7cloud.asia – Gemerlap konsumerisme menyimpan sederet kebohongan halus yang menyebar luas, dan sering kali tidak nyata. Konsumerisme memang riuh, tetapi janji-janjinya kosong.
konsumerisme menjual kepada kita versi kehidupan yang tampak menarik tetapi membuat kita tidak puas. Tanpa disadari kebohongan dari konsumerisme ini diam-diam meresap ke dalam pikiran melalui iklan, media sosial, ekspektasi, dan norma budaya.
Konsumerimse meyakinkan dunia, bahwa kebahagiaan, harga diri, dan kesuksesan kita terkait dengan apa yang kita miliki. Kabar baiknya adalah kita tidak perlu mempercayai kebohongannya.
Setidaknya ada tujuh kebohongan sering bersembunyi di balik konsumerisme. Tiga kebohongan sudah dibahas sebelumnya dan kali ini kita akan membahas empat lagi kebohongan yang perlu disadari agar kita tidak tenggelam dalam konsumerisme.
4. Hidup hemat itu membosankan
Konsumerisme sering menggambarkan hidup sederhana sebagai kehidupan yang penuh kekurangan dan memberi tahu kita bahwa menghabiskan lebih sedikit berarti kehilangan kesenangan, kegembiraan, dan kepuasan.
Padahal kebenarannya adalah hidup hemat sama sekali tidak membosankan. Bahkan, sering kali, kebahagiaan yang paling sederhana merupakan kebahagiaan yang paling besar.
Piknik sederhana di taman, bermain game bersama teman, atau berjalan-jalan di alam bisa jauh lebih menyenangkan daripada pergi ke mal.
Baca: Menguak kebohongan di balik konsumerisme
5. Memiliki hal-hal baik akan menang dalam hidup
Konsumerisme berpendapat bahwa kita harus menyamakan kesuksesan dengan kekayaan materi.
Konsumerisme memberi tahu kita bahwa orang yang memiliki rumah terbesar, mobil terbaru, atau lemari pakaian paling bergaya adalah orang yang “berhasil” dan menang.
Yang sebenarnya adalah mungkin saja kita memiliki barang-barang bagus tetapi sebenarnya kita sedang dalam kondisi keuangan yang sulit.
amun yang lebih penting, kesuksesan seharusnya tidak diukur berdasarkan apa yang kita capai sendiri. Sebenarnya, saya bahkan tidak yakin bahwa memiliki banyak uang adalah sesuatu yang bisa dibanggakan.
Mereka yang paling sukses dalam hidup adalah mereka yang mencapai potensi penuh mereka dalam kebaikan yang mereka bawa ke dunia.
Ketika kita mulai mengukur kesuksesan secara berbeda, kita dapat lebih fokus dalam menjalani kehidupan yang bertujuan dan bermakna.
6. Setiap orang berhak memanjakan diri
Konsumerisme memberi tahu kita bahwa kita “pantas” membeli barang sebagai hadiah atas kerja keras kita.
Konsumerisme membingkai berbelanja sebagai perawatan diri, meyakinkan kita bahwa memanjakan diri sendiri penting bagi kesejahteraan kita.
Padahal perawatan diri yang sesungguhnya bukanlah tentang memanjakan diri dengan harta benda. Ini tentang memelihara kesehatan fisik, emosional, mental, dan spiritual kita—yang mungkin diklaim dapat dilakukan oleh harta benda yang berlebihan, tetapi tidak pernah sepenuhnya memberikannya dengan cara yang berarti.
Baca: Dampak konsumerisme pada lingkungan
Memanjakan diri dengan membeli barang yang tidak dibutuhkan mungkin terasa menyenangkan saat itu, tetapi sering kali berujung pada kekacauan, utang, dan penyesalan—yang merusak perawatan diri kita dalam jangka panjang.
Ketimbang membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan, kita dapat memanjakan diri dengan pengalaman-pengalaman yang menyegarkan jiwa kita: pagi yang tenang dengan buku yang bagus, olahraga, mendukung tujuan-tujuan yang kita yakini, kebaktian, atau waktu yang dihabiskan bersama orang-orang terkasih.
7. Banyak barang menciptakan rasa aman
Konsumerisme memberi tahu kita bahwa memiliki sesuatu akan membuat kita merasa aman dan terlindungi.
Hal ini dapat dilihat dari persiapan yang tiada henti terhadap bencana atau bahkan tujuan yang lebih halus berupa keamanan berbasis akumulasi untuk mengatasi kekhawatiran.
Janjinya adalah rumah yang lebih besar, rekening pensiun yang lebih besar, atau lemari yang lebih penuh akan melindungi kita dari ketidakpastian hidup.
Padahal senyatanya, harta benda yang berlebihan tidak dapat memberikan rasa aman yang sebenarnya. Beberapa barang fisik di sekitar kita dibutuhkan—tempat tinggal, pakaian, makanan, dll.
Tetapi setelah kebutuhan tersebut terpenuhi, penumpukan harta benda hanya memberikan sedikit kontribusi untuk mengatasi kekhawatiran.
Maya Angelou mengatakan, “Kita membutuhkan jauh lebih sedikit daripada yang kita kira kita butuhkan” dan kebanyakan dari kita telah melewati jumlah itu sejak lama“.
Ketika kita melepaskan rasa aman palsu terhadap suatu barang, kita membuka diri untuk mencarinya di tempat yang sebenarnya tidak dapat menyediakannya.

Leave a Reply