7cloud.asia – Pada Bulan Agustus 2022 lalu tim dari badan budaya dunia, UNESCO telah mengunjungi Yogyakarta terkait Proses pengajuan sumbu filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Dunia.
Kedatangan tim dari Unesco ini menjadi tahapan penting dalam pengajuan sumbu filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Dunia yang sudah dilakukan sejak 2014.
Dalam konteks kultural flosofis tata ruang Kota Yogyakarta yang membujur dari arah selatan – utara (Sumbu Filosofis) mempunyai makna filosofis yang sangat tinggi. Konfigurasi ruang di garis sumbu filosofis tersebut dilengkapi dengan elemen ruang baik bangunan Panggung Krapyak – Keraton Yogyakarta – Tugu.
Sumbu filosofi tersebut merupakan gambaran konsep mikrosmos, yaitu alam kehidupan nyata yang menjadi laku peziarahan manusia. Secara paralel dalam konsep makrokosmos ada garis imajiner Selatan – Utara, yaitu Laut Selatan – Gunung Merapi.
Ada dua komponen dalam sumbu filosofi Yogyakarta yang diusulkan masuk ke dalam daftar warisan dunia.
Komponen pertama adalah sumbu selatan-utara sepanjang 6 kilometer di Kota Yogyakarta, dengan Kompleks Kraton sebagai pusatnya beserta monumen, bangunan, dan ruang lain yang menjadi landmark di sepanjang sumbu tersebut.
Komponen kedua (Makam Imogiri) adalah Makam Kerajaan di Imogiri, yang terletak 16 kilometer ke arah tenggara sumbu.
Komponen kedua terdiri dari sumbu filosofi Selatan, Beteng, Plengkung dan Pojok Beteng, Kompleks Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Tamansari, Kagungan Dalem Masjid Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, sumbu filosofi Utara, Pasar Beringharjo, Kompleks Kepatihan dan Tugu.
Sedangkan Komponen 2 dari sumbu filosofi selatan ini terdiri dari Makam Raja-raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat di Imogiri, Dalem Bupati Puralaya Kraton Yogyakarta, Rute Pemakaman Sultan.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan bahwa setelah kunjungan ini, tim UNESCO akan memberikan evaluasi mengenai sumbu filosofi Yogyakarta. Kemudian hasilnya akan dibahas dalam sidang anggota UNESCO yang dihadiri oleh perwakilan dari 22 negara.
“Dia (UNESCO) ngecek ke sini, persyaratan-persyaratan yang ditanyakan dari program yang kita tawarkan kepada UNESCO. Kekurangannya itu sudah diaplikasikan tidak di sini. Kalau sudah diaplikasikan sesuai harapan tidak, serius tidak dan sebagainya. Nanti itu dibikin evaluasi baru naik ke sidang para anggota UNESCO di bidang filosofis. Itu di hadapan 22 negara anggota. Kemudian yang memutuskan 22 negara itu,” jelas Sri Sultan saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta pada Kamis (25/08/2022) lalu
Proses pengajuan sumbu filosofi sebagai warisan budaya dunia UNESCO sudah dimulai sejak tahun 2014. Kemudian ditetapkan sebagai tentative list UNESCO di tahun 2017. Dalam perjalanannya, tahun 2019 naskah usulan untuk UNESCO telah melewati proses voluntary submission. Berbagai upaya terus dilakukan agar sumbu filosofi diterima sebagai bagian dari warisan budaya dunia.
Tema pengajuan Yogyakarta sebagai warisan budaya dunia UNESCO bertajuk The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks. Ketika semua proses penilaian telah selesai, Komite Warisan Dunia UNESCO akan menetapkan daftar properti yang merupakan bagian dari warisan budaya dunia dan alam yang dianggap memiliki Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value).
Pengajuan nominasi sumbu filosofi ini dinilai sangat penting bagi Yogyakarta. Karena menjelaskan bagaimana outstanding universal value “The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks” yang merupakan warisan salah satu leluhur dan pahlawan bangsa, Pangeran Mangkubumi atau HB I.
Pengajuan ini menjelaskan bagaimana warisan ini akan dilindungi, dilestarikan dan dikelola dengan baik untuk generasi sekarang dan mendatang. Nilai historis dan filosofinya tidak akan hilang dan terus terjaga dari generasi ke generasi.
Salah satunya adalah dengan mengatur secara ketat pembangunan dan perubahan yang akan dilakukan di Kawasan sumbu filosofi Yogyakarta ini.
“Penetapan itu nanti kalau ada pembangunan dan sebagainya harus sesuai keputusan UNESCO, tidak sembarang asal mengijinkan. Nanti unsurnya Pemda, Kota, asosiasi-asosiasi perwakilan penduduk yang ada wilayah itu,” imbuh Sri Sultan.
Dari berbagai sumber
Leave a Reply