7cloud.asia – Bangkai seekor ikan endemik Kalimantan Timur, pesut mahakam (Orcaella brevirostris) berjenis kelamin jantan yang ditemukan di sungai Mahakam, Samarinda, Jumat (21/6), saat ini masih dalam proses autopsi.
Peneliti Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) Danielle Kreb menyebut, penemuan bangkai ikan pesut mahakam ini harus menjadi perhatian serius.
Pasalnya, kejadian ini merupakan kematian keempat pesut mahakam yang tercatat di tahun 2024 ini.
“Mamalia air tawar yang dilindungi ini diduga baru mati beberapa jam sebelum ditemukan, karena tubuhnya belum menunjukkan tanda-tanda pembusukan,” katanya di Samarinda, Rabu (26/6/2024) seperti dikutip Antaranews.com.
Baca Juga: Peliknya Pelestarian Pesut Mahakam, Diperkirakan Populasinya Tinggal Puluhan Ekor
Penyebab kematian pesut mahakam ini masih belum diketahui secara pasti. Kreb menambahkan, masih terlalu dini untuk menyimpulkan apapun karena nanti ada analisis laboratorium juga.
“Sekitar 3-4 minggu mungkin baru keluar hasilnya,” jelasnya.
Untuk mengetahui penyebab kematian pesut ini, bangkai pesut dibawa ke laboratorium perikanan di Universitas Mulawarman (Unmul) untuk dilakukan nekropsi.
“Kami perlu memahami penyebabnya agar bisa mencegah kejadian serupa di masa depan,” imbuh Danielle.
Baca Juga: Selamat! Kalimantan Timur Telah Punya Pergub tentang Perdagangan Karbon
Ia menambahkan bahwa pesut ini diklasifikasikan sebagai kode “3”, yang menunjukkan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pastinya.
Danielle menyampaikan kematian pesut mahakam ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian spesies endemik Kalimantan Timur ini.
Saat ini, hanya tersisa sekitar 67 ekor pesut mahakam di sepanjang Sungai Mahakam sehingga harus ada upaya serius untuk menjaga kelestariannya.
Dari hasil kajian Danielle Kreb pada 2021, terungkap 66 persen penyebab matinya Pesut Mahakam adalah terjerat rengge, atau alat tangkap ikan yang biasa digunakan warga di wilayah Kalimantan Timur.
Baca Juga: Karst Sangkulirang Mangkalihat: Warisan Geologi di Bumi Kalimantan Timur
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Suryawati Halim mengatakan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan Fakultas Perikanan Unmul untuk melakukan otopsi, mengumpulkan data, dan menganalisis hasilnya.
“Kita perlu segera menyelidiki penyebab kematian pesut ini,” tegasnya.
Suryawati menambahkan bahwa ini bukan kali pertama pesut ditemukan mati di Kalimantan Timur
Sebelumnya, kasus serupa tercatat di Kota Bangun dan Tenggarong. Kematian ini harus ditindaklanjuti dengan serius untuk mengidentifikasi apa yang menyebabkan kematiannya.
“Diharapkan dengan adanya investigasi yang mendalam, penyebab kematian pesut ini dapat diketahui dan langkah-langkah pencegahan yang tepat dapat diambil untuk melindungi spesies ini dari kepunahan,” ujarnya.
Sumber:Antaranews.com

Leave a Reply