7cloud.asia – Perubahan selera warganet belakangan ini cenderung menyukai hal-hal yang bersifat receh tapi menghibur.
Salah satu fenomena yang kini marak di kalangan warganet adalah munculnya bocah kosong.
Perubahan selera warganet ini menurut Yogie Pranowo Adjunct Associate Lecturer, Universitas Multimedia Nusantara dalam tulisannya di The Conversation dapat dijelaskan menggunakan teori hegemoni.
Teori ini mengacu pada dominasi budaya oleh kelompok atau entitas tertentu yang mengendalikan norma, nilai, dan ideologi yang berlaku dalam masyarakat.
Dalam konteks perubahan selera pengguna media digital, teori hegemoni memberikan pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana selera dan preferensi dapat berubah seiring waktu.
Baca: Tren bocah kosong, penyebab dan akibatnya
Ini terjadi karena beberapa alasan kunci.
Pertama, kekuatan platform media sosial yang memainkan peran sentral dalam perubahan selera.
Era media sosial memberi individu dan kelompok lebih banyak kekuatan untuk berpartisipasi dalam pembentukan budaya dan menyebarkan pandangan.
Namun, pengaruh kelompok dominan masih sangat kuat dalam memengaruhi tren di media sosial.
Kelompok dominan ini termasuk para pemilik media, golongan elite politik, dan publik figur yang mampu mempromosikan nilai-nilai yang ingin mereka dorong, yang pada gilirannya memengaruhi perubahan selera warganet.
Kondisi ini seringkali dinamakan bagian dari hegemoni media.
Kedua, konstruksi identitas dan citra berperan penting dalam perubahan selera.
Hegemoni budaya menciptakan citra ideal yang diinginkan oleh masyarakat. Ketika konstruksi identitas dan citra berubah, seperti pergeseran dari penekanan pada penampilan fisik yang sempurna ke fokus pada karakteristik seperti kesederhanaan dan ketulusan, selera warganet pun ikut berubah.
Ini seringkali terjadi melalui perubahan dalam representasi media dan naratif yang didorong oleh kelompok dominan.
Baca: Kontroversi seorang Sinead O’Connor
Mengapa bisa terjadi?
Eca Aura, Nita Vior, dan Chateez yang dikenal sebagai bocah kosong adalah contoh manifestasi dari perlawanan terhadap hegemoni dalam dunia hiburan.
Dalam kerangka teori hegemoni yang diperkenalkan oleh Antonio Gramsci, fenomena ini dapat dilihat melalui dua instrumen penting:
Pertama, ada “War of Position”, yang dalam pemikiran Gramsci adalah strategi perubahan budaya yang diterapkan secara bertahap dan sistematis melalui berbagai institusi dan norma yang ada dalam masyarakat.
Konsep ini mencerminkan usaha perlahan dalam mengubah pandangan, nilai-nilai, dan preferensi budaya yang telah diterima oleh masyarakat.
Dalam konteks perubahan selera dari penekanan pada kecantikan fisik menuju karakteristik “bocah kosong,” strategi ini dapat melibatkan langkah-langkah seperti pembentukan opini publik yang mendukung perubahan tersebut.
Hal ini dapat dilakukan melalui pembentukan “koalisi” bocah kosong untuk menyuarakan bahwa era baru dari sebuah eksistensi di dunia hiburan adalah yang lugu dan polos.
Baca: Cara Coldplay wujudkan konser ramah lingkungan
Kedua, ada “War of Movement”, yang merupakan strategi yang lebih revolusioner dan mendadak dalam mengubah budaya, norma, dan nilai-nilai dalam masyarakat.
Konsep ini terkait dengan perubahan sosial yang bersifat drastis dan cepat, yang dapat mengguncang status quo dan menghasilkan perubahan besar dalam pandangan dan perilaku masyarakat).
Misalnya, dalam konteks perubahan selera, kondisi ini dapat mencakup penggunaan budaya populer seperti musik, seni, dan tren remaja untuk menciptakan perubahan dalam pandangan masyarakat.
Sebagai contoh, mereka konsisten membuat konten di TikTok untuk menegaskan eksistensi mereka dengan kekhasan yang mereka miliki.
Oleh karena itu, kita perlu menjernihkan keraguan kita terhadap publik figur yang mungkin terlihat sebagai bocah kosong.
Baca: Kreativitas anak Bandung ini layak dapat acungan jempol dan ditiru
Memang, ada dampak negatif dari mengidolakan karakter bocah kosong ini, seperti publik yang latah ingin jadi “kosong” juga, sehingga mereka tidak menjadi dirinya sendiri.
Mereka lupa bahwa karakter kosong memiliki tempat hanya pada dunia hiburan dan sebaiknya bukan untuk di dunia nyata yang penuh tuntutan atas skillset tertentu.
Namun dari karakter yang “kosong” tersebut, juga dapat memunculkan hal-hal positif yang tidak selalu harus dinilai dari penampilan fisik semata.
Fenomena ini mengajak kita untuk lebih menghargai karakteristik masing-masing individu yang ternyata bisa menghibur juga dari kekurangan mereka, meskipun hanya gimmick semata.
Penulis: Yogie Pranowo Adjunct Associate Lecturer, Universitas Multimedia Nusantara

Leave a Reply