Pendekatan Berbasis Trauma Dinilai Lebih Efektif Diterapkan dalam Pendidikan Perubahan Iklim

Written by

in

7cloud.asia – Penelitian yang dilakukan Tim dari Simon Fraser University menemukan anak muda memiliki beragam reaksi kepada dampak krisis iklim terhadap masa depan mereka.

Reaksi terhadap dampak perubahan iklim ini termasuk tanggapan yang memicu stres atau rasa cemas yang berdampak negatif kepada kemampuan mereka untuk fokus dan bersosialisasi;

Tidak jarang dampak perubahan iklim membuat anak muda merasa seperti masa depan berada di luar kendali mereka.

Hal ini membuat mereka tidak lagi memiliki prioritas utama untuk merencanakan masa depan (seperti melanjutkan ke pendidikan tinggi) untuk membuat komitmen untuk melakukan aksi terkait perubahan iklim.

Dalam kondisi seperti ini, orang dewasa dan pengajar berperan penting dalam membantu anak-anak dan remaja untuk mengelola stres mengenai masa depan serta tetap terkoneksi satu sama lain dan saling peduli.

Baca: Cara mengenalkan perubahan iklim pada anak

 

Pendekatan berbasis trauma juga penting dilakukan untuk mendorong anak bertindak terkait perubahan iklim.

Penelitian ini juga menemukan, selain stres, bagi beberapa anak dan remaja dampak perubahan iklim juga bersifat traumatis.

Pusat Informasi Trauma Manitoba di Kanada mendefinisikan trauma sebagai “sebuah pengalaman, atau pengalaman berulang yang sepenuhnya menguasai kemampuan individu untuk mengatasi emosi atau mengintegrasikan ide yang ditimbulkan dari pengalaman itu.

Penelitian juga menunjukkan bahwa jika kita berbicara pada anak-anak mengenai perubahan iklim dengan pendekatan trauma akan membantu mereka dalam membangun ketahanan mental mereka.

Dokumen Kementerian Pendidikan Kanada yang menawarkan prinsip dan strategi utama mempromosikan kesehatan mental di sekolah mencatat bahwa mengambil lensa trauma-informasi cukup fektif.

Baca: Bagaimana pendidikan memberi solusi bagi perubahan iklim

Langkah ini berarti ”menghubungkan pengalaman trauma masa lalu dan saat ini dalam semua aspek kehidupan sekolah mereka.

Dari pedoman kurikulum hingga pendekatan pengajaran, sekolah harus berusaha beroperasi untuk sadar akan cara-cara khusus secara historis dan budaya bahwa siswa rentan terhadap trauma iklim dan bentuk trauma lain yang dihasilkan dari bentuk-bentuk ketidakadilan dan marginalisasi.

Temuan lainnya adalah tentang peluang hidup. Pandemi Covid-19 telah mmicu terjadi perubahan signifikan pada dunia sosial anak-anak.

Kampanye jaga jarak yang berkepanjangan dan pembelajaran jarak jauh turut mempengaruhi kejiwaan anak-anak.

Kondisi ini pada akhirnya dapat mengubah perkembangan anak dan prospek pencapaian pendidikan mereka dan peluang hidup mereka.

Baca: Mengapa ganti pemerintahan harus selalu ganti kurikulum

Peluang ini dimiliki orang ketika berbagi ‘barang’ ekonomi atau budaya yang diciptakan secara sosial … dalam masyarakat tertentu seperti yang dijelaskan oleh sosiolog Anthony Giddens.

Sementara, peristiwa cuaca ekstrem menimbulkan pergolakan pribadi dan sosial yang serupa, bersama dengan dampak signifikan terhadap lingkungan alam, masyarakat, dan infrastruktur yang dibangun.

Namun, melibatkan anak-anak (dengan cara yang sesuai dengan usia mereka) dalam membuat perubahan dapat meningkatkan daya tahan di era krisis iklim.

Kami berharap dapat terus memahami cara-cara yang diajarkan oleh para pengajar dan orang tua tentang perubahan iklim dengan cara membangun ketahanan, dan wawasan apa yang dapat dihasilkan untuk masa depan pendidikan perubahan iklim.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *