Penularan HIV pada Anak, Mengapa Bisa Terjadi dan Cara Mengenali Gejalanya

Written by

in

7cloud.asia – Pada tahun 2023, terdapat sekitar 520 ribu pasien yang terdata menderita infeksi Human Immunoresensi Virus (HIV), 3 persen di antaranya anak-anak di bawah 14 tahun.

Meskipun persentasenya kecil, yakni 3 persen, jumlah anak-anak dengan HIV mencapai sekitar 15 ribu.

Transmisi atau penularan infeksi HIV  pada anak ada dua jalur, tetapi yang paling banyak atau lebih dari 90 persen transmisi atau penularan infeksi HIV/Aids ke anak berasal dari ibu ke bayinya.

Penularan HIV ke anak ini dipaparkan Konsultan Ahli Alergi Imunologi Anak Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dokter Dina Mukhtiarti 

Baca: Mengenal mycoplasma yang menjangkiti anak di Jakarta

Dia menyampaikan bahwa penularan HIV juga dapat terjadi dari perilaku berisiko seperti hubungan seksual tidak aman, penggunaan jarum yang terkontaminasi atau karena transfusi darah.

Meski begitu, Dina menyebut bahwa potensi penularan HIV melalui transfusi darah saat ini dapat diminimalisasi karena adanya pemeriksaan-pemeriksaan di laboratorium yang sudah canggih dibandingkan dahulu.

Dina menjelaskan penularan HIV dari ibu ke anak bisa terjadi di beberapa fase, yang pertama adalah di fase saat kehamilan.

Kedua saat proses kelahiran dan ketiga setelah kelahiran, terutama pemberian ASI dari ibu ke bayinya. Gejalanya kalau anak terinfeksi HIV tergantung dia sedang di fase mana.

Baca: Hari Aids Sedunia, angka HIV/Aids pada anak terus meningkat

“Pada saat awal bisa terlihat seperti bayi sehat atau anak sehat, tidak ada masalah, tetapi kalau tidak diobati, timbul gejala-gejala yang kita sebut sebagai infeksi oportunistik,” katanya.

Dina mengatakan anak-anak yang terinfeksi HIV seringkali menghadapi tantangan serius terkait kekebalan tubuh mereka.

Infeksi yang umum muncul pada anak-anak dengan sistem kekebalan yang lemah adalah infeksi jamur.

Gejala infeksi jamur pada anak-anak yang terinfeksi HIV dapat terlihat pada lapisan putih di lidah, yang sulit hilang bahkan setelah anak berusia di atas 2 bulan.

Baca: Kasus bunuh diri pada anak meningkat signifikan

Infeksi jamur ini tidak hanya terbatas pada lidah, tetapi dapat menyebar ke saluran cerna, menyebabkan diare kronik yang sulit diidentifikasi penyebabnya.

Selain infeksi jamur, anak-anak dengan HIV juga berisiko tinggi terkena tuberkulosis (TBC).

TBC pada anak-anak ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk diare kronik yang sulit diatasi.

Dia menjelaskan infeksi HIV pada anak-anak disebabkan oleh Human Immunoresensi Virus (HIV), yang menyerang sel kekebalan tubuh, terutama CD4.

CD4 oleh Dina dianalogikan sebagai tentara-tentara yang ada di tubuh. Jika sel CD4 ini terserang virus HIV maka jumlahnya akan berkurang, fungsinya akan berkurang.

Baca: Pentingnya pemahaman kesehatan mental sejak dini

“Sehingga anak-anak atau seorang individu yang terinfeksi virus ini akan mengalami masalah kekebalan tubuh dan akhirnya sering mengalami infeksi,” ujar Dina.

Dina menegaskan bahwa deteksi dini dan pengobatan yang tepat menjadi kunci untuk menghindari kondisi berat dan konsekuensi jangka panjang pada anak-anak yang terinfeksi HIV dan mencegah masuk ke tahap AIDS.

Sumber: Antaranews.com

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *