Nissa Wargadipura Penggagas “Family Farming” dari Garut

Written by

in

7cloud.asia – Nissa Wargadipura, pengelola Pesantren Ath-Thaariq di Garut, Jawa Barat, pada hari Rabu (16/10/2024) menjadi salah seorang penerima anugerah bergengsi “FAO Heroes” atau “Pahlawan Pangan” dari Badan PBB Urusan Pangan Dunia (Food & Agriculture Organization) FAO.

Bersama 26 tokoh dunia lainnya, Nissa Wargadipura dinilai berhasil membantu mewujudkan akses dan ketersediaan pangan yang beragam, bergizi, terjangkau dan aman.

Nissa Wargadipura sejak lama dikenal sebagai pejuang yang melindungi Hak Petani atas Lahan hingga mendorong “Family Farming”

Nissa Wargadipura dikenal luas di Garut sejak masih mahasiswa ketika ia melindungi hak-hak petani lokal dan menentang kebijakan pembebasan lahan tahun 1989.

Pada tahun 1997 sekitar 700 petani berhasil mendapatkan lahan mereka kembali, tetapi Nissa tidak berhenti hingga di situ karena berikutnya ia menarget pemberdayaan petani lewat pembentukan “Serikat Petani Pasudan.”

Salah satu organisasi petani yang paling berpengaruh di Jawa Barat itu kini memiliki lebih dari 100.000 anggota.

Baca: Nissa Wargadipura dari Pesantren Ath-Thaariq Garut raih “FAO Heroes 2024”

Mereka berupaya keluar dari tekanan tengkulak yang menguasai pasar, benih hingga pupuk, dan bahkan mengatur harga jual. Walhasil petani hampir tidak punya uang untuk bertahan hidup dan harus selalu bergantung pada tengkulak.

Di situs FAO, Nissa menceritakan bagaimana terjun ke dunia pendidikan dengan mendirikan pesantren menjadi jalan satu-satunya jalan agar para petani dan keluarga mereka percaya pada kearifan lokal.

Sejak awal didirikan pada tahun 2008, Pesantren Ath-Thaariq – yang berarti “jalan” – tidak saja mendidik santri soal agama, pendidikan tradisional dan formal, tetapi juga agroekologi, ketahanan pangan dan pengolahan hasil panen bernilai gizi tinggi.

Nissa Wargadipura juga aktif mendorong peran aktif perempuan dalam komunitas pertanian ini.

Di lahan seluas satu hektar, Nissa merancang sistem penanaman tumpang sari di mana beragam tanaman dibudidayakan secara bersamaan, di lahan yang sama. Ia hanya membaginya berdasarkan zona, misalnya buah-buahan tropis, makanan pokok, rempah-rempah, atau kolam ikan.

Nissa mengatakan dunia seharusnya bangga dengan ketertarikan dan kesungguhan anak-anak muda pada family farming yang dapat menyediakan makanan yang beragam, bergizi, terjangkau dan aman.

Baca: Satu dekade pemerintahan Jokowi gagal wujudkan kedaulatan pangan

Saya, ujarnya, biasanya masuk ke mereka dengan menjelaskan betapa mereka kini hidup dalam situasi yang terancam karena serba instan.

Bagaimana sekarang ini ada begitu banyak penyakit baru seperti migrain, depresi, diabetes, ovum yang tidak berkualitas, sperma yang tidak sehat dan kelak generasi yang tidak berkualitas.

”Ini kami masukkan di kurikulum dan akhirnya justru serius menekuni hal ini. Mereka jadi punya kesadaran yang sangat tinggi soal apa yang mereka tanam, apa yang mereka konsumsi dan hasilnya kelak. Ini suatu yang dapat dicapai, bukan sesuatu yang mustahil,” tegas Nissa.

Perkebunan atau pertanian keluarga (family farming) seakan menjadi cara untuk menebus kegagalan revolusi hijau.

Lewat teknik ini, Nissa dan 27 “Pahlawan Makanan” lainnya mendorong pelestarian produk makanan tradisional yang menggunakan sumber daya alam berkelanjutan, sambil sekaligus menjaga keanekaragaman hayati dunia.

Target besar yang menurut Nissa sebenarnya dapat dimulai dari halaman belakang rumah kita sendiri. Sumber:VOAIndonesia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *