7cloud.asia – Di tengah kian lajunya proses degradasi tanah di seluruh dunia, lahir aktor-aktor baru dan bentuk-bentuk kepemimpinan alternatif lingkungan untuk merawat tanah.
Dalam tulisannya di Earth.org, Profesor Madya Klinis dari Universitas New York, Cristina-Ioana Dragomir menyebut para aktor seperti Save Soil yang berlatarbelakang dari gerakan spiritual mengisi kekosongan konseptual dalam menyelamatkan tanah di planet Bumi.
Namun, menurut Cristina, gerakan-gerakan yang berlandaskan mobilisasi spiritual atau berbasis nilai tidak lepas dari kritik.
Mereka yang skeptis berpendapat bahwa penekanan pada transformasi batin berisiko mendepolitisasi krisis lingkungan, mengalihkan perhatian dari pendorong struktural seperti pertanian industri, regulasi yang lemah, dan kepentingan korporasi.
Kelompok lain mempertanyakan bagaimana kampanye yang didorong oleh kesadaran dapat diterjemahkan menjadi hasil yang terukur dalam domain yang kompleks dan lambat seperti restorasi tanah, di mana perbaikan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terwujud.
Baca: Proses degaradasi tanah global semakin cepat
Cristina menegaskan, kekhawatiran ini serius dan mencerminkan perdebatan yang lebih luas tentang bagaimana gerakan sosial menerjemahkan kesadaran menjadi perubahan struktural.
Dia mengakui, mobilisasi publik tidak boleh dilihat sebagai pengganti kebijakan berbasis sains, tetapi sebagai pelengkap yang diperlukan untuk menahan laju degradasi tanah.
Dengan mendorong keterlibatan publik dan memperluas imajinasi politik, gerakan-gerakan tersebut dapat membantu menciptakan kondisi sosial di mana kebijakan tanah menjadi berkelanjutan secara politik.
Dia mengatakan, degradasi tanah terus berlanjut karena masyarakat global kekurangan kapasitas kolektif untuk bertindak.
”Gerakan seperti Save Soil mengarahkan kita pada visi yang lebih luas di mana kepemimpinan lingkungan melintasi batas antara spiritualitas, sains, kebijakan, dan imajinasi publik,” ujarnya.
Baca: Upaya dunia menahan laju degradasi tanah
Dia menambahkan, mengabaikan tokoh-tokoh spiritual dari arena ini adalah kesalahan analitis dan lemah secara ilmiah pada saat sistem tanah sedang mengalami disintegrasi.
Seiring percepatan keruntuhan ekologis, pemulihan tanah dunia akan membutuhkan gerakan hibrida yang berlandaskan nilai-nilai.
Namun, Cristina mengingatkan, masyarakat global harus memahami kesadaran sebagai prasyarat untuk perubahan, bukan sebagai tujuan akhir.
Perubahan struktural yang berdampak tetap membutuhkan proses kelembagaan dan keterlibatan jangka panjang. Pada akhirnya, sains menyediakan jalan; visi spiritual dapat memberikan kemauan.
”Sekarang terserah kita untuk menyalurkan kemauan itu ke dalam tindakan, dengan menuntut kebijakan yang melindungi tanah sebagai ekosistem hidup dan terlibat dalam pemulihan lahan di bawah kaki kita,” pungkasnya
Baca: Proses degradasi tanah menjadi masalah serius untuk lingkungan

Leave a Reply