7cloud.asia – Komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memodernisasi 153 di bawah pengelolaan Perumda Pasar Jaya terus direalisasikan.
Pada Senin (6/4/2026) Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melakukan peletakan batu pertama revitalisasi Pasar Gardu Asem di Jakarta Pusat dan Pasar Kramat Jaya di Jakarta Utara.
Pramono menekankan bahwa pasar tradisional memiliki peran strategis untuk berbagai kegiatan masyarakat, salah satunya sebagai pusat interaksi sosial dan ekonomi warga.
Oleh sebab itu, ia benar-benar berharap revitalisasi dan modernisasi bisa dilakukan di seluruh pasar di Jakarta.
“Saya menyampaikan apresiasi kepada Perumda Pasar Jaya yang saat ini mengelola 153 pasar. Dan saya menyetujui untuk beberapa pasar dilakukan revitalisasi, perbaikan, termasuk hari ini di tempat ini,” ujar Pramono.
Pramono menargetkan transformasi pasar tidak hanya dilakukan pada fisik bangunan, tetapi juga sistem transaksinya. Transaksi yang dilakukan secara non-tunai tersebut diyakini juga bisa mencegah adanya tindakan kriminal.
Baca Juga: 153 Pasar Tradisional di Jakarta Bakal Naik Kelas Jadi Ruang Perjumpaan Budaya
“Saya berharap betul cara pembayaran dengan digital yang telah kita lakukan dan kita lombakan dan alhamdulillah berhasil dengan baik pada waktu itu meningkat 47 persen transaksinya juga menjadi lebih baik,” jelas Pramono.
Menurutnya, implementasi transaksi non-tunai dan revitalisasi berbagai pasar tradisional di Jakarta ini bisa menjadi role model kerja sama antara pemerintah daerah dan BUMD dalam menata pasar dan memberikan dampak positif ekonomi.
Revitalisasi Pasar Gardu Asem yang berlokasi di Kemayoran dilakukan di atas lahan seluas 1.735 meter persegi.
Saat ini terdapat 79 pedagang eksisting yang direlokasi sementara ke Pasar Nangka Bungur selama proses pembangunan. Ke depan, pasar ini akan memiliki kapasitas 80 kios dan 128 los untuk menampung 208 pedagang.
Sementara itu, Pasar Kramat Jaya di Cilincing merupakan pasar yang dibangun di lahan baru seluas 2.617 meter persegi. Pasar ini akan dilengkapi dengan 49 kios serta fasilitas olahraga di lantai dua, sehingga dapat menjadi ruang publik yang lebih fungsional bagi masyarakat sekitar.
Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan menyampaikan, pembangunan kedua pasar ini menggunakan alokasi dana Penyertaan Modal Daerah (PMD).
Pembangunan Pasar Kramat Jaya dilakukan dengan menggunakan dana sebesar Rp10,2 miliar, sedangkan Pasar Gardu Asem sebesar Rp10,6 miliar.
Baca Juga: Pengelolaan Sampah di Pasar-pasar di Jakarta Perlu Dimodernisasi dan Dipercepat
Ia menyampaikan, pasar tradisional memiliki peran vital struktur sosial ekonomi dan kemandirian. Karena itu, revitalisasi pembangunan kedua pasar ini dilakukan untuk meningkatkan layanan maayarakat, khususnya pedagang dan pembeli.
“Kami juga memastikan bahwa selama masa pembangunan Pasar Gardu Asem, para pedagang tetap difasilitasi untuk tetap dapat menjalankan kegiatan usahanya melalui tempat penampungan sementara yang saat ini kita tempatkan di Pasar Nangka Bungur,” lanjutnya.
Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wahyu Dewanto berharap menyambut positif revitalisasi Pasar Gardu Asem di Jakarta Pusat dan Pasar Kramat Jaya di Jakarta Utara ini.
Dia berharap revitalisasi du pasar ini dapat menjadi contoh modernisasi pasar tradisional lainnya di ibu kota.
“Mudah-mudahan ini bisa menjadi contoh modernisasi pasar tradisional yang diinginkan kita semua, terutama masyarakat Jakarta,” ujar Wahyu, Senin (6/4/2026) dikutip beritajakarta.id
Baca Juga: Tranformasi Pasar Tradisional di Jakarta Menuju Kota Global
Ia menegaskan, konsep pasar modern tidak harus identik dengan bangunan mewah, melainkan lebih menekankan pada kenyamanan, keamanan, serta kelengkapan fasilitas bagi pengunjung.
“Pasar yang nyaman dan aman untuk berbelanja, dengan fasilitas yang lengkap dan berfungsi dengan baik. Itu yang terpenting,” katanya.
Wahyu juga mengingatkan, modernisasi pasar tidak cukup hanya melalui perbaikan fisik bangunan. Menurutnya, diperlukan komitmen bersama antara pengelola dan pedagang untuk menciptakan lingkungan pasar yang tertib, bersih, dan nyaman.
“Komitmen ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti merapikan lapak, menjaga kebersihan, dan menciptakan kenyamanan di lingkungan pasar,” katanya.
Selain itu, ia mendorong penerapan sistem transaksi nontunai guna meningkatkan keamanan dan efisiensi dalam aktivitas perdagangan di pasar tradisional.
Wahyu menambahkan, upaya pembenahan tersebut seharusnya sudah dapat mulai diterapkan di seluruh pasar, sembari menunggu proses revitalisasi fisik dilakukan secara bertahap.

Leave a Reply