7cloud.asia – Bandara Banyuwangi di Jawa Timur menerima penghargaan The Aga Khan Award for Architecture 2022, menyisihkan 463 nominasi bangunan dengan arsitektur terbaik di dunia.
Sertifikat The Aga Khan Award for Infrastructure dari Putri Zahra Aga Khan yang bertindak atas nama HH Aga Khan diserahkan ke PT Angkasa Pura II selaku pengelola Bandara Banyuwangi, di Muscat, Oman, pada 31 Oktober 2022 lalu
Dalam keterangannya, Aga Khan Development Network menyatakan bahwa Bandara Banyuwangi sangat modern dan efisien dalam segala aspek.
“Bandara Banyuwangi dapat menjadi game-changer dalam arsitektur bandara,” jelas Aga Khan Development Network dalam keterangannya Oktober lalu.
Baca: Makna sumbu filoosofi dalam tata ota Yogyakarta
Bandara Banyuwangi yang diarsiteki Andra Matin ini memiliki desain terbuka. Desain yang tak lazim untuk sebuah bandara di dunia. Ini menjadi salah satu alasan mengapa Aga Khan Development Network mengganjarnya dengan penghargaan.
Dengan desain ini, Bandara Banyuwangi mengutamakan sirkulasi udara alami tanpa mengurangi kenyamanan traveler.
Saat mengunjungi Bandara Banyuwangi, pada Jumat (23/6/2023) kemarin, Direktur Aga Khan Award Farrokh Derakhshani mengaku terkesan dengan desain terminal Bandara Banyuwangi yang ramah lingkungan.
“Saat tadi turun dari pesawat, saya langsung merasakan udara tropis di sini. Tapi begitu masuk ke terminal Bandara Banyuwangi, langsung terasa sejuk,” kata Farrokh.
Baca: Stasiun Manggarai akan dijadikan stasiun sentral, seperti ini grand desainnya
Skema pembangunan yang diterapkan bersandar pada sumber daya dan kearifan lokal, teknologi tepat guna, dan prinsip-prinsip desain vernakular.
Fasad Bangunan Bandara Banyuwangi mencerminkan citra kearifan lokal Kabupaten Banyuwangi, dengan mengadopsi bentuk Udeng, penutup kepala khas Suku Osing (penduduk asli Banyuwangi).
“Saya melihat adanya kesamaan antara konsep pembangunan Bandara Banyuwangi dengan konsep Achitecture Acupunture di Cina. Keduanya berfokus pada integrasi harmonis antara bangunan dengan lingkungan, serta menggabungkan elemen budaya lokal. Inilah menjadi keunggulan Bandara Banyuwangi,” ungkap Farrokh.
Baca: Keunikan kain songke dan kapal phinisi
Kondisi Indonesia yang memiliki iklim tropis yang lembap disiasati dengan desain konektivitas yang menciptakan bukaan dan overhang yang dapat mengoptimalkan pengendalian suhu melalui ventilasi silang secara alami.
Sistem penghawaan alami juga diterapkan ke dalam bangunan sehingga hampir seluruh ruang operasional bandara tidak membutuhkan alat pengkondisian udara atau AC.
Overhang selebar tujuh meter di sisi luar bangunan, ditambah kisi-kisi kayu sebagai dinding ruang dan sisi atap efektif berfungsi sebagai ventilasi yang memungkinkan adanya aliran udara dalam terminal.
Ventilasi silang ini didukung dengan pengaturan lanskap ke ruang interior membantu aliran udara dalam terminal. Pepohonan rindang nan subur tak hanya menghadirkan suasana yang alami tetapi juga berfungsi sebagai pendukung ventilasi alami ini.
Baca: Mengenal tradisi seba masyarakat adat Badui
Rumput yang ditanam di atap terminal penumpang terlihat hijau yang secara rutin dirawat. Rumput ini cukup efektif meredam panas sinar matahari dan membuat ruang di bawahnya terasa lebih sejuk.
Kesan yang sama juga diungkapkan juri Aga Khan Award asal Singapura, Hossein Rezai yang hadir bersama Farrokh. Dia mengaku mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dalam kunjungan pertamanya di Bandara Banyuwangi ini.
“Jarak turun dari pesawat, pengambilan bagasi, dan area penjemputan sangat dekat sehingga memberikan kenyamanan bagi para pengunjung, tidak perlu berkeringat. Hemat energi,” ujar Hossein.
Direktur dan juri Aga Khan Award ke Banyuwangi untuk mengapresiasi atas kemenangan Bandara Banyuwangi. Mereka akan menyerahkan penghargaan kepada berbagai pihak yang terlibat dalam pembangunan Bandara Banyuwangi.
Baca: Makna mendalam di balik ritual tahunan Thudong
Bandara Banyuwangi ditetapkan sebagai peraih penghargaan arsitektur paling bergengsi dunia, Aga Khan Award for Architecture 2022 dengan menyisihkan 463 nominasi bangunan dengan arsitektur terbaik dari seluruh dunia.
Pada kesempatan yang sama digelar Festival Arsitektur Nusantara yang menjaid forum bagi para arsitek dalam diskusi panel dan seminar internasional.
Forum ini menghadirkan sejumlah arsitek nasional yang ikut terlibat dalam pengembangan Banyuwangi. Sebut saja Andra Matin, Adi Purnomo, Budi Pradono, dan Yori Antar.
Festival Arsitektur Nusantara telah diawali dengan kegiatan pameran arsitektur (22 Juni-6 Juli) di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan dan Gedung Juang.
Baca: Ibadah haji sudah ada jauh sebelum Islam berkembang
Pameran ini menghadirkan ratusan desain arsitektur yang telah dan akan dibangun di Banyuwangi di masa depan.
Sebut saja desain museum kereta (PT INKA) karya Denny Gondo, desain museum air karya Adi Purnomo, hingga desain gedung Inggrisan yang akan direvitalisasi dengan melibatkan Yori Antar.
Presiden Direktur Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan Bandara Banyuwangi dikelola AP II sejak 2017, dan pada 2022 Bandara Banyuwangi mendunia karena penghargaan Aga Khan Award.
Penghargaan Aga Khan ini mengantar Bandara Banyuwangi menjadi salah satu landmark di Jawa Timur menjadi mendunia dan dikenal masyarakat global.
“Karya arsitektur terbaik di dunia yang dimiliki Bandara Banyuwangi akan dilengkapi dengan berbagai pengembangan dan inovasi yang di antaranya berbasis teknologi, guna meningkatkan pelayanan dan operasional, termasuk juga memastikan penerapan energi baru terbarukan untuk mencapai target global net zero carbon emissions pada 2050,” ujar Muhammad Awaluddin.
Baca: Mengapa di Korea sampai pecah perang gender?
Awaluddin menambahkan dengan desain ini akan membuat generasi millennial menyukai kepraktisan dalam melakukan perjalanan.
Ke depan Bandara Banyuwangi akan menawarkan fleksibilitas tersebut melalui lebih banyak layanan berbasis teknologi yang terintegrasi dengan dengan aplikasi travelin milik AP II.
Bandara Banyuwangi juga memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT). Pembangunan pembangkit surya untuk di gedung Airport Rescue & Fire Fighting (atap seluas 600 meter persegi dengan kapasitas 35,1 kilo watt peak) sudah sepenuhnya selesai.
Jadi lengkap sudah Bandara Banyuwangi sebagai sebuah karya arsitektur.

Leave a Reply