merupakan langkah tepat.

    “Tempe merupakan warisan budaya yang dihasilkan dari kearifan masyarakat Indonesia,” ujar Bondan dikutip Antaranews.com, Selasa (18/3/2025)

    Makanan hasil fermentasi kedelai ini menurut dia menjadi warisan yang istimewa karena selain menjadi bagian dari menu sehari-hari juga merupakan sumber protein yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

    Makanan ini juga dapat diolah menjadi berbagai menu makanan sehingga sangat mungkin untuk ditawarkan kepada masyarakat dunia sebagai upaya mempromosikan warisan budaya Indonesia ke kancah global.

    Baca: Tempe dicanangkan menjadi pangan generasi emas Indonesia

    Sebagaimana diketahui, Menteri Kebudayaan Fadli Zon berencana untuk mendaftarkan tempe ke UNESCO sebagai warisan budaya takbenda, menyusul jamu yang telah terlebih dahulu masuk dalam daftar UNESCO pada 2023.

    Menurut dia kuliner merupakan bagian dari ekspresi budaya, bagian dari tradisi lokal yang diwariskan secara turun temurun

    “Kuliner tradisional kita adalah bagian dari warisan budaya tak benda termasuk gastronomi, contohnya rendang yang memiliki 24 jenis berbeda di berbagai daerah. Tahun ini pemerintah akan mendaftarkan tempe ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda,” ujar Menbud.

    Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa pangan lokal merupakan bagian penting dari pemajuan kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017. Ia menegaskan bahwa budaya pangan erat kaitannya dengan nilai luhur tradisi dan sektor pertanian.

    “Baik itu tanaman padi, jagung, palawija, dan lainnya, semuanya memiliki tradisi, upacara, ritual, serta doa-doa tertentu yang diwariskan turun-temurun,” katanya.

    Ia menambahkan, subak di Bali juga merupakan bagian warisan budaya pangan Nusantara. Sistem pengairan sawah tersebut sudah diakui sebagai bagian dari warisan budaya dunia.

    Baca: UNESCO akui jamu menjadi warisan budaya dunia