DPR Soroti Pudarnya Revitalisasi Pasar Tradisional dan Pendampingan UMKM

Written by

in

7cloud.asia – Kementerian Perdagangan didorong untuk kembali memperkuat program revitalisasi pasar tradisional atau pasar rakyat serta memperkuat pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron mengatakan, program revitalisasi pasar tradisional merupakan bentuk kehadiran pemerintah yang selama ini paling dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya para pedagang pasar dan pelaku UMKM di daerah.

Menurutnya, pemerintah sebelum-sebelumnya masih mampu  untuk melakukan revitalisasi pasar tradisional dan membangun pasar-pasar di wilayah-wilayah tertentu

“Dan tentu pada akhirnya ini membuat sektor perdagangan semakin meningkat,” ujar Herman dalam Rapat Kerja Komisi VI DPRx bersama Menteri Perdagangan, dan jajarannya, di ruang rapat Komisi VI DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Tidak hanya revitalisasi pasar tradisional, Khaeron juga menilai pendampingan kepada UMKM juga sangat berkurang di era pemerintahan Prabowo-Gibran ini.

Baca: Revitalisasi Pasar Tradisional di Jakarta Terus Bergulir

Padahal sebelumnya Kementerian Perdagangan aktif menyelenggarakan sosialisasi di berbagai daerah mengenai peningkatan kapasitas UMKM, mulai dari tata cara ekspor hingga strategi agar produk lokal mampu diterima di pasar internasional.

“Paling tidak minimalnya ada sosialisasi lah. Dulu itu ada sosialisasi di daerah-daerah tentang bagaimana meningkatkan peran UMKM agar bisa diterima di pasar luar negeri, bahkan bagaimana tata cara kita bisa ekspor itu ada kok Pak Menteri,” jelasnya.

Menurut Herman, saat ini masyarakat di daerah khususnya para pelaku UMKM belum lagi merasakan program-program tersebut.

Padahal, pendampingan yang berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing UMKM sekaligus memperluas akses pasar bagi produk-produk lokal.

Politisi Partai Demokrat ini mengungkapkan bahwa dirinya memiliki sekitar 3.000 pelaku UMKM binaan di daerah pemilihannya.

Baca: Revitalisasi Pasar Tradisional di Jakarta Sasar 153 Pasar

Namun hingga kini, ia belum melihat adanya program Kementerian Perdagangan yang menyentuh langsung para pelaku usaha tersebut, termasuk dalam aspek digitalisasi UMKM.

“Saya juga punya binaan UMKM banyak Pak, saya punya 3.000 binaan UMKM di daerah pemilihan saya. Apakah pernah tersentuh sekarang? Enggak ada Pak. Digitalisasi mana digitalisasi?” tegasnya.

Lebih lanjut ia menilai, meskipun saat ini anggaran Kementerian Perdagangan terus merosot, bahkan saat ini hanya sekitar Rp1,5 triliun, namun Ia berharap agar program-program yang disusun menyentuh langsung kebutuhan masyarakat tetap harus menjadi prioritas.

Dengan kata lain, keterbatasan anggaran tidak menghilangkan kehadiran pemerintah di tengah pedagang pasar maupun pelaku usaha kecil.

Dukungan pemerintah tidak harus selalu dalam bentuk program besar, tetapi dapat diwujudkan melalui bantuan sederhana yang mampu meningkatkan kualitas usaha para pedagang kecil.

“Ayo dong Pak alokasikan anggaran yang benar-benar dapat dirasakan oleh rakyat. Segmen mana sih yang dirasakan saat ini? Tukang serabi, tukang cilok, apa mereka merasakan? Dulu masih merasakan Pak, fasilitasi mereka jualan, gerobak-gerobak UMKM dari Kementerian Perdagangan itu masih ada dulu, sekarang gerobak pun sudah enggak ada,” pungkasnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *