Nining mengapresiasi masyarakat dalam menjaga pohon raksasa tersebut sampai besar di lahan mereka, dan ini sangat penting berdampingan dengan para pegiat yang bergerak di konservasi dan kehutanan.
Menurutnya, pengembangan wisata penting, karena bisa memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, tetapi jangan lupa wisata yang dikembangkan itu objeknya apa dan yang dijaga apa termasuk pohon raksasa ini.
Namun, ia mengingatkan bahwa dalam pembangunan destinasi wisata harus perlu diperhatikan rambu-rambu dan dampak lingkungan,
“Jalan yang bakal dibangun menuju lokasi itu tidak harus yang besar dan akses ada, tetapi bagaimana masyarakat mengantisipasi dampak positif dalam pembangunan itu nantinya,” katanya pula.
Dengan kondisi itu, penting sinergi pembangunan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui perhutanan sosial.
Dia menjelaskan, salah satu latar belakang dalam pembentukan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan Republik Indonesia berdasarkan instrumen pemerintah.
BPDLH merupakan badan layanan umum dalam mengelola dana. Dana untuk mendukung target pemerintah dalam meningkatkan lingkungan hidup.
“Tentunya nyaman hidup, berkecukupan, tidak hanya cukup uang dan tetapi tidak sehat. Ini yang kita bangun berbagai instrumen,” katanya lagi.
Wali Nagari Koto Malintang Nazaruddin berharap ada dukungan dana dari pemerintah pusat dalam mendukung pengembangan destinasi wisata di lokasi pohan raksasa ini.
“Pengembangan sesuai dengan arahan Direktur Penyaluran Dana Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan sekarang kami masih terkendala dengan biaya,” katanya pula.
Ia mengakui, pengembangan destinasi wisata pohon raksasa tersebut sudah dari lama direncanakan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.
Apalagi, keberadaan pohon raksasa itu sudah dikunjungi oleh wisatawan Nusantara dan mancanegara dari Vietnam, Eropa, dan lainnya.

Leave a Reply