Category: Uncategorized

  • Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Tetapi Kemiskinan Tetap Bertambah: Dampak dari Ekonomi yang Merusak Lingkungan

    Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Tetapi Kemiskinan Tetap Bertambah: Dampak dari Ekonomi yang Merusak Lingkungan

    7cloud.asia – Presiden Prabowo Subianto dalam penutupan Mubes dan Konbes NU 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026), mengungkapkan keheranannya terhadap anomali pertumbuhan ekonomi 5 persen yang diiringi peningkatan kemiskinan.

    Dilansir dari nu.online, dalam kesempatan itu Prabowo memaparkan jumlah masyarakat miskin meningkat dari 46,1 juta menjadi 49,5 juta jiwa.

    Sementara itu, kelompok kelas menengah mengalami penurunan dari 22,1 juta orang pada 2017 menjadi 17,4 juta orang pada 2024.

    Merespons pernyataan Prabowo tersebut, Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Boy Jerry Even Sembiring menegaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah kebetulan atau misteri ekonomi.

    Sebaliknya, hal itu merupakan konsekuensi logis dari model ekonomi ekstraktif yang merusak lingkungan serta merampas ruang hidup rakyat

    Baca: Industri Ekstraktif dan PSN Hancurkan Hutan Kalimantan Tengah 

    Boy menegaskan bahwa keheranan Prabowo ini seharusnya dijawab dengan keberanian untuk membongkar indikator pembangunan yang selama ini dijadikan acuan.

    Pertumbuhan ekonomi 5 persen yang selalu dipamerkan setiap kuartal hanyalah angka imajiner dan abstraksi statistik yang terputus dari realitas kehidupan rakyat di tingkat tapak

    “Angka pertumbuhan 5 persen bahkan target 8 persen itu bersifat imajiner. Hal ini terjadi karena perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) hanya berfokus pada akumulasi modal, yaitu seberapa banyak sumber daya alam diekstraksi,“ tandas Boy dalam pernyataannya kepada media.

    Aktivitas seperti pengerukan batu bara, perluasan tambang, hilirisasi nikel, serta ekspansi perkebunan sawit kerap dianggap sebagai prestasi ekonomi. Padahal, lanjut Boy, aktivitas tersebut mengabaikan keberlanjutan ruang hidup rakyat dan ekosistem.

    ”Bagi masyarakat di tingkat tapak, angka pertumbuhan tidak memiliki arti ketika air bersih tercemar, wilayah tangkap nelayan menyempit, dan ruang hidup dirampas paksa oleh korporasi,” tegasnya.

    Baca: Ribuan Desa di Kalimantan Timur terdampak Obral Izin Ekonomi Ekstraktif 

    WALHI menilai bahwa pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut sistem di Indonesia keliru dan kekayaan negara mengalir ke luar merupakan pengakuan empiris atas kegagalan pendekatan ekonomi selama ini.

    Pemerintah selama ini beranggapan bahwa pemberian karpet merah kepada investasi ekstraktif skala besar secara otomatis akan meneteskan kesejahteraan ke lapisan masyarakat terbawah. Namun, kenyataannya asumsi tersebut terbukti gagal total.

    Fakta di lapangan menunjukkan bahwa model pembangunan saat ini justru membuat kekayaan terkonsentrasi di tangan segelintir orang. Masyarakat tidak menerima manfaat apa pun selain limbah, bencana ekologis, penggusuran dan pemiskinan struktural.

    Industri skala besar terus mengisap sumber daya alam dari kampung-kampung, lalu meninggalkan dampak kerusakan yang mendalam bagi komunitas di tingkat tapak.

    Pemerintah diminta berhenti menggunakan PDB sebagai satu-satunya alat ukur keberhasilan negara. Pemerintah perlu beralih ke indikator kesejahteraan yang berbasis pada keadilan ekologis, hak asasi manusia dan kedaulatan ruang hidup rakyat.

    Baca: Pertumbuhan Ekonomi Berdiri di Atas Pondasi yang Rapuh

    “Jangan lagi mengejar angka imajiner jika taruhannya adalah masa depan bumi dan rakyat Indonesia,” tegas Boy.

    Oleh karena itu, WALHI meminta Presiden untuk mengubah arah ekonomi Indonesia dengan menghentikan obsesi terhadap capaian pertumbuhan.

    Selain itu, Presiden harus mengubah secara mendasar arah kebijakan ekonomi Indonesia dari yang semula bergantung pada ekonomi ekstraktif menjadi strategi ekonomi yang bertumpu pada keberlanjutan dan well-being.

    Perubahan ini dapat diwujudkan melalui pengakuan terhadap hak atas alam (rights of nature), hak antargenerasi (intergenerational rights), serta penguatan ekonomi rakyat secara langsung dan perlindungan terhadap ekosistem.

    Sebagai bentuk komitmen nyata, pemerintah harus membangun kebijakan yang menjamin kepastian wilayah kelola rakyat, hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta perlindungan penuh terhadap keberlanjutan alam.

  • Mungkinkah Kota Punya Ruang Terbuka Hijau yang Ideal di Masa Depan?

    Mungkinkah Kota Punya Ruang Terbuka Hijau yang Ideal di Masa Depan?

     

    7cloud.asia – Kalau berkunjung ke Tebet Eco Park, Taman Literasi Blok M, kompleks Gelora Bung Karno (GBK) atau tempat-tempat terbuka (outdoor) lainnya, kamu akan menemukan banyak anak muda—terutama Gen Z dan Milenial—yang asyik nongkrong di sana.

    Fenomena ini menyiratkan satu hal: anak-anak muda haus akan ruang terbuka hijau (RTH) di tengah padatnya kota dalam kepungan beton dan kaca.

    Berbagai studi membuktikan, selain penting untuk keberlangsungan ekosistem kota, ruang terbuka hijau juga bisa meredam stres, meningkatkan kesehatan mental dan fisik lewat interaksi sosial dan beragam aktivitas yang bisa dilakukan di sana.

    Jadi wajar apabila setiap momen munculnya ruang publik baru selalu jadi buruan muda-mudi metropolitan. Sayangnya, di tengah tingginya kebutuhan dan minat akan ruang terbuka hijau, eksistensinya justru semakin tergerus pembangunan kota yang kian masif.

    Potret ruang hijau di lima kota besar

    Saya melakukan riset pemetaan perubahan tutupan ruang terbuka hijau di lima kota besar Indonesia; Jakarta Pusat, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang. Penelitian ini menggunakan citra satelit “remote sensingSentinel-2 dan indeks vegetasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) serta EVI (Enhanced Vegetation Index).

    Analisis dilakukan dalam tiga rentang waktu: 2019–2020, 2021–2022, dan 2023–2024.

    Hasil riset menunjukkan tidak semua kota memenuhi standar menyediakan area hijau minimal 30% dari luas wilayahnya, seperti ketentuan yang berlaku. Ruang hijau di semua kota justru menyusut bersamaan dengan berkurangnya tutupan hijau.

    1. Jakarta Pusat

    Dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, tutupan hijau di jantung Ibu Kota menurun drastis dari 45persen menjadi hanya 20 persen. Begitu pun dengan ruang hijau.

    Pada 2013, porsi ruang hijau di kawasan padat penduduk ini hanya 4,65% dari total wilayah. Tren sempat membaik: naik menjadi 7,12 persen pada 2022, tapi kembali menurun tipis jadi 7,02 persen pada 2024. Itu pun berupa kantong-kantong kecil yang tersebar dan tak saling terhubung. 

    2. Bandung

    Kota Bandung terbilang punya luas wilayah dan kondisi alami yang mendukung adanya ruang hijau. Data satelit menunjukkan tren peningkatan area hijau sekitar 532 hektare pada periode 2019–2024, tapi sebarannya tidak merata. Vegetasi hijau kebanyakan ada di pinggiran kota, sementara di pusat kota, ruang hijau cenderung terpecah dan terisolasi.

    Persentase ruang hijau publik sempat naik dari 6,26% (2019–2020) menjadi 9,23 persen (2021–2022), lalu turun lagi ke angka 6,99 persen (2023–2024).

    Secara umum, urban sprawl atau perluasan wilayah perkotaan yang masif terus mengancam bentang alam sekitar wilayah ini. 

    3. Yogyakarta

    Kota budaya ini awalnya memiliki tutupan hijau cukup merata pada 2019–2020. Namun, sejak 2023, ruang hijau mulai terpecah-pecah akibat pesatnya pembangunan. Ruang hijau publik sempat naik dari 13,60 persen pada 2019-2020 ke 18,22 persen pada 2021–2022, tapi kembali menyusut ke 14,25 persen pada 2023–2024.

    4. Surabaya

    Kota ini pernah mencatat tutupan vegetasi yang cukup baik, bahkan melampaui Jakarta dan Yogyakarta. Tapi pada 2023–2024, sekitar 1.190 hektare area hijau hilang karena ekspansi industri dan perumahan.

    Meski masih memiliki vegetasi sekitar 46 persen dari total wilayah (turun dari 49 persen di 2022), tekanan urbanisasi tetap tinggi. Akibatnya, persentase ruang hijau publik pun menurun dari 49,35 persen (2021–2022) menjadi 45,94 persen pada 2023–2024.

    5. Semarang

    Ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini awalnya berhasil memperluas ruang hijau sekitar 1.747 hektare antara 2019–2022 lewat berbagai program penghijauan dan rehabilitasi mangrove. Alhasil, ruang hijau publik Semarang sempat naik dari 44,51 persen pada 2019-2020 ke 49,37% pada 2021–2022.

    Namun, pada 2023–2024, ruang hijau justru kembali menyusut ke 45,95 persen. Kami menemukan, belakangan semakin banyak ruang hijau dikonversi menjadi lahan pembangunan.

    Temuan riset ini mengonfirmasi bahwa tren ruang terbuka hijau semakin menyusut. Kota-kota dengan wilayah sempit dan padat seperti Jakarta Pusat dan Yogyakarta menghadapi krisis ruang hijau.

    Sementara kota besar yang masih punya banyak ruang hijau juga terus tertekan pembangunan seperti yang terjadi di Bandung, Surabaya, dan Semarang. Situasi ini menjadi alarm serius untuk pembenahan tata kelola dan perencanaan kota.

    Menuju perencanaan kota yang ideal

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah merekomendasikan standar minimal 9 m² ruang hijau per kapita.

    Di Indonesia, Undang-Undang No.26/2007 tentang Penataan Ruang menetapkan 30% dari luas wilayah kota harus berupa ruang hijau (dengan 20% RTH publik).

    Namun dalam praktiknya, kota-kota di Indonesia belum memenuhi kedua standar ini. Ruang-ruang hijau masih belum dianggap prioritas di negara kita karena kalah desakan ekonomi.



    Gaji tak kunjung naik. Promosi mesti pindah perusahaan. Skripsi belum juga ACC. Diet ketat, berat badan tak turun juga. Lingkungan kerja toxic, bosnya narsistik. Gaji bulan ini mesti dibagi untuk orang tua dan anak. Mau sustainable living, ongkosnya mahal. Notifikasi kantor berdenting hingga tengah malam. Generasi Zilenials hidup di tengah disrupsi teknologi, persaingan ketat, dan kerusakan lingkungan.

    Simak ‘Lika Liku Zilenial’ mengupas tuntas permasalahanmu berdasar riset dan saran pakar.


    Kalau kita melihat negara kecil seperti Singapura, mereka bisa konsisten dengan konsep “garden city” dan mengalokasikan lebih dari 50% wilayahnya untuk ruang terbuka hijau di tengah lahan mereka yang terbatas. Ini jelas menunjukkan bahwa ruang hijau yang banyak bisa terwujud jika ada kemauan politik yang besar.

    Kalau mau, pemerintah kota sebenarnya juga tak perlu pusing sendiri. Peran swasta melalui program corporate social responsibility (CSR) sebenarnya bisa didorong, misalnya dengan mengajak mereka membangun bersama taman tematik atau hutan kota mini.

    Pemerintah kota juga bisa membuka ruang partisipasi warga, mulai dari menyampaikan kebutuhan ruang hijau di lingkungannya sampai terlibat langsung dalam proses perencanaan.

    Contoh suksesnya bisa dilihat pada Taman Literasi Blok M dengan pendekatan place making yang melibatkan komunitas mampu menghadirkan ruang publik yang sangat hidup.


    View Poll


    Ruang hijau yang ideal tentu bukan cuma soal seberapa luas, tapi apakah benar-benar fungsional dan bermanfaat serta berkualitas secara desain dan pemeliharaan. Selain itu, ruang ini juga harus mudah diakses, tersebar merata, dilengkapi fasilitas beragam, inklusif, mengedepankan aspek keberlanjutan ekologis, aman, dan terintegrasi dengan sistem transportasi serta tata kota.

    Menghadirkan kembali ruang hijau ke tengah kota adalah langkah wajib menuju keberlanjutan. Dan generasi muda kita sudah memberi sinyal kuat bahwa itulah yang mereka butuhkan untuk kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.


    Agustiyara, Ph.D. Student of Environmental Science, Eötvös Loránd University

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Jadi Pusat Persebaran Nepenthes Terbesar di Dunia, Indonesia Bisa Manfaatkan Potensinya Secara Berkelanjutan

    Jadi Pusat Persebaran Nepenthes Terbesar di Dunia, Indonesia Bisa Manfaatkan Potensinya Secara Berkelanjutan

    7cloud.asia – Indonesia merupakan rumah bagi 83 jenis Nepenthes atau sekitar 39,3 persen dari seluruh spesies Nepenthes atau kantung semar di dunia. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai pusat persebaran Nepenthes terbesar di dunia.

    Menurut Prof. Muhammad Mansur yang telah mengabdikan hampir empat dekade hidupnya untuk memahami, menemukan, dan melestarikan salah satu tumbuhan unik ini, daya tarik Nepenthes tidak hanya terletak pada bentuk kantongnya yang eksotis.

    Tumbuhan karnivora ini memiliki strategi adaptasi yang luar biasa untuk bertahan hidup di lingkungan miskin hara.

    Melalui modifikasi ujung daun menjadi kantong perangkap, Nepenthes memperoleh tambahan nutrisi dari serangga dan organisme kecil yang terjebak di dalamnya.

    Proses pencernaan tersebut melibatkan enzim khusus yang dikenal sebagai nepenthesin, menjadikan Nepenthes sebagai bagian penting dari sistem ekologis yang kompleks.

    Namun, keunikan tersebut justru membuat banyak spesies Nepenthes berada dalam kondisi rentan. Sebagian besar spesies di Indonesia bersifat endemik dan hanya ditemukan pada lokasi tertentu, bahkan ada yang hanya tumbuh di satu gunung atau satu kawasan terbatas.

    Kondisi ini membuat mereka sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari deforestasi, alih fungsi lahan, pertambangan, hingga dampak perubahan iklim.

    “Keanekaragaman Nepenthes di Indonesia menghadapi tekanan serius akibat hilangnya habitat, degradasi ekosistem, dan perdagangan ilegal,” ungkap Mansur dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

    Dilansir di laman resmi brin.go.id, Mansur menyampaikan orasinya yang berjudul “Kantong Semar (Nepenthes spp.) di Indonesia: dari Keanekaragaman Hayati menuju Sistem Konservasi dan Pemanfaatan Berkelanjutan”,

    Dia mendorong penerapan strategi konservasi yang terintegrasi melalui pendekatan konservasi in situ maupun ex situ.

    Bagi Mansur, konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan tumbuhan dari kepunahan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan berkelanjutan.

    Ia menyoroti potensi Nepenthes sebagai tanaman hias bernilai ekonomi tinggi, objek wisata berbasis alam, hingga biomonitor lingkungan karena kemampuannya mengakumulasi berbagai logam berat.

    Beberapa jenis bahkan memiliki kemampuan menyerap karbon yang sebanding dengan pohon-pohon pionir di hutan sekunder.

    Komitmen Prof Mansur untuk konservasi Kantung Semar, tercermin dalam berbagai aktivitas ilmiahnya.

    Selain menghasilkan puluhan publikasi ilmiah dan buku, Prof Mansur juga aktif membimbing peneliti muda, mahasiswa, serta memberikan layanan identifikasi Nepenthes bagi kalangan akademik.

    Baginya, regenerasi ilmuwan merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan riset dan konservasi biodiversitas Indonesia.

    Penuh dedikasi
    Dedikasinya tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi benteng penting bagi konservasi keanekaragaman flora Indonesia.

    Di balik sosok ilmuwan yang tampak bersahaja, tersimpan kisah panjang eksplorasi dan kecintaan terhadap alam.

    Lahir di Cianjur pada 22 Mei 1959, Mansur mengawali karier penelitiannya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 1985 dan kini melanjutkan kiprahnya sebagai Peneliti Ahli Utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    Selama lebih dari 38 tahun, ia menjelajahi hampir seluruh kawasan hutan Indonesia untuk meneliti ekologi tumbuhan, khususnya Nepenthes. Dari hutan-hutan terpencil di Sulawesi hingga pegunungan Papua, Prof Mansur setia meneliti flora.

    Perjalanan ilmiahnya telah menghasilkan berbagai capaian penting. Salah satunya adalah penemuan tiga spesies baru Nepenthes yang memperkaya daftar flora Indonesia, yaitu Nepenthes pitopangii dari Sulawesi Tengah pada 2009, Nepenthes monticola dari Papua Barat pada 2012, dan Nepenthes diabolica pada 2020.

    Kini, ketika enam spesies Nepenthes Indonesia telah masuk kategori kritis menurut IUCN dan membutuhkan prioritas konservasi segera, kiprah Mansur menjadi semakin relevan.

    Penelitian, eksplorasi, dan advokasi yang dilakukannya selama puluhan tahun telah memberikan fondasi ilmiah yang kuat bagi upaya pelestarian kantong semar di Indonesia.

    Bagi Mansur, setiap langkah di hutan bukan sekadar perjalanan ilmiah. Di balik setiap spesies yang ditemukan dan setiap habitat yang dipelajari, tersimpan sebuah misi besar: memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat menyaksikan keajaiban Nepenthes tumbuh alami di hutan-hutan Nusantara.

    “Keanekaragaman Nepenthes di Indonesia adalah aset berharga yang memerlukan pengelolaan bijak dan konservasi aktif,” pesan Mansur. Sebuah pesan yang lahir dari puluhan tahun pengabdian untuk menjaga salah satu warisan alam paling unik yang dimiliki Indonesia.

    Temuan tersebut bukan sekadar menambah nama dalam katalog botani dunia, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keanekaragaman Nepenthes.

  • Risiko Gagal Bayar Koperasi Desa Merah Putih Cukup Besar, Ketua Banggar Ingatkan Pemerintah Persiapkan dengan Matang

    Risiko Gagal Bayar Koperasi Desa Merah Putih Cukup Besar, Ketua Banggar Ingatkan Pemerintah Persiapkan dengan Matang

    7cloud.asia – Laporan Panja Transfer ke Daerah (TKD) mencatat secara eksplisit risiko gagal bayar implementasi Koperasi Desa Merah Putih yang berpotensi menyedot kapasitas Dana Desa dan mengganggu pembangunan desa yang berkelanjutan.

    Panja merekomendasikan penyiapan kebijakan mitigasi risiko yang memadai agar Dana Desa tidak tersedot untuk menutup risiko tersebut.

    Sementara, Laporan Panja Asumsi Dasar menegaskan reformasi subsidi LPG 3 kilogram harus dilakukan berbasis data DTSEN secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan data, infrastruktur, serta kondisi sosial masyarakat.

    Panja juga mendorong agar pelaksanaan transformasi subsidi LPG mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dan kondisi ekonomi sosial masyarakat, terutama di daerah yang belum sepenuhnya siap beralih dari minyak tanah ke gas.

    Baca: Dana Rp3 miliar untuk 40.000 Koperasi Desa Merah Putih Dikhawatirkan Akan Menguap

    Baca: Koperasi Desa Merah Putih Jangan Hanya Kejar Target Jumlah

    Menanggapi laporan ini, Ketua Badan Anggaran DPR, Abdullah Said secara terbuka mengatakan dua kebijakan besar dalam RAPBN 2027, reformasi subsidi energi dan Koperasi Desa Merah Putih, sama-sama bertumpu pada kesiapan yang belum sepenuhnya matang.

    Dilansir Parlementaria, soal Koperasi Desa Merah Putih, Said memberikan peringatan keras agar pemerintah tidak mengulangi kesalahan tata kelola yang kini menimpa Badan Gizi Nasional.

    Politisi PDI Perjuangan ini meminta program Koperasi Merah Putih dipersiapkan matang sejak awal sebelum persoalan yang sama terulang.

    Dia menegaskan, mumpung masih awal tata kelola Koperasi Desa Merah Putih harus betul-betul dipersiapkan dengan matang agar tidak mengulang kegagalan tata kelola Badan Gizi Nasional dalam melaksanakan MBG.

    “Agar tujuan mulia yang hendak dicapai oleh pemerintah tidak kemudian sama nasibnya dengan apa yang menimpa BGN hari ini,” tegasnya usai Rapat Kerja Badan Anggaran dengan Menteri Keuangan, Menteri PPN/Kepala Bappenas, dan Gubernur Bank Indonesia, di Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2026).

    Baca: Bukannya Mengavaluasi Kebijakan, Pejabat Justru Menjelekkan Pengritiknya

    Sementara terkait reformasi subsidi energi selama ini mengandalkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis penentuan penerima manfaat. Namun akurasi data tersebut masih jauh dari ideal.

    Tingkat exclusion-inclusion error yang tinggi berpotensi membuat rakyat yang berhak justru tidak mendapat subsidi, sementara yang tidak berhak masih menikmatinya.

    Kalau mau jujur, ujarnya, tingkat exclusion-inclusion error-nya kan masih 68 persen, terutama terhadap subsidi energi. Maka cara yang terbaik, pemerintah mencoba melakukan dengan mekanisme setiap pembeli di SPBU ada barcode.

    “Ayo kita cari mekanisme yang terbaik, scheme terbaik, baik bagi Banggar maupun pemerintah,” ujar Said.

     

  • Cuaca Hari Ini: Sebagian Wilayah Jakarta Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Sebagian Wilayah Jakarta Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Kondisi cuaca hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di sebagian Jakarta dan sebagian wilayah Indonesia pada Rabu (01/07/2026).

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur pada siang dan sore hari. Wilayah lainnya diprediksi cerah berawan.

    Sedangkan pagi dan malam hari, seluruh wilayah di Jakarta diprediksi cerah hingga berawan tebal.   

    Sementara kota-kota lainnya, BMKG memprediksi hujan intensitas ringan di Kota Banda Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Jambi, Pangkal Pinang, Palembang, Bengkulu, Palangkaraya, Samarinda, Mamuju, Palu, Manado.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula terjadi di Ternate, Ambon, Sorong, Manokwari, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke. Sedangkan hujan disertai petir berpotensi terjadi di Kota Tanjung Pinang, Tanjung Selor dan Nabire.

     

  • WHO: Lebih dari 1300 Orang Meninggal Akibat Cuaca Panas Ekstrem di Eropa

    WHO: Lebih dari 1300 Orang Meninggal Akibat Cuaca Panas Ekstrem di Eropa

    7cloud.asia – Lebih dari 1.300 kematian tercatat di seluruh Eropa sejak 21 Juni yang terkait dengan cucaca panas dan gelombang panas

    Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus di platform media sosial X pada Minggu (28/6/2026).

    Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan kepada negara-negara Eropa untuk “menerapkan rencana aksi kesehatan terkait gelombang panas” sebagai bagian dari agenda yang lebih luas untuk melindungi kesehatan dari perubahan iklim.

    “Saat ini 150 juta orang hidup di bawah suhu panas ekstrem, ratusan orang telah meninggal, sekolah-sekolah ditutup, jaringan listrik mengalami tekanan berat,” kata Tedros di X.

    Dia memperingatkan bahwa stres panas (heat stress) sering disebut sebagai pembunuh senyap, dan rumah, tempat kerja, serta sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini”.

    Eropa adalah benua yang mengalami pemanasan tercepat di Bumi, dengan laju pemanasan dua kali lipat dari rata-rata global, kata Tedros.

    Baca: Dampak Lanjutan Gelombang Panas Masih Mengancam Sejumlah Wilayah di Prancis

    “Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas ‘sekali dalam satu generasi’ kini terjadi hampir setiap tahun,” ujarnya.

    WHO bekerja sama dengan para anggota dan mitranya untuk mengatasi ancaman kesehatan yang ditimbulkan oleh panas ekstrem dengan berfokus pada kesiapan, pencegahan, dan respons sistem kesehatan yang lebih kuat.

    Tedros menyerukan kepada negara-negara Eropa untuk menerapkan rencana aksi kesehatan terkait gelombang panas sebagai bagian dari agenda yang lebih luas untuk melindungi kesehatan dari perubahan iklim.

    Pedoman tersebut juga memperingatkan bahwa kipas angin listrik sebaiknya hanya digunakan saat suhu di bawah 40 derajat Celsius. Pada suhu di atas itu, kipas angin justru akan memanaskan tubuh.

    Jika menggunakan penyejuk ruangan (air conditioner/AC), WHO merekomendasikan untuk mengatur termostat pada 27 derajat Celsius serta menyalakan kipas angin listrik, yang akan membuat ruangan terasa 4 derajat Celsius lebih sejuk dan dapat menghemat hingga 70 persen tagihan listrik untuk pendinginan.

    Secara terpisah, WHO telah menerbitkan kiat-kiat praktis untuk tetap sejuk selama cuaca panas ekstrem di situs webnya.

    Panduan tersebut merekomendasikan untuk menghindari panas dengan tidak beraktivitas di luar ruangan saat waktu terpanas dalam sehari, tetap berada di tempat teduh, dan menghabiskan dua hingga tiga jam setiap hari di tempat yang sejuk.

    Baca: El Nino Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    Untuk menjaga agar rumah tetap sejuk, WHO menyarankan menggunakan udara malam untuk mendinginkan rumah setelah gelap.

    Warga diminta menutup jendela dan menutupinya dengan tirai pada siang hari ketika suhu luar ruangan lebih tinggi daripada di dalam ruangan, serta mematikan sebanyak mungkin perangkat listrik.

    Pedoman tersebut juga memperingatkan bahwa kipas angin listrik sebaiknya hanya digunakan saat suhu di bawah 40 derajat Celsius. Pada suhu di atas itu, kipas angin justru akan memanaskan tubuh.

    Jika menggunakan penyejuk ruangan (air conditioner/AC), WHO merekomendasikan untuk mengatur termostat pada 27 derajat Celsius serta menyalakan kipas angin listrik, yang akan membuat ruangan terasa 4 derajat Celsius lebih sejuk dan dapat menghemat hingga 70 persen tagihan listrik untuk pendinginan.

    Pedoman tersebut juga menekankan pentingnya melakukan pengecekan secara berkala terhadap orang-orang yang rentan, terutama mereka yang berusia di atas 65 tahun dan mereka yang memiliki kondisi jantung, paru-paru, atau ginjal, disabilitas, atau yang tinggal sendirian.

    Demi menjaga tubuh tetap sejuk dan terhidrasi, WHO menyarankan untuk mengenakan pakaian yang ringan dan longgar, mandi dengan air dingin, membasahi kulit dengan kain lembap atau semprotan, serta minum air secara teratur setidaknya satu cangkir per jam dan 2-3 liter per hari.

  • Cuaca Hari Ini: Siap Payung, Tiga Wilayah Ini Berpotensi Hujan Sangat Lebat

    Cuaca Hari Ini: Siap Payung, Tiga Wilayah Ini Berpotensi Hujan Sangat Lebat

    7cloud.asia – Meski sebagian besar wilayah kini tengah memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat pada Selasa (30/06/2026).

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan wilayah Bengkulu, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah berpotensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur.

    Selain itu, wilayah Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua juga berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

    BMKG juga memprediksi angin kencang dengan kecepatan maksimal 25 knot di wilayah Aceh, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur dan Kepulauan Bangka Belitung.

  • Apkesmi: Anemia dan Stunting pada Anak Bukan Melulu Soal Gizi

    Apkesmi: Anemia dan Stunting pada Anak Bukan Melulu Soal Gizi

    7cloud.asia – Kondisi lingkungan yang tidak mendukung tumbuh kembang seperti terlalu padat, drainase buruk dan sanitasi air bersih yang buruk dapat meningkatkan risiko anak terkena anemia.

    Akselerasi Puskesmas Indonesia (Apkesmi) menyebut permasalahan anemia dan stunting itu kompleks, tidak hanya permasalahan gizi saja, ada permasalahan kesehatan lingkungan, mungkin ada penyakit kronis, ada pola asuh yang salah.

    “Oleh karena itu coba kita melalui edukasi ini kita berikan pemahaman kepada orang tua bagaimana merawat anak-anak supaya kita terbebas dari stunting,” kata Ketua Umum DPP Apkesmi Kusnadi SKM., M.Kes dalam konferensi pers di Tangerang, Senin (29/6/2026)

    Kusnadi menyoroti minimnya edukasi mengenai asupan makanan bergizi masih menjadi salah satu tantangan dalam mengentaskan masalah anemia dan stunting di Indonesia.

    Dia mencontohkan Indonesia sebagai negara bahari yang besar diberkati dengan aneka macam produk laut yang mengandung protein hewani seperti ikan.

    Baca: Sanitasi Buruk Lebih Memicu ‘Stunting’ Ketimbang Gizi Buruk

    Namun di daerah pesisir, ikan-ikan tersebut justru dijual kembali untuk membeli mi instan yang diberikan pada anak-anak.

    Di sisi lain kurangnya perhatian terhadap dampak serius dari penyakit kronis atau masalah penyerapan zat besi yang diderita oleh anak-anak menjadi momok masalah berikutnya.

    Maka dari itu, dia menilai keluarga di Indonesia masih membutuhkan pendampingan dan edukasi yang masif mengenai bahaya anemia pada anak.

    Menindaklanjuti situasi itu, Apkesmi bekerja sama dengan Danone Indonesia menghadirkan Program Puskesmas Siap SEDIA (Skrining, Edukasi, Intervensi, cegah Anemia dan Stunting)

    Langkah ini sebagai upaya memperkuat peran puskesmas dalam upaya promotif dan preventif, khususnya pencegahan anemia dan stunting pada ibu dan anak.

    Baca: Kota Bandung Dorong Program Sirkular untuk Pengelolaan Lingkungan

    Program ini mengedepankan pendekatan terintegrasi melalui skrining, edukasi, dan intervensi untuk mendukung deteksi dini serta penanganan yang lebih berkelanjutan di tingkat komunitas.

    Dia mengatakan program itu berbeda dengan tata laksana melacak anemia lewat pemeriksaan hemoglobin. Melainkan mengukur faktor risiko sebelum anak jatuh pada kondisi anemia.

    Setelah faktor risiko ditentukan, petugas puskesmas akan melakukan pemeriksaan dengan lebih mendetail. Anak-anak yang diketahui memiliki faktor risiko berupa penyakit kronis nantinya akan dirujuk kepada dokter spesialis yang sesuai.

    “Jadi untuk anak-anak yang mengalami faktor risiko, kita akan menuju ke dokter. Kalau dokter ternyata mendapati ada beberapa masalah, misalnya saja ternyata anak ini mendadak penyakit kronis yang berdampak kepada penyerapan zat besi tadi, maka akan dirujuk kembali ke dokter spesialis,” katanya.

  • Tanpa Pengakuan Negara, Jutaan Hektare Wilayah Adat Terancam Green Grabbing

    Tanpa Pengakuan Negara, Jutaan Hektare Wilayah Adat Terancam Green Grabbing

    7cloud.asia – Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap perubahan iklim dan ekonomi hijau, wilayah adat juga menghadapi tantangan baru.

    Berbagai skema investasi yang diklaim sebagai bagian dari solusi perubahan iklim seperti proyek karbon, restorasi ekosistem, maupun skema konsesi multiusaha kehutanan berpotensi memunculkan praktik green grabbing, yaitu pengambilalihan ruang hidup atas nama agenda lingkungan.

    Kepala Badan Registrasi Wilayah Aadat (BRWA), Kasmita Widodo mengatakan, tanpa pengakuan yang jelas terhadap wilayah adat, berbagai skema tersebut berisiko menimbulkan konflik tenurial baru serta membatasi akses masyarakat adat terhadap wilayah yang selama ini mereka jaga.

    “Padahal, masyarakat adat telah lama terbukti punya peran besar sebagai penjaga hutan dan keanekaragaman hayati,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada media sebagai pengantar rilis data terbaru BRWA.

    Baca: Kurang dari 20 Persen Wilayah Adat yang Telah Diakui Negara

    Kasmita mengatakan, wilayah adat yang masih memiliki tutupan hutan yang baik berkontribusi besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menjadi benteng penting dalam menghadapi krisis iklim.

    Karena itu, kebijakan terkait ekonomi hijau, pengelolaan hutan, maupun transisi energi harus memastikan perlindungan hak masyarakat adat agar tidak menjadi bentuk baru dari perampasan ruang hidup yang dibungkus dengan narasi keberlanjutan.

    BRWA menegaskan bahwa percepatan pengakuan wilayah adat merupakan langkah penting untuk memastikan keadilan sosial sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan hidup Indonesia.

    Pengakuan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai instrumen hukum yang tersedia, termasuk melalui peraturan daerah, pengakuan hutan adat, tanah ulayat, serta integrasi peta wilayah adat ke dalam Kebijakan Satu Peta (one map policy) dan Satu Data Indonesia.

    Baca: Negara Masih Ingkar terhadap Hak-Hak Masyarakat Adat

    Pada tahun 2025 BRWA telah berhasil mengintegrasikan peta wilayah adat ke dalam Satu Data Indonesia sejumlah 71 wilayah adat dengan luas 1,1 juta hektar.

    Pengakuan wilayah adat tidak hanya penting bagi masyarakat adat, tetapi juga bagi masa depan Indonesia.

    Wilayah adat menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati, sistem pangan lokal, serta pengetahuan tradisional yang menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekologis bangsa di tengah krisis iklim global.

    “Tanpa langkah nyata untuk mempercepat pengakuan tersebut, berbagai inisiatif masyarakat adat dalam menjaga alam dan budaya akan terus berada dalam posisi rentan,” pungkasnya

  • Pengadilan Telah Putuskan Denda Rp18 Triliun untuk Korporasi Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan, Tapi Eksekusinya Lambat

    Pengadilan Telah Putuskan Denda Rp18 Triliun untuk Korporasi Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan, Tapi Eksekusinya Lambat

    7cloud.asia – Eksekusi putusan pengadilan terhadap korporasi yang terbukti menyebabkan kerusakan lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan dinilai lamban.

    Anggota Komisi IV DPR M. Habibur Rochman mengatakan bahwa berdasarkan data pemerintah, terdapat putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap (inkrah) bernilai sekitar Rp 18 triliun, terhadap korporasi penyebab kerusakan lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Di mana sebagian besar nilai gugatan yang dimenangkan negara tetapi proses eksekusinya dinilai berjalan lambat dan hingga kini belum berhasil ditagih.

    Menyoroti lambannya eksekusi ini, politisi Nasdem ini menilai upaya penegakan hukum harus menjadi perhatian serius, mengingat aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan dengan cara membakar, masih menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    “Pemicu utama terjadinya karhutla tetap aktivitas manusia, khususnya pembukaan lahan dengan cara membakar, sementara belum semua daerah memiliki peraturan daerah atau peraturan gubernur tentang sistem pengendalian kebakaran,” ujar Habibur, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR bersama pejabat Eselon 1 Kementerian Kehutanan, di ruang rapat Komisi IV DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

    Baca: Kebakaran Hutan dan Lahan Harus Jadi Perhatian Saat Fenomena El Nino Menguat

    Oleh karena itu, dia meminta Kementerian Kehutanan menjelaskan perkembangan pelaksanaan putusan-putusan tersebut, termasuk besaran penerimaan negara yang telah berhasil dipulihkan.

    Habibur minta Kemenhut menjelaskan, status eksekusi putusan yang telah bernilai inkrah sebesar Rp 18 triliun tadi terhadap korporasi yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan tersebut.

    “Berapa nilai yang sudah benar-benar masuk ke kas negara sebagai PNBP, lalu berapa perkara yang masih tertahan eksekusinya,” tegasnya.

    Menurut Habibur, penjelasan tersebut penting untuk memastikan bahwa penegakan hukum terhadap pelaku karhutla tidak berhenti pada putusan pengadilan.

    Keputusan ini harus benar-benar diikuti dengan eksekusi yang efektif sehingga memberikan efek jera sekaligus memulihkan kerugian negara akibat kerusakan lingkungan.

    Baca: Kebakaran Hutan Mengancam Biodiversitas