Penulis Korsel Han Kang Raih Nobel Sastra 2024 Berkat Novelnya The Vegetarian

Written by

in

7cloud.asia – Penulis Korea Selatan, Han Kang diumumkan menjadi pemenang Hadiah Nobel Sastra 2024, Kamis (10/10/2024) berkat novelnya The Vegetarian

Anugerah Nobel Sastra untuk Han Kang ini untuk apa yang disebut komite Nobel sebagai “prosa puitisnya yang intens, yang menghadapi trauma bersejarah dan mengungkap kerapuhan hidup manusia.”

Mats Malm, sekretaris tetap Komite Nobel Akademi Swedia, mengumumkan penganugerahan hadiah tersebut di Stockholm.

Han, yang berusia 53 tahun, memenangkan Penghargaan Booker Internasional pada tahun 2016 untuk karyanya The Vegetarian.

The Vegetarian sebuah novel yang mengguncang jiwa, yang mengisahkan konsekuensi yang menghancurkan dari keputusan seorang perempuan untuk berhenti makan daging.

Novel Han Kang yang lain, “Human Acts,” menjadi finalis penghargaan yang sama pada tahun 2018.

Keberhasilan Han Kang memberi angin segar bagi anugerah Nobel Sastra. Hadiah Nobel dalam bidang sastra telah lama dikritik karena dianggap terlalu fokus pada penulis asal Eropa dan Amerika Utara dengan gaya bahasa yang berat, dengan cerita yang ringan.

Penghargaan itu juga didominasi laki-laki, di mana hanya terdapat 17 perempuan dari 119 pemenangnya sejauh ini. Perempuan terakhir yang meraih hadiah itu adalah Annie Ernaux asal Prancis pada tahun 2022.

Segera setelah Han Kang diumumkan memenangkan Nobel Sastra, warga Korea Selatan berbondong-bondong mendatangi toko buku pada Jumat (11/10/2024) dan membanjiri situs web untuk membeli buku karya novelis Han Kang di negara asalnya.

Akibatnya, berbagai situs web penjualan buku sempat mogok (crash). Kegaduhan itu terjadi setelah novelis itu mendapatkan kemenangan tak terduga, Penghargaan Nobel Sastra 2024.

Namun, sang penulis sendiri berusaha menghindari sorotan.

Jaringan toko buku terbesar di negara itu, Kyobo Book Centre, mengatakan penjualan buku-bukunya meroket pada Jumat (11/10/2024). Buku tersebut laris terjual dan diperkirakan stok akan habis dalam waktu dekat.

“Ini pertama kalinya seorang warga Korea menerima Penghargaan Nobel Sastra, jadi saya merasa takjub,” kata Yoon Ki-heon, seorang pengunjung berusia 32 tahun di sebuah toko buku di pusat kota Seoul.

“Korea Selatan memiliki prestasi yang buruk dalam memenangi Penghargaan Nobel, jadi saya terkejut dengan berita bahwa (seorang penulis) buku non-Inggris, yang ditulis dalam bahasa Korea, memenangi hadiah sebesar itu.”

Segera setelah pengumuman pada Kamis (10/10/2024), beberapa situs web toko buku tidak dapat diakses karena padatnya pengunjung.

Dari 10 buku terlaris saat ini di Kyobo, sembilan di antaranya adalah buku karya Han pada Jumat pagi, menurut situs webnya.

Ayah Han, penulis ternama Han Seung-won, mengatakan penerjemahan novel “The Vegetarian”, yang menjadi debut internasional Han terbesar, telah menghasilkan penghargaan Man Booker Internasional pada 2016 dan sekarang hadiah Nobel.

“Tulisan putri saya sangat halus, indah, dan menyedihkan,” kata Han Seung-won.

“Jadi, bagaimana Anda menerjemahkan kalimat pilu itu ke dalam bahasa asing akan menentukan apakah Anda menang … Tampaknya penerjemah adalah orang yang tepat untuk menerjemahkan cita rasa unik bahasa Korea.”

Buku-buku Han lainnya membahas bab-bab menyakitkan dalam sejarah Korea Selatan, termasuk “Human Acts” yang membahas pembantaian ratusan warga sipil pada 1980 oleh militer Korea Selatan di Kota Gwangju.

Novel lainnya, “We Do Not Part”, membahas dampak pembantaian tahun 1948-54 di pulau Jeju, ketika sekitar 10 persen penduduk pulau itu terbunuh dalam pembersihan antikomunis.

“Saya sungguh berharap jiwa para korban dan penyintas dapat disembuhkan dari rasa sakit dan trauma melalui bukunya,” kata Kim Chang-beom, kepala asosiasi keluarga yang ditinggalkan atas pembantaian Jeju.

Park Gang-bae, direktur sebuah yayasan yang menghormati para korban dan mendukung keluarga yang ditinggalkan serta para penyintas pembantaian Gwangju, mengatakan bahwa ia “gembira dan terharu” atas kemenangannya.

“Tokoh utama dalam bukunya (“Human Acts”) adalah orang-orang yang kita temui dan hidup bersama setiap hari, di setiap sudut di sini, jadi ini sangat mengharukan,” kata Park.

Ayah Han mengatakan kepada wartawan, pada Jumat bahwa ia mungkin akan terus menghindari sorotan setelah tidak memberikan komentar atau wawancara terpisah dan menghindari sorotan media sejak kemenangannya pada Kamis.

“Dia bilang, mengingat perang Rusia-Ukraina, Israel-Palestina yang sengit dan banyaknya orang yang meninggal setiap hari, bagaimana dia bisa merayakan dan mengadakan konferensi pers yang membahagiakan?,” kata ayahnya.

Han Kang menerima berita kemenangannya sekitar 10 hingga 15 menit sebelum pengumuman, kata ayahnya, dan sangat terkejut hingga ia mengira saat itu dia hanya kena ‘penipuan’.

Sumber:VOAIndonesia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *