Tag: yogyakarta

  • Makna Sumbu Filosofi dalam Tata Kota Yogyakarta

    Makna Sumbu Filosofi dalam Tata Kota Yogyakarta

    7cloud.asia – Pada Bulan Agustus 2022 lalu tim dari badan budaya dunia, UNESCO telah mengunjungi Yogyakarta terkait Proses pengajuan sumbu filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Dunia. 

    Kedatangan tim dari Unesco ini menjadi tahapan penting dalam pengajuan sumbu filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Dunia yang sudah dilakukan sejak 2014. 

    Dalam konteks kultural flosofis tata ruang Kota Yogyakarta yang membujur dari arah selatan – utara (Sumbu Filosofis) mempunyai makna filosofis  yang sangat tinggi. Konfigurasi ruang  di garis sumbu filosofis tersebut dilengkapi dengan elemen ruang baik bangunan Panggung Krapyak – Keraton Yogyakarta – Tugu.

    Sumbu filosofi tersebut merupakan gambaran konsep mikrosmos, yaitu alam kehidupan nyata yang menjadi laku peziarahan manusia. Secara paralel dalam konsep makrokosmos ada garis imajiner Selatan – Utara, yaitu  Laut Selatan – Gunung Merapi.

    Ada dua komponen dalam sumbu filosofi Yogyakarta yang diusulkan masuk ke dalam daftar warisan dunia.

    Komponen pertama adalah sumbu selatan-utara sepanjang 6 kilometer di Kota Yogyakarta, dengan Kompleks Kraton sebagai pusatnya beserta monumen, bangunan, dan ruang lain yang menjadi landmark di sepanjang sumbu tersebut.

    Komponen kedua (Makam Imogiri) adalah Makam Kerajaan di Imogiri, yang terletak 16 kilometer ke arah tenggara sumbu.

    Komponen kedua terdiri dari sumbu filosofi Selatan, Beteng, Plengkung dan Pojok Beteng, Kompleks Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Tamansari, Kagungan Dalem Masjid Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, sumbu filosofi Utara, Pasar Beringharjo, Kompleks Kepatihan dan Tugu.
     
    Sedangkan Komponen 2 dari sumbu filosofi selatan ini terdiri dari Makam Raja-raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat di Imogiri, Dalem Bupati Puralaya Kraton Yogyakarta, Rute Pemakaman Sultan.

     

    Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan bahwa setelah kunjungan ini, tim UNESCO akan memberikan evaluasi mengenai sumbu filosofi Yogyakarta. Kemudian hasilnya akan dibahas dalam sidang anggota UNESCO yang dihadiri oleh perwakilan dari 22 negara.

    “Dia (UNESCO) ngecek ke sini, persyaratan-persyaratan yang ditanyakan dari program yang kita tawarkan kepada UNESCO. Kekurangannya itu sudah diaplikasikan tidak di sini. Kalau sudah diaplikasikan sesuai harapan tidak, serius tidak dan sebagainya. Nanti itu dibikin evaluasi baru naik ke sidang para anggota UNESCO di bidang filosofis. Itu di hadapan 22 negara anggota. Kemudian yang memutuskan 22 negara itu,” jelas Sri Sultan saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta pada Kamis (25/08/2022) lalu
    Proses pengajuan sumbu filosofi sebagai warisan budaya dunia UNESCO sudah dimulai sejak tahun 2014. Kemudian ditetapkan sebagai tentative list UNESCO di tahun 2017. Dalam perjalanannya, tahun 2019 naskah usulan untuk UNESCO telah melewati proses voluntary submission. Berbagai upaya terus dilakukan agar sumbu filosofi diterima sebagai bagian dari warisan budaya dunia.  
     
    Tema pengajuan Yogyakarta sebagai warisan budaya dunia UNESCO bertajuk The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks. Ketika semua proses penilaian telah selesai, Komite Warisan Dunia UNESCO akan menetapkan daftar properti yang merupakan bagian dari warisan budaya dunia dan alam yang dianggap memiliki Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value).
     
    Pengajuan nominasi sumbu filosofi ini dinilai sangat penting bagi Yogyakarta. Karena menjelaskan bagaimana outstanding universal value “The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks” yang merupakan warisan salah satu leluhur dan pahlawan bangsa, Pangeran Mangkubumi atau HB I.
     
    Pengajuan ini menjelaskan bagaimana warisan ini akan dilindungi, dilestarikan dan dikelola dengan baik untuk generasi sekarang dan mendatang. Nilai historis dan filosofinya tidak akan hilang dan terus terjaga dari generasi ke generasi.

    Salah satunya adalah dengan mengatur secara ketat pembangunan dan perubahan yang akan dilakukan di Kawasan sumbu filosofi Yogyakarta ini.

    “Penetapan itu nanti kalau ada pembangunan dan sebagainya harus sesuai keputusan UNESCO, tidak sembarang asal mengijinkan. Nanti unsurnya Pemda, Kota, asosiasi-asosiasi perwakilan penduduk yang ada wilayah itu,” imbuh Sri Sultan.

     

    Dari berbagai sumber

     

    Editor: Pramesti Utami

    Tags

  • Prinsip Alon-alon Waton Kelakon, Yogyakarta Layak Jadi Slow City

    Prinsip Alon-alon Waton Kelakon, Yogyakarta Layak Jadi Slow City

    7cloud.asia – Slow city atau kota yang bergerak perlahan merupakan satu dari fenomena yang baru muncul di negara Eropa pada tahun 1999.

    Gagasan slow city muncul guna menjawab keluhan warga di banyak kota di dunia yang merasa lelah dengan kondisi kota yang umumnya selalu sibuk dan hiruk pikuk tiada henti. Seolah tidak mengenal kata istirahat.

    Gerakan slow city menginginkan kondisi kota yang lebih nyaman untuk didiami. Agenda yang dijalankan kota slow city menitikberatkan pada menjaga dan mempertahankan kondisi budaya lokal dan memajukan kekhasan di dalam kotanya.

    Budaya perlahan menjadi tolok ukur dalam terbentuknya slow city. Waktu tak lagi dianggap sebagai sesuatu yang sekadar bernilai kuantitas melainkan kualitas. Itu sebabnya bisa dikatakan tujuan akhir dari gerakan slow city adalah mencapai kualitas hidup masyarakat kota yang lebih baik.

    Baca: Mengenal konsep slow city

     

    Seperti telah dipaparkan di tulisan sebelumnya, ide membangun slow city adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang tinggal dan bekerja di sana. 

    Ide slow city meniru prinsip slow food, konsep yang dibuat Carlo Petrini, seorang jurnalis dan mantan walikota Bra, Italia yang terkenal setelah mengambil bagian dalam protes atas pembukaan McDonald’s di Roma pada 1980-an.

    Carlo menentang makanan cepat saji dan bersikukuh mengenal budaya perlahan, di mana makanan disajikan dan dinikmati secara perlahan agar terasa nikmatnya.

    Apakah  semua kota bisa otomatis mengubah dirinya menjadi sebuah slow city. Ataukah untuk menjadi slow city sebuah kota harus menjadi modern dan maju terlebih dahulu? 

    Baca: Mengenal sumbu filosofi kota Yogyakarta

    Dalam wawancaranya dengan 7cloud.asia, Perancang Kota yang juga Dosen Jurusan Teknik Arsitektur, FT Universitas Indonesia, Dita Trisnawan mengatakan sebuah kota bisa masuk dalam slow city jika masyarakatnya sudah sejahtera. 

    Ia mencontohkan Singapura yang telah melalui proses pembangunan selama beberapa dekade untuk meletakkan dasar-dasar kecukupan dan prasyarat hidup layak hingga baik sekali.

    “Setelah hal mendasar itu terpenuhi, maka lalu selanjutnya tata kota meningkat kepada level “menikmati hidup”,” terang Dita saat berbincang dengan ruangkota melalui sambungan telepon pada Minggu (2/7/2023).

    Dita melanjutkan, ketika kebutuhan dasar warga kota telah dipenuhi kemudian dibangunlah banyak ruang kota spt amphitheater, concert hall, museum, taman kota, fasilitas olah raga dan lain sebagainya.

    “Inilah tahap ‘pleasure’ sebagai ciri lanjut Negara Maju, setelah semua kebutuhan sandang pangan papan tercukupi, ga ada homeless, jaminan sosial cukup, sehingga prosperity digambarkan dengan banyaknya fasilitas pleasure and recreational,” imbuhnya.

    Baca: Minimalisme, gaya hidup yang selaras dengan konsep slow city

    Selaras dengan pemaparan Dita, Slow city berkembang di negara Eropa. Namun demikian, slow city kini juga banyak ditemukan di beberapa negara di Asia, seperti Singapura, Cina maupun Jepang.

    Lantas, adakah kota di Indonesia yang bisa dikategorikan sebagai slow city? 

    Jika mengacu pada kriteria slow city yakni jumlah penduduk yang tidak terlalu besar, penghormatan kepada kearifan/produk lokal, penerapan ekonomi sirkular serta egaliterian, ada sejumlah kota yang layak diteliti sebagai slowcity.

    Dalam diskusi kecil yang diikuti penulis, beberapa kota di Jawa yang layak dikaji tersebut adalah Ciamis, Malang, Yogyakarta, Solo, Temanggung, Wonosobo. Namun untuk itu perlu penelitian lebih lanjut.

    Baca: Slow fashion, antitesis dari fast fashion yang merusak lingkungan

    Sementara, skripsi yang ditulis Utami Widyaningsih, mahasiswi Teknik Arsitektur Universitas Indonesia menganalisis pendekatan kota Yogyakarta sebagai salah satu kota di negara timur yang memiliki akar budaya sama dengan gerakan slow city, dengan semboyan kota Yogya ‘alon-alon asal kelakon’.

    Studi kasus pada kota Yogya selanjutnya menjawab apakah kota Yogyakarta memiliki potensi serta karakteristik untuk bisa menjadi kota slow city.

    Utami menulis, Cittaslow adalah jaringan kota internasional tempat hidup bisa berlangsung lebih mudah dan perlahan, seperti yang dilaporkan di situs web mereka. Gerakan tersebut dimulai pada tahun 1999 oleh Paolo Saturnini, mantan Walikota Greve di Chianti, Italia.

    Konsep slow city ingin mengembalikan masa lalu yang dimiliki sebuah tempat atau kota sebagai ruang tinggal bersama.

    Baca: Empat kota ini memprioritaskan warganya yang berjalan kaki

    Konsep slow city fokus pada warga kota setempat sehingga optimalisasi peran dan partisipasi warga setempat dalam membangun kota sangat menentukan kemajuan kotanya. 

    Dari penelitian yang dilakukan Utami Widyaningsih, Kota Yogyakarta sedikit banyak memenuhi konsep slow city. 

    Merujuk pada menifesto slow city yang salah satunya menyebut ‘enjoying life are central to the community, atau menikmati hidup jadi fokus komunitas. Utami menulis bahwa pernyataan itu sangat sesuai dengan komunitas warga Kota Yogyakarta yang gemar bersantai menikmati hidupnya meski hari sudah malam. 

    “Keseimbangan hidup dicapai warga kota Yogyakarta sehingga dalam satu hari sempatkan berkumpul bersama teman atau kerabat,” tulis Utami. 

    Baca: Bersepeda, cara mudah untuk menikmati kota

    Dan semua itu ditemukan Utami saat meneliti kota Yogyakarta. Kualitas hidup yang ingin dicapai dari perkumpulan slow city diturunkan ke dalam konsep 3E yakni economy, environment, equity bisa ditemukan di Yogyakarta.

    Konsep tersebut dijalankan melalui program yang berlandaskan pada good food, good environment dan good community yang semua ini bisa ditemukan dalam bentuk berbeda di Yogyakarta.

    Istilah slow city bisa menggambarkan kota-kota seperti Amsterdam, Kopenhagen, atau Wina, di mana segala sesuatunya tampak sedikit lebih lambat daripada di tempat-tempat metropolitan yang gila seperti New York, London, atau Shanghai.

    Warga slow city menjalani hidup mereka secara perlahan dan ceria sementara banyak warga kota lainnya terus bergegas dan berdesakan di jalanan ataupun kereta commuter. Dengan budaya perlahan ini, warga slow city bisa menikmati kota tempa tinggalnya dan terutama hidupnya secara lebih utuh. 

    Baca: Jalan kakilah sebanyak mungkin untuk menikmati kotamu

     

     

  • Terowongan Stasiun Tugu Difungsikan, Perjalanan ke Yogyakarta dengan Kereta Makin Nyaman

    Terowongan Stasiun Tugu Difungsikan, Perjalanan ke Yogyakarta dengan Kereta Makin Nyaman

    7cloud.asia – PT KAI baru-baru ini telah memfungsikan kembali terowongan bawah tanah atau underpass yang menghubungkan peron utara dan peron selatan Stasiun Tugu Yogyakarta. 

    Terowongan sepanjang 65,8 meter di Stasiun Tugu ini, sebenarnya sudah ada sejak 1959. Setelah beberapa kali dibuka-tutup, terowongan Stasiun Tugu dibuka kembali dengan sejumlah perbaikan, guna memudahkan pengguna kereta yang datang dan meninggalkan Kota Yogyakarta.

    Selain pemasangan eskalator, bagian dalam terowongan Stasiun Tugu yang berada di pusat kota Yogyakarta ini dipercantik dengan ornamen-ornamen apik.

    Baca: Kenali gaya hidup alon-alon waton kelakon warga Yogyakarta

    Sejumlah foto Stasiun Tugu di masa lalu melengkapi renovasi terowongan stasiun yang menjadi kebanggaan warga Kota Yogayakarta ini. 

    Saat renovasi mulai dilakukan pada Maret lalu, Manajer Humas KAI Daop 6 Yogyakarta Franoto Wibowo mengatakan revitalisasi Stasiun Tugu telah dilakukan sejak 2019. 

    Pengembangan Stasiun Tugu dilakukan dengan berkoordinasi dengan stakeholder, termasuk Dinas kebudayaan Kota Yogyakarta.

    Baca: Slow city, konsep tata kelola kota yang lebih ramah lingkungan

    “Kami pasang eskalator (di terowongan Stasiun Tugu) dari peron tengah menuju ke arah selatan, ketika akan naik kereta jarak jauh tidak melewati jalur KA 1,2 dan 3,” katanya dikutip Harian Jogja. 

    Sementara, Kepala Bappeda DIY, Beny Suharsono mengatakan bahwa penataan kawasan Stasiun Tugu perlu integrasi dari kawasan sekitarnya.

    Menurut Benny, kawasan Stasiun Tugu tidak dapat dipandang hanya area stasiun, tetapi terintegrasi pula dengan sejumlah titik di kota Yogyakarta, seperti Taman Parkir Abu Bakar Ali, area Malioboro, serta kawasan Kotabaru.

    Baca: Peran sumbu filosofi dalam penataan Kota Yogyakarta

    Benny menegaskan Stasiun Tugu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari penataan kawasan Sumbu F tersebut.

    Sehingga penataan Stasiun Tugu mesti terintegrasi dengan penataan kawasan tujuan wisata di Yogyakarta tersebut. 

    Penataan kawasan Stasiun Tugu yang dilakukan PT KAI juga harus dikoordinasikan agar tidak berbenturan dengan penataan kawasan Sumbu Filosofi yang jadi acuan tata kelola Kota Yogyakarta.

    “Konsepnya memang boleh dari PT KAI [terkait penataan Stasiun Tugu], boleh dan tidak masalah. Saling terintegrasi antara penataan Sumbu Filosofi (dengan penataan Stasiun Tugu) supaya lalu tidak benturan,” katanya.

    Baca: Separuh dari ribuan bahasa di dunia terancam punah

  • Kawasan Malioboro Bakal Dijadikan Kawasan Rendah Emisi, Ini Pendapat Warga Kota Yogyakarta

    Kawasan Malioboro Bakal Dijadikan Kawasan Rendah Emisi, Ini Pendapat Warga Kota Yogyakarta

    7cloud.asia – Kawasan Maliboro yang menjadi ikon Kota Yogyakarta akan segera diubah menjadi zona rendah emisi alias low emission zone (LEZ).

    Untuk menjadikan zona rendah emisi ini, Kawasan Malioboro yang berada di jantung Kota Yogyakarta akan ditata ulang, salah satunya adalah dengan membongkar Taman Parkir Abu Bakar Ali (ABA) dan menjadikannya ruang terbuka hijau.

    Dilansir harianjogja.com, Taman Parkir ABA dianggap tidak mendukung program Malioboro menjadi zona rendah emisi karena letaknya segaris lurus dengan Sumbu Filosofi yang menjadi acuan penataan Kota Yogyakarta.

    Dalam jangka panjang, kawasan yang berada di sepanjang sumbu filosofi Yogyakarta juga akan diubah menjadi zona rendah emisi.

    Baca: Masih banyak yang belum tahu Malioboro adalah kawasan bebas rokok

    Dinas Perhubungan (Dishub) Daerah Istimewa Yogyakarta sudah mengantisipasi relokasi Taman Parkir ABA ini dengan menyiapkan taman parkir lain.

    Plt Kepala Dishub DIY Sumariyoto, Senin (31/7/2023) mengatakan, program Malioboro rendah emisi akan mulai diterapkan pada 2025 mendatang, sedangkan relokasi Taman Parkir ABA sudah mulai dilakukan.

    Sumariyoto menyebut rencananya Taman Parkir ABA akan direlokasi ke area Eks-UPN yang berada di Ketandan.

    “Rencananya di area eks-UPN, tapi belum final masih dilakukan kajian,” ujarnya.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam penataan Kota Yogyakarta

    Tak hanya merelokasi Taman Parkir ABA, untuk menjadikan Malioboro jadi kawasan rendah emisi kendaraan beremisi juga tidak boleh lewat di sana..

    “Tidak boleh karena prinsipnya untuk menjaga lingkungan Malioboro Jogja agar rendah emisi, udaranya bersih,” ucapnya.

    Dalam penataan ulang Malioboro sebagai zona rendah emisi, selain merelokasi Taman Parkir ABA, menurut Sumariyoto, Pemda DIY juga akan memindahkan Gedung DPRD DIY pada 2025 mendatang.

    “Jalan-jalan sirip di Malioboro juga akan ditata supaya rendah emisi,” katanya.

    Baca: Prinsip alon-alon waton kelakon warga Yogyakarta

    Upaya Pemkot Yogyakarta menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi ini mendapat respon positif dari warga Yogyakarta. Namun mereka memberikan catatan.

    Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Juhri Iwan Agriawan ST., M.Sc  mengatakan langkah tersebut akan meningkatkan kenyamanan bagi pengunjung Malioboro.

    Dan, dalam jangka panjang kondisi ini akan meningkatkan kunjungan orang ke kawasan Malioboro.

    Berbagai langkah telah dilakukan untuk secara bertahap untuk menurunkan emisi di Malioboro.

    “Upaya ini antara lain mengurangi secara drastis akses kendaraan bermotor terutama kendaraan pribadi ke kawasan ini dan memberikan ruang sepenuhnya untuk pejalan kaki dan pesepeda,” ujarnya dalam pesan tertulis kepada 7cloud.asia.

    Saat ini, lanjut Iwan, Malioboro telah menerapkan penutupan kawasan jalan dari kendaraan bermotor secara berkala setiap hari antara pukul 18:00 hingga pukul 21:00 WIB. Malioboro juga ditutup pada saat jam-jam puncak liburan.

    Upaya memindahkan Taman Parkir Abu Bakar Ali, tambah Iwan, adalah langkah yang bisa dilakukan selanjutnya, terutama untuk parkir kendaraan bermotor pribadi.

    Baca: Slow city, konsep baru tata kelola kota yang lebih memanusiakan

    Namun demikian, Iwan meminta Pemkot Yogyakarta agar tetap memberikan ruang bagi angkutan umum guna memudahkan pengunjung yang ingin jalan-jalan ke Malioboro. 

    Dananjaya, warga Yogyakarta yang dihubungi secara terpisah sependapat dengan Iwan. Ia menilai upaya Pemkot Yogyakarta menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi bagus tujuannya.

    Malioboro jadi kawasan rendah emisi, ujarnya, berarti prioritas untuk pejalan kaki atau kendaraan rendah emisi.

    “Sementara Malioboro adalah daerah tujuan wisata utama Yogyakarta, sehingga sarana transportasi bagi orang-orang yang akan berkunjung ke Malioboro harus dipikirkan,” ujarnya. 

    Dananjaya juga melihat adanya kurang koordinasi antar lembaga. Perencanaan yang kurang matang dan kurang terkonsep dengan baik membuat pembangunannya terkesan tumpang tindih.

    “Infrastruktur pendukungnya belum disiapkan dengan matang, jadi kesannya itu nggak terkonsep dengan baik dan tumpang tindih kegiatan antara satu pihak dengan pihak lain,” ujarnya kepada 7cloud.asia melalui sambungan telepon.

    Baca: Sukses terapkan konsep TOD, ini manfaat yang dirasakan Kota Bogota

     

     

  • Kawasan Malioboro Ditataulang Sesuai Maknanya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    Kawasan Malioboro Ditataulang Sesuai Maknanya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    7cloud.asia – Wajah Jalan Malioboro yang berada di pusat kota Yogyakarta berubah drastis dalam beberapa tahun ini.

    Perubahan wajah Malioboro ini akan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan. Landasan penataan Malioboro yang menjadi ikon Kota Yogyakarta ini adalah keberadaan Sumbu Filosofi, garis imajiner dari utara ke selatan dengan Kraton Jogja sebagai titik pusatnya.

    Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta berupaya menata kawasan Malioboro sebagai penghubung Panggung Krapyak-Kraton-Tugu Pal Putih agar tetap sesuai dengan makna dan nilai yang terkandung dalam Sumbu Filosofi.

    Pemkot Yogyakarta membersihkan jalur pedestrian dari pedagang kaki lima (PKL), menata jalan sirip di Malioboro, memberlakukan skema semipedestrian dan lalu lintas giratori searah hingga berencana pembangunan Jogja Planning Gallery (JPG).

    Dilansir harianjogja.com, pedagang yang semula menempati trotoar diboyong ke lokasi baru yang dinamai Teras Malioboro.

    Revitalisasi yang dilakukan bertahap itu demi mengembalikan fungsi dan simbol Malioboro ke bentuk semula. Pun demikian dengan pengajuan Sumbu Filosofi jadi Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO. 

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Peneliti dari Pustral Universitas Gadjah Mada, Juhri Iwan Agriawan ST., M.Sc  mengatakan Kawasan Malioboro sudah memenuhi syarat ideal sebagai pusat kota Yogyakarta.

    Idealnya, ujarnya, pusat kota adalah kawasan paling nyaman, ikonik, mudah diakses, aman dan dalam konteks pariwisata merupakan kawasan paling dituju oleh wisatawan.

    “Malioboro setidaknya sudah memiliki beberapa syarat itu misalnya kawasan paling ikonik, mudah diakses (terutama oleh kereta jarak jauh maupun kereta lokal/komuter) dan sekaligus kawasan tujuan utama wisatawan,” ujar Iwan kepada 7cloud.asia dalam pesan tertulis beberapa waktu lalu.

    Baca: Upaya menjadikan Malioboro sebagai zona rendah emisi

     

    Dimintai tanggapannya soal upaya Pemkot Yogyakarta menjadikan Malioboro menjadi kawasan rendah emisi, Iwan menyambut positif rencana tersebut. 

    Langkah ini, ujarnya, adalah salah satu cara yang baik untuk meningkatkan kenyamanan kawasan Malioboro yang nantinya pasti akan meningkatkan kunjungan orang ke kawasan tersebut.

    Iwan menyebut, saat ini sudah dilakukan beberapa kebijakan untuk mengurangi emisi di Malioboro. Salah satunya menjadikan Malioboro sebagai kawasan bebas rokok.

    Baca: Sejak 2017 Malioboro ditetapkan sebagai kawasan bebas rokok

    Selain itu juga diterapkan kebijakan untuk mengurangi secara drastis akses kendaraan bermotor terutama kendaraan pribadi ke kawasan Malioboro guna memberikan ruang yang lebih besar bagi pejalan kaki dan pesepeda.

     

    Menurut Iwan, saat ini Malioboro telah menerapkan penutupan kawasan jalan dari kendaraan bermotor secara berkala.

    “Misalnya setiap hari antara pukul 18:00 hingga 21:00 dan pada saat jam-jam puncak liburan kawasan Malioboro ditutup dari kendaraan bermotor,” terangnya.

    Baca: Penataan Stasiun Tugu juga mengacu pada sumbu filosofi

    Iwan menilai rencana memindahkan taman parkir Abu Bakar Ali dan mengubahnya menjadi ruang terbuka hijau juga bagian untuk menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi.

    “Ini adalah langkah yang bisa dilakukan (untuk menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi, red), terutama untuk parkir kendaraan bermotor pribadi,” imbuhnya.

    Namun demikian, Iwan mengingatkan agar Pemkot Yogyakarta tetap memberikan ruang untuk angkutan umum.

    Baca: Gaya hidup alon-alon waton kelakon warga Yogyakarta

    Yang perlu dipertimbangkan, lanjutnya, adalah bagaimana akses dari lokasi parkir yang ditetapkan, menuju ke kawasan Malioboro, terutama untuk kendaraan berpenumpang banyak seperti bus wisata.

    Selain itu, Iwan juga mengingatkan pentingnya antisipasi terhadap kemungkinan tumbuhnya parkir-parkir liar di sekitar kawasan Malioboro.

    “Tumbuhnya parkir liar bisa membuat upaya menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi menjadi tidak efektif,” pungkasnya.

    Baca: Kebijakan kawasan rendah emisi di Inggris tentukan hasil pemilu

  • Darurat Sampah di Yogyakarta Lahirkan Inovasi Pengelolaan Sampah Mbah Dirjo

    Darurat Sampah di Yogyakarta Lahirkan Inovasi Pengelolaan Sampah Mbah Dirjo

    7cloud.asia – Krisis sampah yang dialami Kota Yogyakarta pasca penutupan TPA Piyungan melahir inovasi pengelolaan sampah organik dengan ‘Mbah Dirjo’.

    Pengelolaan sampah Mbah Dirjo adalah mengolah limbah dan sampah dengan biopori ala Jogja atau kota Yogyakarta.

    Mantri Pamong Praja, Lurah, RW dan RT di kota Yogyakarta wajib menggerakkan pengelolaan sampah Mbah Dirjo ini.

    Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo mengatakan, sejak diluncurkan pada awal Agustus lalu sampai saat ini, program pengelolaan sampah Mbah Dirjo sudah menciptakan 16.000 biopori di Kota Yogyakarta.

    Baca: Mengolah sampah organik ala Fakultas Biologi UGM

    Menurutnya, sebanyak 16.000 biopori ini dibuat oleh forum bank sampah, warga Kota Yogyakarta, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan juga Aparatur Sipil Negara (ASN).

    Biopori merupakan lubang yang dibuat tegak lurus ke dalam tanah. Lubang tersebut kemudian diisi dengan sampah organik yang memiliki fungsi sebagai makanan makhluk hidup yang ada di tanah, seperti cacing dan akar tumbuhan.

    Ukuran biopori dalam pengelolaan sampah mbah Dirjo ini beragam tergantung kebutuhan. Ada yang panjangnya 15 cm hingga 1 meter.

    Selain untuk pengelolaan sampah organik, di musim penghujan, biopori ini dapat berfungsi sebagai sumur resapan yang menyerap air ke dalam tanah.

    Baca: UGM tawarkan pengelolaan sampah berbayar

    Menurut Singgih, pengelolaan sampah Mbah Dirjo ini mampu mengolah sampah organik hingga 50 ton sehari.

     

    “50 ton (hasil evaluasi). Produksi sampah 200 ton per hari,” ujar Singgih ditemui di Balai Kota Yogyakarta, Senin (14/8/2023).

    Singgih menjelaskan Pemerintah Kota Yogyakarta kini telah mengupayakan dua langkah pengolahan sampah mulai dari hulu hingga hilir. 

    Untuk di hulu penanganan sampah organik dilakukan dengan program Mbah Dirjo. Sedangkan sampah anorganik akan diambil oleh bank sampah. 

    Baca: Mungkinkah mewujudkan pasar rakyat yang bebas plastik?

    Salah satu penerapan pengelolaan sampah Mbah Dirjo dilakukan di wilayah RT 16 Kampung Celeban Kelurahan Tahunan Umbulharjo. 

    Saat menyerahkan biolos di RT 16 Kampung Celeban, pekan lalu Singgih mencontohkan pembuatan biopori dengan metode biolos yakni gabungan biopori dan losida.

    Dalam kesempatan itu diserahkan 2 unit biolos bantuan dari Bank BPD DIY untuk warga di RT 16 Kampung Celeban.

    Menurut Singgih, biolos memiliki kelebihan karena saat memanen kompos hasil olah sampah organik tinggal menarik pipa paralon di bagian dalam.

    Baca: Mengenal Teba, cara unik warga Bali mengelola sampah rumah tangga

    Meski demikian metode biolos itu hanya salah satu contoh pengolahan sampah organik. Masyarakat bisa memilih, menggunakan metode lain seperti biopori, ember tumpuk dan lodong sisa dapur untuk mengolah sampah organik.

    “Karena TPA Piyungan tutup kita harus mengelola dengan baik sehingga sampah organik yang selama ini diresidukan dititipkan ke penggerobak atau depo, kita harus pilah dan diolah. Bisa dengan biopori ember tumpuk dan losida,” tambah Singgih.

    Singgih menegaskan sejak awal Januari 2023, Kota Yogyakarta juga memiliki gerakan zero sampah anorganik.

    Gerakan itu sukses menurunkan volume sampah di Kota Yogyakarta dari sekitar 300 ton/hari menjadi 200 ton/hari sejak 6 bulan lalu.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah layak ditinggalkan

    Singgih menyebut gerakan pengelolaan sampah organik Mbah Dirjo yang dicanangkan dua minggu lalu sudah mengurangi volume sampah sampai sekitar 30 ton/hari.

    Kalau masyarakat semua melaksanakan ini (Mbah Dirjo), Singgih yakin sampah organik akan selesai di tingkat hulu sehingga beban yang harus dibuang ke Piyungan akan semakin berkurang.

    “Ini kesempatan kita di masa yang sangat darurat ini. Saya minta tolong Pak Mantri, Pak Lurah. Pak RW dan Pak RT ikut menggerakkan ini,” terangnya.

    Sementara itu Ketua RT 16 Kampung Celeban, Suratim mengatakan selama masa darurat sampah, sebagian warga mulai mengelola sampah secara mandiri.

    Baca: Teknologi pengelolaan sampah ini mampu ubah sekilo sampah jadi seharga 1 gram emas

    Salah satunya dengan membuat lubang, ember tupuk dan losida.

    Bantuan 2 unit biolos itu akan ditanam di lahan salah satu warga dan bisa digunakan bersama.

    “Selama ini ada yang dikelola secara mandiri seperti ember tumpuk dan losida, tapi memang sulit untuk memanennya dibandingkan biolos,” tutur Suratim seperti dikutip HarianJogja.com.

     

     

  • Gerakan Mbah Dirjo di Kota Yogyakarta Mampu Turunkan Sampah hingga 50 Persen

    Gerakan Mbah Dirjo di Kota Yogyakarta Mampu Turunkan Sampah hingga 50 Persen

    7cloud.asia – Gerakan Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja (Mbah Dirjo) yang digencarkan Pemkot Yogyakarta disebut sukses menurunkan volume sampah yang dibawa ke TPA Piyungan.

    Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo mengatakan, program Mbah Dirjo mampu menurunkan volume sampah yang dibawa ke TPA Piyungan hingga 50 persen.

    Program Mbah Dirjo ini mulai diterapkan akhir Juli 2023, menyusul penutupan TPA Piyungan. Meski TPA Piyungan ditutup, zona transisi 1 masih dibuka untuk menerima sampah hanya dari Kota Yogyakarta maksimal 100 ton per hari.

    Baca: Inovasi pengelolaan sampah Mbah Dirjo ala Yogyakarta 

    Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, pada awal gerakan itu dicanangkan, volume sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta bisa mencapai 100-130 ton per hari.

    Namun, tidak seluruh sampah itu dibawa ke TPA Piyungan karena dibatasi maksimal 100 ton per hari. Karena itu, Pemkot Yogyakarta bekerja sama dengan Pemkab Kulonprogo membuang sekitar 15 ton sampah per hari ke Kulonprogo.

    Sejak diterapkannya Gerakan Mbah Dirjo, volume sampah yang dihasilkan terus mengalami penurunan.

    Baca: Opsi lain mengatasi penutupan TPA Piyungan

    Bahkan, menurut Singgih, sampah yang dibawa ke TPA Piyungan turun menjadi 95 ton per hari.

    “Ini (sampah) yang ke TPA Piyungan kemarin menurun sampai 95 ton. Ini salah satunya keberhasilan dari program Mbah Dirjo,” kata Singgih di kompleks Balai Kota Yogyakarta seperti dikutip ReJogja.

    Sejak Gerakan Mbah Dirjo diluncurkan pada akhir Juli 2023 lalu, hingga kini ada sekitar 16 ribu biopori yang dibuat masyarakat bersama pemkot Yogyakarta.

    Baca: Membangun ekosistem guna ulang untuk kurangi sampah plastik

    Pemkot Yogyakarta menargetkan Gerakan Mbah Dirjo ini bisa berkontribusi mengurangi sampah sekitar 20-30 persen dari total volume sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta, yang sebelumnya mencapai 200 ton per hari.

    Volume sampah itu sudah berkurang sekitar 100 ton dengan adanya Gerakan Zero Sampah Anorganik, dari sebelumnya mencapai sekitar 300 ton per hari pada 2022.

    “Kami akan terus kami kembangkan biopori dengan berbagai macam varian yang ada. Baik ember tumpuk, biopori, losida, biolos, dan sebagainya, menyesuaikan kondisi masing-masing rumah,” ujar Singgih.

    Baca: Simak info sistem guna ulang di sini

  • UNESCO Akui Sumbu Filosofi Yogyakarta Jadi Warisan Dunia

    UNESCO Akui Sumbu Filosofi Yogyakarta Jadi Warisan Dunia

    7cloud.asia – Badan PBB Untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia.

    Keputusan menjadikan sumbu filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia disampaikan dalam sidang Komite Warisan Dunia UNESCO di Riyadh, Arab Saudi, pada Senin (18/9/2023).

    Sidang penetapan sumbu filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia itu dihadiri oleh Wakil Gubernur Yogyakarta KGPAA Sri Paduka Paku Alam ke-10.

    “Selamat kepada Indonesia karena Sumbu Filosofi Yogyakarta menjadi Warisan Budaya Dunia,” ujar Ketua Komite Warisan Dunia UNESCO Abdulelah Al-Tokhais dalam pernyataan resmi yang diterima pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta hari Selasa (19/9).

    Baca Juga: Ganjar Pranowo di Mata Alam Ganjar Putra Tunggalnya

    Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono ke-10 mengatakan keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama seluruh pihak.

    Penghargaan ini juga merupakan penghormatan pada mahakarya Sri Sultan Hamengku Buwono ke-1 sebagai penggagas Poros Filosofi.

    “Kami berharap penetapan ini dapat dijadikan ajang pembelajaran bersama akan nilai-nilai universal yang diperlukan untuk menciptakan dunia baru yang lebih baik di masa depan,” ujarnya kepada wartawan di Yogyakarta.

    Baca Juga: Kiat Slow Living: Secuil Waktu yang Berharga di Perjalanan Berangkat dan Pulang Kerja

    Sementara kepada VOA, Permaisuri Kasultanan Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Hemas mengatakan kabar ini memang sudah ditunggu-tunggu.

    “Memang kita sudah menunggu penilaian cukup lama, di antaranya penertiban Malioboro, yang dilakukan untuk mewujudkan (Yogyakarta) sebagai warisan kota budaya dunia; setelah sebelumnya jadi Kota Batik Dunia,” ujarnya lewat pesan teks.

    Kawasan sumbu filosofi yang disebut UNESCO itu merujuk pada garis imajiner yang menghubungkan Panggung Krapyak dan Tugu Yogyakarta, yang juga mencakup Malioboro dan Keraton Yogyakarta.

    Baca Juga: Masih Banyak yang Belum Tahu Jalan Malioboro Termasuk Kawasan Tanpa Rokok

    Ini merupakan konsep tata ruang yang dibuat raja pertama Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I, pada abad ke 18, yang berdasarkan konsepsi Jawa.

    Tiga titik yang ada – yaitu Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta dan Tugu Yogyakarta (atau disebut juga Tugu Golong Gilig) – jika ditarik suatu garis lurus maka akan membentuk sumbu imajiner yang dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Sri Sultan HB X: Dampak Positif dari Sumbu Filosofi Yogyakarta Harus Dirasakan Seluruh Rakyat

    Sri Sultan HB X: Dampak Positif dari Sumbu Filosofi Yogyakarta Harus Dirasakan Seluruh Rakyat

    7cloud.asia – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Sri Sultan HB X meminta pengelolaan Sumbu Filosofi Yogyakarta tidak mengabaikan pembangunan kawasan pendukung di sekitarnya.

    Hal itu diungkapkan Sri Sultan HB X saat memberikan arahan tentang Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan budaya dunia di Yogyakarta, Kamis (2/11/2023).

    Dalam kesempatan itu Sri Sultan HB X berharap, pemerataan dampak positif keberadaan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia.

    “Kami berharap kabupaten dan kota punya aspirasi, karena bagaimana pun juga, di luar Sumbu Filosofi Yogyakarta harus diatur bagaimana wilayah-wilayah itu bisa tumbuh,” kata Sri Sultan HB X seperti dilansir Antaranews.com.

    Baca: UNESCO akui Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan budaya dunia

    Sri Sultan HB X tidak ingin hanya mereka yang bersinggungan langsung saja yang mendapatkan dampak positif Sumbu Filosofi Yogyakarta.

    Namun seluruh lapisan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta pun turut merasakan, terutama untuk pertumbuhan ekonomi.

     

    Di dalam kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta, ujarnya, diperlukan adanya penyangga untuk menguatkan, sehingga ekonomi juga akan tumbuh.

    “Penyangga tentu bukan hanya dari yang di dalam kawasan, oleh karena itu, dampak positifnya juga harus sampai di luar kawasan,” Sri Sultan HB X.

    Baca: Kawasan Malioboro ditataulang sesuai posisinya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    Sultan mengatakan “Si Sufi Jogja” atau Satu Aksi Sumbu Filosofi menjadi sebuah organisasi yang mewadahi Pemerintah Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Pemda DIY dan Keraton Yogyakarta dalam mengelola kawasan Sumbu Filosofi.

    Sumbu filosofi Yogyakarta terbentang dari Panggung Krapyak sampai Tugu Yogyakarta menjadi acuan dalam penataan kawasan di Kota Yogyakarta.

    “Si Sufi Jogja akan bertugas mengonsep pengaturan publik dan program dalam kawasan Sumbu Filosofi, tanpa meninggalkan kawasan pendukung di luar kawasan Sumbu Filosofi,” kata dia.

    Menurut Sri Sultan HB X, agar pertumbuhan tidak hanya berpusat di satu tempat saja yang menjadi bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta, maka perlu ada program-program di luar wilayah Sumbu Filosofi yang perlu diperhatikan.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    “Yang terpenting, ada relevansi dalam satu kawasan kelurahan atau kawasan lain dengan Sumbu Filosofi yang memungkinkan untuk tumbuh,” kata Sultan.

    Selain itu pemerataan ini untuk mencegah kecemburuan sosial yang akan memberatkan bagi pembangunan berikutnya.

    Sultan meminta semua harus terlayani dengan sama rata, sesuai dengan karakteristik tertentu pada ragam program yang sesuai dengan tujuh rekomendasi UNESCO.

    Sekda DIY Beny Suharsono mengatakan struktur sistem pengelolaan dan koordinasi Sumbu FIlosofi terdiri dari perpaduan sistem tradisional Keraton Yogyakarta dan pemerintahan terkini.

    Baca: Penataan Stasiun Tugu Yogyakarta

    Dia mengatakan tugas Sekretariat Bersama Sumbu Filosofi yang terbentuk adalah mengomunikasikan pengelolaan Warisan Dunia Sumbu Filosofi kepada UNESCO melalui Perwakilan Indonesia untuk UNESCO.

    “Mereka juga bertugas menyusun arah kebijakan dan strategi (tahapan, pendanaan) Pengelolaan Warisan Dunia Sumbu Filosofi,” ujar Beny.

     

  • Multiplier Effect Pembangunan Bandara Internasional Yogyakakarta Belum Dirasakan Warga Kulon Progo

    7cloud.asia – Pembangunan infrastruktur di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih belum merata. Kalaupun ada pembangunan  dan ternyata proyek nasional di sana, multiplier effect nya belum dirasaka.

    Salah satu sektor yang belum terdampak multiplier effect dari pembangunan infrastruktur di Kulonprogo adalah sektor pendidikan, khususnya, sektor pembangunan sumber daya manusia yang berkaitan dengan kepariwisataan.

    Menurut Wakil Ketua Komisi X DPR Dede Yusuf Macan Effendi, hal ini karena Kabupaten Kulon Progo memiliki keunikan tersendiri dari berbagai sektor. 

    Baca: Bandara Soetta masukbandara ramah keluarga

    Hal tersebut disampaikannya usai pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Dinas terkait, Pimpinan PTN, PTS, dan LLDIKTI Wilayah V, serta mitra kerja Komisi X DPR RI, di Kantor Bupati Kulon Progo, Selasa (27/02/2024).

    “Ketika tahun 2019 dibangun Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo sampai sekarang multiplier effect yang diharapkan terjadi, tidak diiringi dengan pembangunan sumber daya manusia,” ungkapnya seperti dikutip Parlementaria.

    Pembangunan bandara juga tidak diiringi pembangunan kepariwisataan yang bisa menarik lebih banyak lagi kunjungan.

    ”Sehingga akibatnya kita bisa melihat bahwa multiplier effect pembangunan infrastruktur tidak terjadi secara menyeluruh,” imbuhnya

    Baca: Dampak sumbu filosofis Yogyakarta harus dirasakan seluruh warga Yogyakarta 

    Lebih lanjut, Dede Yusuf sampaikan bahwa pembangunan sumber daya manusia merupakan aspek penting yang harus diperhatikan.

    Meskipun bandara telah menjadi akses utama, pembangunan pendidikan perlu ditingkatkan, agar masyarakat setempat dapat mengembangkan kemampuan mereka dan mengejar berbagai peluang pembangunan yang sudah tersedia.

    Dalam konteks ini,ujarnya, kita harus melihat dari berbagai sisi.

    Pertama, sisi pendidikan untuk sumber daya manusianya apakah sanggup mengembangkan kemampuan untuk mengejar berbagai akses pembangunan yang sudah ada.

    Baca: Penataan Kota Lama Semarang yang lebih memanusiakan pengunjungnya 

    “Yang kedua, tentunya adalah bagaimana mengembangkan berbagai sektor industri termasuk industri kreatifnya, termasuk industri pariwisatanya dan yang lain-lain yang mungkin memiliki potensi yang besar,” ujar Dede Yusuf.

    Padahal menurutnya Kulon Progo punya potensi yang sangat besar, arena akses bandara plus jalan tol dan nantinya akan dibangun kereta bandara.

    “Nah kalau tidak diikuti oleh berbagai sektor lainnya maka dikhawatirkan orang datang ke sini (Yogyakarta) tidak berlama-lama tinggal di sini,” ujar Politisi Fraksi Partai Demokrat ini.

    Dede Yusuf juga sampaikan bahwa hasil dari pertemuan ini bahwa Pemerintah Kabupaten Kulon Progo akan melakukan langkah-langkah strategis agar multiplier effect pembangunan infrastruktur yang ada di Kulon Progo bisa merata pada sektor-sektor lainnya.