Blog

  • Panja AMDK Soroti Belum Adanya Aturan yang Mengatur Kerjasama Maklon

    Panja AMDK Soroti Belum Adanya Aturan yang Mengatur Kerjasama Maklon




    • AMDK 

    7cloud.asia – Wakil Ketua Komisi VII DPR sekaligus Ketua Panja Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Evita Nursanty memberikan perhatian khusus terhadap praktik kerja sama maklon yang dinilai memerlukan regulasi yang lebih jelas.

    Menurutnya, kepastian hukum diperlukan untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab apabila terjadi permasalahan pada produk yang dipasarkan. 

    Evita juga menilai transparansi informasi kepada konsumen perlu diperkuat, mulai dari identitas produsen, asal sumber air, hingga mekanisme kerja sama merek yang digunakan.

    Selain itu, Panja akan mengkaji harmonisasi mekanisme perizinan industri AMDK yang saat ini masih melibatkan berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah agar pengawasan dapat berjalan lebih efektif.

    Evita menegaskan, kerja sama maklon ini harus memiliki aturan yang jelas. Kalau nanti ada persoalan pada produk, harus ada kepastian siapa yang bertanggung jawab, apakah pemilik merek, distributor, atau produsennya.

    “Konsumen juga harus mengetahui siapa produsennya, dari mana sumber airnya, dan mekanisme perizinan AMDK perlu diseragamkan agar pihak yang mengeluarkan izin juga bertanggung jawab melakukan pengawasan,” tutup Evita

    Panja AMDK Komisi VII DPR terus mendalami tata kelola industri air minum dalam kemasan, khususnya praktik perusahaan maklon.

    Pendalaman tersebut dilakukan melalui kunjungan kerja spesifik ke PT Muawanah Al Ma’soem, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

    Dalam peninjauan tersebut, Panja AMDK memperoleh penjelasan bahwa PT Muawanah Al Ma’soem memproduksi tiga merek milik sendiri dan 15 merek melalui skema kerja sama maklon.

    Ketua Komisi VII DPR Saleh Partaonan Daulay menjelaskan salah satu fokus pendalaman kali ini adalah menelusuri model bisnis perusahaan maklon, sistem produksi, serta aspek keamanan produk air minum dalam kemasan

    “Salah satu tindak lanjut Panja adalah menelusuri bagaimana bisnis AMDK ini berjalan, bagaimana keamanannya, serta bagaimana sistem produksi yang mereka lakukan. Karena itu, perusahaan maklon menjadi salah satu fokus perhatian Komisi VII,” ujar Saleh dikutip Parlementaria, Kamis (25/06/2026).

    Komisi VII juga meninjau secara langsung proses produksi, mulai dari mesin, pasokan air, hingga tahapan pengolahan untuk memastikan setiap produk diproduksi sesuai dengan standar dan peruntukannya.

    Selain memantau proses produksi Komisi VII juga mencermati kepatuhan perusahaan terhadap aspek konservasi lingkungan, pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR), serta penyerapan tenaga kerja masyarakat sekitar.

    Menurut Saleh, industri AMDK harus mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

    “Kami datang ke sini untuk memastikan tidak ada hal-hal yang menyalahi aturan dalam proses produksi, termasuk terkait konservasi lingkungan. Jangan sampai memproduksi air untuk masyarakat, tetapi justru merusak alam di sekitarnya,” tegasnya.

    Komisi VII juga mencermati isu mikroplastik dalam produk AMDK. Saleh menjelaskan, berdasarkan penjelasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) dalam rapat bersama DPR, hingga saat ini belum terdapat standar khusus mengenai mikroplastik. Oleh karena itu, pengawasan masih mengacu pada standar ilmiah yang berlaku. 

    “BPOM menyampaikan bahwa sampai saat ini belum ada standar khusus mengenai mikroplastik. Kita berharap ke depan standar tersebut segera tersedia sehingga pengawasan dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan,” tambahnya.

     

     

  • Kolaborasi Peneliti BRIN dan Universitas Brawijaya Temukan Spesies Baru Kumbang Ambrosia

    Kolaborasi Peneliti BRIN dan Universitas Brawijaya Temukan Spesies Baru Kumbang Ambrosia

    7cloud.asia – Tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) berkolaborasi dengan University of Florida, Michigan State University, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan empat spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu dari kawasan UB Forest.

    Tim berhasil mengidentifikasi empat spesies baru kumbang ambrosia, yakni Crossotarsus gunungapi Hulcr, Tarno and Levia, Cosmoderes arjuno Johnson, Cosmoderes opacus Johnson, dan Amasa brawijaya Smith.

    Temuan dalam bidang biodiversitas hutan tropis ini telah dipublikasikan pada 21 Juni 2026 dalam Journal of the Coleopterists Bulletin melalui artikel berjudul “Checklist of the Bark and Ambrosia Beetle Species (Coleoptera: Curculionidae: Platypodinae and Scolytinae) Collected at the Universitas Brawijaya Forest Properties, East Java, Indonesia with Descriptions of New Species”.

    Ketua tim peneliti Prof. Hagus Tarno mengemukakan proses pengambilan sampel dilakukan pada ranting dan kayu kering yang jatuh di tanah.

    “Kumbang ambrosia ditemukan pada berbagai jenis kayu, seperti pinus, kopi, sonokembang, Ficus, dan jenis kayu lainnya yang menjadi tempat tumbuh jamur sumber makanannya,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (26/6/2026).

    Kumbang ambrosia, katanya, memiliki keunikan karena hidup bersimbiosis dengan jamur. Mereka membuat terowongan di dalam kayu dan menumbuhkan jamur sebagai sumber makanan.

    “Karena itu, kami banyak mengambil sampel dari berbagai jenis ranting dan kayu di UB Forest,” kata Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB tersebut.

    Dalam penelitian tersebut, ia didampingi Yogo Setiawan, SP., MP., yang juga sedang menempuh studi doktoral di Kagoshima University, Jepang.

    Pengambilan data di kawasan UB Forest sejak Oktober 2024, penelitian ini berlangsung bersamaan dengan kegiatan Bark and Ambrosia Beetles Academy diselenggarakan University of Florida, dengan UB sebagai tuan rumah.

    Kegiatan tersebut mempertemukan peneliti, akademisi dan pakar taksonomi untuk mempelajari lebih jauh keragaman kumbang hutan tropis di Indonesia.

    Salah satu spesies baru diberi nama khusus, yakni Amasa brawijaya, yang bermakna khusus karena merujuk pada Universitas Brawijaya dan warisan sejarah Kerajaan Majapahit.

    Penamaan ini bentuk penghormatan terhadap identitas lokal sekaligus menegaskan bahwa kawasan hutan di Indonesia masih menyimpan kekayaan hayati bernilai tinggi bagi ilmu pengetahuan dunia.

    Hagus mengatakan nama brawijaya dipilih sebagai bentuk penghargaan terhadap Universitas Brawijaya, tempat berkembang berbagai penelitian biodiversitas. Penamaan tersebut diharapkan dapat meningkatkan citra UB dalam komunitas ilmiah internasional.

    “Kami ingin nama Brawijaya tidak hanya dikenal sebagai perguruan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah sains dunia. Ketika orang mencari atau mempelajari spesies ini, mereka tau bahwa spesies tersebut ditemukan melalui penelitian yang dilakukan di Universitas Brawijaya,” ujarnya.

    Dalam proses identifikasi, tim menggunakan dua pendekatan utama, yaitu analisis morfologi dan analisis molekuler berbasis DNA.

    Melalui pendekatan morfologi, para peneliti membandingkan karakteristik fisik spesimen dengan koleksi yang tersimpan di berbagai museum serangga dunia, sedangkan analisis molekuler dengan mengekstraksi DNA untuk membandingkan sekuens genetik spesimen dengan basis data internasional.

    “Kami membandingkan karakter morfologinya dengan spesies yang telah tersimpan di berbagai museum serangga dunia. Selain itu, kami juga melakukan analisis DNA untuk memastikan perbedaannya secara genetik, jika hasilnya menunjukkan adanya perbedaan signifikan dengan spesies yang telah diketahui sebelumnya, spesimen tersebut dapat ditetapkan sebagai spesies baru,” ujarnya.

    Spesimen Amasa brawijaya kini tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang dikelola BRIN sebagai koleksi ilmiah dan referensi penelitian biodiversitas Indonesia.

    Temuan empat spesies baru ini menunjukkan hutan tropis Indonesia, termasuk di kawasan UB Forest, memiliki potensi besar sebagai laboratorium alam untuk penelitian biodiversitas.

    Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap konservasi keanekaragaman hayati, riset semacam ini menjadi penting untuk memperkuat basis data ilmiah tentang spesies serangga, terutama kelompok yang belum banyak dikenal masyarakat luas.

    Bagi UB, ujarnya, penelitian ini tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah internasional, tetapi juga memperkuat posisi universitas sebagai pusat penelitian kumbang ambrosia di Indonesia.

    Hagus menilai kajian mengenai kumbang ambrosia masih terbatas sehingga membuka peluang besar UB menjadi pionir bidang tersebut.

    “Ke depan kami ingin membangun jejaring penelitian yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Harapannya, siapa pun yang ingin mempelajari kumbang ambrosia akan datang dan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya,” ucapnya.

  • Korban Meninggal Akibat Gempa Kembar di Venezuela Dekati 600 Orang

    Korban Meninggal Akibat Gempa Kembar di Venezuela Dekati 600 Orang

    7cloud.asia – Jumlah korban tewas akibat gempa kembar dahsyat yang mengguncang Venezuela terus bertambah menjadi 589 orang, sementara 2.980 lainnya terluka.

    Pelaksana Tugas (Plt) Presiden Venezuela Delcy Rodriguez, dalam pernyataanya pada Jumat (26/6/2026) waktu setempat mengatakan jumlah korban kemungkinan masih akan bertambah.

    “Sayangnya, 589 orang meninggal dan 2.980 orang terluka,” kata Presiden Rodriguez dalam sebuah pertemuan yang disiarkan saluran TV teleSUR.

    Sebelumnya pada Kamis (25/6/2026), Menteri Kesehatan Carlos Alvarado situasi paling kritis masih terjadi di Negara Bagian La Guaira, yang mencatatkan jumlah korban tewas dan luka terbanyak.

    Alvarado menjelaskan bahwa segera setelah gempa terjadi, mekanisme tanggap darurat nasional langsung diaktifkan.

    Lebih dari 5.000 tenaga medis, termasuk lebih dari 1.200 dokter, dikerahkan untuk memberikan bantuan di wilayah-wilayah yang terdampak paling parah.

    Dua gempa bumi kuat berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026), disusul 30 gempa susulan.

    Gempa kembar tersebut menghancurkan banyak rumah, merusak infrastruktur dan rumah sakit, serta menyebabkan bandara utama negara itu ditutup.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik

  • Kunang-kunang Makin Sulit Ditemukan: Bukti Nyata Menurunnya Kualitas Lingkungan

    Kunang-kunang Makin Sulit Ditemukan: Bukti Nyata Menurunnya Kualitas Lingkungan

    7cloud.asia – Beberapa tahun belakangan, banyak warga yang mengeluhkan semakin sulitnya menemukan kunang-kunang di alam. Fenomena ini ternyata bukan sekadar nostalgia, melainkan memiliki dasar ilmiah yang kuat.

    Kunang-kunang merupakan jenis kumbang yang masuk dalam famili Lampyridae, ordo Coleoptera, kelas Insecta atau serangga.

    Terdapat lebih dari 2000 spesies kunang-kunang yang dapat ditemukan di daerah empat musim dan tropis di seluruh dunia.

    Banyak spesies kunang-kunang ditemukan di rawa atau hutan yang basah di mana tersedia banyak persediaan makanan untuk larvanya.

    Dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof. Upik Kesumawati Hadi mengatakan kelangkaan kunang-kunang menjadi salah satu indikator menurunnya kualitas lingkungan.

    Baca: Penemuan Spesies Baru Kumbang Ambrosia

    “Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,” jelasnya seperti dilansir ipb.ac.id.

    Ia mengungkapkan, penurunan populasi kunang-kunang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global.

    Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan sekitar 11–20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berada dalam kondisi terancam.

    Bahkan beberapa spesies khas Asia Tenggara yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah masuk kategori rentan.

    “Di Indonesia sendiri, berbagai kajian entomologi menunjukkan populasi kunang-kunang mengalami penurunan drastis, terutama di wilayah perkotaan. Serangga bercahaya ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari perubahan kelembapan tanah hingga pencemaran,” ujar Upik.

    Baca: Peneliti BRIN Temukan Dua Spesies Baru Kumbang Kura-Kura dari Sulawesi

    Menurut dia, kerusakan habitat menjadi faktor utama penyebab menurunnya populasi kunang-kunang.

    Alih fungsi lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi kawasan permukiman maupun industri menghilangkan tempat hidup larva yang membutuhkan tanah lembap untuk berkembang.

    Selain itu, polusi cahaya akibat lampu LED yang terlalu terang juga mengganggu proses perkawinan kunang-kunang. Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan mendeteksi sinyal cahaya dari betina sehingga gagal bereproduksi.

    Faktor lain yang turut berperan adalah penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, serta urbanisasi yang semakin masif.

    Meski demikian, kunang-kunang masih dapat ditemukan di habitat yang lembap, minim polusi cahaya, dan bebas pencemaran.

    Baca: Populasi Serangga yang Turun Signifikan Berdampak Buruk bagi Lingkungan

    Beberapa di antaranya adalah kawasan mangrove, tepi sungai yang masih alami, rawa, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap.

    Upik mengingatkan, jika kerusakan habitat dan polusi cahaya terus berlanjut, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal kunang-kunang melalui buku, museum, atau tayangan digital. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga habitat kunang-kunang.

    Langkah sederhana seperti tidak menutup seluruh halaman dengan semen, mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memanfaatkan pupuk organik.

    Selain itu dia juga mengajak warga menjaga kebersihan sungai dan saluran air dapat membantu mempertahankan populasi serangga unik tersebut.

    “Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” pungkasnya.

    Baca: Serangga Punya Peran Penting dalam Menjaga Ekosistem

  • Pupuk Organik Penting untuk Pemulihan Lahan, Tapi Baru Sebagian Kecil Petani yang Menggunakannya

    Pupuk Organik Penting untuk Pemulihan Lahan, Tapi Baru Sebagian Kecil Petani yang Menggunakannya

    7cloud.asia – Tren penggunaan pupuk organik di sejumlah negara menjadi sinyal bagi Indonesia untuk mulai mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia atau anorganik.

    Kembali ke pupuk organik penting untuk memulihkan kesuburan lahan sekaligus menjaga produktivitas pertanian secara berkelanjutan

    Indonesia dinilai perlu mulai menyiapkan langkah transisi ke pupuk orgnik secara massal sejak sekarang agar tidak tertinggal dari negara lain.

    Data BPS menunjukkan penggunaan pupuk organik di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan pupuk anorganik.

    Survei BPS mencatat hanya sekitar 13,5 persen petani yang menggunakan pola berimbang (organik dan anorganik), dan kurang dari 1 persen yang murni menggunakan pupuk organik. Mayoritas petani masih sangat bergantung pada pupuk kimia.

    Baca: Pertanian Regeneratif Diperkirakan Bakal Jadi Tren di Masa yang Akan Datang

    Berdasarkan indikator pembangunan Bank Dunia yang merangkum data resmi BPS, konsumsi pupuk di Indonesia rata-rata mencapai 311 kg per hektar lahan garapan, namun porsi pupuk organik masih minoritas dibandingkan pupuk kimia.

    “Kalau nanti ke depan itu juga tidak kita mulai dari sekarang, nanti tertinggal negara-negara lain,” ujar Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo saat Kunjungan Kerja Panitia Kerja (Panja) Pupuk Bersubsidi Komisi IV DPR ke PT Pupuk Kujang, Karawang, Jawa Barat, Jumat (26/6/2026).

    Ia berharap pemerintah bersama industri pupuk nasional dapat terus mendorong pengembangan pupuk organik sebagai bagian dari strategi peningkatan produktivitas pertanian sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.

    Firman mengungkapkan, penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas unsur hara dan tingkat kesuburan tanah.

    Karena itu, pemanfaatan pupuk organik perlu diperkuat untuk mendukung produktivitas pertanian yang berkelanjutan.

    Baca: Penggunaan Pupuk Organik Dongkrak Hasil Panen Saat Konflik Timur Tengah Memanas

    “Kalau kita lihat tren dunia ini sudah mulai bergeser kepada pupuk organik, terutama untuk kebutuhan pangan pokok. Vietnam sudah mulai dan di beberapa negara Eropa juga sudah mulai menggunakan pupuk organik,” ujarnya.

    Firman menilai penggunaan pupuk organik dapat membantu memulihkan kondisi lahan, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk anorganik.

    “Kalau pupuk organik bisa dikembangkan dan ditingkatkan, maka ada pemulihan lahan, tingkat produksi bisa meningkat, dan penggunaan pupuk urea dapat dihemat,” jelasnya.

    Dia menambahkan, penguatan pupuk organik juga penting untuk menjawab kebutuhan pasar global yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dalam produksi pangan.

  • Cuaca Hari Ini: Hujan Disertai Petir Berpotensi Terjadi di Beberapa Kota

    Cuaca Hari Ini: Hujan Disertai Petir Berpotensi Terjadi di Beberapa Kota

    7cloud.asia – Sejumlah kota di Indonesia masih berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Bahkan beberapa kota berpotensi hujan disertai petir pada Minggu (28/06/2026).

    Melalui akun youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Pontianak, Banjarmasin dan Nabire.

    Selanjutnya hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Medan dan Palangkaraya. Kemudian hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Banda Aceh, Pekanbaru, Padang, Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, Bandar Lampung.

    Kota Bandung, Tanjung Selor, Denpasar, Mamuju, Kendari, Ternate, Ambon, Sorong, Jayapura dan Jayawijaya juga berpotensi hujan dengan intensitas ringan.

    Tak hanya hujan, sejumlah wilayah berpotensi terjadi angin kencang seperti Bali, Banten, Jawa Barat dan Kepulauan Bangka Belitung.  

     

  • Korban Tewas Akibat Gempa di Venezuela Melonjak Menjadi 1400 Orang

    Korban Tewas Akibat Gempa di Venezuela Melonjak Menjadi 1400 Orang

    7cloud.asia – Jumlah korban tewas akibat gempa di Venezuela dilaporkan melonjak menjadi 1.430 orang, kata ketua parlemen negara itu dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu (27/6/2026) waktu setempat.

    Dilansir CNN, Tim penyelamat berpacu dengan waktu yang semakin menipis untuk menemukan korban selamat. Kurangnya alat berat dan gempa susulan yang terus-menerus mempersulit upaya penyelamatan.

    Sebelumnya, Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez mengatakan puluhan orang telah berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup.

    “Ini membawa kebahagiaan bagi kami karena mereka bisa kembali memeluk keluarga dan orang-orang tercinta,” ujarnya pada Jumat (26/6/2026) waktu setempat seperti dilansir BBC.com

    Dia juga menyebutkan bahwa hingga kini telah terjadi 214 gempa susulan, setelah dua gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5.

    Baca: Puluhan Orang Tewas Akibat Gempa di Filipina Selatan

    Rodríguez menambahkan bahwa wilayah La Guaira akan “dimiliterisasi” untuk membantu penanganan darurat. La Guaira merupakan salah satu daerah yang paling parah terdampak oleh dua gempa tersebut.

    Sedikitnya 2.927 keluarga telah kehilangan rumah mereka akibat gempa, kata Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez.

    Upaya bantuan internasional juga mulai berdatangan. Sebuah tim penyelamat dari Belanda telah berangkat dari Eindhoven Air Base menuju Venezuela untuk membantu proses evakuasi dan pemulihan.

    Tim tersebut terdiri dari 65 personel dan delapan anjing pelacak, menurut European Press Agency. Tim bantuan dari El Salvador juga telah tiba di negara tersebut, bersama personel penyelamat dari Meksiko dan Swiss.

    Koordinator kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Tom Fletcher, mengatakan bencana ini membutuhkan respons global yang terkoordinasi.

    Baca: Spanyol Alami Hari Terpanas dengan Suhu di Atas 40°C

    “Kita memerlukan respons internasional, dan kami akan mengoordinasikannya serta memastikan bantuan tersalurkan,” ujarnya pada BBC Radio 4. “Saya ingin masyarakat di Venezuela tahu bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.”

    Rodríguez sebelumnya menyatakan bahwa dana sebesar 200 juta dolar atau sekitar Rp3,26 triliun telah dikucurkan dari Dana Moneter Internasional (IMF) untuk membantu pembangunan kembali infrastruktur dan rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan.

    Baik Palang Merah maupun PBB kini telah memobilisasi bantuan untuk Venezuela pasca-gempa.

    Pihak Palang Merah menyatakan bahwa cabang Palang Merah di Venezuela saat ini telah “beroperasi dan bergerak memberikan respons.”

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: Mewujudkan Kawasan Rendah Emisi di Jeron Beteng hingga Kritik terhadap Pemerintah yang Antikritik

    Berita Terpopuler Pekan Ini: Mewujudkan Kawasan Rendah Emisi di Jeron Beteng hingga Kritik terhadap Pemerintah yang Antikritik

    7cloud.asia – Artikel mengenai kritik terhadap sikap pemerintah yang cenderung menyudutkan pengritiknya menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini.

    Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama sejumlah artikel terkait isu lingkungan, seperti upaya mewujudkan kawasan rendah emisi dan adaptasi iklim.

    Artikel terkait isu sosial politik seperti kontroversi sponsorship penyelenggaraan ArtJog 2026 juga masuk dalam daftar berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia

    Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

    1. Mengapa pemerintah menjelekkan pengritiknya
    Alih-alih menanggapi substansi, banyak pejabat di pemerintahan Prabowo-Gibran justru lebih suka menyindir atau bahkan mendiskreditkan sosok pengkritiknya.

    Sehingga muncul pertanyaan yang lebih luas: mengapa respons terhadap kritik publik sering kali tidak berhenti pada penjelasan kebijakan, tetapi juga menyasar kredibilitas orang yang mengkritik?

    Dalam studi kebijakan publik, fenomena ini dapat dipahami melalui dua konsep: blame avoidance dan chilling effect.

    Keduanya membantu menjelaskan bagaimana cara pejabat merespons kritik tidak hanya berdampak pada debat elite, tetapi juga pada kualitas ruang kebebasan berpendapat secara lebih luas.

    Baca berita selengkapnya di sini

    2. Mewujudkan kawasan rendah emisi di Jeron Beteng
    Caretaker Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Prof. Mirwan Usada mengingatkan, emisi gas rumah kaca mengancam kelestarian bangunan di dalam kawasan Jeron Beteng.

    Ia melanjutkan, polusi udara tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga mempercepat degradasi material bangunan bersejarah yang tidak dapat dipulihkan. Karena itu tingginya emisi karbon yang memicu penurunan kualitas udara bukan lagi isu yang dapat ditunda penanganannya.

    “Implementasi Low Emission Zone atau kawasan rendah emisi yang konsisten di berbagai kota dunia secara ilmiah terbukti berhasil menurunkan konsentrasi polutan berbahaya seperti NO₂ dan PM2.5,” ujarnya.

    Baca berita selengkapnya di sini

    3. Adaptasi iklim butuh kolaborasi banyak pihak
    Untuk membangun ketahanan iklim membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas lokal, sektor swasta, dan mitra pembangunan untuk menciptakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

    Pembelajaran tersebut menjadi salah satu fokus dalam Seminar Nasional Adaptasi Perubahan Iklim yang diselenggarakan KEMITRAAN bersama Kementerian Lingkungan Hidup dengan dukungan Adaptation Fund (AF) yang dipantau secara daring pada Rabu (24/6/2026).

    Direktur Adaptasi Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani, mengatakan bahwa pihaknya telah menjadikan isu perubahan iklim sebagai prioritas program pembangunan nasional.

    “Pemerintah melalui berbagai kebijakan pembangunan nasional terus mendorong penguatan kapasitas daerah dan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim, termasuk melalui pengembangan berbagai inisiatif adaptasi berbasis masyarakat,” sebutnya.

    Baca berita selengkapnya di sini

    4. Sponsorship ARTJOG digugat
    ARTJOKES menilai festival seni ARTJOG yang mulai digelar pada 2008 berangsur kehilangan keberpihakannya kepada rakyat. Tangan-tangan kekuasaan dan pemilik modal telah mempengaruhi gelaran ini lewat uang yang mereka miliki.

    Dalam pernyataan tertulisnya kepada media, seniman yang tergabung dalam ARTJOKES mengakui, selama dua dekade ARTJOG berhasil membius jutaan pasang mata dari berbagai belahan dunia.

    “ARTJOG adalah panggung kesenian yang prestisius. Namun, di dinding dan ruang pameran itu jugalah penderitaan dan kenyataan hidup kita semua disulap sebagai komoditas yang bernilai fantastis di mata para kolektor,” demikian ARTJOKES dalam pernyataannya.

    Baca berita selengkapnya di sini

    5. PDI Perjuangan konsisten membersamai rakyat
    Ketua DPP PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo menegaskan bahwa partainya tidak membutuhkan pengakuan dari pihak lain terkait posisi politiknya.

    Menurut Ganjar, posisi PDI Perjuangan sudah sangat jelas, yakni berada di luar pemerintahan sebagai partai penyeimbang. Sikap tersebut, kata dia, merupakan keputusan resmi partai yang lahir dari mekanisme organisasi tertinggi.

    “Posisi PDI Perjuangan justru sangat jelas, kami berada di luar pemerintahan dan menjalankan fungsi penyeimbang. Itu keputusan resmi partai, hasil mekanisme organisasi tertinggi, dan telah disampaikan secara terbuka kepada publik. Jadi, tidak ada yang abu-abu,” tegas Ganjar, Jumat (19/6/2026).

    Baca berita selengkapnya di sini

     

     

  • Cuaca Panas Menambah Risiko Terbentuknya Batu Ginjal, Ini Cara Mencegahnya

    Cuaca Panas Menambah Risiko Terbentuknya Batu Ginjal, Ini Cara Mencegahnya

    7cloud.asia – Kasus batu ginjal cenderung lebih sering terjadi selama musim panas. Dalam kondisi ini, orang-orang kerap menghadapi paparan panas sehingga lebih banyak berkeringat.

    Menurut Konsultan asosiasi urologi di Manipal Hospital, Bhubaneswar, Dr. Sarbjit Mohapatra, dehidrasi menjadi salah satu faktor penyebab batu ginjal.

    Sebab, saat tubuh lebih banyak berkeringat tetapi tidak diimbangi dengan asupan air yang cukup, volume urine akan berkurang.

    “Akibatnya, mineral pembentuk batu menjadi lebih pekat sehingga lebih mudah membentuk batu ginjal,” kata Sarbjit seperti dilansir Hindustan Times, Jumat (26/6/2026) waktu setempat.

    Dalam tulisan itu, Sarbjit membagikan apa itu batu ginjal dan sejumlah faktor hingga tanda yang berisiko batu ginjal.

    Batu ginjal merupakan endapan mineral keras yang mengkristal dan terbentuk di dalam organ ketika sisa-sisa mineral saling menggumpal.

    Baca: Cuaca Panas Ekstrem Dapat Memicu Heatstroke

    Sarbjit menjelaskan, batu ginjal sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Keluhan biasanya baru muncul ketika batu mulai bergerak atau menyumbat aliran urine.

    Gejala yang paling umum antara lain nyeri di bagian samping tubuh atau punggung, nyeri yang menjalar hingga ke selangkangan, sensasi terbakar saat buang air kecil, adanya darah dalam urine, mual atau muntah, frekuensi buang air kecil meningkat, serta demam dan menggigil.

    Selain itu, terdapat beberapa gejala yang lebih halus tetapi tetap memerlukan pemeriksaan medis, seperti demam disertai nyeri, produksi urine berkurang, muntah hebat, serta nyeri yang tidak membaik meski sudah mengonsumsi obat.

    Beberapa kelompok juga memerlukan perhatian khusus apabila mengalami gejala tersebut, yaitu orang yang hanya memiliki satu ginjal, ibu hamil, penderita diabetes, lansia yang mengalami demam, hingga orang yang berulang kali mengalami batu ginjal.

    Adapun sejumlah faktor kumulatif berisiko batu ginjal meliputi kurang minum air, pola makan tinggi garam, konsumsi protein hewani berlebihan, infeksi saluran kemih (ISK).

    Riwayat batu ginjal dalam keluarga, obesitas atau sindrom metabolik, pernah mengalami batu ginjal sebelumnya serta Kemudian, mengonsumsi suplemen kalsium atau vitamin C tanpa pengawasan tenaga medis hingga penyakit asam urat (gout) atau hiperparatiroidisme juga menjadi faktor yang memicu batu ginjal.

    Baca: Lima Cara untuk Tetap Sehat Saat Panas Ekstrem

    Perjalanan panjang, makanan ringan jalanan yang asin hingga istirahat minum teh atau kopi tanpa cukup air menjadi sejumlah kebiasaan yang bisa memicu terjadinya batu ginjal.

    “Akses kamar mandi yang tertunda, dan terkadang kecenderungan untuk mengabaikan gejala buang air kecil awal,” terangnya,

    Mencegah risiko batu ginjal
    Meski batu ginjal dapat diobati setelah terdiagnosis, Sarbjit turut membagikan sejumlah langkah yang dapat membantu menurunkan risiko batu ginjal seperti minum air putih yang cukup sepanjang hari.

    Menurut dia, bukan hanya jumlah air yang penting, tetapi juga waktu konsumsinya. Disarankan pola konsumsinya seperti pada pagi hari sekitar 500 ml, sebelum berangkat dari rumah sekitar 500 ml.

    Kemudian, selama jam kerja 1–1,5 liter, sore hingga malam 500–700 ml, dan sebelum tidur sedikit air jika tubuh masih merasa nyaman.

    Mengurangi konsumsi garam, sebab apabila terlalu tinggi dapat meningkatkan kadar kalsium dalam urine sehingga memperbesar risiko terbentuknya batu ginjal.

    Baca: Mengapa Pasien Gangguan Ginjal Harus Membatasi Minum Air Putih

    Batasi konsumsi makanan kemasan, keripik, camilan asin, makanan cepat saji, dan makanan yang tinggi garam atau natrium.

    Menurut Sarbjit, pola makan yang terlalu rendah kalsium justru dapat meningkatkan penyerapan oksalat dari makanan, sehingga risiko terbentuknya batu kalsium oksalat bisa semakin besar.

    Kemudian, air lemon dapat membantu sebagian penderita karena kandungan sitrat mampu mengurangi pembentukan batu. Namun, air lemon bukanlah obat yang dapat melarutkan sebagian besar batu ginjal. Hindari menambahkan gula berlebihan.

    Batasi konsumsi protein hewani berlebihan. Konsumsi daging merah, jeroan, dan makanan tinggi protein hewani dalam jumlah besar dapat meningkatkan kadar asam urat pada sebagian orang.

    Hindari mengobati sendiri atau hanya mengandalkan pengobatan rumahan. Apabila batu ginjal sudah menyumbat aliran urine, pengobatan rumahan justru dapat menunda penanganan medis yang diperlukan.

    Nyeri bisa saja menghilang meskipun batu ginjal masih berada di dalam tubuh. Pemeriksaan lanjutan, seperti pemindaian, diperlukan untuk memastikan batu sudah keluar dan pembengkakan pada ginjal telah mereda.

    “Konsultasikan dengan ahli urologi jika gejalanya berlanjut, kambuh, atau terkait dengan demam, nyeri, darah dalam urin, atau berkurangnya aliran urin,” kata Sarbjit.

  • Sudah Jatuh 5 Korban Meninggal: Haruskah Latihan Militer untuk Calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih Tetap Diteruskan?

    Sudah Jatuh 5 Korban Meninggal: Haruskah Latihan Militer untuk Calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih Tetap Diteruskan?

    7cloud.asia – Kementerian Pertahanan menyampaikan total calon manajer Koperasi Merah Putih peserta SPPI yang meninggal dunia, saat ini berjumlah lima orang.

    Saat jumpa pers, Sabtu (27/6/2026), Kepala BPSDM Kemhan, Mayjen Ketut Gede Wetan menyampaikan duka atas meninggalnya calon manajer Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP).

    “Pertama-tama, atas nama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, panitia seleksi nasional, dan seluruh penyelenggara program sarjana penggerak pembangunan Indonesia menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta program SPPI KDKN PKNP tahun 2026 yang sedang mengikuti latihan bela negara dan manajerial,” ujarnya

    Ketut menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Dia mengatakan para peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur.

    “Kelima peserta tersebut memiliki karakter dan kondisi berbeda-beda. Seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan,” ucapnya.

    Baca: Politisi PDI Perjuangan Minta Dilakukan Evaluasi Menyeluruh terhadap Pelatihan Militer Calon Manajer Koperasi Merah Putih

    Berikut nama-nama peserta SPPI yang meninggal dunia:

    1. Yonanda Muhammad Taufiq
    2. Anisa Muyassaroh
    3. Novia Rahmadhani Sihotang
    4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
    5. Nola Dya Sari

    Kematian calon manajer Koperasi Desa Merah Putih yang telah mencapai lima orang menuai sorotan dari banyak kalangan.

    Koalisi Masyarakat Sipil menyebut, hal ini menunjukkan tidak tepatnya sistem pendidikan militer diterapkan secara serampangan untuk warga sipil.

    “Apalagi, tidak ada hubungan sama sekali antara profesionalisme kerja menjalankan tugas koperasi dengan pelatihan militer,” demikian pernyataan Koalisi Masyarakat Sipil, Rabu (24/6/2026).

    Mereka mengkritik program SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh kementerian Pertahanan (Kemhan) bekerja sama dengan TNI.

    Baca: Amnesty Internasional Tolak Pelibatan Taruna Akademi Militer dalam Mendidik Siswa Sekolah Rakyat

    Mereka menilai keterlibatan TNI dalam Koperasi Merah Putih dan Kampung Nelayan tak sesuai amanat Undang-undang TNI.

    Sorotan juga datang dari sejumlah Anggota Komisi I DPR yang mendesak Kemhan untuk menghentikan pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan.

    Anggota Komisi I DPR, Oleh Soleh mengatakan bahwa meninggalnya lima orang calon manajer Kopdes Merah Putih ini merupakan masalah yang sangat serius.

    “Jangan anggap enteng nyawa manusia yang meninggal. Karena itu saya mendesak Kementerian Pertahanan menghentikan sementara pelaksanaan Latsarmil dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut,” tegasnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Parlementaria, Minggu (28/6/2026).

    Menurut Oleh Soleh, Kementerian Pertahanan tidak boleh menganggap murah nyawa para peserta yang meninggal dunia.

    Baca: Militerisasi dan Impunitas Mengancam Masa Depan Demokrasi

    Pasalnya, mereka merupakan putra-putri terbaik bangsa yang memiliki semangat untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi masyarakat melalui program Kopdes Merah Putih.

    “Mereka adalah anak-anak bangsa yang berjuang untuk mendukung keberhasilan program Kopdes Merah Putih dengan mendaftarkan diri sebagai calon manajer. Karena itu setiap kejadian yang menyebabkan hilangnya nyawa harus menjadi perhatian serius dan tidak boleh dianggap sebagai hal biasa,” ujar Politisi Fraksi PKB ini.

    Oleh Soleh juga meminta adanya perbaikan total terhadap sistem pembinaan dan pelatihan yang diberikan kepada calon manajer Kopdes. Menurutnya, pendekatan pelatihan harus disesuaikan dengan latar belakang peserta yang merupakan masyarakat sipil, bukan prajurit militer.

    Dia menegaskan, harus ada evaluasi dan perbaikan total terhadap pola pembinaan serta pelatihan yang diberikan. Mereka adalah masyarakat sipil sehingga pelatihan fisik yang dilakukan tidak boleh terlalu berat.

    “Mereka bukan tentara dan tentu kemampuan fisiknya tidak sama dengan prajurit yang telah menjalani pendidikan kemiliteran,” katanya.