Mengenang Romo Mangun, Arsitek Humanis yang Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional

Written by

in

7cloud.asia – Peringaan 25 tahun wafatnya Yusuf Bilyarta (YB) Mangunwijaya atau lebih dikenal sebagai Romo Mangun berlangsung sederhana di tengah hingar bingar kampanye pamungkas pada Sabtu (10/2/2024).

Peringatan 25 tahun wafatnya Romo Mangun ini digelar di Sekolah Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, Sleman, D.I. Yogyakarta. 

Dalam kesempatan itu Romo Mangun diusulkan menjadi pahlawan nasional oleh umat katolik karena jasa-jasanya di bidang kemanusiaan. 

Siapa Romo Mangun? Dia adalah rohaniwan Katolik, budayawan, arsitek, dan penulis yang terkenal karena karya-karyanya dan aktivisme kemanusiaannya.

Sepanjang hidupnya Romo Mangun dikenal sebagai aktivis bagi kaum marginal yang membantu warga di Kali Code, Yogyakarta dan Kedung Ombo, Sragen Jawa Tengah.

Romo Mangun terlahir sebagai Bilyarta di Ambarawa, 6 Mei 1929. Dia memiliki beberapa nama samaran yaitu Wastuwijaya atau Thalib Yusuf. 

Yusuf merupakan nama baptisnya, sedangkan Mangunwijaya yang diambil dari nama kakeknya yang merupakan seorang petani tembakau.

Baca: Mengenal Dokter Lo, pahlawan kemanusiaan dari Solo

Y.B. Mangunwijaya adalah sulung dari dua belas bersaudara dari pasangan Yulianus Sumadi Mangunwijaya dan ibu Serafin Kamdaniah.

Setelah tamat SLA Seminari Meryoyudan, Y.B.Mangunwijaya melanjutkan studi Filsafat dan Teologi di Institut Institut Filsafat dan Teologi Sancti Pauli, Yogyakarta dan tamat di tahun 1959.

Y.B. Mangunwijaya kemudian ditahbiskan pada tanggal 8 September 1959 oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Sesudah tahbisan, Romo Mangunwijaya melanjutkan studi di jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung sampai tahun 1960.

Lulus dari ITB, Romo Mangunwijaya kemudian melanjutkan ke Sekolah Tinggi Teknik Rhein, Westfalen, Aachen Jerman dari tahun 1960-1966.

Sepulang dari Jerman, Romo Mangun bertugas sebagai pastor yang memperhatikan kaum miskin dan tinggal di paroki Salam, Magelang. Pada tahun 1978 Romo Mangun mengikuti Fellow of Aspen Institute for Humanistic Studies, Aspen, Colorado, Amerika Serikat.

Saat remaja, Y.B. Mangunwijaya sempat bergabung sebagai prajurit BKR, TKR Divisi III, Batalyon X, Kompi Zeni 1945-1946. Beliau bahkan ia pernah menjadi komandan Seksi TP Brigade XVII, Kompi Kedu antara tahun 1947-1948 dan ikut dalam pertempuran di Magelang, Ambarawa, dan Semarang.

Baca: 5 sosok difabel yang menginspirasi

Romo Mangun juga pernah menjadi dosen luar biasa di pada Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada tahun 1967-1980.

Pada saat yang sama tepatnya sejak 1968, Romo Mangun mulai aktif menulis kolom di berbagai surat kabar dan majalah. Selepas berhenti sebagai dosen di UGM, Romo Mangun terus berkarya sebagai arsitek independen.

Dengan izin dari Uskup, Romo Mangun kemudian memutuskan tinggal dan berkarya sebagai “pekerja sosial” di lembah Kali Code, Yogyakarta sampai 1986.

Romo Mangun membangun perkampungan di bantaran Kali Code hingga karyanya diganjar Aga Khan Award pada tahun 1992.

Kemudian pada tahun 1986 hingga 1988, Romo Mangun berkarya di pantai Grigak Gunung Kidul dengan mendampingi penduduk setempat dalam program lingkungan hidup dan pengadaan air bersih.

Setelah itu Romo Mangun kembali ke Yogyakarta dan mendirikan Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar, sebuah lembaga nirlaba yang memusatkan perhatian pada bidang pendidikan dasar terutama bagi anak-anak miskin dan terlantar.

Baca: Mengapa Kartini menginspirasi perempuan

Romo Mangun juga banyak membantu warga korban pembangunan waduk Kedung Ombo, Jawa Tengah sampai tahun 1994.

Sejak tahun 1994, atas izin dan dukungan Mendikbud Wardiman Djojonegoro, Romo Mangun merintis program pendidikan dasar eksperimental di SD Kanisius Mangunan, Kalasan.

Romo Mangun juga aktif dalam dunia kepenulisan dengan berbagai karya berupa artikel, esai, cerpen, novel dan buku nonfiksi. Novelnya yang berjudul Burung-Burung Manyar mendapatkan penghargaan sastra Ramon Magsaysay pada tahun 1996.

Sampai akhir hayatnya, Romo Mangun masih menghimpun dan mengayomi anak-anak jalanan di sepanjang Kali Code, Yogyakarta, dalam komunitas Pinggir Kali Code (Girli). Semua pengabdiannya kepada rakyat kecil itu membuat Romo Mangun dikenal sebagai Romo bagi kaum marginal.

Romo Mangun berpulang pada hari Rabu, 10 Februari 1999, setelah menyampaikan makalah “Peran Buku demi Kearifan dalam Iptek” dalam symposium Meningkatkan Peranan Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Baru Indonesia yang diselenggarakan oleh Yayasan Obor Indonesia.

Romo Mangun dimakamkan di Kompleks Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan, Yogyakarta. (Esti Utami, disarikan dari berbagai sumber)

Baca: Ini dia tokoh yang merumuskan konsep pendidikan nasional

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *