Blog

  • Cuaca Hari Ini: Jakarta dan Sejumlah Kota Masih Berpotensi Hujan Sangat Lebat, Status Siaga

    Cuaca Hari Ini: Jakarta dan Sejumlah Kota Masih Berpotensi Hujan Sangat Lebat, Status Siaga

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi Jakarta Selatan dan Jakarta Timur serta sejumlah kota masih berpotensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat pada Minggu (24/05/2026). Status “Siaga”.

    Melalui akun instagram (IG) resmi BMKG, selain Jakarta hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat dengan status “Siaga” juga berpotensi mengguyur Kepulauan Mentawai, Kepulauan Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Selatan, Kabupaten Lebak, Kabupaten Bogor.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula mengguyur Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya.

    Selain itu, status “Siaga” juga berlaku di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Sitaro, Kepulauan Sangihe, Kabupaten Buol, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Tojo Una-una, Kabupaten Mamuju, Kabupaten Mamuju Tengah, Kabupaten Bone, Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Tengah.

    Kabupaten Deiyai, Dogiyai, Intan Jaya, Mimika, Nabire, Kabupaten Nduga, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Pegunungan Bintang juga berpotensi hujan lebat hingga sangat lebat dan berstatus “Siaga”.

     

  • Komisi X DPR: Tata Kelola Subsidi Jadi Tantangan Energi Nasional

    Komisi X DPR: Tata Kelola Subsidi Jadi Tantangan Energi Nasional

    7cloud.asia – Tantangan utama distribusi energi nasional saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pasokan, tetapi juga memastikan subsidi energi tepat sasaran dan bebas dari kebocoran.

    Persoalan tata kelola subsidi energi itu menjadi sorotan Wakil Ketua Komisi XI DPR, M. Hanif Dhakiri dalam kunjungan kerja spesifik Komisi XI DPR ke Fuel Terminal Boyolali milik PT Pertamina Patra Niaga, Jumat (22/5/2026)..

    Hanif menjelaskan, kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka pengawasan terhadap implementasi penugasan Public Service Obligation (PSO) yang dijalankan PT Pertamina Patra Niaga.

    “Hari ini Komisi XI DPR melakukan kunjungan kerja spesifik ke Depo Fuel Boyolali yang dimiliki oleh PT Pertamina Patra Niaga dalam rangka pengawasan terkait dengan implementasi dari penugasan PSO di PT Pertamina Patra Niaga,” ujarnya dikutip Parlementaria.

    Baca: Harga BBM Bersubsidi Belum Akan Naik

    Secara umum, Komisi XI mengapresiasi kesiapan PT Pertamina Patra Niaga dalam menjaga pasokan energi menjelang Hari Raya Iduladha.

    Namun demikian, Hanif menegaskan masih terdapat persoalan serius terkait tata kelola subsidi energi, khususnya pada distribusi biosolar dan LPG 3 kilogram.

    “Namun kami juga menekankan bahwa tantangan hari ini bukan semata pada pasokan, bukan semata pada ketersediaan stok, tetapi juga tata kelola dari subsidi energi,” katanya.

    Hanif mengungkapkan data yang dipaparkan dalam kunjungan tersebut menunjukkan realisasi distribusi biosolar dan LPG 3 kilogram telah melampaui kuota tahun berjalan (year to date).

    Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikasi masih adanya kebocoran dan penyaluran subsidi yang tidak tepat sasaran.

    Baca: DPR Minta Menkeu Transparan Soal Kondisi Fiskal

    Data yang dipaparkan menunjukkan biosolar misalnya sudah mencapai 100,1 persen dari kuota year to date, sementara LPG 3 kilogram bahkan sudah sampai 109,18 persen.

    “Ini artinya menjadi alarm bahwa kebocoran dan salah sasaran subsidi masih menjadi persoalan yang serius,” jelasnya.

    Ia juga mencatat PT Pertamina Patra Niaga telah melakukan digitalisasi pengawasan distribusi energi, termasuk melalui penggunaan QR Code dan integrasi data.

    Meski demikian, Hanif menilai langkah tersebut belum sepenuhnya mampu menutup potensi pelanggaran distribusi subsidi energi.

    “Pertamina sendiri juga masih mengakui tingginya pelanggaran penyaluran yang tidak sesuai dengan peruntukan. Ini berarti yang dibutuhkan sekarang ini bukan sekadar instrumen, tetapi efektivitas pengendalian yang benar-benar bisa menutup ruang fraud dan memastikan subsidi itu sampai kepada sasaran secara tepat,” tegasnya.

  • PN Jakarta Selatan Putuskan PLN Harus Buka Data Emisi PLTU

    PN Jakarta Selatan Putuskan PLN Harus Buka Data Emisi PLTU

    7cloud.asia – Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan lewat Putusan nomor 1371/Pdt.Sus-KIP/2025/PN JKT.SEL, majelis hakim pada 13 April lalu memerintahkan PLN tergugat untuk membuka data emisi yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Indonesia kepada publik secara komprehensif dan terbuka seluas-luasnya.

    Keputusan ini menjadi salah satu kemenangan dari upaya panjang masyarakat sipil memperjuangkan hak atas informasi lingkungan.

    Berdasarkan putusan pengadilan, PLN selaku pihak tergugat diwajibkan untuk membuka semua informasi terkait selambat-lambatnya satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap.

    Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace, Bondan Andriyanu mengajak semua pihak untuk memastikan pihak tergugat mengimplementasikan seluruh hasil putusan tersebut sebagai pemenuhan kebutuhan publik.

    “Kita semua harus mengawal bersama pelaksanaan putusan ini agar tidak berhenti di atas kertas. Keterbukaan data harus benar-benar diwujudkan, bukan sekadar formalitas,” tegas  Bondan dalam pernyataan resmi Greenpeace.

    Jauh sebelum ini, keterbukaan data emisi sudah dituntut sejak 2023 oleh Greenpeace Indonesia bersama LBH Pers dan AMAR secara langsung kepada PLN hingga melalui proses mediasi Keterbukaan Informasi Publik (KIP).

    Baca: Pensiun Dini PLTU Batu Bara Berdampak Positif Bagi Perekonomian Nasional

    Namun, publik harus menunggu dua tahun lamanya agar hasil putusan KIP nomor 155 pada September 2025 memperlihatkan keterbukaan informasi publik itu sendiri dibatasi karena tersandung dua alasan: rahasia dagang dan kepentingan ‘negara’.

    Karena kebutuhan publik yang tidak dijawab sepenuhnya oleh KIP, Greenpeace meneruskan perjuangan dengan mengajukan keberatan atas putusan KIP nomor 155 tersebut untuk memastikan keselamatan lingkungan dari dampak buruk emisi PLTU.

    Dalam laporan “Internalisasi Dampak dan Biaya Kesehatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara di Indonesia” yang kami rilis 2016, misalnya, taksiran biaya kesehatan tahunan akibat polusi PLTU batubara mencapai Rp 351 triliun.

    Belum lagi kerugian lain yang ditanggung masyarakat seperti masalah kesehatan pernapasan hingga penurunan produktivitas.

    Laporan terbaru “Toxic 20” (2025) juga menekankan adanya potensi 156 ribu kematian dini pada 2026-2050 dari beroperasinya 20 PLTU batubara paling beracun di Indonesia.

    PN Jakarta Selatan pada akhirnya mengabulkan keberatan tersebut dan mewajibkan PLN sebagaimana tanggungjawabnya kepada publik untuk membuka berbagai dokumen penting berkaitan dengan aktivitas PLTU.

    Baca: Transisi Menuju Energi Bersih dan Pensiun Dini 13 PLTU Batubara di Indonesia

    Informasi ini mulai dari peta jalan implementasi standar emisi PLTU, laporan pemantauan emisi sebelum dan sesudah tahun 2019, serta tidak terkecuali dokumen izin dan persetujuan lingkungan terbaru/perubahannya.

    Sebelumnya, semua informasi tersebut sulit diakses oleh publik. Padahal, polusi yang dihasilkan PLTU tidak main-main terhadap keselamatan lingkungan sekaligus kesehatan masyarakat.

    Bersamaan dengan ini, Juru Kampanye Iklim dan Energi Bondan Andriyanu menegaskan bahwa data emisi merupakan alat dalam memastikan tanggung jawab dari pihak yang terlibat.

    “Keterbukaan data emisi adalah prasyarat utama untuk memastikan akuntabilitas dalam sektor energi. Tanpa transparansi, kita sebagai publik tidak bisa menilai apakah PLTU itu benar-benar mematuhi standar lingkungan atau tidak,” tuturnya.

    Putusan pengadilan juga dapat menambah amunisi masyarakat menuntut klaim pemerintah Indonesia yang mengaku sedang menjalankan transisi energi dalam merespon krisis iklim yang semakin mengancam keberlangsungan hidup.

    Ditambah saat ini pemerintah gencar menjual narasi PLTU ‘bersih’ yang telah sedemikian rupa dikelola oleh teknologi dan regulasi yang dianggap dapat menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan.

    Namun, klaim tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan selama tidak ada mekanisme pembuktian yang jelas.

    Baca: Target Energi Bersih Indonesia Belum Selaras Perjanjian Paris

     

  • Mengenal Kuda Laut yang Menjadi Indikator Kesehatan Ekosistem Laut

    Mengenal Kuda Laut yang Menjadi Indikator Kesehatan Ekosistem Laut

    7cloud.asia – Keberadaan kuda laut (Hippocampus) punya peran penting dalam lingkungan, yakni sebagai indikator kesehatan ekosistem laut.

    Keberadaan kuda laut di wilayah lamun, bakau, maupun terumbu karang menunjukkan kondisi lingkungan yang masih baik dan mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.

    Hal ini disampaikan Kepala Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Decky Indrawan Junaedi, dalam Lokakarya bertajuk “Perspektif Masyarakat Pesisir dalam Mendukung Keberlanjutan Kuda Laut di Perikanan Indonesia”, di Jakarta, Senin (18/5/2025).

    Menurutnya, menurunnya populasi kuda laut dapat menjadi penanda adanya degradasi lingkungan pesisir yang berpotensi memengaruhi stok ikan dan keberlanjutan perikanan masyarakat.

    “Dengan kita mengonservasi kuda laut – mengonservasi artinya menjaga, kita melindungi, jangan sampai dia punah, itu sebetulnya secara tidak langsung kita menjaga lingkungannya, termasuk menjaga ikan-ikan yang di sana tetap bisa beranak-pinak,” jelasnya seperti dikutip brin.go.id

    Karena itu, ia menegaskan pentingnya pelibatan masyarakat pesisir dalam mendukung keberlanjutan kuda laut.

    Baca: Ancaman terhadap Spesies Kuda Laut: Mulai Perdagangan Bebas hingga Kerusakan Habitat

    “Bila si kuda laut ini masih ada, Ibu dan Bapak, ini berarti kondisi lingkungan tempat tinggalnya masih membuat dia betah tinggal di sana, karena memang kondisinya masih baik,” kata Decky.

    Sementara itu, perwakilan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Risris Sudarisman, menjelaskan, kuda laut termasuk spesies yang masuk Appendix II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

    Sehingga, perdagangan internasional harus diatur agar populasinya di alam tetap terjaga.

    Ia menggarisbawahi, konservasi tidak hanya berbicara mengenai perlindungan, tetapi juga pengaturan pemanfaatan yang berkelanjutan agar manfaat sumber daya laut tetap dapat dirasakan generasi mendatang.

    Decky menyampaikan, isu maritim, termasuk konservasi dan perikanan, menjadi salah satu agenda riset utama BRIN.

    Menurutnya, BRIN terus aktif mendukung kebutuhan penelitian yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya laut melalui kerja sama dengan kementerian, pemerintah daerah, maupun organisasi nonpemerintah.

    Baca: Ekosistem Lamun Indonesia Mampu Serap Sepersepuluh Emisi Karbon Nasional

    Kegiatan ini mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi nelayan, dan mitra internasional untuk mendiskusikan kondisi ekosistem pesisir, konservasi kuda laut, serta keberlanjutan perikanan Indonesia.

    Lokakarya tersebut diselenggarakan oleh Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), BRIN, dan Project Seahorse University of British Columbia sebagai ruang dialog antara temuan ilmiah dan pengalaman masyarakat pesisir terkait konservasi dan pengelolaan kuda laut.

    Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat KNTI, Sugeng Nugroho, mengungkapkan, laut bagi nelayan bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi juga ruang budaya yang harus dijaga keberlanjutannya.

    Ia menilai konservasi kuda laut perlu dilakukan secara luas dengan melibatkan masyarakat pesisir dan nelayan tradisional sebagai penjaga ekosistem laut.

    “Laut bagi nelayan bukan sekadar ruang ekonomi, bukan sekadar ruang produksi, tapi laut bagi nelayan merupakan ruang kebudayaan yang harus terus-menerus kita jaga kelestariannya,” ungkapnya.

    Sugeng menyoroti berbagai ancaman terhadap ekosistem laut, mulai dari eksploitasi sumber daya yang berlebihan hingga penggunaan alat tangkap destruktif yang merusak habitat pesisir seperti terumbu karang dan padang lamun.

    Baca: Lima Cara Ekosistem Lamun Menjaga Keanekaragaman Hayati

    “Kegiatan konservasi ini harus dilakukan dalam pengertian luas. Artinya, harus melibatkan para nelayan, karena kita tahu bahwa nelayan tradisional bukan hanya seorang nelayan, juga penjaga laut,” tegasnya.

    Perwakilan Project Seahorse, Jana McPerson, mengatakan, kerja sama internasional tersebut bertujuan mendorong konservasi laut melalui pendekatan berbasis spesies kuda laut.

    Selain itu juga meningkatkan kesadaran terhadap ancaman terhadap ekosistem laut dan masyarakat pesisir.

    “Tujuan saya di Project Seahorse adalah mendorong negara dan komunitas di seluruh dunia untuk mendesain dan mengimplementasikan tindakan untuk melindungi spesies kuda laut, dan memastikan eksplorasi mereka, jika ada, bisa bertahan selama jangka panjang,” ujar Jana.

    Ia mengapresiasi kehadiran para peserta dari berbagai daerah dan berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bertukar gagasan mengenai pengelolaan kuda laut yang lebih berkelanjutan.

    “Saya tahu ini tidak selalu mudah. Kita akan menghabiskan waktu untuk mengetahui lebih banyak tentang kuda laut Indonesia dan mencari ide untuk membuatnya lebih berkelanjutan,” katanya.

  • Bantuan Minim, Kelaparan Kembali Membayangi Gaza

    Bantuan Minim, Kelaparan Kembali Membayangi Gaza

    7cloud.asia – Menurunnya bantuan makanan berpotensi memicu kelaparan dan bencana kemanusiaan di sejumlah kamp pengungsi di Gaza City.

    Salah satu dapur umum yang masih beroperasi di Gaza berafiliasi dengan World Central Kitchen (WCK), salah satu organisasi nirlaba kemanusiaan terbesar di sana.

    Namun pada 14 Mei lalu, organisasi itu mengumumkan akan mengurangi jumlah makanan hingga setara dengan distribusi sebelum gencatan senjata akibat tekanan finansial yang terus meningkat.

    Sejak konflik Israel-Hamas pecah pada 2023, World Central Kitchen telah menghabiskan lebih dari setengah miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.685) untuk bantuan pangan di Gaza dan pada puncaknya mendistribusikan sekitar satu juta makanan hangat per hari.

    Organisasi yang terutama bergantung pada donasi pribadi itu menyerukan pemerintah dan mitra internasional agar menyediakan pendanaan yang lebih stabil.

    Baca: Komite Nasional Administrasi Gaza Mulai Bekerja Meski Ditentang Israel

    Pengurangan bantuan tersebut berdampak luas pada masyarakat yang sudah berada di ambang batas kemampuan bertahan hidup.

    Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/UNOCHA) bulan ini memperingatkan bahwa kekurangan dana telah menurunkan jumlah makanan harian yang disediakan dapur umum dari sekitar 1,8 juta porsi pada Februari menjadi sekitar 1 juta porsi saat ini.

    Akibatnya, satu dari lima keluarga kini hanya makan sekali sehari, dengan sebagian orang dewasa memilih tidak makan agar anak-anak mereka bisa makan

    Di Maghazi, Gaza tengah, Samah Hamad (37) mengatakan bahwa dia dan kedua anaknya kini sepenuhnya bergantung pada titik distribusi makanan di dekat tempat tinggal mereka. Suaminya tewas dalam konflik tersebut.

    “Dapur umum menyediakan satu kali makan sehari, dan kadang itu bahkan tidak cukup untuk seorang anak,” katanya sambil memegang wadah plastik yang baru diterimanya.

    Baca: Ada Upaya Sistematis Israel untuk Melemahkan Reproduksi Rakyat Palestina

    Menurut Hamad, makanan yang diberikan hampir selalu sama — kacang-kacangan dan lentil. “Saat ada nasi dan daging, itu terasa seperti momen langka bagi anak-anak.”

    Menurunnya bantuan pangan mencerminkan pembatasan yang lebih luas terhadap aliran bantuan ke Gaza.

    Ismail Thawabta, kepala kantor media pemerintah yang dikelola Hamas, mengatakan bahwa sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober tahun lalu, sekitar 48.600 truk telah memasuki Gaza dari total 131.400 truk yang diharapkan masuk.

    Pada pekan-pekan pertama Mei saja, katanya, hanya sekitar seperempat dari pengiriman bantuan yang diharapkan yang berhasil masuk.

    Thawabta menggambarkan pembatasan tersebut sebagai kebijakan yang disengaja dengan menggunakan makanan sebagai alat tekanan politik, yang melanggar hukum humaniter internasional.

    Dia juga mengatakan bahwa pembatasan terhadap sejumlah bahan pangan, termasuk daging dan produk beku, ditambah gangguan pasokan listrik dan bahan bakar yang dibutuhkan untuk penyimpanan dingin, telah memperburuk malanutrisi dan mendorong kenaikan harga.

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua  

  • Proyek Film Perempuan ”Desember Jani” Memotret Kehidupan Tiga Generasi Perempuan

    Proyek Film Perempuan ”Desember Jani” Memotret Kehidupan Tiga Generasi Perempuan

    7cloud.asia – Memperingati Hari Ibu, Palari Films mempersiapkan All Women Project, yakni film yang ditulis, diproduseri, disutradarai, dan diperankan oleh semuanya perempuan.

    Lewat film Desember Jani disutradarai oleh sutradara dan seniman visual Ariani Darmawan, sekaligus menjadikan film ini sebagai debut feature-nya.

    Naskah film ini ditulis oleh Cyntha Hariadi, novelis dan penyair pemenang penghargaan yang juga untuk pertama kalinya menulis naskah film.

    Sementara itu, Meiske Taurisia, menjadi produser di film ini, makin memperkuat jajaran suara perempuan dalam ceritanya. Meiske memproduseri film ini bersama Muhammad Zaidy.

    Film Desember Jani mengisahkan tentang tiga generasi perempuan dalam satu rumah
    yang hampir kehilangan cara untuk saling bicara, hingga yang paling muda, Jani (13 tahun), memilih menjadi jembatan yang menyambungkan kembali.

    Film ini mengangkat tema yang dekat dengan keseharian keluarga Indonesia: jarak
    emosional antargenerasi, cinta yang hadir dalam diam, dan keberanian untuk memulai kembali.

    Baca: Palari Films Bakal Bikin Projek Film Perempuan Lewat ”Desember Jani”

    Ariani Darmawan, sang sutradara mengungkapkan, Desember Jani adalah proyek yang luar biasa, bersama Palari Films, saya mengeksplorasi gagasan kreatif dengan lebih leluasa.

    ”Memanfaatkan Bandung sebagai sepenuhnya latar di film ini, yang juga punya nilai sentimental tersendiri untuk saya. Bersama jajaran pemeran perempuan di film ini kami meramu kisah yang akan menghangatkan menjelang akhir tahun nanti,” ujarnya.

    Film Desember Jani juga menggabungkan jajaran ansambel aktris yang unik dan kuat, berasal dari pemeran perempuan lintas generasi. Film ini dibintangi oleh Chempa Puteri, Sigi Wimala, Tutie Kirana, dan debut layar lebar Hyori Mika.

    “Ini adalah film pertama Palari Films yang sangat perempuan. Seluruh pembuatnya hingga pemerannya adalah perempuan, dengan cerita yang juga sangat dekat dengan perempuan, terutama untuk seorang ibu dan anak perempuan,” ujar produser Meiske Taurisia.

    Empat pemeran perempuan di film ini masing-masing membawa lapisan emosi yang berbeda. Tutie Kirana memerankan Oma, perempuan berusia 75 tahun yang mengungkapkan cinta lewat tindakan, bukan kata-kata.

    Sigi Wimala memerankan Winnie, seorang ibu yang menyimpan rasa bersalah yang tak pernah terucapkan. Hyori Mika memerankan Julia, anak yang pergi dan belum tahu cara pulang.

    Baca: Film ”Keluarga Suami Adalah Hama” Ungkap Hubungan yang Tidak Sehat Korbankan Perempuan

    Chempa Puteri memerankan Jani, anak 13 tahun yang melihat retaknya keluarga lebih jelas dari siapapun, dan memilih untuk menjadi yang pertama bergerak.

    Bagi aktris Sigi Wimala, yang cukup lama menepi dari layar lebar, bergabung dengan film Desember Jani seperti menemukan keluarga baru.

    “Kami diberi waktu untuk berkumpul bersama sebagai keluarga itu cukup lama. Jadi semuanya dibangun secara organik. Tanpa diburu-buru dan dipaksakan. Jadi pas kami syuting sudah sangat nyaman,” ujar Sigi Wimala.

    Desember Jani adalah film kesekian bagi Chempa Puteri, namun untuk pertama kalinya Chempa dipercaya sebagai pemeran utama.

    “Untuk persiapannya, aku latihan chemistry dengan Mama Sigi, Oma Tutie, Ibu Rani sebagai sutradara, dan Bu Dede sebagai produser. Aku belajar banyak dari orang-orang hebat di film ini dan mendapatkan ilmu yang berharga,” ujar Chempa Puteri.

    Sementara Hyori Mika yang memerankan Julia sebagai film panjang debutnya, mengaku senang dipercaya untuk memerankan karakter Julia di film ini. Julia adalah anak sulung yang memutuskan pergi dari rumah karena tidak didengar.

    Baca: Mengikis Pandangan Seksis dari Industri Film Nasional

    “Film ini jadi perjalanan awalku di dunia film, dan semoga karakterku juga bisa mewakili penonton yang merasakan keresahan sama tentang boundaries dan mereka yang lagi mencari jati diri,” ujar Hyori Mika.

    Tutie Kirana, legenda perfilman Indonesia yang telah mewarnai perfilman sejak era ‘70-an dan telah meraih 5 nominasi Piala Citra FFI, bergabung menjadi karakter yang menguatkan dinamika keluarga di film ini.

    Bagi Tutie, film ini adalah gambaran tentang perempuan-perempuan yang berdaya. Dia memerankan Oma Peggy, sosok yang sudah lanjut usia tapi masih bikin usaha lumpia. Sebagai perempuan memang harus berdaya, bahkan di saat sudah lanjut usia.

    ”Di film ini, bersama perempuan-perempuan yang sangat berdaya, menjadikan semuanya satu kesatuan di dalam ceritanya,” ujar Tutie Kirana.

    Desember Jani akan hadir di bioskop tepat menjelang Hari Ibu, 22 Desember 2026, sebuah momen yang terasa pas untuk sebuah film tentang perempuan, keluarga, dan cinta yang butuh waktu untuk menemukan suaranya.

  • Ekonom: Laporan The Economist Jadi Peringatan Serius Soal Kondisi Tata Kelola Pemerintahan

    Ekonom: Laporan The Economist Jadi Peringatan Serius Soal Kondisi Tata Kelola Pemerintahan

    7cloud.asia – Laporan The Economist yang terbit pertengahan Mei 2026: “Indonesia on a Risky Path” dan “Indonesia’s President is Jeopardizing the Economy and Democracy.” perlu dibaca sebagai peringatan serius mengenai kondisi tata kelola pemerintahan dan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

    Demikian kesimpulan yang ditarik oleh sejumlah ekonomi dalam diskusi bertajuk “Menakar Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?” di Gedung Trinity Universitas Paramadina, Jakarta.

    Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said mengatakan, isu utama yang diangkat media terkemuka asal Inggris tersebut berkaitan dengan ancaman terhadap ekonomi dan demokrasi Indonesia.

    Seperti diberitakan, The Economist lewat dua artikelnya menyoroti arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo, menyoroti risiko fiskal, pelemahan institusi, dan erosi demokrasi.

    Menurut Sudirman, persoalan yang paling mendasar adalah menurunnya kepercayaan publik akibat melemahnya integritas, meritokrasi, dan mekanisme pengawasan dalam pemerintahan.

    “Seluruh uraian dari The Economist dan akibat ikutannya baik di pasar politik maupun ekonomi ini adalah soal declining trust, soal gap yang melebar antara otoritas di satu sisi dengan legitimasi di sisi lain,” katanya.

    Ia menambahkan bahwa upaya utama yang perlu dilakukan saat ini adalah memulihkan kepercayaan masyarakat dan pelaku ekonomi melalui tata kelola yang lebih baik.

    “Semua pihak rasanya mesti bahu-membahu melakukan restoring confidence, membangun kembali trust,” ujarnya.

    Baca: The Economist Kembali Lontarkan Kritik Tajam ke Pemerintahan Prabowo-Gibran

    Dalam paparannya, ekonom Universitas Indonesia, Prof. Moh. Ikhsan, Ph.D., menilai Indonesia belum berada di tepi jurang krisis, tetapi ruang untuk menghindari risiko tersebut semakin menyempit.

    Ia mengingatkan bahwa sejumlah pola yang muncul saat ini memiliki kemiripan dengan gejala yang mendahului krisis ekonomi 1997–1998.

    “Indonesia belum di tepi jurang, tapi sejarah tidak sedang diam. Ia sedang berbisik dan bisikannya semakin keras,” katanya.

    Ikhsan menjelaskan bahwa pelemahan kredibilitas fiskal, toleransi terhadap pelanggaran aturan, melemahnya institusi independen, dan ekspansi fiskal tanpa disiplin pendapatan merupakan sinyal yang patut diwaspadai.

    Namun demikian, Indonesia masih memiliki sejumlah bantalan ekonomi yang membuat situasinya berbeda dengan kondisi menjelang krisis 1998.

    Ia juga menekankan pentingnya belajar dari pengalaman reformasi yang dilakukan oleh Presiden B. J. Habibie dan Megawati Soekarnoputri, yang menurutnya berhasil memulihkan kepercayaan publik dan menjaga stabilitas ekonomi melalui penghormatan terhadap institusi dan aturan main demokrasi.

    Sebagai penutup, Ikhsan mengingatkan bahwa ancaman terbesar bukan semata-mata krisis ekonomi, melainkan hilangnya kredibilitas institusi negara.

    “Indonesia belum di jurang, tapi kita sedang berjalan menuju ke sana perlahan tapi nyata. Kita masih punya ruang yang besar untuk berbalik arah,” tegasnya.

    Baca: Rezim Prabowo-Gibran Disebut Jadi Pemicu Utama Anjloknya Indeks Persepsi Korupsi Indonesia

    Pandangan senada disampaikan ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin. Ia menilai sebagian besar kritik yang disampaikan The Economist memiliki dasar yang kuat dengan analisanya.

    Hal ini terutama terkait tantangan fiskal, komunikasi pemerintah, independensi bank sentral, iklim usaha, dan kualitas tata kelola kebijakan publik.

    Menurut Wijayanto, pola pengambilan kebijakan yang dilakukan tanpa perencanaan matang berpotensi menciptakan ketidakpastian jangka panjang.

    “Pemerintah untuk menghentikan cara kerja dengan pola reverse planning. Pakai planning yang benar. Kalau project besar ada analisis, kemudian impact analysis, ada piloting, kemudian baru di-eskalasi,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa kritik dari lembaga internasional seharusnya diperlakukan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan, bukan dianggap sebagai serangan terhadap pemerintah.

    “Apa yang disampaikan oleh The Economist itu dianggap oleh pemerintah sebagai referensi untuk perbaikan, bukan kritik, bukan mengedepankan teori konspirasi,” katanya.

    Sementara itu, peneliti senior BRIN, Prof. R. Siti Zuhro, memandang laporan The Economist sebagai alarm yang perlu disikapi secara serius.

    Menurutnya, kritik terhadap kondisi ekonomi dan demokrasi Indonesia tidak seharusnya ditolak mentah-mentah, melainkan dijadikan bahan refleksi untuk memperbaiki tata kelola negara.

    Baca: Nilai Tukar Rupiah Sentuh Rekor Terendah Sepanjang Sejarah

    “Narasi Indonesia menuju jurang sebaiknya dibaca sebagai alarm peringatan bagi kita. Jadi enggak usah sensi. Masa sih nunggu jurang beneran kita masuk jurang baru benar?” ujarnya.

    Siti menilai Indonesia tengah menghadapi tantangan berupa melemahnya oposisi politik, meningkatnya pragmatisme partai, sentralisasi kekuasaan, serta berkurangnya kualitas partisipasi publik dalam demokrasi.

    Ia mengingatkan bahwa kemunduran demokrasi sering kali terjadi secara perlahan dan dianggap sebagai sesuatu yang normal.

    “Demokrasi Indonesia belum runtuh, tetapi mengalami proses erosi. Demokrasi formal tetap ada, tapi substansi pengawasan dan partisipasi publik melemah,” katanya.

    Dalam kesimpulannya, Siti menegaskan bahwa Indonesia belum tentu menuju jurang, namun tanpa pembenahan tata kelola politik dan ekonomi yang serius, risiko tersebut dapat menjadi kenyataan.

    “Indonesia belum menuju jurang secara pasti, tetapi tanpa koreksi serius terhadap tata kelola politik dan ekonomi, jurang itu bisa menjadi kenyataan serius dan akut,” tuturnya.

    Melalui seminar ini, para pembicara sepakat bahwa kritik terhadap kondisi ekonomi dan demokrasi Indonesia perlu dijadikan momentum evaluasi untuk memperkuat institusi.

    Kritik juga harus diikuti dengan peningkatan kualitas kebijakan publik, menjaga disiplin fiskal, memperbaiki iklim usaha, serta memastikan demokrasi tetap berjalan secara substantif dan inklusi

  • Butuh Anggaran yang Memadai: DPRD Minta Pempro DKI Jakarta Segera Rampungkan Peta Jalan Pengelolaan Sampah

    Butuh Anggaran yang Memadai: DPRD Minta Pempro DKI Jakarta Segera Rampungkan Peta Jalan Pengelolaan Sampah

    7cloud.asia – Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike mendorong Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta segera menyusun road map atau peta jalan penanganan dan pengelolaan sampah, baik program jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.

    Menurut Yuke, Komisi D telah mendengarkan paparan mengenai kondisi terkini pengelolaan sampah beserta berbagai program yang telah berjalan. Namun, ia menilai, hasilnya masih perlu dioptimalkan.

    “Terkait kondisi sampah di DKI Jakarta sudah dijelaskan juga berbagai pengelolaan yang berjalan, tapi memang masih kurang,” ujarnya, Jumat (22/5/2026) seperti dikutip beritajakarta.id.

    Salah satu fokus pembahasan yakni optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), termasuk pengolahan sampah organik menjadi produk turunan seperti bubur kompos sebelum didistribusikan kepada pihak penerima (off taker).

    Yuke menilai, sejumlah fasilitas pengelolaan sampah seperti TPS 3R, RDF Rorotan, TPST Bantargebang, hingga Jakarta Recycle Center masih perlu dimaksimalkan lantaran kapasitas yang ada belum dimanfaatkan secara optimal.

    Baca: Pengelolaan Sampah di Kota Kopenhagen Jadi Inspiransi Jakarta

    Selain itu, Komisi D juga mendorong penerapan kebijakan pemilahan sampah dari rumah tangga. Menurutnya, sistem pengangkutan hingga lokasi penampungan akhir sampah harus jelas dan berkelanjutan agar tidak menimbulkan persoalan baru.

    “Yang menjadi perhatian kami adalah setelah dipilah, diangkutnya seperti apa dan penampungan akhirnya di mana. Ini harus dipastikan berkelanjutan,” katanya.

    Ia juga menyoroti kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang daya tampungnya semakin terbatas.

    Kondisi tersebut, kata dia, berdampak pada berkurangnya ritase pengangkutan di sejumlah wilayah sehingga menyebabkan penumpukan sampah.

    Komisi D meminta persoalan tersebut segera ditangani karena berpotensi memicu masalah baru, termasuk munculnya tempat pembuangan sampah liar di lingkungan masyarakat.

    “Jangan sampai masyarakat tidak tahu masalahnya, tapi yang terlihat sampah tidak terangkut. Padahal persoalannya ada pada keterbatasan tempat penampungan akhir,” tegasnya.

    Baca: RDF Plant Rorotan Dioperasikan Bertahap Pasca Insiden di TPST Bantargebang

    Yuke menekankan, penanganan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Lingkungan Hidup. Menurutnya, diperlukan keterlibatan seluruh pihak mulai dari masyarakat, kelurahan, kecamatan, hingga wali kota.

    Ia juga mendorong optimalisasi peran bank sampah, peningkatan sosialisasi, serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai agar gerakan pemilahan sampah dapat berjalan efektif dan menjadi kebiasaan masyarakat.

    Terkait Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang pengelolaan sampah, Komisi D meminta adanya pembaruan data dan evaluasi berkala guna memetakan wilayah yang berhasil maupun yang masih terkendala dalam implementasinya.

    “Targetnya per Agustus sudah ada perubahan signifikan. Kita juga ingin ada road map penanganan sampah jangka panjang, seperti halnya penanganan banjir,” ucapnya.

    Yuke mengingatkan, persoalan sampah juga berkaitan erat dengan kebutuhan anggaran. Sebab itu, ia mengingatkan, setiap pergeseran anggaran dilakukan sesuai prosedur resmi.

    “Penanganan sampah ini urusan bersama dan membutuhkan dukungan anggaran yang memadai,” tandasnya.

  • Sektor Pariwisata Bali Mulai Beralih ke Energi Bersih

    Sektor Pariwisata Bali Mulai Beralih ke Energi Bersih

    7cloud.asia – Sektor pariwisata di Bali terus berupaya mengimplementasikan strategi energi bersih sebagai bisnis jangka panjang. Sejumlah hotel premium di Pulau Dewata kini mempercepat adopsi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap.

    Langkah ini tidak hanya untuk memenuhi target keberlanjutan, tetapi juga mengurangi risiko akibat volatilitas suplai dan harga energi global.

    Wujud komitmen ini adalah pemasangan PLTS atap yang baru saja rampung di sebuah resor internasional premium di Bali yang dikembangkan bersama dengan Greenvolt Power Indonesia.

    Sistem tersebut memiliki kapasitas terpasang sekitar 323 kilowatt-peak (kWp) dan memberikan kontribusi terhadap tren adopsi PLTS atap di sektor perhotelan Bali.

    “Kami melihat adanya pergeseran struktural dalam strategi sektor perhotelan memandang energi,” kata Head of Business Development Greenvolt Power Indonesia, Bobby Benly dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, beberapa waktu lalu.

    Dia menambahkan, penggunaan energi bersih bukan lagi sekadar soal efisiensi biaya, melainkan tentang ketahanan energi, pemenuhan standar global, serta menjawab tuntutan wisatawan yang semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam memilih tujuan maupun akomodasi.

    Baca: Kesiapan Transisi Energi Desa Masih Timpang

    Melalui pemanfaatan PLTS atap, operator hotel premium dapat mendiversifikasi bauran energi mereka dengan energi bersih dan terbarukan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik berbasis bahan bakar fosil.

    Tren ini turut mencerminkan perubahan yang lebih luas di industri pariwisata global.

    Faktor eksternal, seperti konflik geopolitik hingga fluktuasi harga bahan bakar, kini tidak lagi dipandang sebagai risiko jangka panjang, melainkan tantangan operasional yang harus diantisipasi sejak awal.

    Bagi Pulau Dewata, tuntutan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil kian urgen. Di luar faktor ketahanan energi, tekanan pasar turut mendorong tren ini.

    Hotel-hotel di Indonesia kini menghadapi tuntutan dari berbagai arah, mulai dari komitmen perusahaan induk global, investor, regulator, hingga wisatawan.

    Dari sudut pandang wisatawan, riset Sustainable Travel 2025 dari Booking.com, menunjukkan 93 persen responden kini secara aktif mempertimbangkan opsi perjalanan yang lebih berkelanjutan saat membuat keputusan bepergian.

    Baca: Krisis Energi Global Jadi Katalisator Transisi Energi

    Survei tersebut melibatkan 32.000 wisatawan dari 34 negara, termasuk Indonesia.

    Saat ini Bali masih bergantung pada sistem pasokan listrik dari luar pulau, sedangkan kebutuhan listrik terus meningkat sekitar 14–16 persen per tahun, berdasarkan estimasi Pemerintah Provinsi Bali. Padahal, Bali memiliki potensi energi surya yang besar, namun pemanfaatannya belum optimal.

    Berdasarkan data dari Institute for Essential Services Reform (IESR), potensi PLTS di Bali diperkirakan mencapai 3,3 hingga 10,9 gigawatt, sedangkan tingkat pemanfaatannya per 2025 baru di bawah satu persen.

    Meski demikian, arah kebijakan pemerintah Bali juga semakin mendukung percepatan transisi energi bersih.

    Sejak 2019, Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan regulasi yang mendorong adopsi PLTS atap di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, akomodasi dan pariwisata, hingga sektor swasta atau komersial.

    Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan di situs Pemerintah Provinsi Bali pada Mei 2025, Gubernur Bali Wayan Koster, menyatakan kemandirian energi sebagai kebutuhan strategis bagi Bali.

    “Bali mandiri energi tidak bisa ditawar lagi. Ini soal kedaulatan dan masa depan pulau kita, yang notabene tidak memiliki sumber daya alam batu bara ataupun migas lainnya. Salah satu solusi nyata yang bisa segera dilakukan adalah pemanfaatan PLTS atap secara masif,” ujar Koster.

    Baca: Menggali Makna Adil untuk Masyarakat Terkait Transisi Energi 

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: The Economist Kritik Tajam Kebijakan Prabowo-Gibran hingga Inspirasi Pengelolaan Sampah dari Kota Kopenhagen

    Berita Terpopuler Pekan Ini: The Economist Kritik Tajam Kebijakan Prabowo-Gibran hingga Inspirasi Pengelolaan Sampah dari Kota Kopenhagen

    7cloud.asia – Artikel mengenai kritik tajam media Inggris, The Economist terhadap kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.

    Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama sejumlah artikel mengenai pengelolaan sampah di Jakarta yang terinspirasi dari kota Kopenhagen,

    Artikel terkait isu sosial ekonomi seperti pemutaran film Pesta Babi dan kondisi keuangan negara juga masuk dalam daftar berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia

    Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

    1. The Economist kritik kebijakan Prabowo-Gibran
    Majalah mingguan asal Inggris, The Economist kembali melontarkan kritik tajam atas sejumlah kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai berisiko bagi stabilitas ekonomi dan demokrasi Indonesia.

    Dalam edisi mingguan yang dirilis Kamis (14/5/2026), The Economist menurunkan dua artikel khusus untuk membahas kepemimpinan Prabowo-Gibran.

    Salah satunya, diberi judul “Indonesia’s president is jeopardising the economy and democracy atau Presiden Indonesia membahayakan perekonomian dan demokrasi”.

    Dalam artikel yang dimuatnya, media asal London, Inggris itu menyebut Prabowo Subianto sebagai Presiden yang boros dan otoriter.

    Baca berita selengkapnya di sini

    2. APBN dalam kondisi kritis, pemerintah selayaknya pangkas MBG
    Mengelola anggaran MBG sebesar Rp335 triliun di tahun 2026, Badan Gizi Nasional (BGN) kerap menuai kontroversi. Mulai dari masalah penyaluran MBG hingga pengadaan motor dan jasa event organiser yang biayanya dinilai terlalu mahal.

    Publik juga sempat dihebohkan oleh pengadaan jumbo lebih dari 20 ribu unit motor listrik operasional MBG, yang ditaksir bernilai hampir Rp2 triliun. Anggaran ini disebut sempat ditolak Menteri Keuangan Purbaya sebelumnya diduga diloloskan oleh Dirjen Anggaran yang berakhir dicopot dari jabatannya.

    Di saat yang sama, kondisi keuangan negara juga tertekan akibat dinamika global, khususnya perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang menciptakan gejolak harga minyak dunia dan mendorong kenaikan biaya barang serta jasa lainnya.

    Meski menjadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto, MBG membawa tantangan besar bagi pemerintah yaitu ketersediaan uang negara untuk membiayai program MBG tersebut dan program ambisius lainnya hingga akhir tahun.

    Baca berita selengkapnya di sini

    3. Film Pesta Babi memotret penggusuran warga Papua
    Film Pesta Babi berdurasi 90 menit ini membongkar bagaimana Proyek Strategis Nasional (PSN) atas nama ketahanan pangan dan energi justru berubah menjadi mesin perampasan ruang hidup.

    Dengan dalih “kepentingan nasional”, negara membuka hutan seluas 2,5 juta hektare membentang di Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, hingga Kabupaten Mappi—wilayah hidup masyarakat adat yang kini berada di bawah bayang-bayang alat berat dan izin konsesi.

    Film ini hasil kolaborasi lintas organisasi, dengan gamblang memperlihatkan bagaimana kebijakan dari Jakarta menjelma menjadi ancaman nyata di tanah Papua.

    Baca berita selengkapnya di sini

    4. Lambannya perkembangan Nestle Waste Station
    Nestle Indonesia mendorong pengelolaan sampah rumah tangga di masyarakat dengan menempatkan waste station di minimarket yang memudahkan masyarakat menyetor sampah anorganik.

    Melalui kolaborasi dengan Alfamart yang memiliki jaringan ritel luas dan dekat dengan area permukiman, Nestlé Indonesia Waste Station dihadirkan untuk memudahkan masyarakat dalam membangun kebiasaan bijak kelola sampah dari rumah di jaringan ritel Alfamart di Jakarta, Bandung, dan Bali.

    Inisiatif ini diluncurkan pada 2024 dan dioperasikan oleh Rekosistem selaku waste management partner Nestlé Indonesia.Meski demikian, saat ini tercatat baru 15 fasilitas Nestlé Indonesia Waste Station yang telah dihadirkan perusahaan

    Baca berita selengkapnya di sini

    5. Pengelolaan sampah di Kopenhagen
    Pengalaman kota Kopenhagen dalam mengelola sampah menjadi inspirasi penting bagi Jakarta yang saat ini terus berupaya mempercepat pengurangan dan pengelolaan sampah perkotaan secara berkelanjutan.

    Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno pun memimpin delegasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meninjau fasilitas pengelolaan sampah Copen Hill di Kopenhagen, Denmark, pada Minggu (17/5/2026) pagi waktu setempat.

    Copen Hill, yang juga dikenal sebagai Amager Bakke, dibuka sebagai pembangkit listrik tenaga sampah generasi terbaru.

    Baca berita selengkapnya di sini