7cloud.asia – Penyakit yang selama ini identik dengan orang dewasa kini mulai banyak ditemukan pada anak-anak. salah satu pemicu munculnya new lifestyle diseases atau penyakit akibat gaya hidup baru pada anak.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A (K) menyebut perubahan pola hidup menjadi pemicu penyakit tersebut.
Dia menjelaskan peningkatan kasus obesitas, hipertensi, hingga diabetes melitus tipe 2 pada anak menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.
“Penyakit akibat gaya hidup ini menjadi epidemi. Seharusnya penyakit tidak menular itu ya tidak menular, tetapi secara global terjadi tren peningkatan obesitas, peningkatan kasus anak dengan hipertensi, dan diabetes melitus tipe 2 yang muncul di usia semakin muda,” ujar Piprim.
Baca: Pekerjaan Rumah Kesehatan Anak Indonesia Belum Selesai
Menurut dia, persoalan tersebut erat kaitannya dengan perubahan pola makan dan aktivitas fisik anak. Minimnya gerak serta kebiasaan mengonsumsi makanan yang kurang sehat menjadi faktor risiko yang semakin sering ditemukan.
Selain masalah metabolik, IDAI juga melihat dampak perubahan gaya hidup modern terhadap perkembangan anak, terutama akibat paparan gadget sejak usia dini.
“Banyak anak yang terpapar gadget sejak dini. Selain penyakit metabolik, ada juga gangguan perkembangan seperti keterlambatan bicara dan virtual autism yang terjadi karena perubahan zaman ketika era digitalisasi tidak disikapi dengan baik oleh orang tua,” katanya.
Baca: Fenomena El Nino Godzilla, IDAI Imbau Anak-anak Lebih Banyak di Rumah
Piprim menilai, sebagian orang tua masih menjadikan gadget sebagai cara praktis agar anak lebih tenang. Di sisi lain, orang tua juga kerap sibuk dengan perangkat digitalnya sendiri sehingga kurang memperhatikan tumbuh kembang anak.
“Orang tua lebih senang anaknya anteng melihat gadget, sementara orang tuanya juga sibuk scroll media sosial. Akibatnya, mereka bisa luput melihat adanya gangguan perkembangan yang serius,” jelasnya.
Karena itu, dia menegaskan perlunya penguatan edukasi kepada orang tua. IDAI mendorong kolaborasi berbagai pihak, termasuk media, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan teknologi yang sehat bagi anak.
Menurut Piprim, gadget memang memiliki manfaat, namun penggunaannya perlu disesuaikan dengan usia anak. Anak usia di bawah dua tahun seharusnya tidak mendapatkan paparan layar atau zero screen time.
Baca: Waspada Gejala dan Dampak Anak Kecanduan Gadget
“Faktanya, justru banyak anak di bawah dua tahun yang sudah kecanduan gadget. Dampaknya bisa berupa keterlambatan bicara, tantrum, bahkan gangguan interaksi sosial,” ujarnya.
IDAI berharap kesadaran orang tua terhadap pola asuh digital semakin meningkat. Penggunaan teknologi, lanjut Piprim, perlu diimbangi dengan aktivitas fisik, interaksi langsung, serta pendampingan agar tidak menjadi ancaman bagi kesehatan dan perkembangan anak.
“Ini harus diatasi bersama. Media juga punya peran untuk ikut mencerdaskan orang tua tentang potensi bahaya di balik berbagai manfaat gadget,” pungkasnya.

Leave a Reply