Bahasa Daerah Terancam Kelestariannya: Belajar Bahasa Sunda Harus di Belanda

Written by

in

 

7cloud.asia – Ada sebuah cerita menarik yang ditemui pegiat sosial Nia Sjarifudin saat menuntut ilmu di Belanda pada tahun 1990an. Mereka yang ingin mengambil S2 Bahasa Sunda harus berkuliah di Universitas Leiden, Belanda.

Kondisi ini membuat Nia terusik dan tak habis pikir. Apalagi, saat dia tahu bahwa sebagian besar staf pengajar di Program S2 Bahasa Sunda itu adalah bule.

“Dia sangat fasih menggunakan bahasa Sunda halus. Sampai saya kebingungan untuk menjawabnya,” papar Nia saat berbicara di acara Festival Bulan Bahasa yang dihelat Komnas Perempuan pada Jumat (26/7/2024) lalu.

Fakta ini membuat Nia yang berdarah Sunda sadar, betapa rapuhnya pelestarian bahasa daerah di Indonesia.

Lain lagi, kejadian yang dialami Butet yang hadi di acaravitu sebagai peserta. Dia melihat, peminat Jurusan Sastra Batak di Universitas Sumatera Utara hampir selalu lebih sedikit dibanding kursi yang tersedia.

Baca: Mayoritas bahasa daerah di Indonesia alami kemunduran

Sebaliknya peminat jurusan bahasa asing hampir selalu membludak hingga beberapa kali daya tampung yang ada.

“Mungkin hal ini, karena kemampuan berbahasa asing lebih dibutuhkan saat mencari pekerjaan,” ujar Butet saat berbincang dengan 7cloud.asia seusai acara

Dua fakta di atas sudah seharusnya menjadi perhatian dari pihak yang berwenang, mengingat minat anak muda untuk menggunakan apalagi mempelajari bahasa daerah terus menurun.

Bahkan, Badan Bahasa dan Sastra Kemendikbud Ristek mencatat, dari 718 bahasa daerah dan 778 dialek yang ada di Indonesia, hanya 25 persen yang berada dalam kondisi aman.

Menurut Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra Kemendikbud Ristek, Imam Budi Utomo, mayoritas bahasa daerah di Indonesia dalam kondisi terdegradasi mengalami kemunduran, terancam punah, kritis bahakan ada yang hilang samasekali.

Baca: Upaya Komnas Perempuan merawat bahasa ibu Nusantara

Berbicara di acara yang sama, Imam mengatakan bahasa daerah yang terancam punah itu umumnya berada di Indonesia Timur, seperti Maluku dan Papua.

“Mereka memiliki banyak sekali bahasa, tetapi jumlah penduduknya sangat sedikit. Sebelas bahasa di antaranya sudah hilang atau punah,” terang Imam.

Menanggapi kondisi ini, Nia menekankan pentingnya para ibu atau perempuan menerapkan penggunaan bahasa daerah dalam keluarga.

Anak, ujarnya, harus dibiasakan menggunakan bahasa ibu meski untuk hal-hal yang sederhana, seperti salam atau nasehat-nasehat yang ada.

“Bahasa daerah atau bahasa ibu harus terus dikenalkan kepada generasi muda agar bahasa itu tetap ada yang menjaganya,” ujarnya.

Baca: Milenial makin tinggalkan bahasa daerah

Ia melanjutkan, memperkuat bahasa daerah berarti memperkuat budaya atau identitas bangsa. Menurutnya, bahasa ibu atau bahasa daerah banyak diajarkan filosofi atau nilai-nilai yang digunakan dalam tantangan kehidupan sehari-hari.

Sementara komisioner Komnas Perempuan, Dewi Kanti mengatakan, keberadaan bahasa daerah memang menghadapi tantangan yang tak mudah.

Selain gempuran budaya dari luar, bahasa daerah di Indonesia yang umumnya mengenal hierarki, menjadi kendala pelestarian bahasa daerah.

Untuk itu, menurutnya perlu inovasi agar anak muda tertarik mengenali dan kemudian mempelajari bahasa ibunya sendiri.

“Mungkin bisa lewat karya seni, baik lagu berbahasa daerah ataupun cerita yang menggunakan bahasa daerah. Ataupun mengangkat cerita daerah setempat,” ujarnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *