Ada Risiko Inflasi Lanjutan di Balik Kenaikan Harga BBM Non Subsidi

Written by

in

7cloud.asia – Pemerintah diingatkan agar tidak hanya melihat dampak langsung kenaikan harga BBM non subsidi terhadap inflasi.

Anggota Komisi XII DPR, Ateng Sutisna mengatakan bahwa pemerintah juga perlu mewaspadai efek rambatan kenaikan harga BBM non subsidi yang berpotensi menekan biaya transportasi, logistik, hingga harga barang kebutuhan masyarakat.

Pasalnya, kenaikan harga BBM non subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green dapat memicu tekanan ekonomi lanjutan, khususnya pada layanan transportasi berbasis aplikasi dan distribusi barang jarak pendek yang banyak menggunakan BBM non subsidi sebagai bahan bakar utama.

“Kalau hanya melihat dampak langsung terhadap inflasi, mungkin angkanya tidak terlalu besar. Tetapi persoalan sesungguhnya justru berada pada efek rambatan yang muncul setelahnya,” ujar Ateng dikutip Parlementaria, Kamis (11/6/2026).

Ia menjelaskan, komponen bahan bakar dalam struktur biaya transportasi dapat mencapai 30 hingga 40 persen dari total biaya operasional.

Baca: Harga BBM Non Subsidi Jenis Solar dan Pertamax Turbo Melonjak

Kenaikan harga BBM non subsidi berpotensi mendorong penyedia jasa transportasi dan logistik melakukan penyesuaian tarif yang pada akhirnya dibebankan kepada masyarakat.

“Kenaikan biaya operasional pada sektor transportasi dan logistik pada akhirnya akan diteruskan kepada masyarakat melalui kenaikan tarif jasa,” jelas politisi PKS itu.

Ateng juga menyoroti potensi perubahan pola konsumsi masyarakat akibat selisih harga Pertamax dan Pertalite yang semakin lebar.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat mendorong sebagian pengguna BBM non subsidi beralih ke Pertalite demi menekan pengeluaran rumah tangga.

Diketahui, perpindahan konsumsi secara masif berpotensi menambah tekanan terhadap distribusi Pertalite di lapangan.

Baca: Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Bakal Dirasakan Semua Lapisan Masyarakat

Jika tidak diantisipasi, kuota yang telah dirancang berdasarkan pola konsumsi normal dapat lebih cepat terserap dan memunculkan antrean maupun gangguan pasokan di sejumlah daerah.

“Ketika masyarakat mulai khawatir pasokan akan terbatas, maka perilaku konsumsi akan berubah dan berpotensi menciptakan tekanan inflasi baru,” katanya.

Oleh karena itu, Ateng meminta pemerintah bersama pihak terkait memastikan stabilitas pasokan dan distribusi BBM tetap terjaga di seluruh wilayah Indonesia.

Pengawasan distribusi Pertalite dinilai perlu diperkuat untuk mengantisipasi lonjakan permintaan akibat kenaikan harga BBM non subsidi.

“Yang perlu diwaspadai adalah efek inflasi lanjutan. Stabilitas pasokan dan distribusi harus menjadi prioritas utama agar masyarakat tidak menanggung beban ekonomi yang lebih besar,” pungkas Ateng.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *