7cloud.asia – Ketua Badan Aspirasi Masyarakat atau BAM DPR Ahmad Heryawan menegaskan, pengembangan sektor perkopian nasional memerlukan dukungan negara secara menyeluruh.
Dukungan tersebut mulai dari penyediaan bibit unggul, pendampingan petani, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor hilir.
Karena itu dia mendorong pemerintah membentuk badan yang secara khusus mengelola komoditas kopi nasional hingga siap menembus pasar ekspor.
Saat membuka Festival Aspirasi BAM DPR dengan tema “Kopi sebagai Tanaman Pangan, Konservasi, dan Industri”, Aher mengatakan penguatan ekosistem kopi menjadi kunci agar komoditas tersebut mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Ia menjelaskan, perhatian pemerintah perlu dimulai dari sektor hulu, khususnya dalam penyediaan bibit kopi unggul yang telah tersertifikasi. Dengan demikian, petani dapat memperoleh hasil panen yang berkualitas dan memiliki produktivitas yang lebih baik.
Di tingkat hulu juga tentu para petani perlu penyediaan bibit kopi karena kalau masyarakat membibitnya sendiri bisa jadi kopinya bukan kopi unggul.
Baca: Pengembangan Kopi untuk Sejahterakan Petani Sekaligus Konservasi Lingkungan
“Kan sayang petani membibit kopi sendiri kemudian menanam sampai tumbuh besar tapi ternyata tidak berbuah. Atau berbuah tapi kecil-kecil karena tidak ada sertifikasi,” ujarnya.
Selain bibit, Aher juga mendorong pemerintah memberikan perhatian terhadap kebutuhan pupuk serta pendampingan kepada petani, sebagaimana dukungan yang selama ini diberikan kepada komoditas tanaman pangan lainnya.
Lebih lanjut di sektor tengah, Aher menilai peningkatan nilai ekonomi kopi hanya dapat dicapai apabila petani dan pelaku usaha memperoleh pelatihan serta dukungan peralatan pengolahan.
Di tahap pengolahan perlu adanya beragam pelatihan bagi masyarakat, beragam bimbingan bagi masyarakat, termasuk bantuan-bantuan mesin pengolahan bagi masyarakat supaya masyarakat dapat menghasilkan kopi dengan nilai tambah.
“Karena kalau kemudian sudah ada pengolahan lebih lanjut, maka value-nya akan meningkat,” katanya.
Sementara pada sektor hilir, Aher menekankan pentingnya memperkuat sumber daya manusia agar produk kopi Indonesia semakin berdaya saing.
Baca: Perubahan Iklim dan Anomali Cuaca Turunkan Produksi Kopi Indonesia
Menurutnya, peningkatan kualitas barista dan roaster akan membuka peluang kerja sekaligus memperkuat industri kopi nasional.
“Saya kira sekarang mulai ada beasiswa untuk urusan perkopian, khususnya sekolah-sekolah kopi untuk jadi roaster dan jadi barista,” ungkapnya.
Aher berharap pemerintah terus memperkuat ekosistem perkopian secara utuh sehingga kopi Indonesia tidak hanya unggul di tingkat produksi, tetapi juga memiliki nilai tambah melalui pengolahan, pemasaran, dan sumber daya manusia yang berkualitas
Saat ini Indonesia tercatat sebagai pengekspor terbesar ke-4 di dunia–setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Biji kopi asal Indonesia menjangkau negara-negara Eropa, negara-negara Timur Tengah, dan Amerika Serikat.
Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Pangan, total produksi kopi nasional pada 2025 tercatat sekitar 789.000 ton per tahun. Angka ini setara dengan sekitar 6,6 persen dari total produksi kopi global.
Adapun nilai ekspor kopi dan produk turunannya pada periode Januari hingga Oktober 2025 berhasil mencapai 2,68 miliar dolar (tumbuh 46,68 persen), dengan surplus perdagangan komoditas kopi sebesar 2,32 miliar dolar
Baca: Menjaga Produksi Kopi Indonesia di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

Leave a Reply