Kenali Penyebab, Gejala dan Tahapan Proses Penuaan

Written by

in

7cloud.asia – Pakar Andrologi, Seksologi, dan Anti Aging dari Universitas Udayana Prof Wimpie Pangkahila menjelaskan bahwa proses penuaan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal.

Faktor internal yang mempengaruhi proses penuaan mencakup menurunnya atau tidak seimbangnya hormon, paparan radikal bebas dari racun lingkungan, hingga proses biologis seperti glikosilasi, metilasi, apoptosis, sistem imun, kerusakan DNA, dan genetik.

Sementara proses penuaan yang disebabkan faktor eksternal meliputi pola hidup, diet, kebiasaan buruk, seperti merokok, minum alkohol, stres dan kemiskinan juga berpengaruh karena kaitan dengan pola makan.

Dikutip Antaranews.com, Prof Wimpie menjelaskan bahwa proses penuaan melalui tiga fase, yakni fase sub-klinis, transisi dan klinis.

Pada fase sub-klinis terjadi pada usia 25-35 tahun, di mana produksi hormon seperti growth hormone (hormon pertumbuhan), hormon testosteron, hormon estrogen juga mulai berkurang pada usia itu.

“Meski penurunan hormon ini kerap tidak disadari karena belum tampak dari luar atau fisik, namun perubahan ini dapat terdeteksi melalui pemeriksaan medis,“ ujarnya saat berbicara dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Baca: Menguasai banyak bahasa dapat menghambat proses penuaan

Pada fase itu, ujarnya, banyak perempuan yang pengguna kontrasepsi hormon merasakan hilangnya gairah seksual. Hilangnya gairah seksual padahal umurnya masih muda, karena kontrasepsi yang mengandung hormon, testosteronnya makin turun.

Adapun fase transisi terjadi di usia 35-45 tahun, di mana hormon turun 25 persen, sementara lemak tubuh meningkat, dan mulai timbul resistensi insulin, risiko penyakit jantung.

Gejala lain seperti elastisitas kulit berkurang, pigmentasi (bintik-bintik), menopause pada wanita dan andropause pada pria. Muncul penyakit terkait penuaan seperti kanker, arthritis, hilangnya memori, diabetes, dan penyakit jantung.

Sementara pada fase klinis terjadi pada usia 45 ke atas, di mana hormon terus berkurang, hilangnya kemampuan menyerap makanan dan vitamin, densitas tulang berkurang (keropos).

Pada saat bersamaan massa otot berkurang sehingga tidak mampu membakar kalori, penyakit kronis mulai muncul, hingga disfungsi seksual.

Prof Wimpie mengatakan, berkurangnya hormon tanpa disadari dapat memicu beragam keluhan yang memengaruhi kenyamanan hidup.

Baca: Manfaat bekerja pada mereka yang telah berusia lanjut

Ketika kondisi ini berlangsung lama, kualitas hidup seseorang bisa menurun. Hal tersebut terjadi karena hormon berperan besar dalam mekanisme penuaan alami tubuh.

Tubuh menghasilkan beragam hormon, tetapi yang sekarang mencolok terkait dengan penuaan fungsi seksual itu ada testosteron, progesterol, estrogen.

”Yang lain ada kaitannya, kalau misalnya mengalami tiroid perhatikan itu berkaitan dengan proses penuaan, terkait penyakit jantung kalau hormon rendah atau tidak seimbang dengan hormon lain salah satu yang berbahaya penyakit jantung itu,” jelas Prof. Wimpie.

Menurut dia, penurunan hormon dialami baik laki-laki maupun perempuan yang berkontribusi terhadap penuaan.

“Konsepnya manusia menjadi tua karena hormon berkurang, bukan hormon berkurang karena manusia menjadi tua. Jadi penuaan kita anggap dan diperlakukan sebagai penyakit yang dapat dicegah dan diobati,” katanya.

Prof Wimpie menekankan hormon memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup manusia. Tanpa hormon, fungsi dasar kehidupan seperti kehamilan dan reproduksi tidak dapat terjadi. Perempuan bisa hamil dan laki-laki mampu menghamili karena kerja hormon yang optimal.

Namun, menurut dia sampai sekarang masih banyak orang tidak memahami peranan vital hormon bagi kehidupan manusia, yang pada akhirnya berpengaruh pada kualitas hidupnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *