7cloud.asia – Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, kebijakan pemerintah mendorong warga beralih ke kendaraan listrik hanya akan menambah masalah baru.
Menurutnya, kebijakan ini hanya akan menambah jumlah kendaraan dan dari sisi kepadatan lalu lintas, maka hal tersebut akan berdampak buruk.
“Jakarta itu, mengapa orang tak mau naik angkutan umum karena sudah nyaman dengan motor. Beli tiket naik motor. Beli apa-apa naik motor. Malas kita jalan,” ujarnya dikutip Antaranews.com, Senin (10/6/2024).
Dia menambahkan, di Indonesia khususnya di Jakarta, motor dan kendaraan pribadi menjadi predator angkutan umum.
“Jadi, jika beralih ke roda dua listrik atau motor listrik hanya akan bikin Jakarta tambah macet,” kata Djoko.
Baca: Kendaraan listrik pangkas emisi hingga 50 persen
Karena itu, Djoko meminta agar pemerintah memperluas kendaraan listrik untuk angkutan umum, bukan malah mendorong masyarakat untuk membeli kendaraan listrik pribadi.
“Jumlah kendaraan bermotor ini sudah sangat banyak di Jabodetabek, tapi populasi kendaraan umum makin berkurang,” tandasnya.
Dia menegaskan peralihan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik mestinya diprioritaskan pada angkutan umum.
Dengan peralihan ke kendaraan listrik pada angkutan umum ini tidak hanya berdampak pada emisi tetapi juga mengurangi kemacetan.
Angkutan umum listrik
Transisi ke kendaraan listrik ini selanjutnya akan mengurai masalah polusi udara kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta dan lainnya.
Baca: Menilik kesiapan penggunaan kendaraan listrik untuk angkutan umum
“Ini momentum, untuk memperbaiki angkutan umum dengan listrik, sekalian mengatasi kemacetan dan polusi juga. Kalau tetap fokus layani kendaraan pribadi, tetap macet, untuk apa?” katanya.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membeli sebanyak 552 bus listrik dalam program insentif kendaraan listrik’ senilai Rp12,3 triliun pada dua tahun anggaran, 2023-2024.
Menurutnya, bus-bus tersebut dapat dioperasikan untuk mengisi kekosongan layanan angkutan umum di kawasan penyangga Jakarta hingga kemudian bisa mengatasi kemacetan, termasuk di Jakarta.
Menurut Djoko, saat ini ada 1.824 perumahan kelas menengah dan bawah di kawasan Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi yang belum terlayani angkutan umum yang memadai
Baca: Pengamat sebut ada bias kelas dalam kebijakan transisi ke kendaraan listrik untuk atasi polusi
Kalau Jakarta, ujarnya, sudah sebagian besar atau 88,2 persen wilayah Jakarta sudah terjangkau angkutan umum.
“Makanya 552 bus listrik itu bisa dimanfaatkan untuk 1.824 perumahan kelas menengah yang masih kosong layanan angkutan umumnya di wilayah Bodetabek,” ucap Djoko.
Menurutnya, peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik yang tidak berfokus pada angkutan umum, tidak efektif untuk mengatasi masalah kemacetan di Jakarta.
“Peralihan ke kendaraan listrik itu untuk tekan emisi gas buang. Nah, sekarang transportasi publik diganti ke listrik saja, tak hanya Jakarta, termasuk daerah lainnya. Jadi, selain emisi ditekan, kemacetan juga berkurang,” ucap Djoko.
Sumber: Antaranews.com

Leave a Reply