7cloud.asia – Dzaki Wardana, pesepeda asal Indonesia berhasil sampai ke garis finish pada urutan kelima kompetisi Trans Am Bike Race baru-baru ini.
Trans Am Bike Race (TABR) yang diikuti pesepeda Dzaki Wardana ini adalah lomba balap sepeda jarak jauh tahunan yang dilakukan secara swadaya di seluruh Amerika Serikat.
Rute yang harus dilalui pesepda Dzaki Wardana dalam lomba Trans Am Bike Race dari pantai barat hingga pantai timur AS sepanjang 6.800 kilometer dan menggunakan jalur sepeda lintas Amerika.
Baca Juga: Komunitas Sepeda: Bersepeda Jadi Cara Warga Menikmati Kotanya
Dikutip VOA Indonesia, Dzaki Wardana pesepeda asal Tangerang ini mengatakan, merasa sangat bangga, bersyukur dan lega, bisa mencapai finish Trans Am Bike Race di Yorktown Victory Monument, Virginia.
Tak lupa Dzaki Wardana yang biasa dipanggil Dzaki ini mengucapkan terima kasihnya atas dukungan rekan-rekan pesepeda lainnya di Indonesia, serta dari sponsor, dari donatur.
“Semua ini perjuangan kita bersama, saya hanya orang di lapangan, menjalankan terbaik yang bisa saya berikan. Ini saya persembahkan untuk Indonesia,” tutur Dzaki Wardana bangga.
Baca Juga: Kabar Gembira untuk Pengguna Sepeda, Kini Jakarta Sudah Miliki Peta Bersepeda
Dzaki, panggilan akrabnya, semula tidak berkeinginan untuk mengikuti Trans Am Bike Race atau lomba lintas Amerika dengan jarak 6.800 km itu. Sebenarnya, ia ingin mengikuti lintas Eropa terlebih dahulu, yang jaraknya lebih pendek.
Namun akhirnya pesepeda yang kini berumur 35 tahun ini malah diterima untuk mengikuti lomba Trans Am Bike Race ini.
Dzaki Wardana awalnya ingin ikut Trans Continental di Eropa, lomba balap sepeda sejenis, jaraknya 4.300 kilometer. Namun saat mendaftar di sana, Dzaki Darmawan tidak diterima.
“Akhirnya, karena ada peluang untuk lomba lain, maka saya mendaftar ke Trans Am Bike Race yang sebenarnya mimpi saya untuk saya ikuti 2 tahun lagi. Tapi karena saya diterima, ya berangkatlah,” ujarnya
Baca Juga: Kurir Sepeda: Misi Lazada Membangun E-Comerce Ramah Lingkungan
Dengan latihan jangka pendek, Dzaki berangkat ke Amerika dengan start dari Astoria, Oregon pada 4 Juni 2023 lalu.
Ternyata tantangan untuk menuntaskan Trans Am Bike Race ini sangat berat, dari iklim hingga medan yang dilalui benar-benar berbeda dengan di Indonesia.
“Pertama menderita adalah soal suhunya. Pertama kali tiba di Amerika kok saya kedinginan terus bawaannya. Ya memang suhunya delapan derajat Celsius kalau pagi. Juga di daerah Colorado saya kena hujan es yang memang rintik-rintik hujan es batu itu sampai dua jam, sudah hampir mau mati,” kata Dzaki Wardana.
Baca Juga: Mengenal Ritual Thudong: Para Bhante Berjalan Ribuan Kilometer ke Candi Borobudur
Memang tidak mudah bagi Dzaki Wardana yang baru pertama kali ke Amerika dan langsung mengikuti lomba bersepeda lintas Amerika itu.
Apalagi lomba ini sifatnya swadaya, tidak dibantu apapun dari pihak panitia. Untung ada seorang teman sesama pesepeda yang tinggal di Bandung, Pandu Teleskebes. Ia bertindak selaku pemantau perjalanan (dot watcher) selama Dzaki berlomba di Amerika.
“Saya pesepeda yang senang memantau perjalanan para peserta lomba bersepeda jarak jauh. Yang pertama ditakutkan adalah rute yang begitu jauh dan elevation gain (tingkat ketinggian), jalur yang naik-turun. Jadi perlu persiapan matang,” ujar Pandu.
Baca Juga: Mengenal Uniknya Tradisi Seba Masyarakat Badui, Tahun Ini Singgung Hak Politik
Sekuat apapun manusia, memerlukan istirahat untuk memulihkan stamina tubuh. Ditanya VOA bagaimana dan di mana Dzaki menginap.
Pandu menuturkan, ada dua kendala utama, pertama adalah cuaca, yang kedua lokasi buat menginap. Untuk itu Dzaki dan Pandu berdiskusi, bagaimana kondisinya hari itu, perjalanan hari itu lalu pasang target untuk keesokan harinya.
“Misal, hari ini Dzaki terlalu lelah karena sudah bersepeda 400 km dalam sehari. Berarti besok ambil 200 km saja, tidak usah terlalu jauh. Jadi sudah direncanakan bangun jam berapa, misalnya 250 km, kita lihat di peta, ada kota apa (untuk menginap di hotel) di dekat situ. Itu peran saya di situ, saya diskusi dengan Dzaki, untuk menentukan titik finish setiap harinya,” tambah Pandu.
Baca Juga: Ibadah Haji Sudah Ada Sebelum Islam Berkembang, Seperti Ini Sejarahnya
Terkadang, Dzaki Wardana tidak mendapatkan kamar hotel, tetapi berkat bantuan Pandu yang ikut mencarikan dan menyarankan, maka Dzaki selalu mendapat tempat untuk bermalam.
Selama 21 hari perjalanan lomba bersepeda lintas Amerika dalam Trans Am Bike Race ini, Dzaki Wardana hanya tidur enam jam sehari. Tidak ada hadiah berupa uang maupun piala atau trofi, namun ia puas dan bangga.
Nama Dzaki Wardana kini ditulis dalam Persatuan Petualangan Bersepeda atau Adventure Cycling Association.
Baca Juga: Petualangan Sherina 2 Segera Diputar: Janjikan Sesuatu yang Nostalgic Tapi Baru
Ditanya mengenai rencana ke depan, Dzaki Wardana yang telah dua kali mengikuti lomba bersepeda “Bentang Jawa” di Indonesia berjarak 1.500 km dari Anyer (Banten) hingga Banyuwangi itu mengatakan:
“Tahun depan saya ingin coba ikut yang di Eropa, jaraknya agak pendek, 4.000-an km aja, tapi benar-benar dengan persiapan yang lebih matang,” ujarnya
Ia menambahkan, lomba di Eropa ini jaraknya lebih pendek ketimbang Trans Am Bike Race, tapi tantangannya jauh lebih berat, kendala bahasa di negara-negara yang tidak berbahasa Inggris.
“Rutenya juga bikin rute sendiri. Panitia hanya menyiapkan tempat untuk start dan finishnya, dengan empat check point yang harus dilalui.”
Sumber: VOA Indonesia

Leave a Reply