7cloud.asia – Smart farming atau pemanfaatan teknologi untuk pertanian menjadi bahasan dalam debat cawapres pada Minggu (21/1/2024) lalu.
Smart farming ini disinggung terkait persoalan ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas petani dan solusi guna mengatasi kelangkaan pupuk.
Pertanyaannya apa itu smart farming dan tepatkah smart farming digunakan sebagai solusi untuk mengatasi kelangkaan pupuk?
Dilansir ugm.ac.id pengamat pertanian, agroklimatologi dan perubahan iklim, Bayu Dwi Apri Nugroho, STP., M.Agr., Ph.D menjelaskan smart farming bisa diartikan sebagai pengembangan sistem pertanian berbasis teknologi (Information Technology).
Secara teknis smart farming tidak jauh berbeda dengan penggunaan berbagai aplikasi transportasi online ataupun aplikasi pendidikan.
“Dimana dengan bermodalkan smartphone yang terhubung ke internet dan aplikasi, masyarakat dapat dengan mudah menjangkau akses berbagai jenis informasi terkait pertanian,” terangnya.
Baca: Penerapan smart farming oleh petani melon
Teknologi digital ini, menurut Bayu, dapat dimanfaatkan selama proses on farm dan off farm.
Bayu menjelaskan pengembangan teknologi digital melalui merupakan bentuk inovasi pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan peluang bagi petani dalam mengakses informasi tentang komoditas pertanian secara cepat.
Info itu antara lain terkait harga dan ketersediaan komoditas pertanian seperti bibit dan pupuk, informasi luas tanaman komoditas, prediksi masa panen dan sarana berbagi info bagi kelompok tani.
Smart farming juga bisa memberikan info terkait kondisi cuaca, musim maupun kadar air pun PH tanah.
Smart farming dapat meningkatkan motivasi anak muda untuk terjun ke sektor pertanian, yang dalam beberapa dekade terakhir menurun signifikan.
Baca: Sepertiga lahan pertanian di dunia rusak akibat penggunaan pupuk
Seiring dengan berkembangnya zaman dan teknologi, permasalahan-permasalahan dalam pertanian pun juga tidak lagi bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan sistem tradisional yang telah diturunkan secara temurun.
Smart farming hadir sebagai terobosan baru metode pertanian cerdas yang memadukan teknologi sensor tanah dan cuaca dengan Agri Drone Sprayer (drone pertanian penyemprot pestisida,” terang
“Teknologi ini memungkinkan petani pengguna smart farming mengakses data dari sensor maupun drone secara realtime, akurat dan nyata melalui smartphone,” jelasnya.
Lebih lanjut Bayu menjelaskan bila pembaharuan data dapat disesuaikan dengan kebutuhan petani, sebagai contoh realtime setiap 5 menit, 10 menit, 15 menit dan seterusnya.
Baca: Cara petani milenial Jawa Barat terapkan smart farming
Teknologi sensor yang terpasang di lahan pertanian, mampu memberikan peringatan jika kondisi tanah maupun cuaca tidak dalam keadaan optimum.
Tak hanya data kondisi lahan, para petani juga akan mendapatkan rekomendasi tentang langkah-langkah yang harus dilakukan guna mencegah kerusakan terhadap tanaman mereka.
Agri Drone Sprayer akan membantu kerja petani dalam memberantas hama dan penyakit dengan penggunaan pestisida yang lebih terukur dan presisi.
Penggunaan teknologi dalam pertanian diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani. Agriculture bisa menjadi agri”cool”ture juga akan menarik minat para pemuda untuk bertani.
Potensi ekonomi daerah pun akan turut meningkat karena anak muda di desa tidak lagi berkecenderungan meninggalkan desa dan pertanian.
Baca: Beralih tanam ubi cilembu, petani di Magelang raih untung berlipat
“Ini memberi harapan untuk ketahanan pangan nasional. Berada di tangan para petani maka masa depan pertanian Indonesia sudah seharusnya pertanian cerdas berbasis teknologi”, pungkasnya.
Leave a Reply