Sendalu Permaculture: Cara Gibran Tragari Ajak Warga Merawat Lingkungan dengan Metode Permakultur

Written by

in

 

7cloud.asia – Di sela peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia beberapa waktu lalu, 7cloud.asia berkesempatan berbincang dengan penggagas Sendalu Permaculture, Gibran Tragari.

Gibran memaparkan, dia merintis Sendalu Permaculture sejak Januari 2017 setelah mengikuti pelatihan Permakultur Bumi Langit di Yogyakarta.

Gibran mendirikan Sendalu Permaculture dengan menggarap lahan seluas 500m2 dan memanfaatkan atap galerinya di Sukmajaya, Depok Jawa Barat, untuk berkebun dengan metode permakultur.

“Sendalu Permaculture mencoba mendorong masyarakat untuk memulai keberlanjutan dari rumah, terutama dengan menanam pangan kita sendiri, dengan langkah-langkah sederhana yang mudah diikuti,“ terang Gibran.

Kebun tersebut saat ini ditanami berbagai jenis tanaman. Beberapa di antaranya sudah rutin dijadikan sebagai sumber bahan makanan bagi keluarganya, seperti ubi, singkong, kangkung, sawi, serta buah-buahan.

Baca Juga: SOS! Luas Lahan Pertanian dan Jumlah Petani Terus Menurun

Selain itu, ia memelihara berbagai hewan ternak. Di lahan ini, Gibran juga menumbuhkan bibit tanaman yang bisa dibeli oleh masyarakat yang membutuhkan.

Gibran mengatakan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan akan berdampak pada lingkungan sekitar kita, dan hal tersebut tidak selalu baik.

Oleh karena itu, ujarnya, kita harus berusaha untuk lebih bijak mengkonsumsi dan meminimalkan limbah yang kita hasilkan.

Dengan banyaknya permasalahan lingkungan yang terjadi di seluruh dunia saat ini, kami juga ingin masyarakat menyadari dan belajar bahwa kita dapat melakukan perubahan bahkan dalam kenyamanan rumah kami sendiri.

Lewat Sendalu Permaculture, dia mencoba menghubungkan seluruh elemen kehidupan berkelanjutan dengan memulai dari pertanian berkelanjutan.

“Kami juga mendorong komunitas di sekitar kami yang memiliki nilai yang sama untuk tumbuh bersama,“ paparnya.

Baca Juga: Ekonomi Nusantara: Cara Walhi Berdayakan Masyarakat Lokal dengan Pertanian Berkelanjutan

Di Sendalu, tak hanya ngomongin pertanian yang berkelanjutan saja tetapi juga kehidupan yang lestari dan berkelanjutan. Dijuga bahas sampah, bagaimana memanen air, membuat kompos, melakukan pengelolaan sampah, sisa makanan, dan kotoran hewan sebagai pupuk.

Dengan demikian, sampah yang ia hasilkan dari kegiatannya di Sendalu Pemaculture tidak begitu saja berakhir di tempat pembuangan.

“Kebanyakan orang hanya sebatas berkebun, tapi itu hanya bagiannya. Saat ini semua harus terkoneksi dan jalan bersama agar kehidupan yang berkelanjutan bisa berjalan, imbuhnya.

Ia mencontohkan, saat berkebun petani butuh pupuk yang bisa diambil dari hasil ternak atau pengolahan sampah menjadi pupuk.

Penerapan permakultur di kawasan perkotaan, menurut Gibran, menjadi tantangan tersendiri karena lahan yang terbatas. Di mana, sangat jarang rumah memiliki halaman yang bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam apalagi memelihara ternak.

Karena itu permakultur sosial menjadi penting. Jika kita sudah mencoba menyerap air hujan dan menghemat air, ujarnya, tetapi daerah sekitarnya tidak melakukan hal serupa, maka tidak besar pengaruhnya.

Baca Juga: Smart Farming dan Upaya Membangun Minat Anak Muda pada Sektor Pertanian

Atau misalnya kita sudah mencoba menanam macam-macam pohon, tetapi lingkungan sekitar tidak melakukannya, maka juga tidak ada artinya.

Dengan dibantu sang istri yang adalah perencana kawasan, Gibran coba mereka-reka penataan kawasan yang memungkinkan diterapkannya permakultur.

Jadi penerapan permakultur di kota itu, akhirnya menekankan bagaimana kita tumbuh bersama. Itu sebabnya Sendalu Permacultur kemudian menggandeng komunitas.

Bila awalnya ia hanya berniat untuk bergerak secara mandiri, saat ini Sendalu semakin meluaskan jaringan kerja sama gerakan dengan komunitas-komunitas lain di wilayah Jabodetabek. Salah satunya Komunitas Ciliwung Depok.

“Sejak 2018 dan 2019 semakin banyak yang datang dan kami terhubung dengan komunitas-komunitas. Akhirnya di sini jadi semacam ruang eksperimen bersama. Kita buat berbagai kegiatan, misalnya diskusi dan edukasi seputar berkebun dan mengelola sampah,” ujar Gibran.

Gibran mengatakan edukasi dilakukan secara rutin setidaknya sebulan sekali kepada masyarakat sekitar atau anggota komunitas lain yang ingin mengetahui seputar ilmu berkebun.

Baca Juga: Gree Energy Bantu FIELD Atasi Polusi Udara dan Dukung Pertanian Regeneratif di Indonesia

Tidak jarang, Sendalu juga menjadi wadah bagi pelajar dan mahasiswa untuk meningkatkan ilmu terkait berkebun dan penyelamatan ekosistem.

Sejak berdiri, sudah puluhan kegiatan workshop atau edukasi terkait kegiatan berkebun dan lainnya yang dilakukan di Sendalu, baik untuk komunitas, masyarakat sekitar, maupun kalangan pelajar dan mahasiswa.

Selain berkebun, Sendalu Permaculture juga menggelar workshop tentang pengelolaan bahan pangan secara mandiri dari kebun untuk dikonsumsi sehari-hari, juga pengelolaan air.

Hal ini terjadi saat musim kemarau 2019, di wilayah sekelilingnya sudah mengalami kekeringan tapi di Sendalu Permaculture masih baik-baik saja.

”Akhirnya kami memberi masukan dan pelatihan untuk komunitas dan orang lain yang tertarik untuk membuat resapan dengan menanam. Kita ajak komunitas lain ngobrol bareng agar upaya menjaga sumber air ini bisa semakin meluas,” ujarnya.

Baca Juga: Pertanian Indonesia Pengguna Pestisida Terbesar di Dunia, Apa Dampaknya pada Lingkungan?

Sendalu Permaculture juga mencoba terus meningkatkan kesadaran terhadap keberlangsungan lingkungan dengan berbagai edukasi dan workshop bagi berbagai kalangan, seperti pengelolaan sisa sampah, makanan, hingga teknik berkebun meski di tengah keterbatasan lahan.

“Intinya kami suarakan bahwa berkebun tidak harus dengan lebih dulu punya lahan luas. Kita bisa manfaatkan setiap ruang yang ada. Termasuk di atap. Kami beri tahu cara dan tekniknya,” ujar Gibran.

Kini lokasi kebunnya menjadi tempat bagi masyarakat Jabodetabek, khususnya Depok. Dengan begitu, semua bisa bekerja secara terintegrasi dan beriringan dalam upaya pemulihan dan penyelamatan lingkungan di sekitar Depok.

“Karena komunitas di Depok, misalnya, ada banyak, tapi hanya mengetahui dan menjalankan apa yang mereka ketahui. Bila ada wadah dan aksinya, jadi bisa lebih besar dilakukan bersama-sama,” ujarnya.

Misalnya, komunitas pemerhati Ciliwung, mereka bisa juga mempelajari teknik berkebun dengan permaculture dan mengaplikasikan di wilayah komunitasnya berdiri.

“Itu sudah kami lakukan pada 2020 ini agar dampak gerakan kami semua bisa semakin meluas. Kami juga membuat community center dengan nama Teras Kamala untuk kegiatan komunitas-komunitas yang ada,” ujar Gibran.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *