7cloud.asia – Self esteem atau menghargai diri sendiri adalah upaya yang berharga. Ini berdampak pada keputusan kita, hubungan kita, dan kesejahteraan kita baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Ketika kita mampu menghargai diri kita, hal itu akan mampu mempengaruhi segala sesuatu tentang kita. Demikian pula, ketika kita tak mampu menghargai diri kita.
Hal ini sangat penting. Namun, diperkirakan sekitar 85 persen penghuni planet Bumi, baik dewasa-remaja maupun anak-anak, memiliki self esteem yang rendah.
Jadi bagaimana kita mengatasi pandemi ini? Bertahun-tahun yang lalu, meskipun tidak dapat mengingat sumber pastinya, praktisi minimalis Joshua Becket memendengar sebuah nasihat yang mengubah hidupnya.
“Jika Anda ingin mengembangkan harga diri Anda, lakukan hal-hal yang dapat membuat Anda merasa berharga. Jangan menganggap diri Anda merasa lebih baik tentang diri Anda sendiri, tetapi Anda dapat dengan sengaja mengambil tindakan yang mengembangkannya di dalam diri Anda.”
Baca: Pentingnya menghargai apapun yang kita miliki
Joshua telah menemukan prinsip ini benar dalam kaitannya dengan harga diri, tetapi juga dalam bidang kehidupan lainnya.
Kadang, tulisnya, kita terjebak dalam pola pikir bahwa kita perlu merasa nyaman dengan diri kita sendiri sebelum kita dapat mulai melakukan sesuatu yang bermanfaat. Karena kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya.
Padahal, kita tidak perlu menunggu sampai semuanya sempurna sebelum mengambil langkah menuju perubahan yang ingin kita alami dalam hidup.
Ambillah langkah itu sekarang, lantas lihatlah keadaan di sekitar Anda berubah.
Mengutip petenis kenamaan Artur Ashe, Joshua menulis, “Mulailah dari mana Anda berada. Gunakan apa yang Anda miliki. Lakukan apa yang Anda bisa.”
Baca: Menghargai hidup dengan menjalani slow living
Prinsip ini diilustrasikan dengan kuat selama perjalanan Joshua di tahun 2014, ketika keluarga Joshua sedang meneliti perawatan anak yatim piatu di seluruh dunia sebagai persiapan untuk meluncurkan The Hope Effect.
Bersama dengan sekelompok teman yang berdedikasi pada misi tersebut, dia mengunjungi sebuah panti asuhan di Baja California.
Saat menerima tur di lapangan, dia melihat sebuah perkemahan kecil di sebuah bukit di dekatnya.
Saat Joshua menanyakan hal ini, Direktur menjelaskan bahwa kelompok-kelompok dari California sering tinggal di sana ketika mereka datang untuk menjadi sukarelawan.
Penasaran, Joshua juga menanyakan apa saja yang mereka lakukan di panti asuhan ketika mereka berkunjung.
Dia menjawab, “Tidak, mereka tidak datang untuk bekerja di sini. Mereka bekerja di kota—mengajar bahasa Inggris, membangun rumah, atau membantu salah satu gereja lokal,”
Baca: Mengapa orang mulai melirik frugal living
“Bukan saja mereka tidak menjadi sukarelawan di sini , kami mengirim anak-anak yatim piatu bersama mereka ke kota untuk menjadi sukarelawan dan membantu keluarga yang hidup dalam kemiskinan.” lanjutnya,
“Karena, satu-satunya cara untuk mengatasi pola pikir korban dalam hidup Anda adalah dengan mulai melayani orang lain kamu harus memberi.”
Penjelasan sang direktur membuka kesadarannya terhadap cara baru dalam melihat dunia.
Wawasan mendalam ini terus melekat dalam dirinya, sejak saat itu. Hal ini semakin menggarisbawahi kebenaran tentang harga diri kita: Tindakan kita membentuk cara kita berpikir tentang diri kita sendiri.
Kita mengatasi pola pikir korban dengan secara aktif melayani dan melihat seberapa banyak yang harus kita berikan.
Dan, bisa dikatakan cara terbaik mengembangkan harga diri dalam hidup kita adalah dengan terlibat dalam aktivitas yang mewujudkannya.

Leave a Reply