Tepatkah Keputusan Nadiem Makarim Hapus Tes Calistung untuk Masuk SD?

Written by

in

7cloud.asia – Mendikbudristek  Nadiem Makarim akan menghapus tes baca, tulis, hitung (calistung) sebagai syarat penerimaan siswa baru di sekolah dasar pada tahun ajaran baru 2023.

Untuk itu Nadiem Makarim meminta agar dinas pendidikan di seluruh Indonesia untuk segera menyosialisasikan aturan peniadaan tes calistung bagi siswa baru sekolah dasar tersebut.

Nadiem Makarim mengatakan “Program Merdeka Belajar Episode ke-24 mengenai Transisi PAUD ke SD Yang Menyenangkan” berawal dari kegusarannya soal kesalahpahaman yang telah mengakar di masyarakat bahwa calistung adalah satu-satunya kemampuan terpenting bagi anak usia dini.

Sebab gara-gara kesalahpahaman itu, kata Nadiem Makarim ribuan anak Indonesia kehilangan hak untuk memperoleh pendidikan.

Selain itu anak-anak yang memasuki usia periode emas “jadi tidak percaya diri dan merasa bodoh” hanya karena tak bisa calistung.

Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

Nadiem Makarim menilai, menjadikan calistung sebagai penilaian kemampuan anak sebagai kesalahan besar dan sudah tidak bisa ditolerir lagi.

“Kehilangan kepercayaan diri itu fatal. Jadi saya minta semua pihak untuk segera menghilangkan eror besar ini,” kata Nadiem Makarim saat peluncuran Program Merdeka Belajar Episode ke-24 mengenai Transisi PAUD ke SD Yang Menyenangkan di Jakarta, akhir Maret lalu sebagaimana dikutip BBC Indonesia. 

Nadiem Makarim menambahkan, dengan adanya program ini maka satuan pendidikan atau sekolah dilarang keras menerapkan tes calistung untuk penerimaan siswa baru. Tidak ada pula standar kelulusan bagi peserta didik PAUD.

Anak-anak yang dinilai belum atau tidak lancar membaca, menulis, dan berhitung atau calistung harus tetap diterima di SD/Madrasah Ibtidaiah atau sekolah sederajat.

Di sekolah dasar kelas 1 dan 2 itulah, sambung Nadiem Makarim, para guru punya kewajiban untuk melanjutkan pendidikan PAUD yang berbasis pada pendidikan budi pekerti hingga kemampuan kognitif.

“Jadi standar kelulusan bukan umur. Waktunya diperpanjang sampai SD kelas 2 sehingga transisi dari PAUD ke SD mulus,” ujarnya.

Baca: Lagi ngetren, belanja barang bekas untuk kurangi limbah dan polusi

Nadiem Makarim menambahkan selain penghapusan calistung, juga ada masa orientasi. Ketika peserta didik baru masuk SD di tahun ajaran baru 2023, ujarnya, mereka harus diperkenalkan masa orientasi selama dua minggu.

“Tujuannya untuk mengenal lingkungan sekolah, guru, dan teman-temannya. Kalau yang terjadi selama ini anak masuk sekolah langsung buka buku.”

Adapun proses belajar yang diterapkan kepada mereka terdiri dari enam hal. Mulai dari mengetahui ajaran pokok agama, keterampilan sosial dan berbahasa, kematangan emosi, mengembangkan kemampuan motorik.

 

Dengan begitu capaian kurikulumnya bukan lagi bertumpu pada hapalan namun siswa punya kemampuan bernalar dan pada ujungnya meningkatkan literasi anak-anak – yang selama ini ketinggalan dari negara lain.

 

Untuk membantu para guru, Kemendikbudristek sudah menyiapkan buku teks yang sudah diperbarui dengan memperbanyak visual dan alur cerita.

“Memang akan lebih rumit untuk dipahami guru, tapi bukan alasan untuk tidak menguasainya,” pungkas Nadiem Makarim.

 

Baca: Pandemi Covid picu loss learning massal ini dampaknya pada kualitas siswa

 

Kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau calistung sangat dibutuhkan anak baik dalam proses pembelajaran maupun kehidupan mereka kelak. Namun kemampuan belajar calistung berbeda pada setiap anak.

 

Dilansir klikdokter.com secara umum, bila perkembangan anak normal, semua kemampuan calistung akan dimiliki anak saat ia berusia 6 tahun. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia tidak memasukkan calistung dalam kurikulum pendidikan anak usia dini. 

Usia ideal anak belajar calistung adalah ketika menginjak sekolah dasar, yaitu saat berusia 7 tahun. Umumnya ia siap belajar calistung di umur tersebut.

 

Meski demikian, ada pula anak-anak yang memiliki perkembangan lebih cepat dari usianya. Bila ini yang terjadi, orangtua boleh saja memperkenalkan calistung lebih dini, tetapi dengan cara yang menyenangkan. 

Memaksa anak mengenal calistung di usia dini bisa membuat anak tertekan dan dalam jangka panjang bisa membuat mereka tidak mampu mencapai kemampuan terbaiknya.

Esti Utami, dari berbagai sumber

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *