Menggali Makna Tradisi Sebar Apem Yaa Qowiyyu di Jatinom Klaten Jawa Tengah

Written by

in

 

 

7cloud.asia – Puncak perayaan tradisi Sebar Apem Yaa Qowiyyu tahun 2023 kembali digelar di Kompleks Pemakaman Ki Ageng Gribig, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten pada Jumat (1/9/2023) siang.

Ribuan warga Klaten dan sekitarnya memadati lokasi Sebar Apem Yaa Qowiyyu sejak pagi. Antusiasme warga sangat tinggi karena tradisi yang biasa sigelar setiap bulan Sapar atau Safar ini dua tahun vacum kaibat pandemi.

Adapun tradisi Sebar Apem Yaa Qowiyyu dilakukan dengan melemparkan apem dari tokoh mssyarakat, kepada masyarakat sebagai pelajaran nilai-nilai bersedekah dan berbagi antar sesama.

Baca: Beragam tradisi menyambut 1 Muharam di Nusantara

Tradisi Sebar Apem Yaa Qowiyyu ini telah berlangsung sejak abad ke-17 yang dikreasikan oleh Ki Ageng Gribig.

Tradisi perebutan Sebar Apem Yaa Qowiyyu yang disebar dari atas menara memiliki makna bahwa sesuatu itu datangnya dari atas dan jika tidak ada usaha, maka tidak akan mendapatkannya.

Sementara kata Yaa Qowiyyu berasal dari penyingkatan bacaan doa Yaa Qowiyyu Yaa Aziz, Yaa Qowiyyu Wal Muslimin Yaa Qowiyyu War Zukna Wal Muslimin yang berarti ‘berilah kekuatan kepada kami segenap kaum muslimin’.

Baca: Takir ponthang dan maknanya

Apem sendiri adalah penganan terbuat dari tepung beras yang biasa dibuat saat tradisi ruwahan menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Nama apem berasal dari bahasa Arab yang berlafal Affum atau afwan yang memiliki arti permintaan maaf.

Dengan kata lain, penggunaan apem sebagai sajian tradisi Ruwahan dimaksudkan untuk memohon maaf baik untuk diri sendiri maupun keluarga yang sudah meninggal.

Dalam acara Sebar Apem Yaa Qowiyyu kemarin, hadir Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang ikut menyebarkan apem ke warga yang hadir dari banyak daerah.

Baca: Tradisi seba masyarakat adar Badui

 

Sambil diiringi selawat, Ganjar pun turut serta merawat tradisi sebar apem Yaa Qowiyyu yang tahun ini membagikan sebanyak 6,6 ton kue apem untuk masyarakat.

Apem-apem yang disebur dalam tradisi sebar apem Yaa Qowiyyu  ini dibuat masyarakat tadi antara 5-6 ton dan itu dikontribusikan oleh masyarakat.

“Satu pelajaran yang bagus adalah bersedekah, pelajaran ibadah yang bagus dan kemudian semua berkumpul dalam suasana keceriaan, bersilaturahmi bersama, tradisi yang sangat unik,” kata Ganjar.

Baca : Tradisi thudong, saat para bathe berjalan ribuan kilometer untuk ziarah ke Borobudur

Tak hanya sekedar menyebar kue apem untuk masyarakat, Ganjar menyampaikan tradisi Yaa Qowiyyu juga bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar tokoh setempat dan masyarakat.

Selain itu, Ganjar menyebutkan tradisi Yaa Qowiyyu yang selalu mengundang ribuan orang untuk hadir juga dapat dioptimalkan menjadi event rutin daerah agar mampu meningkatkan perekonomian warga.

“Bisa menggerakkan banyak hal, ya silaturahmi secara spiritual, ekonominya bergerak dan kemudian bisa menjadi event pertunjukkan juga orang pada datang ke sini, mudah-mudahan semuanya sehat,” ucap Ganjar.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *