Blog

  • Panen Jagung di Food Estate Keerom

    Panen Jagung di Food Estate Keerom

     
  • Nelayan Masih Terpinggirkan, Ekonomi Biru Harus Diperjuangkan

    Nelayan Masih Terpinggirkan, Ekonomi Biru Harus Diperjuangkan

    7cloud.asia – Ekosistem laut menghadapi masalah serius akibat eksploitasi berlebihan, polusi, hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Kondisi ini sangat mempengaruhi kehidupan nelayan.

    Rumah tangga para nelayan di Indonesia yang masih jadi termiskin di antara yang miskin, sehingga kehidupan nelayan makin sulit.

    Statistik bahkan menunjukkan bahwa semakin sedikit orang yang memilih bertahan di sektor nelayan tersebut.

    Bagaimana perjuangan nelayan melawan dan mengatasi dampak perubahan iklim, berikut hasil penelitian dari WRI dan Universitas Indonesia yang laporannya disusun oleh Lucentezza Napitupulu, Adjunct associate di Universitas Indonesia.

    Berikut laporannya sebagaimana telah diterbitkan di The Conversation.  

    Dunia bergantung pada lautan untuk memenuhi meningkatnya permintaan makanan, pemasukan, energi dan mineral serta transportasi.

    Namun, ekosistem laut menghadapi masalah serius akibat eksploitasi dan ekstraksi berlebih, polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim.

    Kini, lebih dari sebelumnya, ada kebutuhan untuk menyeimbangkan antara produksi dan perlindungan untuk kebutuhan para pengguna lautan di masa kini dan masa depan.

    Akan tetapi, seperti yang ditunjukkan oleh laporan kami, pengelolaan sumber laut di Indonesia–selaku negara kepulauan terbesar dengan kekayaan sumber daya hayati paling besar di dunia–sangatlah kompleks.

    Belum lagi, Indonesia kerap disibukkan dengan perikanan tangkap, produksi budi daya perikanan, dan rantai pasokan komoditas pangan laut lokal dan global.

    Sementara itu, nelayan lokal dengan perahu kecil tidak menarik dalam tata kelola kelautan dan perikanan Indonesia, meskipun mereka berperan penting dalam perlindungan laut.

     
    Nelayan skala kecil terpinggirkan

    Perikanan skala kecil merupakan bagian penting dari keberlanjutan ketahanan pangan dan mata pencaharian di Indonesia.

    Hampir 96% kapal penangkap ikan di Indonesia berukuran di bawah 10 gross ton. Namun hanya 20% tangkapan ikan Indonesia berasal dari mereka.

    Hal ini berkaitan dengan kurangnya pengakuan dan dukungan terhadap para nelayan kecil ini.

    Perikanan skala kecil dan ruang hidup mereka terus termarginalisasi akibat kompetisi dengan perusahaan-perusahaan besar – seperti dalam konflik dengan perusahaan tambang pasir di Sulawesi Selatan.

    Konflik menyebabkan ruang hidup para nelayan ini terampas akibat adanya kontrol eksklusif entitas besar terhadap wilayah tangkapan. Belum lagi masalah kerusakan fisik terhadap ekosistem laut dan sumber penghidupan mereka.

    Baca: PBB ingatkan 2023-2027 akan jadi periode terpanas

    Rumah tangga para nelayan di Indonesia pun masih yang termiskin di antara yang paling miskin. Statistik bahkan menunjukkan bahwa semakin sedikit orang yang memilih bertahan di sektor tersebut.

    Program-program pemerintah pun bisa jadi alasan di balik terpinggirkannya perikanan skala kecil.

    Sebagai contoh, kebijakan penangkapan ikan terukur (PIT) berbasis kuota, yang bertujuan untuk mengelola sektor perikanan dengan menetapkan kuota tangkapan, menimbulkan kekhawatiran tentang kontrol konsesi mayoritas oleh hanya beberapa industri dan investasi perikanan skala besar.

    Akibatnya, hanya sedikit kuota tersisa bagi nelayan tradisional, artisan (ahli skala kecil/skala rumah tangga), dan skala kecil, sekaligus memperlebar kesenjangan pendapatan.

    Terasingnya nelayan skala kecil memperkuat ketidakseimbangan distribusi manfaat laut dan perilaku ekstraktif yang berlebihan.

    Dampaknya, kinerja laut dalam jangka panjang akan mengalami penurunan.

    Buruknya kontrol kualitas dalam ekspor

    Indonesia adalah produsen perikanan tangkap dan akuakultur terbesar kedua setelah Cina. Sayangnya, meskipun produksinya tinggi, Indonesia bukanlah pengekspor skala besar.

    Ekspor makanan laut Indonesia tidak termasuk dalam sepuluh besar dunia pada 2020, lebih rendah daripada Vietnam dan Thailand yang menghasilkan volume lebih kecil.

    Pada 2018, misalnya, nilai ekspor Indonesia hanyalah sebesar US$4,9 juta (sekitar Rp72,34 miliar), jauh lebih rendah dari ekspor Vietnam yang sebesar US$9 juta (sekitar Rp 135,63 miliar).

    Ini ironis mengingat Indonesia menyumbang 8% dari produksi ikan global dan Vietnam hanya 4%.

    Sektor perikanan Indonesia gagal memenuhi target produksi, ekspor, dan pertumbuhan sejak 2017, sebelum pandemi COVID-19 dimulai. Bahkan, kegagalan memenuhi target ekspor sudah terjadi sejak 2015. Jelas ada masalah pengelolaan di sini.

    Salah satu alasan di balik kinerja yang tak memuaskan adalah rendahnya kualitas produksi Indonesia. Akibatnya, pemasukannya pun rendah.

    Baca: Desa pesisir ini terdampak perubahan iklim

    Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat penolakan produk perikanan tertinggiProduk-produk kerap terkontaminasi akibat rendahnya kesadaran nelayan atau sektor perikanan dalam menjaga kualitas. Misalnya, dalam hal udang terkontaminasi bambu, antibiotik, dan lain sebagainya.

    Hal ini diperburuk oleh kurangnya kontrol pemerintah dan perusahaan dalam menggunakan bahan-bahan yang tak aman untuk pengawetan dan pengolahan.

    Tak hanya itu, statistik produksi perikanan Indonesia tak selaras dengan statistik perdagangannya. Sebagai contoh, produksi rumput laut Indonesia tampak signifikan namun kontribusinya terhadap pemasukan ekspor rendah.

    Ini karena Indonesia mengekspor, misalnya, karagenan rumput laut Eucheuma cottonii dalam bentuk mentah kering, sementara yang dilaporkan dalam statistik produksinya adalah rumput laut basah yang tinggi kandungan air.

    Pengelolaan yang buruk merusak lingkungan dan ekonomi

    Masa depan sektor perikanan tampak tak menjanjikan. Penurunan stok ikan, ditambah dengan pengelolaan yang buruk, memperparah kemungkinan jatuhnya kinerja ekonomi sektor kelautan dan perikanan.

    Pengelolaan yang buruk muncul dalam berbagai bentuk. Praktik-praktik perikanan yang melanggar hukum, tidak dilaporkan dan tidak diatur (illegal, unreported, and unregulated fishing).

    Ini melibatkan kapal-kapal asing yang memiliki izin tangkap, tapi tidak melaporkan ukuran atau jenis kapalnya dengan benar demi menghindari pengawasan dan pajak.

    Praktik-praktik ini juga meliputi kapal-kapal asing yang menyamarkan kepemilikan sebenarnya dengan menggunakan nama lokal, atau kapal lokal maupun asing yang tak melaporkan tangkapan mereka dengan jujur.

    Indonesia kehilangan US$4 miliar (Rp60,29 triliun) tiap tahunnya akibat IUU fishing. Sementara, kerugian di tingkat global ditaksir sekitar US$10-23 miliar (Rp 150,72-364,79 triliun) per tahun.

    Baca: Perubahan iklim harus jadi sorotan di WPS High Level ASEAN

    Praktik ini juga menyebabkan 75% sumber daya ikan Indonesia dieksploitasi penuh atau ditangkap secara berlebihan.

    Ini menjadi beban berat bagi 96% nelayan Indonesia yang beroperasi dalam skala kecil dan di tengah meningkatnya ongkos produksi di lautan yang dieksploitasi berlebihan.

    Perlu data yang cukup untuk menjaga kinerja perikanan tangkap jangka panjang. Data-data ini termasuk status stok dan upaya penangkapan, seperti kapasitas kapal, jam atau hari yang dihabiskan untuk menangkap ikan, dan alat tangkap yang digunakan.

    Namun, pengumpulan data ini pun masih tersandung masalah. Perikanan tangkap di Indonesia menggunakan alat yang beragam dan menyasar berbagai spesies. Akibatnya, prediksi dinamika populasi spesies sasaran menjadi sulit.

    Selain itu, pergerakan kapal juga sulit dipahami, dengan kesulitan melacak dan memantau perairan Indonesia yang luas.

    Isu-isu ini menyoroti perlunya partisipasi dari bawah ke atas dalam menciptakan peraturan dan regulasi dalam mengelola laut Indonesia.

    Tiga jalan ke depan

    Ada tiga cara bagaimana kita dapat melibatkan dan memberi manfaat lebih banyak orang dalam pengelolaan laut.

    Yang pertama adalah melibatkan para pemangku kepentingan, termasuk nelayan skala kecil, dalam pengambilan keputusan pengelolaan sumber daya laut dan perikanan.

    Dinamika politik Indonesia memengaruhi pengambilan keputusan seputar pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.

    Misalnya, pemerintah bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan investasi melalui “ekonomi biru”, antara lain dengan menerapkan kebijakan perikanan berbasis kuota yang meminggirkan nelayan tradisional, nelayan artisan (ahli skala kecil atau skala rumah tangga), dan skala kecil.

    Kedua, kita perlu meningkatkan analisis dan pengumpulan data demi manajemen yang efektif dan berkelanjutan.

    Indonesia perlu mengatasi ketidakterhubungan antara data jumlah produksi dan ekspor untuk memantau kinerja ekonomi sektor ini dan kinerja sosial dan lingkungan.

    Pengumpulan data yang memadai untuk pemantauan stok dan upaya perikanan (seperti kapasitas kapal, jumlah jam atau hari yang dihabiskan untuk menangkap ikan, alat tangkap yang digunakan) untuk menjaga kinerja jangka panjang juga penting.

    Terakhir, kita tak bisa melewatkan strategi gender yang inklusif dan adil demi mendukung dan memungkinkan pemulihan dan ketahanan komunitas nelayan secara jangka panjang.

    Partisipasi perempuan nelayan kerap tak tampak dalam pembuatan kebijakan. Padahal, perempuan mewakili 42% tenaga kerja sektor perikanan dan 74% budi daya perikanan. Perempuan adalah aktor-aktor penting di sektor ini dan di rumah tangga nelayan individu.

    Penempatan manusia dan ekosistem sebagai pusat pengambilan keputusan sangat penting untuk menyeimbangkan kebutuhan manusia dan pemanfaatan laut, serta menjaga kesehatan laut dan produktivitas jangka panjang.

     

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

  • Aktor Senior dan Anak Jalanan Ramaikan Drama Musikal Ande Ande Lumutan

    Aktor Senior dan Anak Jalanan Ramaikan Drama Musikal Ande Ande Lumutan

    7cloud.asia – Buat kamu yang belum punya rencana di akhir pekan ini, bisa mempertimbangkan pertunjukan seni drama musikal Ande Ande Lumutan yang akan digelar pada Sabtu (8/7/2023) di Ciputra Artpreneur.
     
    Drama musikal Ande Ande Lumutan ini diadaptasi dari legenda rakyat Ande Ande Lumut dan diselenggarakan oleh Dilts Foundation/Yayasan Dilts.
     
    Yayasan Dilts adalah yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak keluarga prasejahtera dan pemulung. 
     
    Teater dan menari menjadi salah satu yang dikenalkan kepada anak jalanan untuk mengentaskan mereka dari jalanan. 
     
     
    Menurut Ketua Penyelenggara Susi Soetardjo, pementasan Drama Musikal Ande Ande Lumutan yang disutradarai oleh Fabian Riza ini melibatkan total 230 seniman, baik pemain, penata musik hingga penata panggung.
     
    Selain anak-anak jalanan/pemulung binaan Yayasan Dilts, pementasan drama musikal Ande Ande Lumutan ini juga didukung oleh sederet bintang kenamaan.
     

    Bintang kenamaan yang mendukung pementasan drama musikal Ande Ande Lumutan ini antara lain adalah Denny Chandra, Aming, Renny Djajoesman, Edwin – Jhody Super Bejo, Pong Hardjatmo, Rini Mentari, Aida Demimore, Fauzi Saputra, Boyan, Mika Taslim.
     
    Pementasan Ande Ande Lumutan ini juga menampilkan pemain wayang orang Barata, sanggar tari Gemah Wien Production, orkestra 73 dan lainnya.
     
     
    Mereka telah menjalani latihan selama lebih lima bulan, demi kelancaran dan kesuksesan pagelaran drama musikal Ande-Ande Lumutan ini. 
     
    “Latihan dilakukan secara terpisah, awalnya anak-anak dilatih dasar menari. Baru setelah itu dilakukan latihan gabungan bersama para pemain lainnya,” terang Susi dalam jumpa pers yang digelar di Ciputra Artpreneur, Jakarta pada Kamis (6/7/2023) 
     
    Ketua Dilts Foundation/ Yayasan Dilts Bayu Indra mengatakan, drama musikal Ande Ande Lumutan yang akan digelar pada hari Sabtu (8/7/2023) diselenggarakan dalam rangka menyambut peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli. 
     

    Pementasan drama musikal Ande Ande Lumutan akan dilakukan dua kali pada 8 Juli 2023, yakni pukul 15:00-17:00 WIB dan pukul 19:30-21:30 WIB. 
     
     
    Ditambahkannya, drama musikal Ande Ande Lumutan ini akan dibawakan dengan gaya kekinian, namun tanpa meninggalkan semangat naskah aslinya.
     
    “Pementasan drama musikal Ande Ande Lumutan ini tidak meninggalkan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita aslinya, Ande Ande Lumut, yakni kesetiaan, komitmen, kepeduliaan, kekuatan persatuan,” ujar Bayu Indra dalam jumpa pers yang digelar pada Kamis (6/7/2023).

     
    Bayu Indra berharap pertunjukan amal ini bisa menjadi pengingat bagi generasi muda, khususnya anak-anak penerus bangsa agar supaya tetap kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya nan agung.
     

    “Agar generasi muda  memiliki kebanggaan atas budaya bangsa sendiri, serta semakin menumbuhkan semangat cinta akan tanah air, Indonesia,” imbuh Bayu Indra. 
     
     
     
  • Erick Thohir Bantah Ada Unsur Politis dalam Renovasi JIS, Ada 22 Stadion yang Direnovasi

    Erick Thohir Bantah Ada Unsur Politis dalam Renovasi JIS, Ada 22 Stadion yang Direnovasi

    “Rencana renovasi stadion termasuk JIS ini niat baik semua, apalagi niat baik pecinta sepak bola jangan dirunyami isu politik. Pemilihan presiden jalan aja sendiri,” kata Erick Thohir kepada wartawan di Jakarta, Kamis (6/7/2023).
     
    Baca: Piala Dunia U-17 berbarengan dengan jadwal Konser Coldplay

    Sebelumnya, Erick Thohir bersama dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan PJ Gubernur DKI Jakarta meninjau kualitas infrastruktur stadion JIS yang dibangun pada era Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

    Dalam peninjauan tersebut ditemukan sejumlah hal yang harus diperbaiki di JIS. Salah satunya adalah rumput stadion JIS harus diperbaiki karena dinilai belum memiliki standar FIFA.

     
    Selain itu areal parkir dan pintu masuk JIS juga dinilai tidak memadai sehingga perlu direnovasi, karena JIS akan digunakan sebagai salah satu stadion penyelenggaraan Piala Dunia U-17.
     
    Baca: Seperti ini rencana pemerintah pusat terkait renovasi JIS
     
    Renovasi JIS diperkirakan akan memakan waktu tiga bulan dan akan memakan biaya hingga miliaran rupiah. 

    Rencana renovasi 22 stadion sepak bola di Indonesia tersebut, kata Erick Thohir, sudah tercantum dalam cetak biru “Garuda Terbang Tinggi 2045” yang merupakan tawaran dari Indonesia agar tidak terkena sanksi FIFA saat terjadi tragedi Kanjuruhan dan pembatalan Piala Dunia U-20.

    Sebanyak 22 stadion yang akan direnovasi pun tidak hanya di Jakarta, melainkan juga di daerah lainnya di Indonesia.

     
    Baca: Olah raga di sore hari bagus untuk penderita diabetes tipe 2
     
    Bahkan selain rencana renovasi 22 stadion, juga ditambahkan dengan rencana renovasi 16 stadion Liga 1 agar dapat menggunakan sistem video asisten wasit (VAR).

    Erick mengatakan, renovasi 16 stadion menggunakan VAR akan disinergikan dengan renovasi 22 stadion yang sudah direncanakan oleh PSSI.

    “Saya berharap ini jangan jadi polemik, seakan-akan politik. Kita ingin mendorong lebih banyak stadion berstandar FIFA,” kata Erick.

     
    Baca: Jakarta kini sudah punya peta bersepeda

    Ketua Umum PSSI yang juga Menteri BUMN tersebut mengatakan kualitas rumput lapangan untuk ajang turnamen FIFA, yang akan digunakan beberapa pertandingan dalam satu periode waktu tertentu, harus memiliki standar yang tinggi.

     
    Dia menerangkan bahwa standar internasional berbeda dengan standar FIFA.

    Baca: LRT Jabodebek diujicobakan bulan Juli ini

  • Komisi X DPR Soroti Tingginya Angka Putus Sekolah dan Tidak Meratanya Pendidikan di NTT

    Komisi X DPR Soroti Tingginya Angka Putus Sekolah dan Tidak Meratanya Pendidikan di NTT

    7cloud.asia – Komisi X DPR menyoroti tingginya angka putus sekolah dan kurang meratanya kualitas pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Wakil Ketua Komisi X DPR Dede Yusuf menegaskan, kualitas pendidikan yang lebih baik akan mempengaruhi masa depan anak muda Indonesia.

    Dia mendorong seluruh stakeholder bersama-sama mendukung pemerataan pendidikan demi menjamin lahirnya kualitas pendidikan.

    “Banyak terjadi pemuda-pemuda di NTT yang berangkat ke luar negeri hanya menjadi pekerja kasar. Mestinya melalui pendidikan mereka harus bisa didorong untuk memiliki skill dan kemampuan-kemampuan beradaptasi pada sektor dunia kerja yang sangat beragam saat ini,” ungkap Dede usai memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (6/7/2023).

    Baca: Mendobrak mitor, pendidikan vokasi kini lebih dilirik dunia kerja

    Dikutip Parlementarian, Dede juga menyoroti evaluasi asesmen nasional di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T), khususnya sejumlah daerah di NTT, yang dinilainya belum optimal  pelaksanaanya.

    Hal ini lantaran adanya kendala terbesar diakibatkan oleh belum maksimalnya dukungan infrastruktur dan sumber daya manusia untuk menyesuaikan standar asesmen nasional. 

    Sebab itu, Dede berharap ada perlakuan khusus dari Kementerian Pendidikan Budaya Teknologi dan Riset (Kemendikbudristek) terhadap satuan pendidikan yang berada di 3T agar penilaian siswa dilakukan secara ‘hybrid’.

    Hybrid itu artinya sebagian untuk wilayah perkotaan bisa menggunakan asesmen nasional tapi sebagian wilayah yang daerah masih remote atau belum terjangkau masih bisa menggunakan sistem ujian nasional,” terangnya.

    Baca: Lebih dari 6000 anak Papua tidak sekolah

    Menutup pernyataannya, ia mengingatkan bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus memberikan atensi khusus penyelenggaraan pendidikan di daerah 3T.

    Penyelenggaraan pendidikan di daerah 3 T ini menjadi pekerjaan bersama dan harus ada atensi khusus dari pemerintah, terutama dari Presiden tentang bagaimana pengembangan sumber daya manusia (SDM) di wilayah 3T.

    “Kami sepakat memang perlu ada dukungan anggaran tambahan karena (di sini) partisipasi pendidikan masih rendah,” tandas Dede

    Dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi X DPR Anita Jacoba mengingatkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi NTT untuk berkomitmen mendukung penuh pemerataan akses pendidikan.

    Baca: PKBM, harapan bagi mereka yang putus sekolah

    Berdasarkan informasi yang diterimanya, angka putus sekolah dan mengulang di SMA dan SMK di NTT masih tinggi. Diketahui, pada tahun ajar 2020-2021, tingkatan SMA mencapai 1.518 siswa, dan tingkatan SMK mencapai 1.059 siswa.

    “Saya sebagai anggota Komisi X akan memastikan, supaya pemerintah pusat memberikan anggaran pendidikan yang lebih besar untuk NTT,” ucap Anita usai mengikuti agenda 

    Anggaran tersebut akan digunakan untuk sarana prasarana, peningkatan kualitas SDM Pendidik, dan beasiswa. Untuk Pemerintah Daerah, (saya dorong agar) berkomitmen secara proaktif  untuk mewujudkan Program Pendidikan Wajib Belajar 12 tahun.

    Baca: Potret pendidikan di daerah 3T

    Dalam kesempatan itu Anita juga menyoroti asesmen nasional, yang penyelenggaraanya belum optimal akibat adanya ‘gap’ pemahaman pelaksanaan asesmen nasional antara Kemendikbudristek, Pemerintah Daerah melalui Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT, dan para kepala sekolah.

    Jika kondisi ini dibiarkan, sebutnya, akan menimbulkan polemik pendidikan yang tentu akan mengorbankan tenaga pendidik sekaligus para siswa.

    “Seharusnya program pemerintah harus ada sosialisasi dari pusat, lalu dinas-dinas terkait, dan kepala dinas melakukan sosialisasi lagi kepada para kepala sekolah (mengenai) apa yang harus disiapkan untuk menghadapi asesmen ini,” terang Politisi Fraksi Partai Demokrat ini.

    Baca: Pandemi Covid-19 akibatkan learning loss secara massal

    Ia menegaskan asesmen ini sebenarnya tujuannya bagus, yakni agar sekolah bisa melihat gambaran seperti apa guru dan siswanya. Tapi ia melihat kepala sekolah tidak memahami tujuan tersebut karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah

    Sebagai Wakil Rakyat Daerah Pemilihan NTT II, ia mendorong Pemerintah Pusat berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah untuk aktif menyelenggarakan pelatihan yang mendukung pendidikan yang mangkus dan sangkil.

    Baginya, upaya ini krusial guna membumikan Program Merdeka Belajar, yang nantinya berdampak pada hasil assesmen nasional yang lebih baik.

    Maka dari itu, dirinya sepakat bahwa peningkatan kualitas kepala sekolah dan gurunya harus diperhatikan, khususnya di Provinsi NTT. 

    Baca: Seperti ini dukungan Presiden Jokowi bagi pendidikan vokasi

     

  • Mengurai Eksistensi Masyarakat Adat di Kawasan IKN

    Mengurai Eksistensi Masyarakat Adat di Kawasan IKN

    7cloud.asia – Suku Balik, salah satu suku adat yang telah tinggal di kawasan inti Ibu Kota Nusantara atau IKN selama ratusan tahun kini terusi dari tanah mereka.

    Secara administratif warga Suku Balik kini tinggal di kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur atau tak jauh dari lokasi IKN.

    Sibukdin, kepala adat suku Balik di kecamatan itu mengatakan, sampai saat ini belum ada pengakuan hukum yang sah, terkait keberadaan dan hak-hak mereka di IKN.

    “Kami berharap, kami ini bisa mendapatkan jalan keluarnya, agar mendapatkan pengakuan dari pemerintah secara khusus buat kami yang ada di situ. Enggak mungkin kami yang ada di situ, didatangkan orang dari luar, kami yang diusir dari situ,” ujarnya.

    Baca: Konsep kota hutan IKN tak menjamin ramah lingkungan

    Sibukdin menyampaikan itu dalam diskusi terkait eksistensi masyarakat adat di IKN, yang diselenggarakan di Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (6/7/2023).

    Diskusi soal IKN ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum Perempuan dan Anak (PuSHPA) Fakultas Hukum, Universitas Mulawarman, dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

    “Kami tidak mungkin kalau menolak. Itu dianggap nanti bahasanya kurang enak. Tapi kami belum bisa menerima atau mendukung sepenuhnya keberadaan IKN di tempat kami. Terus terang saja, karena keberadaan kami belum diakui,” tambahnya.

    Pembangunan kawasan IKN sendiri terus berlangsung sampai saat ini. Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebut, progres pembangunan tahap 1 sudah mencapai sekitar 30 persen.

    Baca:  Menggali makna Pohon Hayat yang menjaid logo IKN

    Muhammad Arman, Direktur Advokasi PB AMAN menyebut, di tengah proyek infrastruktur IKN itu, banyak persoalan menyangkut masyarakat adat yang belum selesai.

    “Titik Nol itu menjadi penanda awal, dari satu situasi yang dihadapi oleh masyarakat adat sejak dulu. Setelah ekspansi industri ekstraktif, ada tambang salah satunya, kemudian Hutan Tanaman Industri (HTI). Titik Nol menjadi penanda awal suatu proses penyingkiran masyarakat adat,” kata Arman.

    Nol yang disebut Arman adalah lokasi pusat IKN, yang selama ini menjadi tempat acara seremonial terkait IKN.

    Arman mengingatkan, dalam konteks IKN, naskah akademik yang menjadi dasar penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) IKN, jelas menyebut keberadaan masyarakat adat.

    Baca: Mengenal mitos pohon hayat di berbagai negara

    Menurut Arman setidaknya ada tujuh suku asli yang disebutkan dalam naskah akademik IKN tersebut.

    “Tetapi begitu diterjemahkan ke dalam Rancangan Undang-Undang iKN, enggak ada itu, dia hilang. Jadi naskah akademik sebagai quality control dari satu RUU itu menjadi kehilangan nilai,” ujar Arman.

    Tidak hanya itu, dalam pelaksanaannya di lapangan, proses pembangunan IKN juga tanpa partisipasi masyarakat adat.

    Padahal, kata Arman, mereka harus diajak bicara dalam konteks yang disebut sebagai partisipasi penuh dan efektif. Proses ini diatur dalam berbagai instrumen hukum.

    Baca: Mengenal konsep slow city yang sedang ngetrend

    Arman menambahkan, masyarakat adat di sekitar lokasi IKN tidak pernah diberikan kesempatan sejak awal untuk menyatakan, setuju atau tidak setuju.

    “Anda bisa bangun (IKN, red) di sini, ini boleh dibangun di sini, yang ini tidak boleh dibangun di sana,” papar Arman.

    Pemerintah seolah mengasumsikan bahwa tanah dimana IKN akan dibangun adalah lahan kosong tak bertuan, lanjut Arman.

    Padahal, berdasar peta indikatif yang disusun AMAN tahun lalu, ada 51 komunitas masyarakat adat yang akan terdampak IKN. Sebanyak 17 komunitas ada ada di Penajam Paser Utara dan 34 komunitas di Kutai Kartanegara.

    Sumber: VOA Indonesia.

     

  • Majalah National Geographic Akan Menghentikan Edisi Cetak Tahun Depan

    Majalah National Geographic Akan Menghentikan Edisi Cetak Tahun Depan

    7cloud.asia – Setelah berabad lamanya melaporkan spesies yang terancam punah dan dunia flora dan fauna, National Geographic telah memutuskan untuk mengorganisasi diri. 

    Pada akhir Juni lalu, majalah National Geographic dengan warna khas kuning itu akan segera pamit dari para pembacanya. National Geographic memberhentikan semua staf penulisnya yang tersisa pada hari Rabu (28/6/2023) lalu.

    PHK di National Geographic ini melibatkan lebih dari 19 staf editorial yang diberitahu tentang penghentian mereka pada bulan April. Ini adalah pengurangan terbaru di bawah Perusahaan Walt Disney yang memiliki National Geographic.

    Baca: Surat kabar tertua di dunia berhenti cetak

    Selanjutnya, penugasan artikel akan diberikan kepada pekerja lepas atau disatukan oleh editor. Sebuah departemen audio kecil juga menjadi bagian dari PHK di National Geographic ini

    PHK terbaru ini merupakan yang kedua selama sembilan bulan terakhir. Tahun lalu di bulan September, Disney memecat enam editor top National Geographic.

    “NatGeo memecat semua staf penulisnya,” cuit Craig Welch, mantan penulis senior majalah National Geographic.

    Baca: Membaca pemikiran Kartini

    Dia menambahkan, “Saya sangat beruntung. Saya bekerja dengan jurnalis yang luar biasa dan menceritakan kisah global yang penting. Itu suatu kehormatan.

    Wartawan lain Doug Main berkata, “National Geographic memberhentikan staf penulisnya, termasuk saya.”

    Chris Albert, juru bicara National Geographic kepada The Washington Post mengatakan bahwa perubahan staf ini tidak akan memengaruhi rencana perusahaan untuk terus menerbitkan majalah bulanan.

    “Tetapi memberi kami lebih banyak fleksibilitas untuk menceritakan kisah yang berbeda dan bertemu audiens kami di mana mereka berada di banyak platform National Geographic,” ujarnya

    Baca: Mengapa terjadi perang gender di Korea Selatan

    Seperti apa masa depan National Geographic?

    Majalah National Geographic yang berbasis di Washington tidak akan lagi tersedia di kios koran di AS mulai tahun depan, menurut The Washington Post.

    Majalah National Geographic pertama kali diterbitkan pada tahun 1888 dan telah mensurvei sains dan alam selama hampir 135 tahun.

    Dalam wawancara November dengan Axios, pemimpin redaksi majalah Nathan Lump mengatakan bahwa National Geographic berencana untuk berinvestasi lebih banyak dalam video sosial karena merek tersebut mencoba untuk memodernisasi diri.

    Baca: Mengenal tradisi thudong para bhante Budha ke Borobudur

    Dia menambahkan bahwa perusahaan sedang mencoba memperluas jejak digitalnya dan memasukkan lebih banyak video pendek untuk dipublikasikan di platform seperti TikTok dan Instagram Reels.

    “Jangkauan sosial kami yang luar biasa sebagian besar didasarkan pada kekuatan kami di Instagram, yang didasarkan pada kekuatan kami dalam fotografi, yang luar biasa,” katanya.

    Dia menambahkan, “Tapi jelas, kami tahu bahwa video mendorong banyak keterlibatan di media sosial, dan di situlah banyak pertumbuhan dalam hal keterlibatan dan pengguna serta platform sosial. Jadi, kita perlu lebih menekankan di sana.”

    Baca: Mengenal tradisi seba masyarakat adat Badui

    Sumber: firstpost.com, baca artikel asli di sini

  • Ditanya Kenapa Ibu Kota Indonesia Tidak Dipindah ke Papua, Ini Jawaban Jokowi

    Ditanya Kenapa Ibu Kota Indonesia Tidak Dipindah ke Papua, Ini Jawaban Jokowi

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat beraudiensi dengan sejumlah siswa di Papua pada Jumat (7/7/2023) mendapat pertanyaan yang tidak diduga-duga.

    Seorang murid sekolah dasar (SD) di Papua yang hadir di acara tersebut bertanya kepada Jokowi, mengapa ibu kota Indonesia tidak dipindahkan ke Papua.

    Murid bernama Kesia Olivia Ergor itu menanyakan langsung kepada Presiden Jokowi saat audiensi di Ballroom Cendrawasih, Swiss-Belhotel, Kota Jayapura, Papua, Jumat.

    Baca: Lebih dari 600 ribu anak Papua tidak bersekolah

    Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima di Jumat (7/7/2023), dalam pertemuan tersebut, para pelajar awalnya menampilkan kemahiran mereka dalam hal berhitung kepada Presiden Jokowi.

    Setelah itu, Presiden Jokowi memberikan kesempatan kepada anak-anak tersebut untuk mengajukan pertanyaan. Kesia Olivia Ergor kemudian mengajukan pertanyaan kepada Presiden.

    “Kenapa ibu kota negara tidak dipindahkan saja ke Papua?” tanya anak yang berasal dari Kota Sorong, Papua Barat tersebut.

    Baca: Potret pendidikan di daerah 3 T

    Menjawab pertanyaan Kesia, Jokowi mengatakan ibukota dipilih di wilayah yang berada di tengah-tengah Indonesia.

    “Indonesia ini sangat besar, dari Papua sampai ke Aceh, dari Sabang sampai Merauke, ya, sangat luas sekali,” ujar Presiden Jokowi.

    Dengan kondisi geografis yang sangat luas tersebut, Presiden menjelaskan bahwa Ibu Kota Nusantara (IKN) dipilih di Kalimantan.

    Baca: Makna Pohon Hayat yang menjadi logo IKN

    Jokowi lantas memaparkan pertimbangannya, antara lain, karena posisinya yang berada di tengah-tengah Indonesia sehingga dekat untuk diakses dari seluruh pelosok Indonesia.

    Baik warga yang berada di sisi barat, timur, utara, maupun sisi selatan Indonesia.

    “Kalau dipilih yang timur, kalau ibu kotanya dipilih di Papua, yang dari Aceh ke Papua itu kalau ke sini jauh sekali, 9 jam dari Aceh ke Papua naik pesawat, lho itu. Kalau naik kapal bisa berminggu-minggu,” ungkapnya.

    Baca: Konsep kota hutan, tak serta merta IKN ramah lingkungan

    Kepala Negara melanjutkan, “Jadi, dipilih ibu kota itu di tengah-tengah sehingga dipilih Nusantara di Kalimantan. Di tengah-tengah, dari timur dekat, dari Papua dekat, dari Aceh juga dekat, dari utara juga dekat, dari selatan juga dekat. Jadi, dipilih di tengah-tengah.”

    Presiden Jokowi pun mengapresiasi para pelajar Papua yang dinilainya pintar dan berani. Presiden Jokowi berpesan agar anak-anak tersebut bisa terus semangat belajar.

    “Ini anak-anak di Papua ini pintar dan berani. Baik anak-anakku semuanya, terima kasih atas kehadirannya pada pagi hari ini dan semuanya semangat belajar semuanya, ya, dan hati-hati semuanya pulang sampai ke rumah masing-masing di kabupaten dan kotanya masing-masing,” ujar Jokowi.

  • Banyak Persoalan Menyangkut Masyarakat Adat, Komnas HAM Sebut UU IKN Perlu Direvisi

    Banyak Persoalan Menyangkut Masyarakat Adat, Komnas HAM Sebut UU IKN Perlu Direvisi

    7cloud.asia – Komisioner Komisi nasional hak asasi manusia atau Komnas HAM, Saurlin P. Siagian meminta agar UU tentang Ibu Kota Negara atau UU IKN yang menjadi landasan hukum pembangunan IKN untuk direvisi.

    Usulan agar UU IKN direvisi karena berbagai persoalan yang menyangkut masyarakat adat, harus diselesaikan secara mendasar. 

    “Memang kita rekomendasikan supaya Undang-Undang IKN direvisi. Jadi, itu saya kira masih sangat relevan, Komnas HAM merekomendasikan supaya Undang-Undang IKN direvisi,” kata Saurlin di sela diskusi tentang keberadaan masyarakat adat di IKN yang diselenggarakan Universitas Mulawarman di Samarinda, Kalimantan Timur beberapa waktu lalu.

    Baca: Sengkarut keberadaan masyarakat adat di lokasi IKN

    Saurlin setuju, bahwa pemerintah tidak boleh mengandalkan kawasan IKN sebagai tanah kosong ketika pembangunan dilakukan.

    “Di situ ada fitur-fitur adat, di situ wilayah adat masa lalu, ada berbagai jenis kekayaan Nusantara, ada berbagai makanan di sana,” ujar Saurlin.

    Karena itu, justru yang harus dipikirkan adalah bagaimana masyarakat akan melakukan penyambutan terhadap mereka yang datang karena pembangunan IKN. Namun, secara umum, pemerintah memang belum menempatkan masyarakat adat pada posisi seharusnya.

    Baca: Menggali makna Pohon Hayat yang jadi logo IKN

    Pada 2014-2016 Komnas HAM melakukan penelitian nasional terkait masyarakat adat. Hasilnya adalah sebuah buku laporan dengan total hampir 4 ribu halaman.

    Laporan itu berisi keberadaan masyarakat adat dan rekomendasi dan pengakuan bagi masyarakat adat, termasuk di Kalimantan.

    Sayangnya, sejak diselesaikannya laporan itu, tidak banyak rekomendasi yang dijalankan pemerintah.

    “Intinya, masyarakat adat itu masih mengalami problem pembiaran. Belum diakui. Lalu ketika tidak diakui sebagai subyek, sebagai komunitas, sebagai masyarakat, itu berimplikasi pada tidak diakui kepemilikannya, wilayahnya atau hutannya,” tegas Saurlin.

    Baca: Konsep kota hutan tak serta merta jadikan IKN ramah lingkungan

    Komnas HAM mencatat, ada lebih dari 2.500 komunitas adat di seluruh Indonesia yang membutuhkan pengakuan dari Negara.

    Pakar hukum dari Universitas Mulawarman, Rahmawati Al Hidayah melihat ada sudut pandang yang berbeda dalam persoalan ini.
     
    Dari sisi masyarakat adat, ada keresahan karena mereka merasa terintimidasi, belum ada komitmen pengakuan, dan belum ada akses informasi.
     
     
    Namun pemerintah di sisi lain bersikeras, bahwa seluruh proses pembangunan IKN, tertuang dalam masterplan yang sudah berisi data komprehensif termasuk tentang penguasaan lahannya.
     
    “Temuan kita apa? Masyarakat lokal itu ada, masyarakat adat itu ada. Namun situasi hukum formal saat ini, menempatkan masyarakat adat dalam posisi yang lemah, khususnya dalam konteks pertanahan,” kata Rahmawati.

    Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) hingga Juni lalu, progres konstruksi di IKN tahap 1 mencapai 29,45 persen.

    Baca: 

    Seluruh proyek pembangunan IKN tahap 1 ditargetkan selesai pada 2024. Presiden Joko Widodo meminta, agar upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 79 pada Agutus 2024 bisa digelar di IKN.

    Seluruh proyek di IKN dari 2022-2024 terbagi dalam 76 paket pengerjaan, dengan 37 tahap di antaranya sedang dalam pengerjaan.

    Total 76 paket pembangunan IKN ini diperkirakan membutuhkan biaya Rp62,27 triliun. 

    Sumber : VOA INdonesia

  • Pelaku Kekerasan Berlapis pada PRT SK Hanya Dituntut 4 Tahun, Keberpihakan Jaksa Dipertanyakan

    Pelaku Kekerasan Berlapis pada PRT SK Hanya Dituntut 4 Tahun, Keberpihakan Jaksa Dipertanyakan

    ruangkota.om – Proses peradilan kasus kekerasan terhadap pekerja rumah tangga atau PRT Siti Khotimah (SK) sudah memasuki tahap pembacaan tuntutan jaksa.

    Pada sidang dengan agenda pembacaa tuntutan pada Rabu (5/7/2023) lalu Jaksa penuntut umum hanya menuntut para terdakwa dengan hukuman masing-masing 4 tahun penjara bagi pelaku utama  dan 3,5 tahun bagi pelaku lainnya.

    Atas tuntutan ini, LBH APIK Jakarta, LBH APIK Semarang, LRC KJHAM, dan JALA PRT yang mendampingi kasus SK mengajukan sejumlah catatan.

    Tuntutan ini dianggap belum adil karena tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami PRT Siti Khotimah. 

    Baca: Sidang perdana kasus kekerasan terhadap PRT SK

    Seperti diketahui PRT Siti Khotimah telah dianiaya oleh majikan dan rekan pekerjanya sesama PRT. Ia dipukuli, diborgol, dipaksa makan kotoran, tidak diberikan upah, dan sejumlah kekerasan lainnya.

    “Akibat kekerasan yang dialaminya, PRT Siti Khotimah tak hanya mengalami luka fisik, tetapi juga luka psikis, sehingga tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut terlalu ringan,” terang Husna Amin dari LBH APIK dalam konferensi pers yang dilaksanakan secara daring pada Jumat (7/7/2023) seperti dipantau dari Youtube LBH APIK.

    Konferensi pers bertajuk “Suara Keadilan Untuk Siti Khotimah: Jaksa, Kepada Siapa Kalian Berpihak?” ini juga menghadirkan LBH APIK Jakarta, LBH APIK Semarang, LRC KJHAM, dan Jaringan Nasional Advokasi (JALA) PRT.

    Husna mengatakan, pihaknya telah menyiapkan strategi khusus agar putusan yang dijatuhkan oleh hakim memberi keadilan bagi korban.

    Baca: PRT Infal, bukti peran penting PRT dalam ekonomi kota

    Koordinator JALA PRT Lita Anggraini mengatakan, meski luka kaki SK sudah mengering tapi dia masih sering merasakan kesakitan dan masih sangat lemah.

    “Ia masih sering teriak kesakitan dan traumatik atas kejadian yang dialaminya dan sering tiba-tiba menangis,” terang Lita. 

    Lita menambahkan, kasus kekerasan yang dialami SK adalah salah satu kasus kekerasan berlapis yang dilakukan pemberi kerja. Kasus seperti ini, lanjut Lita, sering diterima JAla PRT selain kasus TPPO.

    Lita menyayangkan, selama ini proses hukum kekerasan pada PRT tidak berjalan sesuai mestinya. 

    Baca: Dalam enam bulan puluhan PMI asal NTT meninggal di Malaysia

    Polisi, ujarnya, sering tidak merespon pengaduan atas berbagai kekerasan yang dialami PRT, baik kekerasan fisik maupun ekonomi maupun kekerasan seksual sebagaimana seharusnya. 

    Dia mencontohkan, dalam kasus kekerasan yang dialami PRT SK ini pengadilan yang tidak memasukkan kekerasan seksual dalam dakwaan. 

    Di pengadilan, hakim sering membebaskan pelaku dengan alasan sudah lanjut usia dan sudah menyatakan menyesal. 

    “Penyesalan itu tidak cukup dan tidak dapat menggantikan derita korban yang berlasgung seumur hidup. Keputusanini juga tidak menciptakan efek jera, sehingga kekerasan terhadap PRT terus terjadi.

    Baca: Perjuangan panjang para buruh raih keadilan

    Lita mendesak agar RUU PPRT segera disahkan untuk mencegah agar kekerasan kepada PRT tidak terus terjadi.

    Baik JALA PRT maupun LBH APIK juga menekankan pentingnya restitusi dalam kasus kekerasan yang dialami PRT SK ini. 

    Selaku kuasa hukum dan pendamping korban JALA PRT dan LBH APIK menyayangkan Negara tidak hadir dalam memberikan keadilan dan pemenuhan hak korban, Jaksa yang seharusnya mewakili korban justru menciderai keadilan untuk Korban.

    “Jaksa penuntut umum tidak memberikan perlindungan bagi terjaminnya hak SK, sesuai Pedoman Kejaksaan Nomor 1 Tahun 2021 tentang akses keadilan bagi perempuan dan anak dalam penanganan kasus Pidana,” terang Husna.

    Baca: Marsinah, simbol abadi perjuangan buruh perempuan di Indonesia

    Para pendamping PRT SK juga mendesak agar majelis hakim yang diketuai oleh Tumpanuli Marbun,S.H.,M.H dapat memberikan hukuman yang lebih berat dari tuntutan Jaksa penuntut umum, karena terdakwa telah melakukan berbagai kekerasan baik, fisik, psikis dan seksual terhadap korban PRT SK.

    Jika memang keputusan hakim PN Jakarta Selatan, maka para pendamping akan terus berjuang hingga PRT SK mendapatkan keadilan sebagaimana mestinya.