Sudah Siapkah Stasiun Manggarai Jadi Stasiun Sentral?

Written by

in

7cloud.asia – Pertengahan April lalu, anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Sidak ini untuk merespons banyaknya keluhan pengguna jasa Kereta Rel Listrik (KRL) terkait pengaturan di Stasiun Manggarai. 

Politisi dari Fraksi Gerindra itu antara lain mengecek jalur layang untuk KRL Bogor-Jakarta Kota yang berada di Lantai 3 dan melihat langsung antrean penumpang KRL yang ingin melanjutkan perjalanan dengan cara berganti kereta mau pun keluar dari stasiun. 

Usai Sidak ke sejumlah titik, Andre menemukan sejumlah permasalahan. Antara lain, penumpukan penumpang KRL karena minimnya eskalator dan lift. Sehingga, penumpang harus berdesakan naik turun tangga.

“Laporan yang saya dapatkan, eskalator dan lift yang ada sering tidak beroperasi,” ujar Andre. 

Baca: Alasan untuk beralih ke mobil listrik

Stasiun Manggarai dinilai semakin padat setelah diresmikan sebagai stasiun sentral dan diberlakukan kebijakan yang mengharuskan penumpang berbagai jurusan transit di sana.

Menurut Andre, pihak Kementerian Perhubungan terkesan memaksakan Stasiun Manggarai jadi stasiun sentral. Padahal, secara kasat mata ketersediaan fasilitas dan infrastrukturnya  belum siap dan layak untuk jadi stasiun sentral.

Lebih lanjut, Andre mengingatkan Kementerian Perhubungan agar tidak memaksakan hasil kajian tahun 1987 yang merekomendasikan Stasiun Manggarai sebagai stasiun sentral termasuk untuk kereta jarak jauh diterapkan tahun 2023. Karena kondisinya yang tidak memungkinkan.

Ia melihat di Stasiun Manggarai tidak tersedia lahan parkir yang layak, akses jalannya kecil, dan lokasinya ada di daerah padat penduduk.

“Saran saya, sebelum Stasiun Manggarai dipastikan mampu menampung 100 ribu penumpang per hari, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) jangan memaksakan semua penumpang KRL harus transit di stasiun ini. Benahi dulu sarana dan prasarananya,” jelas Andre.

Baca: Mengapa anak muda sekarang gemar membeli barang bekas

Sejak diresmikan menjadi stasiun sentral, memang banyak keluhan terkait keruwetan yang hampir setiap hari terjadi di Stasiun Manggarai. Keruwetan di Stasiun Manggarai ini memuncak saat jam-jam sibuk yakni pada waktu berangkat dan pulang kerja.

Para pengguna juga mengeluhkan desain Stasiun Manggarai yang dinilai tidak ramah bagi pengguna. Tangga yang terlalu curam serta peron yang sempit sehingga tidak nyaman digunakan saat menunggu kereta. 

Belum lagi ketersediaan lift di Stasiun Manggarai juga masih kurang, sehingga penumpang harus mengantri jika ingin menggunakannya.

Pengembangan Stasiun Manggarai sebenarnya masih berlangsung. Apa yang bisa digunakan oleh pengguna KRL saat ini masih sebagian dari pengembangan Stasiun Manggarai

Pengembangan Stasiun Manggarai Tahap I diresmikan pada, Senin (26/12/2022) lalu oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pengembangan Stasiun Manggarai Tahap II dijadwalkan baru akan tuntas pada 2025. 

Baca: Kontroversi Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Saat peresmian, Jokowi mengakui pengembangan Stasiun Manggarai tidak bisa cepat. Ini karena stasiunnya masih beroperasi.

“Kalau dimatikan, kemudian langsung dibangun itu bisa lebih cepat. Ini kita dalam sehari hanya punya waktu 4 jam waktu kerja kita dan tengah malam. Itu problem pembangunan di stasiun Manggarai,” kata Jokowi seperti dikutip di Setkab.go.id.

Sebelumnya, Jokowi mengatakan kalau Stasiun Manggarai merupakan salah satu stasiun dengan lalu lintas kereta tersibuk di Indonesia.

“Setiap hari Stasiun Manggarai ini melayani perhentian KRL Commuter Line tujuan Jakarta Kota, Tanah Abang dan Bekasi dengan lalu lintas dan penumpang yang sangat padat,” ujarnya.

Baca: Renovasi Stasiun Tanah Abang tingkatkan kapasitasnya tiga kali lipat

Menurut Jokowi, Stasiun Manggarai merupakan salah satu stasiun sentral di Jakarta, termasuk menjadi bagian dari proyek double track Manggarai-Cikarang dengan penambahan jumlah jalur dari semula 7 jalur menjadi 14 jalur.

“Pengembangan stasiun ini sangat penting untuk meningkatkan frekuensi dan headway perjalanan kereta, meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas maysakrat dari Jakarta ke kota-kota penyangga lainnya dan sebaliknya, menambah layanan kereta api bandara menuju bandara Soekarno-Hatta, serta mengintegrasikan moda trasnportasi yang lain seperti Transjakarta, ojek online, bajaj dan lain-lainnya,” kata Jokowi.

Dengan semakin terintegrasinya Stasiun Manggarai dengan moda transportasi lain, diharapkan konektivitas akan semakin baik. Kemudian mobilitas dan akvitas masyarakat akan semakin lancar dan efisien serta masyarakat semakin senang menggunakan transportasi massal.

Terkait penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai, pihak Kementerian Perhubungan dan pemangku kepentingan menjanjikan akan melakukan antisipasi seperti menambah eskalator, jumlah kereta dan angkutan penghubung.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *