7cloud.asia – Semua ketidakpastikan yang terjadi saat ini bisa mengakibatkan krisis identitas, yaitu sebuah kondisi psikologis ketika seseorang merasa kehilangan arah, bingung, bahkan tidak mengenal diri mereka yang sebenarnya.
Stoikisme menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi depresi, krisis identitas, dan berbagai persoalan kemanusiaan lainnya adalah dengan menerapkan prinsip keseimbangan hidup ala stoikisme (stoicism) alias melalui refleksi diri.
Stoikisme adalah salah satu aliran filsafat yang banyak mengajarkan mengenai kendali diri. Dengan memahami prinsip ini, kita dapat mengubah perspektif tentang hidup dan menjadi lebih mampu menghadapi tantangan dengan sikap yang lebih bijaksana dan tenang.
Apa itu stoikisme? Stoikisme berasal dari bahasa Yunani “stoikos” atau stoa. Istilah ini merujuk pada Stoa Poikile, sebuah “sekolah filsafat” di Athena, Yunani, tempat Zeno, filsuf terkemuka dari Citium memberikan pengaruh besar bagi peradaban sekitar tahun 301 SM.
Pada masa itu, Zeno melakukan pengajaran dengan cara yang agak tak biasa, yaitu dengan duduk berbicara di teras pendopo yang terletak agak jauh dari keramaian pasar.
Pendekatan pengajaran dan cara dia mendirikan akademinya ini yang kemudian memberikan nama pada aliran filsafat ini, yaitu stoikisme.
Baca: Stoikisme, pengendalian diri demi mencegah depresi
Penggunaan istilah “stoik” lebih merujuk pada bundaran tiang penopang yang mendukung teras tempat Zeno mengadakan diskusi dan pengajaran.
Secara umum, sejarah stoikisme dapat dibagi menjadi tiga periode. Pertama, ada Stoa awal yang mencakup tokoh-tokoh seperti Zeno (334–262 SM), Chrisipus (280–206 SM), dan Cleanthes (331–232 SM).
Kedua, ada Stoa perantara yang dikembangkan oleh Panaetius dari Rhodes (185–110 SM) dan Posidonius dari Apamae (135–51 SM). Pamungkasnya, terdapat Stoa akhir atau yang juga dikenal sebagai Stoikisme Romawi yang dipengaruhi oleh pemikiran Lucius Annaeus Seneca (1–65 M), Epictetus (55–135 M), dan Marcus Aurelius (121–180 M).
Buku “Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme“ karya A. Setyo Wibowo mengungkapkan bagaimana dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang cenderung lebih fokus pada aspek-aspek yang berada di luar jangkauan atau kendali mereka.
Padahal, kunci untuk mencapai kebahagiaan, kekuatan diri, dan kebijaksanaan sebenarnya terletak pada kemampuan kita untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang berada di dalam kendali kita, bukannya terjebak dalam kecemasan terhadap hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan.
Dalam pandangan stoikisme, pentingnya fokus pada apa yang dapat kita kontrol adalah fondasi dari kebijaksanaan dan ketenangan batin. Sebab, meskipun kita tidak dapat mengendalikan peristiwa eksternal atau menghindari ketidakpastian, kita memiliki kendali penuh atas bagaimana kita meresponsnya.
Baca: Tujuh hal yang bisa membuat kita kehilangan makna hidup
Popularitas stoikisme di Indonesia
Di Indonesia sendiri, stoikisme sudah dikenal luas dan menjelma jadi “mantra” untuk hidup bahagia. Di kalangan anak muda, aliran ini sudah cukup populer.
Buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring yang menjabarkan tentang “mahzab” stoikisme dan praktiknya dalam kehidupan sehari-hari ini sudah mencapai cetakan ke-50. Bahkan tidak sedikit komunitas yang telah melakukan diskusi membahas buku ini.
Narasi mengenai stoikisme juga dapat dengan mudah kita temukan di sejumlah saluran YouTube, mulai dari yang dibawakan oleh Ferry Irwandi, Raditya Dika, hingga Marissa.
Dari narasi yang beredar, banyak dari penikmat stoikisme merasa bahwa aliran filsafat ini nyata memberikan kedamaian dan ketenangan dalam hidup, memberikan mereka panduan untuk mengatasi kecemasan, stres, dan ketidakpastian.
Dengan kata lain, stoikisme dapat menjadi pencerahan dalam dunia yang tidak pernah berhenti berputar, menawarkan landasan yang kuat untuk mencapai kesejahteraan dan kedamaian dalam kehidupan yang tunggang langgang.
Dengan mencoba menerapkan prinsip-prinsip stoikisme, kita dapat menemukan ketenangan batin dalam menghadapi tantangan hidup dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna, secara khusus bagi kamu para pejuang mental health di manapun kamu berada.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Yogie Pranowo (Adjunct Associate Lecturer, Universitas Multimedia Nusantara)

Leave a Reply