KTT Plastik Ottawa Diwarnai Perbedaan Pendapat Para Pesertanya

Written by

in

7cloud.asia – Negara-negara yang hadir di perjanjian plastik global pertama Intergovernmental Negotiating Committee ke-4 di ibu kota Kanada, Ottawa atau KTT Plastik Ottawa, berada di bawah tekanan untuk mencapai kemajuan.

Intergovernmental Negotiating Committee atau KTT Plastik Ottawa sesi ke-4 ini berlangsung 23 hingga 29 April 2024 dan diharapkan menghasilkan hasil konkret.

Ribuan delegasi, termasuk para perunding, pelobi, dan pengamat dari lembaga-lembaga nirlaba, diperkirakan hadir KTT Plastik Ottawa ini.

KTT Plastik Ottawa digelar menjelang kesepakatan akhir yang akan dicapai pada Desember – menjadikannya salah satu upaya perjanjian tercepat soal plastik yang dipimpin PBB hingga saat ini.

“Proses ini tidak diragukan lagi merupakan proses yang dipercepat dan ambisius, karena kita tidak punya waktu puluhan tahun untuk bertindak,” kata Inger Andersen, direktur eksekutif Program Lingkungan PBB.

Baca Juga: Pesan Hari Bumi: Setiap Generasi Hanya Punya Sekali Kesempatan untuk Ubah Kebijakan Soal Plastik

Tetapi delegasi yang hadir di KTT Plastik Ottawa menghadapi ketegangan karena berbeda pendapat mengenai apa yang harus dimasukkan dalam perjanjian ketika perundingan dimulai pada Selasa (23/4/2024).

Negara-negara peserta diharapkan menyepakati perjanjian yang secara hukum mengikat. Perjanjian itu tidak hanya membeberkan cara membuang plastik, tetapi juga berapa banyak memproduksinya dan cara menggunakannya.

Bila tercapai, itu akan menjadi perjanjian yang paling signifikan untuk mengatasi emisi pemanasan iklim global sejak Perjanjian Paris 2015.

Menurut badan federal AS, Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley, yang dirilis dua pekan lalu produksi plastik menyumbang sekitar 5 persen emisi iklim dan dapat meningkat hingga 20 persen pada 2050 jika tidak dibatasi,

Pada tahun 2022, saat negara-negara sepakat untuk menegosiasikan perjanjian yang mengikat secara hukum pada akhir tahun 2024 ini, mereka menyerukan untuk membahas seluruh siklus hidup plastik – mulai dari produksi dan penggunaan hingga limbah.

Baca Juga: Hari Bumi 2024: Serukan Pengurangan Penggunaan Plastik Demi Lingkungan

Tetapi, ketika negosiasi dimulai di Ottawa, muncul penolakan keras dari lobi petrokimia dan beberapa negara yang bergantung pada bahan bakar fosil untuk membatasi produksi atau melarang bahan kimia tertentu.

Ketua perundingan di Ottawa mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa dia berencana membagi delegasi nasional menjadi tujuh kelompok kerja.

Kelompok kerja ini akan mengatasi permasalahan yang belum terselesaikan, termasuk apa yang harus dimasukkan dalam perjanjian tersebut dan bagaimana itu harus dilaksanakan.

Produksi plastik diperkirakan meningkat tiga kali lipat pada 2060. Fakta ini dijadikan dasar para pendukung kebijakan pembatasan produksi sampah.

Pengungkapan informasi itu adalah langkah dasar pertama dalam mengendalikan sampah plastik berbahaya – yang sebagian besar berakhir sebagai sampah yang merusak lingkungan, menyumbat saluran air atau tempat pembuangan sampah – dan membahayakan kesehatan masyarakat.

Hampir seperlima sampah plastik dunia dibakar, sehingga melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar. Kurang dari 10 persen di antaranya didaur ulang, menurut data PBB.

Sumber:VOAIndonesia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *