Polusi dan Gaya Hidup Akibatkan Jumlah Sperma Laki-laki Turun Hingga 50 Persen

Written by

in

7cloud.asia – Fenomena susah punya momongan atau memiliki anak dialami jutaan pasangan muda Indonesia saat ini.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2022, mengungkapkan sekitar 10 – 15 persen dari 39,8 juta (atau setara 4 – 6 juta) pasangan usia subur di Indonesia mengalami infertilitas atau kesulitan punya anak.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa gangguan reproduksi atau susah memiliki anak dialami oleh 1 dari 6 orang di seluruh dunia.

Sayangnya, stigma negatif masyarakat sering kali menyalahkan perempuan ketika pasangan suami istri belum memiliki keturunan. Padahal 30 persen penyebabnya berasal dari laki-laki.

Sebuah penelitian tahun 2023 menemukan bahwa jumlah sperma laki-laki di dunia dalam setengah abad terakhir menurun lebih dari 50 persen sejak tahun 1970-an. Penurunan ini terjadi hampir di semua wilayah, termasuk Asia.

Selain memperkecil peluang kehamilan, penurunan jumlah sperma menjadi sinyal serius bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam pola hidup dan lingkungan kita.

Baca: Polusi dan perubahan iklim picu infertlitas pada laki-laki

Polusi hingga gaya hidup picu infertilitas
Sperma adalah “cermin” kesehatan tubuh laki-laki. Saat sperma menurun, kemungkinan besar tubuh kita sedang terpapar polusi, stres berlebih, ataupun gaya hidup yang tidak sehat.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa polusi udara sangat memengaruhi kualitas sperma. Studi tahun 2022 dalam jurnal Science of The Total Environment mengungkap bahwa polusi yang kita hirup setiap hari bisa mengurangi jumlah sperma.

Kondisi ini rentan dialami laki-laki di kota besar seperti Jakarta, yang kualitas udaranya sering kali melebihi batas aman WHO. Ditambah lagi, paparan mikroplastik dari lingkungan diduga dapat mengganggu fungsi hormonal dan proses pembentukan sperma.

Selain polusi dan faktor lingkungan, gaya hidup tidak sehat juga berperan besar. Kebiasaan merokok, minum alkohol, kurang tidur, dan konsumsi makanan tinggi lemak bisa menurunkan kualitas sperma secara perlahan.

Gaya hidup tidak sehat bisa memicu obesitas yang terbukti menurunkan kadar hormon seks laki-laki, testosteron.

Sementara itu, stres kronis dan kurang istirahat dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon testosteron yang berujung pada gangguan produksi sperma.

Baca: Laki-laki perlu mengambil peran dalam pengasuhan anak

Banyak laki-laki enggan memeriksakan diri
Sayangnya, banyak laki-laki enggan memeriksakan diri ketika pasangan sulit hamil. Budaya dan stigma membuat masalah kesuburan sering dianggap urusan perempuan semata.

Pemeriksaan sederhana seperti analisis sperma di laboratorium bisa mempercepat penemuan mengenai penyebab infertilitas dan langkah pengobatan yang tepat.

Namun, tak sedikit laki-laki yang merasa takut dengan hasil pemeriksaan dan enggan membicarakan soal kesuburan.

Padahal kondisi jumlah sperma rendah ataupun bentuk sperma abnormal sering kali bisa diperbaiki lewat perubahan gaya hidup, terapi hormon, maupun tindakan medis tertentu.

Apa upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi menurunnya sperma ini akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: William William (Staff Pengajar Departemen Biologi Kedokteran, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *