7cloud.asia – Menulis menjadi terapi bagi Syah Sabur untuk pulih dari sakit yang dialaminya. Jurnalis senior ini telah tiga kali mengalami stroke.
Terakhir, strokenya cukup berat dan dalam kondisi tidak sadar beberapa minggu. Namun, semangatnya yang luar biasa membuat Syah Sabur bisa melewati tiga stroke yang dialaminya.
Saat ini Syah Sabur sedang berjuang untuk bisa pulih seperti kondisi semula. Di sela terapi yang dijalaninya, dia selalu berusaha meluangkan waktu untuk bisa menulis.
Menulis dan berkomunikasi dengan orang-orang dekat, menjadi media untuk Syah Sabur untuk memulihkan ingatannya yang sempat hilang karena stroke. Materi tulisannya beragam, tetapi sebagian besar tentang kehidupan sehari-hari.
Coretan Syah Sabur ini, akan kami tuangkan dalam tulisan berseri dalam tajuk Catatan Syah Sabur, yang akan tayang setiap akhir bulan. Berikut tulisan pertamanya yang menceritakan tentang anak bungsunya.
Alhamdulillah hirrabil alamin. Senin malam ini, saat penyakit saya yang belum sembuh, rasanya senang dan amat terhibur mendengar cerita anak kedua saya, Satria Syah Ajidharma yang baru selesai rapat selama sekitar 12 jam.
Yang membanggakan, anak saya yang baru 1 tahun bergabung sebagai data analis di perusahaan berlian di daerah Alam Sutera) menjadi satu-satunya rockie yang hadir tengah para HOD (Head of Director).
Tidak hanya itu, peserta rapat memuji apa yang dia sampaikan di rapat dan atas kinerjanya selama ini. Dia juga akan jadi satu-satunya peserta rapat dengan para pemimpin perusahaan (Board of Director, BOD) yang akan digelar tiga hari di Bandung
Sejak kecil kecerdasannya memang amat menonjol dan agak bandel yang membuatnya betah berlama-lama kuliah di jurusan komputer Universitas Pendidikan Indonedia di Bandung. Dia memang banyak ngeband yang membuatnya hampir kena DO.
Kalau soal bandel, hal itu sudah ditunjukkannya sejak kecil. Di Usia 3 tahun, dia menjatuhkan dua temannya yang badannya lebih besar. Satu kakinya menendang dan tangannya memukul temannya yang lain hingga menangis.
Saat dia duduk di SD dan SMP, istri saya jadi kenal dekat dengan guru BP karena kerap mendapat laporan tentang kenakalan anak saya.
Masih di SD, dia santai aja jika kami tak sempat memberinya uang jajan. Selidik punya selidik, ternyata dia bisa memanfaatkan kecerdasan dan tampangnya untuk mendekati teman-temannya dan mentraktirnya jajan.
Di SMA, dia membuat menyerah guru olahraganya. Dia selalu punya alasan untuk mengindari razia. Salah satu alasan yang sering dilontarkan adalah, “Kepala saya suka pusing kalau potong rambut.”
Selain itu, dia sukses mengajak teman-teman di kelasnya untuk tidak membayar uang sewa studio musik guna latihan ngeband.
Sebagai anak band, dia tahu betul, uang yg diminta pak guru kemahalan. Dia juga sukses mengajak teman-temannya untuk tidak membeli buku pelajaran yang memang jelek karena cuma buku stensilan.
Dia juga pernah membuat kecut guru agamanya, saat diwajibkan mengaji. Dengan gaya meyakinkan, dia pun membaca surat Al fatihah tapi hanya bagian awalnya dan diakhiri huruf arab pertama bahasa Arab: audzubillah himinassaiton nirozim, alif ba ta.
Makanya, saya sangat bersyukur saat dia diterima di Perguruan Tinggi Negeri yang cukup bagus, meski dia hanya belajar ala kadarnya.
Di kelas dia lebih banyak bercanda, bukan serius mendengar materi yang diajarkan guru. Di rumah apalagi. semua buku bersih karena gak pernah dibaca. Beruntung dia sempat ikut bimbel walaupun tidak full diikutinya
Di tempat kerjanya pun, dia menganģgap kantor milik kakek-neneknya. Datang suka-suka. Masuk yang seharusnya pukul 09:00, tapi dia kadang datang pukul 10:00 atau bahkan pukul 11:00.
Dia lebih sering bekerja di rumah. Dan, kerjanya memang luar biasa cepat. Ini yang membuat atasannya hampir tidak pernah memarahinya.
Kadang dia bahkan berani memprotes atasannya yang dinilai tidak benar dan tidak bertanggung-jawab.
Sebagai karyawan, dia sudah berkali-kali pindah. Hampir setiap tahun dia pindah kerja dan biasanya dengan gaji yang lebih besar.
Jadi, ketika putra-putri Anda terkesan malas-malasan sekolah jangan buru-buru memvonis dia bodoh apalagi tidak bisa diharapkan.
Mereka hanya memiliki minat dan kemampuan di bidang lain. Menjadi tugas orang tua untuk menemukan dan mendorong anak mengembangkan bakat dan minatnya.

Leave a Reply